
AUTHOR POV:
Elisa terbangun ketika mendengar suara bel dipintu apartemen nya.
Dengan mata yang masih menyipit, dan rambut yang terlihat acakan, ia beranjak dari tempat tidurnya, menyatukan semua rambutnya lalu diikatnya kebelakang.
Ia berjalan perlahan dan langsung membuka pintu yang sedari tadi sangat berisik karena bunyi bel.
Elisa mengerutkan dahinya ketika mengetahui siapa yang datang.
Tanpa rasa bersalah, Zay tersenyum lebar di hadapan Elisa dan itu membuat Elisa menaikan satu alisnya.
Tanpa disuruh, Zay masuk ke Apartemen adiknya itu dan langsung mendaratkan bokongnya di sofa milik Elisa.
Elisa hanya menatapnya datar dan melangkahkan kakinya menuju ranjangnya kembali, menghempaskan tubuhnya lalu menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh tubuhnya bahkan wajahnya.
Terlihat Zay hanya tersenyum simpul, dia tahu bahwa Lisa sedang marah pada nya, Zay segera mendekat dan duduk disamping Lisa yang tengah berbaring didalam selimut tebalnya.
"Hei, aku minta maaf" ujar Zay pelan.
"..."
"Lisa, jangan marah lagi, aku bersalah, aku tidak akan mengatakan kata-kata itu lagi" ujar Zay mencoba membujuk saudara kembarnya itu.
"Enyahlah Zay" ujar Lisa dari balik selimutnya.
"Sebagai gantinya, aku akan menraktirmu eskrim vanila yang paling kau sukai itu"
"Kau pikir aku bocah?"
"Kau tidak mau?"
Elisa mendelik, dengan segera ia menyikapi selimutnya dan menatap Zay sambil menyipitkan mata nya.
"Aku mau" ujarnya.
"Pft, hahahaha" tawa Zay menggema ketika melihat ekspresi Lisa yang layaknya anak kecil.
"Berhenti tertawa"
Segera Zay menutup bibirnya rapat, berusaha agar tak mengeluarkan tawanya, ia menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan agar mengontrol tawanya, sedari tadi Elisa menatapnya tajam dan bagi Zay itu bahkan terlihat lucu ketimbang menakutkan.
"Aku tidaklah gila Zay" ujar Elisa menundukan wajahnya.
Kali ini, Elisa benar-benar terlihat menyedihkan, raut wajahnya menjadi sendu dan Zay tahu itu, segera ia melebarkan tangan nya agar Elisa dapat memeluknya.
"Kemarilah"
Lisa segera memeluk Zay, sekarang mereka terlihat sebagai sepasang anak kembar yang saling menyayangi satu sama lain, bahkan Lisa terlihat begitu polos ketika berada dalam dekapan kakaknya, bagai anak kecil yang diambil permen nya, siapa yang menyangka wanita yang terlihat rapuh bila sedang seperti ini, ternyata pernah membunuh seseorang dengan sangat keji.
**
Mobil sport putih milik Elisa melaju dengan kecepatan sedang dan berhenti tepat didepan sebuah restoran cepat saji.
Didalam kaca mata hitam nya ia menatap lurus kearah kaca yang dapat menembus seisi restoran tersebut, ia pun melirik dan tersenyum ketika melihat sebuah mobil hitam yang ia kenali tengah terparkir disana.
Ia turun dari mobilnya, segera melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam restoran tersebut, netra hitamnya menatap lurus kearah meja yang berada disudut, yang mana sepasang suami istri tengah menikmati makan siang bersama dengan mesra nya.
Hah, aku tak tahan melihatnya, batin Elisa.
Elisa tetap melangkah, mendekat kearah meja tersebut, namun, tiba-tiba ia memperlambat langkah nya ketika tahu bahwa ia mengenali wanita cantik yang tengah makan siang bersama pria pujaan nya itu.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan apa"
Suara lembut yang dilontarkan Elisa dengan sangat tiba-tiba itu berhasil membuat dua orang yang sedang menikmati makan siang itu tersentak.
Sang pria pujaan Elisa, siapa lagi kalau bukan Daniel dan istrinya Lily.
Daniel mendelik ketika mendapati Elisa yang tiba-tiba menghampiri dirinya, raut wajahnya berubah menjadi pucat, bahkan ia tak dapat menutup mulutnya ketika melihat Elisa disana.
Elisa tersenyum kearahnya, namun itu tak membuat perasaan Daniel membaik, sebaliknya itu malah memperburuk keadaannya.
"Elisa?" ujar Lily yang tak kalah kaget.
"Hai Lily, aku tak sengaja melihatmu saat masuk kesini, dan kau bersama.." ujar Elisa melirik Daniel seolah tak mengenalinya.
"Oh, ini suamiku Daniel, Daniel ini Elisa, dia temanku dulu dan dia ini adiknya atasanku,Zay" ujar Lily sembari mengenalkan mereka berdua.
"...Huh?" ujar Daniel tersentak seakan tak percaya.
Elisa mengulurkan tangan nya kearah Daniel sembari tersenyum, tatapan nya tak lepas dari pria yang kini sedang terlihat cemas itu.
Dengan terpaksa, Daniel menyambut tangan Elisa, namun mata nya tak berani menatap gadis itu.
"Hai Daniel" ujar Elisa.
"Ya" jawab Daniel singkat.
Elisa masih tersenyum dengan mata yang terus saja menatap Daniel, segera Daniel melepaskan tangan Elisa ketika Elisa mulai nekat untuk mengelus tangan nya dan itu dihadapan sang istri, Lily.
"Mau makan bersama kami, Elisa?" tawar Lily.
"Oh tidak usah, sebenarnya aku ada urusan dan harus segera pergi"
"Ah sayang, aku permisi ke toilet sebentar" ujar Daniel yang segera beranjak dari sana selepas Lily menganggukan kepalanya.
Elisa hanya menatapnya datar, sedangkan Daniel dengan tergesa segera memasuki toilet.
Sepi dan hening, bahkan hanya terdengar desiran air dari keran yang dihidupkan oleh Daniel.
Ia membasahi seluruh permukaan wajahnya.
Ini gila, bahkan dia berteman dengan Lily, bagaimana mungkin semuanya terjadi secara kebetulan begini, dia menjadi mengerikan setelah aku memutuskan hubungan dengan nya saat itu, aku harus bagaimana?Gumam Daniel dalam hatinya.
Tepat pada kecemasan yang melanda Daniel saat itu, ia kembali dikejutkan ketika seseorang memeluknya disana.
Daniel tersentak, ini adalah toilet pria, mana mungkin seorang pria tengah memeluknya sekarang.
Ia membalikan tubuhnya, pupilnya membesar ketika melihat Elisa dihadapan nya bersama dengan senyum menawan yang mengembang di wajahnya.
Sontak Daniel menolehkan pandangan nya kesekeliling nya, tapi disana tak ada siapa-siapa, setidaknya itu membuatnya sedikit lega.
"Apa yang kau lakukan disini?" ujar Daniel dengan emosi yang tak dapat dibendung nya lagi.
"Aku hanya rindu padamu"
"Apa? Lebih baik kau keluar, ini toilet pria, akan sangat gawat kalau sampai ada orang yang tahu"
"..."
Lisa seakan tak pernah mengindahkan ucapan dari Daniel, bahkan sepertinya ia enggan keluar dari sana, ia lebih memilih untuk mendekat pada Daniel, dan dengan gilanya mencoba menggoda Daniel dengan menyentuh dada bidangnya, bahkan mencium area lehernya dengan sangat agresif.
"Elisa hentikan, apa yang kau lakukan" ujar Daniel berusaha untuk melepaskan dirinya dari perbuatan agresif Elisa terhadap dirinya.
__ADS_1
"Kenapa?Bukankah kau menyukai ini?Kau sangat menyukainya Daniel, kau bilang itu padaku"
"Apa?"
"Daniel, aku menginginkanmu sekarang"
Daniel mendelik dan segera melepaskan tangan Elisa yang tengah menggerayangi tubuhnya, rasa sesak yang menyeruak dadanya kini tak dapat ditahan nya lagi, ia ingin segera mengakhiri semuanya dengan wanita yang berada dihadapan nya itu.
"Berhentilah mengangguku, hubungan kita sudah selesai, jadi jangan coba-coba muncul dalam kehidupanku dan Lily" ujar Daniel dengan nada yang mengancam.
"...Apa kau sedang mengancamku?"
"..."
"Pft, kau imut sekali Daniel, sayangnya aku sama sekali tak merasa terancam" ujar Elisa sembari terkekeh.
"..."
Elisa segera menghentikan tawanya dan mengubah tatapan nya menjadi datar dan dingin kearah Daniel, ia melangkah perlahan dan membisikan sesuatu ke telinga Daniel.
"Jangan coba-coba mengabaikan aku lagi, karena aku bisa saja memberitahukan semuanya tentang kita pada istrimu" bisiknya.
Kata-kata yang dilontarkan Elisa berhasil membuat Daniel tak berkutik, bahkan terlihat jelas raut wajahnya menjadi pucat dan berkeringat.
Suara lembut nya itu kini terdengar menakutkan, itu bahkan membuat Daniel merinding, namun Elisa hanya tersenyum, membuat matanya jadi menyipit, ia melayangkan sebuah kecupan di pipi Daniel, terlihat pria itu hanya berdiri mematung tanpa berkata apapun.
"Itu baru sebuah ancaman, Daniel" ujar Elisa.
Visual:
Lily
Nama : Lilyana Grace Foster
Umur : 27 tahun
Spesifikasi : Wanita polos yang baik hati dan percaya pada suaminya, wajar aja si Zay kesemsem sama dia.
Daniel
Nama : Daniel Foster
Umur : 29 tahun
Spesifikasi : Seorang fotographer yang hidung belang, suka menggoda para wanita sekseh, istrinya tak tau kelakuan gila sang suami saat di belakang nya.
Wim
Nama : William Tan
Umur : 28 tahun
Spesifikasi : Teman Lisa dan Zay, merangkap bawahan saat di kantor, tampan, tertarik bahkan menyukai Elisa sejak kuliah, tuh luka di matanya juga hadiah dari si Elisa.
Credit by pinterest
__ADS_1