
Aku duduk dimeja makan dengan satu lengan yang menopang pipiku,mataku menatap lurus ibuku yang sedang berbicara sendiri dengan perasaan yang girang.
"Hahh,dasar" ucapku sambil menghela nafas panjang.
Aku turun dari kursiku lalu mendekati nya.
"Ibu,kau harus tidur siang" ujarku.
Dia menatapku dengan bingung,namun tiba-tiba tersenyum.
"Baiklah,tolong antar ibu kekamar" ujarnya.
Aku pun mengantarnya menuju kekamarnya, menyelimutinya dan menunggu hingga ia benar-benar tertidur.
Hah,ibuku yang malang,pikirku.
Sejak saat kematian ayahku, ibuku jadi lebih ceria,namun sikap nya berubah menjadi aneh,aku memaklumi hal itu, mau bagaimana pun dia tetap ibuku yang paling aku sayangi.
Hingga suatu hari,ketika aku sedang tidur,aku merasa seseorang menutup seluruh mukaku dengan bantal,aku tersentak dan gelagapan karena aku tak bisa bernafas.
Aku meronta-ronta sekuat tenaga hingga akhirnya aku berhasil menendangnya.
Aku memindahkan bantal itu dari mukaku dan menarik nafas panjang lalu membuang nya,aku hampir saja mati karena kehabisan nafas.
Lalu aku pun menolehkan pandanganku untuk melihat siapa pelaku nya.
Aku membulatkan mataku ketika melihat ibuku tengah berdiri dengan wajah gelisah dan tangis nya yang pecah.
"....I-ibu"
"Yohan,anakku apa kau tidak apa-apa?Maafkan aku Yohan,maafkan ibumu" ujarnya sambil gemetar.
"..."
Aku tak mengerti,mengapa setelah semua nya,ia juga menginginkan aku mati?.
"Ibu,apa kau ingin aku mati?" tanyaku dengan mata yang tidak berkedip.
Aku tidak percaya,ibu yang kutahu sangat mencintaiku itu ingin aku lenyap dari dunia ini,aku merasa sesak mengetahui kenyataan pahit itu.
Kulihat ibuku menangis tersedu-sedu dengan bergumam kata maaf terus menerus, ia pun mendekat padaku dan memelukku.
__ADS_1
Aku pun tenggelam dalam tangisan nya yang menyedihkan itu membuat aku menitikan airmataku dan membalas pelukan nya.
Namun,tak berselang lama dari situ, tangan nya perlahan berpindah menuju leherku dan menekan bagian itu sampai aku tak bisa bernafas.
Ia mencekik ku sekuat tenaga, raut wajah nya berubah mengerikan, itu bukan lah lagi ibuku.
Aku hampir mati,rasa nya pandanganku mulai gelap,lalu aku mencoba meraba-raba nakas yang ada di sebelahku dan berhasil meraih sebuah vas bunga, tanpa ragu aku pun memukulkan nya tepat dibagian kepala dan seketika kepalanya mengeluarkan banyak darah, akhirnya tangan nya yang mencekik ku itu pun terlepas.Ia sempoyongan sambil memegangi kepala nya.
Rasa sesak dan menjengkelkan kini kembali menyeruak di dadaku.
"Yohan,apa yang kau lakukan pada ibumu ini?" ujarnya sambil menangis.
"..."
"APA YANG KAU LAKUKAN,HAH?" Teriaknya.
Aku yang sudah kehilangan akal sehatku itu pun mengambil pecahan vas bunga itu lalu menyayat paha nya hingga ia bersimpuh, lalu dengan gila nya aku mencekik ibuku sendiri hingga akhirnya ia tewas.
Ketika mengetahui ia sudah tak bergerak lagi, aku menatap wajah nya yang menyedihkan, mata yang melotot dan mulutnya yang menganga tepat berada di hadapanku.
Tubuhku bergetar hebat ketika menyadari hal itu, lalu aku mendekati nya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, namun tubuhnya tak bergeming dan tak merespon, aku menempelkan telingaku di dada nya, tak ada suara detak jantung.
"..Ibu" gumamku.
Setelah itu,aku mulai kebingungan,aku berencana untuk menaruhnya di kebun bersama dengan Ayahku,tapi aku kembali berpikir bahwa ia tak mungkin senang bila harus dipertemukan dengan lelaki itu.
Lalu kuputuskan untuk membawanya keloteng kamarnya yang sekarang menjadi kamarku.
Aku yang berumur 11 tahun itu sangat kesulitan ketika memindahkannya ke loteng atas,namun dengan sedikit berusaha akhirnya aku bisa membawa nya keatas, kubaringkan ibuku di ranjang kecil yang berada disana biar dia merasa nyaman.
Aku hidup sendirian sejak saat itu,aku sedikit khawatir ketika polisi tiba-tiba melakukan penyelidikan terkait kasus hilangnya kedua orang tuaku,untungnya mereka tak memeriksa secara detail seluruh isi rumahku.
Dasar orang-orang bodoh yang naif,batinku terhadap para polisi itu.
Disitulah pertama kalinya aku bertemu dengan Pak Nathan,dia merasa iba melihatku yang menangis kala itu.
Aku pun sering bermain ketempat nya dan sering membantu di kedai istrinya.
Ya,aku tak begitu tahu dengan kerabat Ayah atau Ibuku,dan sepertinya kalaupun memang ada,mereka tak begitu peduli tentangku.
Oh ya,Pak Nathan bahkan bilang aku bisa tinggal bersama nya karena aku sudah dianggap sebagai anak nya.
__ADS_1
Niatnya begitu baik bukan?Tapi terlepas dari situ,aku yakin dia hanya ingin mengambil kesempatan yang ada.
Aku punya rumah,mobil dan harta yang masih ditinggalkan orang tuaku, jadi kalian pasti paham kenapa Nathan ingin aku tinggal bersama nya.
Aku hidup dengan baik sejak saat itu,aku tak merasa kesepian karena aku tahu bahwa Ibuku masih ada bersamaku.
Dengan sifatku yang ramah dan dapat mengambil hati orang-orang, aku bisa dengan sangat mudah mencari teman,aku juga disukai banyak orang,aku sangat menikmati hidupku,bergonta ganti pacar karena mereka sendiri yang datang padaku.
Pada usiaku yang ke 18 tahun,tepatnya baru masuk kuliah,ini pertama kalinya aku membawa seorang wanita kerumahku,biasanya aku hanya menghabiskan waktu dengan para ****** itu di hotel atau pun apartemen mereka, tapi tidak kali ini.Aku ingin mencoba sesuatu yang baru,jadi kuajak salah satu dari mereka kerumahku.
Sebenarnya wanita ini bukan pacarku, aku bertemu dengan nya di sebuah kafe, karena dia sendirian jadi kuajak dia jalan denganku, ketika aku menawarkan untuk kerumahku,dia dengan cepat berkata iya, benar-benar wanita ****** bukan?
Aku menyalakan rokok dan menghisap nya, asap menggempul memenuhi ruangan ketika aku menghembuskan nya dari mulutku.
Dengan masih bertelanjang dada,aku menuangkan bir di gelasku dan digelas wanita yang berada di hadapanku itu.
Dia terlihat menunduk,mungkin ia malu karena ia tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Ya,kami baru saja melakukan hal yang panas,wajar saja kalau kondisi nya seperti itu.
"Kau tahu,aku sudah menceritakan kisahku padamu,dan tentang ibuku,aku sama sekali tak menyesal melakukan itu pada nya,malah aku merasa bahagia karena membebaskan ia dari semua penderitaan nya" ujarku sambil menghisap rokokku.
"..."
Aku suka wanita ini,dia pendengar yang baik,ia bahkan telah mendengarkan ceritaku yang panjang ini.
"Kau bilang kau suka padaku karena aku tampan,bukan?Jadi setelah aku menceritakan hal tadi apa kau masih bisa tetap suka padaku?"
"..."
Wanita itu tak menjawab dan hanya menundukan kepala nya sedari tadi.
Hah,aku yang mulai gerah itu pun meneguk habis bir yang ada di genggamanku.
Lalu,kulihat wanita di depanku itu sempoyongan dan tersungkur kebawah.
Aku mendelik melihat wanita yang jatuh tersungkur itu.
"Pfft,hahaha aku terlalu lama menahanmu disini ya" ucapku sambil menahan tawaku.
Aku lupa bahwa beberapa menit yang lalu aku menikam punggung nya dengan pisau dan itu tepat dijantung nya,bahkan piasunya masih menancap di bagian punggungnya.
__ADS_1
Hah,aku malah keasyikan mengajak nya cerita dan melupakan hal itu,gumamku.
Aku pun menyeret wanita yang sudah menjadi mayat itu menuju bawah tanah sambil terkikik memikirkan betapa bodohnya diriku tadi.