Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 52 : Berita kematian


__ADS_3

Eleeya Pov***


Aku ingat betul hal yang kulihat terakhir kali sebelum aku tak sadarkan diri,wajah panik dari Yohan dengan tangan yang mengenggam erat kotak hadiah dariku.


Akhirnya aku berhasil memberikan hadiah itu padanya,walau caranya sama sekali tidak seromantis yang aku bayangkan.


Hingga akhirnya tubuhku sudah tak kuat karena kesakitan dan terlalu banyak menangis,aku akhirnya pingsan.


Hah,menyedihkan sekali.


Aku mengedipkan mataku,pandanganku masih sangat kabur, kepalaku pusing dan terasa pipiku serta sudut bibirku seperti bengkak,rasanya nyeri sekali.


Aku meringis beberapa kali karena nya.


Ketika pada akhirnya penglihatanku sudah jelas sempurna, kini aku mendapati diriku tengah terbaring di kamar Yohan.


Aku sangat haus,rasanya tenggorokanku kering sekali.


Sudah berapa lama aku pingsan?


Kulihat cahaya dari balik jendelaku,menandakan ini sudah pagi hari.


Walau kutahu ada segelas air diatas meja,aku bahkan tak berusaha untuk mengambilnya, tubuhku terlalu lemas untuk bergerak, kupikir aku akan mati,ternyata nyawaku masih ada.


Aku menatap langit-langit kamar Yohan yang tak menarik, tanpa kusadari tetes demi tetes air mataku terjatuh.


Aku menggigit bibir bawahku berusaha menahan tangisku, dan itu malah membuatku sulit bernafas.


"Hah" Aku menghela nafas panjang, pada akhirnya menangis pun tak ada guna nya sekarang, aku menghapus semua air mata di wajahku, dan dengan segenap sisa-sisa tenagaku, aku menegakkan tubuhku dan beranjak dari ranjang itu.


Dengan tertatih aku melangkahkan kakiku berniat keluar dari kamar itu, baru saja tanganku hendak membuka pintunya,seseorang dari luar telah membukanya terlebih dulu,dan itu membuatku terkejut.


"El,kau sudah bangun"


Ah,sontak aku membulatkan kedua mataku,wajahnya yang seakan tak terjadi apa-apa itu membuatku frustasi.


Aku mematung disana ketika dengan manisnya ia tersenyum padaku.


Bahkan untuk sekedar mengucapkan maaf padaku itu rasanya tak mungkin baginya.


"Aku sangat khawatir karena kau pingsan sangat lama,aku melewati hari-hariku sendirian kemarin karenanya"


"..."


Apa?


Aku pingsan selama itu?


Kupikir aku hanya pingsan semalam dan terbangun keesokan paginya,ternyata ini pagi hari keesokan nya lagi.


Ternyata tubuhku memang sudah selemah itu.


Pandanganku teralihkan ketika melihat gelang pemberianku telah melingkar di pergelangan tangan nya.


Haruskah aku senang melihat hal ini?


Pupilku bergetar melihatnya, aku ingin segera berlari kekamarku,menenggelamkan wajahku di bantal lalu menangis.


"Aku minta maaf"


"...Huh?"

__ADS_1


Suaranya yang serak menggema ditelingaku, aku bahkan menaikan sebelah alisku karena tak menyangka atas permintaan maafnya.


Kuperhatikan wajahnya,dia menatapku dengan tatapan yang datar dan sendu, sedikit bengkak di bagian matanya, apa dia menangis?Itu tidak mungkin.


Suasana pun menjadi hening, aku bahkan tak berani menatapnya, sejujurnya aku juga tak mengerti dengan apa yang kurasakan, apakah aku kesal atau kecewa, aku bingung.


"Apa kau membenciku sekarang?"


Ah,kata-kata nya memecah keheningan diantara kami,suara nya bergetar,haruskah aku menatap wajahnya?.


"Ukh..Hiks hiks, kau membenciku?"


Seketika kepalaku langsung menoleh kearahnya saat itu, dia menunduk sambil mengusap-usap matanya yang berlinangan air mata.


Aku mendelik, dia terlihat seperti anak kecil yang menangis karena permen nya kurebut.


Benarkah dia adalah Yohan yang selama ini kukenali?Aku bahkan tak yakin akan hal itu.


Hatiku seakan terenyuh ketika melihat pria ini menangis karenaku, pria yang biasa nya sangat menyeramkan dan dengan mudahnya membunuh seseorang itu sekarang bahkan terlihat begitu lemah di hadapanku, aku baru mengetahui sisinya yang seperti ini, bahkan tanganku kini bergerak sendiri untuk meraih pipinya.


Kulihat dia tersentak ketika tanganku menyentuh pipinya, matanya terpejam, terhanyut akan sentuhanku, ia mulai mengenggam tanganku, menempelkan di pipinya untuk waktu yang cukup lama, sepertinya dia senang dengan hal itu, ah Yohanku,mana mungkin aku bisa membenci dirimu.


Aku melepaskan tanganku yang menyentuh pipi nya, dan segera memeluknya dengan erat, mungkin dia kaget, aku tahu karena aku merasakan tubuhnya menjadi kaku karena gerakanku yang tiba-tiba itu.


"Tidak, aku tidak membencimu, mana bisa aku seperti itu" ucapku


Kini dia meresponku, dia melingkarkan tangan nya di tubuhku, dia mendekapku erat, rasanya begitu hangat dan nyaman, aku selalu menyukai dekapannya,bahkan aroma tubuhnya yang begitu harum.


"Jangan tinggalkan aku sendirian" ucapnya dengan suara parau.


"Seharusnya aku yang berkata begitu" jawabku.


Perasaan ini, aku menyukainya.


Keberadaanku dianggap penting olehnya, itu lah yang membuatku jatuh cinta sangat dalam padanya.


"Ya, mari tetap bersama seperti ini,selamanya" ucapnya.


**


Author pov**


🎶 Hail (Hail), what's the matter with you feel right..Don't you feel right, baby


Hail, oh yeah, get it from the main vine, all right


Come and get your love...Come and get your love🎶


Nada dering dari ponsel yang tergeletak di atas kasur empuk itu menggema,entah sudah yang keberapa kali ponsel itu berdering.


Beberapa menit telah berlalu, ponsel itu masih saja berdering yang pada akhirnya membuat si pemilik ponsel itu terbangun dari tidurnya, dengan memicingkan sebelah matanya ia meraba meraih ponselnya yang sedari tadi menganggunya.


"Hallo" ujar nya dengan suara parau.


"Dasar brengsek,kenapa kau lama sekali angkat telpon dariku" teriak suara dari seberang sana.


Rui sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar teriakan-teriakan dari Tian.


"Aku sedang tidur,tak tau kalau kau menelpon" jawabnya malas.


"Hah, kau harus segera kesini sekarang" ujar Tian,suaranya bergetar,dia kelihatan sangat panik.

__ADS_1


"Hei,aku bahkan belum mandi,memang nya ada apa?"


"Sialan, ini soal Alana"


Rui mendelik ketika Tian menyebut nama Alana, apalagi dia mengatakan nya dengan suara gugup dan sedih.


"Alana kenapa?"


"Dia...Meninggal" ujar Tian terisak.


Ponsel digenggaman Rui pun seketika terjatuh, suara Tian masih menggema disana, badan nya membeku setelah mendengar pernyataan dari Tian, sekujur tubuhnya melemas.


Ia menggigit bibir bawahnya kuat,tangan nya meremas selimut di tempat tidurnya.


Segera ia mengambil kembali ponsel nya yang terjatuh,menarik jaket tegantung di kursi lalu bergegas pergi.


Rui memacu mobilnya dengan kecepatan penuh,jantungnya berdetak kencang bahkan wajahnya kini terlihat pucat karena panik.


Bisa saja ini hanya candaan seorang Tian padanya, tapi berita kematian bukan lah suatu hal yang bisa dijadikan bahan candaan.


Dalam kurun waktu 20 menit, Rui telah sampai di apartemen Alana,disana sudah ada Tian,dan beberapa anggota kepolisian yang lain.


Rui melangkahkan kakinya perlahan, memasuki kawasan yang sudah ditandai dengan garis kuning itu, tepat di balkon apartemen nya, seutas tali tergantung disana.


"Dia ditemukan tergantung disana jam 3 dini hari"


"Dia dibawa kemana?"


"Kerumah orang tuanya,kita harus datang kesana"


"..."


"Aku tidak tau apa yang tengah dilaluinya,dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya, tapi aku tidak menyangka pada akhirnya dia melakukan hal seperti ini"


"..."


Rui hanya diam,ia terduduk lemas ditemani oleh Tian.


Aku juga tidak tau apa yang sudah dilaluinya hingga ia nekat begini,aku berharap pertengkaran kami tempo hari bukan lah satu-satu nya alasan dia melakukan hal ini,gumam Rui.


"Kau yang lebih tau dia daripada kami Rui, kuharap kau mengetahui apa yang telah terjadi padanya" ujar Tian.


Rui tak kuasa menahan kesedihan nya,kala itu air mata keluar dari kedua matanya, rasa sesak menyeruak didadanya.


Seluruh ingatan akan mereka berdua seakan mengalir begitu saja di kepalanya, bahkan mereka belum sempat berbaikan setelah hari itu, semua yang mereka lalui selama ini sebagai rekan dan teman, semuanya makin membuat Rui merasa kehilangan.


"Bagaimana mungkin dia melakukan ini Tian" ujar Rui ditengah isak tangisnya.


"..."


Tian hanya menatap Rui sambil menepuk pundak nya sekali.


Malam itu, rumah duka dipenuhi isak tangis semua orang.


Rui menatap foto Alana yang sedang tersenyum disana, lalu tak lama ia pun kembali menangis.


"Hah"


Ia menghela nafasnya lalu menyeka air mata nya, ia berjalan pelan keluar untuk menenangkan dirinya dengan menghisap sebatang rokok, menatap langit malam dengan banyaknya bintang disana.


"Kau kejam sekali Lana, kenapa kau pergi dengan cara seperti ini?" gumam nya.

__ADS_1


__ADS_2