Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 43 : Menjalin pertemanan


__ADS_3

Suara desiran air yang keluar dari keran itu menggema bersamaan dengan suara orang bergumam.Rui mencuci muka nya dan menggerutu mengutuk Yohan, entah sudah berapa ratus kata yang mengandung kutukan keluar dari mulut pria itu,dan semua itu ditujukan nya pada Yohan.


DRRTT...DRRTT...


Dering ponsel nya menggema di area toilet kafe yang sepi itu, hanya ada dirinya seorang disana, dilihatnya layar ponselnya, nama Alana tertera di sana sedang mencoba memanggil lewat telepon, tanpa butuh waktu lama,Rui pun menjawab panggilan nya.


"Hei Rui,kau ini dari mana saja,lama sekali kau menjawab telponku" ujar gadis itu.


"Ah maaf,aku habis buang air kecil" jawab Rui


"Aku ada di dekat rumahmu,boleh aku mampir?"


"Sayang sekali,tapi aku sedang berada di luar"


"Oh begitukah,kalau begitu kita ketemuan saja,kau sedang ada dimana?"


Rui tak segera menjawab pertanyaan gadis itu, dia melangkahkan kakinya keluar dari toilet itu,lalu sorot mata nya seakan menyapu area kafe itu, ketika sadar bahwa sosok yang ia cari sudah tak ada di kafe itu,dia pun kembali ke percakapan nya di telpon.


"Ah kafetaria XX,kita bertemu disini saja" ujar Rui kemudian yang di balas ya oleh Alana dari sebrang sana.


Rui mengakhiri percakapan nya dan kembali duduk di tempatnya.


Minuman nya masih banyak,namun sepertinya itu sudah sangat dingin,ia menyandarkan punggungnya di kursi dan mengadahkan kepala nya ke langit-langit kafe itu.


"Dia membuatku merinding" gumam Rui disela-sela helaan nafasnya.


*


Yohan mengendarai mobilnya sembari memutar musik player yang memainkan lagu kesukaan nya.


Jarinya memilin-milin anting yang sedang ia kenakan,seketika dia teringat perkataan Eleeya yang mengatakan kalau ia sempurna, pria itu kemudian terkekeh karena nya, dia ingat betul siapa yang membuat tindikan di telinga nya itu.


Ya, itu adalah ayahnya sendiri, dengan menggunakan paku, ayahnya melubangi telinga kiri Yohan saat itu,dan dengan santainya pria tua itu berkata, "Tindikan ini membuatmu terlihat sempurna,kau tahu?".


"Untuk pertama kalinya,dia mengatakan hal yang benar" gumam Yohan sambil terkekeh.


*


Hari sudah hampir petang dan udara disana malah semakin dingin.


Rui yang masih setia duduk di kafe itu mengenakan jaketnya dan menyeruput cokelat panas yang baru ia pesan,mengingat minuman nya sudah dipastikan tak bisa diminum lagi karena sudah dingin.


Gadis cantik dengan syal merah muda yang melilit lehernya itu melangkah masuk kedalam kafe, langkah nya terhenti ketika sudah mencapai tempat duduk Rui, tanpa disuruh gadis itu langsung menyeret kursi disana dan duduk berhadapan dengan pria yang mempunyai rambut coklat ikal itu.


"Oh kau sudah sampai" ujar Rui yang baru tersadar akan kedatangan Alana.


Alana mendengus kesal karena Rui tak menyadari kedatangan nya,gadis itu mengerutkan dahinya dan menatap kesal pria yang berada di hadapan nya itu.


"Aku sudah duduk selama 5 menit,dan kau baru menyadarinya?" oceh gadis itu kesal.


"Maaf,maaf" jawab Rui dengan kekehan nya.


Gadis itu menghela nafasnya lalu melambaikan tangan nya kepada pelayan di kafe itu,dengan sigap dan cepat sang pelayan pun langsung menghampiri Alana dan mendengarkan apa yang dipesan oleh gadis itu.


"Kau memesan Iced cappucino di hari yang sedingin ini?" tanya Rui sambil mengangkat alisnya sebelah.


"Memang nya kenapa?Tidak ada larangan nya kok" jawab Alana.


"Ya,terserah kau saja" ucap Rui dengan cuek nya,membuat gadis didepan nya terlihat sangat jengkel.

__ADS_1


"Hei,bagaimana kabarmu?" tanya Alana kemudian.


Rui yang sedari tadi tengah sibuk dengan ponsel nya itu pun menghentikan aktifitasnya dan menatap Alana.


"Entahlah,kupikir aku sedang tak baik-baik saja" jawabnya sambil menolehkan pandangan nya keluar jendela kafe.


Alana menatap dalam kearah pria yang sedang melamun itu,dia seakan merasakan kegelisahan yang tengah dihadapi oleh pria itu sekarang, namun ia bingung bagaimana membuat perasaan pria yang disukainya itu menjadi lebih baik.


"Kau harus melakukan apa yang kata hatimu katakan" ujar Alana.


Rui tersentak dan lamunan nya pun buyar seketika karena perkataan Alana, dengan perlahan ia melirik Alana dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata,seakan banyak pertanyaan dari sorot matanya itu.


"Hah,aku sudah sekali melakukan itu dan berakhir dengan mendapatkan hukuman skorsing selama tiga bulan" ucap Rui dengan tangan yang memijat-mijat dahinya sendiri.


"..."


"Dengan sangat cepat aku merasa menjadi orang yang tak berguna,bahkan untukmu dan Tian,aku ini teman yang sangat buruk" ucap Rui dengan suara paraunya.


Alana tersentak ketika Rui melontarkan kata-kata itu,itu sama sekali tidak benar.


Dengan perlahan Alana mengulurkan tangan nya agar dapat mengenggam tangan Rui,walaupun awalnya ia ragu tapi ia berhasil.


"Jangan katakan itu,kau sudah melakukan yang terbaik,dan yang terpenting kau tidaklah sendirian,aku percaya padamu dan akan terus membantumu" ucap Alana sambil melontarkan senyum tulus pada rekan nya yang sedang gelisah itu.


Entah memang keberadaan Alana saat itu sangat membantunya dalam situasinya saat ini atau bukan,Rui terlihat sedikit lega saat itu,tangan nya pun mengenggam tangan Alana yang sudah mengenggamnya lebih dulu itu.


Terlihat Alana terperanjat karena respon Rui,tanpa sadar rona merah di pipinya pun terlihat.


"Terimakasih Lana" ucap Rui dengan senyum manisnya,membuat si penerima senyum seakan mati rasa dan salah tingkah.


"Ah i-iya, s-sama-sama,haha kau apa-apaan sih tersenyum seperti itu,jelek sekali" ujar Alana yang buru-buru melepaskan genggaman nya di tangan Rui dan mengalihkan pandangan nya kearah lain.


Dia apa-apaan sih,membuatku berdebar saja,gumam Alana dalam hatinya.


*


Untuk pertama kalinya,Eleeya membuka jendela kamarnya ketika malam hari,membuat angin malam yang menusuk kulit itu menyeruak memenuhi kamar Eleeya, ditambah dingin nya udara hari itu membuat Eleeya merinding, ia pun mengambil kain tebal dan melilitkan ditubuhnya.


Sudah berapa lama ia berada dirumah ini,sepertinya sudah cukup lama,hari-harinya dilalui dengan banyaknya kejadian yang tak terduga setelah ia bertemu dengan Yohan.


Gadis itu memejamkan matanya,ia sudah tak kesepian lagi,ia senang berada disini,ia tak masalah seberapa banyak ia terluka kalau itu membuatnya tetap bersama pria itu.


"Hah" gadis itu menghela nafas panjang.


Tepat setelah ia menghela nafas,ia dikejutkan dengan sepasang tangan yang telah melingkar di pinggang nya,seketika gadis itu menolehkan pandangan nya, dan matanya bertemu dengan sepasang bola mata hitam yang menatap nya dengan sendu.


"Ini terlalu dingin,tidak baik untukmu" ucap pria itu dengan lembut.


Dengan perlahan,Eleeya mengangkat tangan nya dan menempelkan telapak tangan nya di pipi Yohan,membelai nya dengan lembut sambil terus menatapnya.


Pria itu memejamkan matanya,seakan sedang menikmati belaian gadis yang tengah berada di pelukan nya itu,di pegangnya tangan gadis itu dan menggeserkan nya ke arah bibirnya agar dia dapat menciumnya.


Pipinya yang sudah bersemu itu tak lagi ditutupinya,dan dengan inisiatifnya sendiri, ia mendekatkan wajahnya ke wajah pria tampan itu,mendaratkan ciuman lembut di bibir pria itu, membuat pria itu sedikit terkejut dan mendelikkan matanya.


Ekspresi terkejut itu kini berubah menjadi seringaian,dengan liarnya dia membalas ciuman lembut dari gadis itu dengan ciuman yang sangat panas.


Angin yang meniup mereka malam itu seakan menemani mereka berdua.


Yohan melepaskan ciuman nya dan menatap dalam mata Eleeya, raut wajah gadis itu sudah tak karuan, itu menjelaskan bahwa Eleeya ingin meminta lebih.

__ADS_1


Yohan tersenyum,ia menekan pinggang gadis itu hingga tubuh Eleeya menempel pada nya, perlahan bibirnya menyapu lembut leher jenjang Eleeya membuat yang punya memejamkan mata nya karena sensasi hangat dan menggelitik.


"El,kupikir aku akan menjalin pertemanan dengan Rui seperti halnya kau" ujar nya tiba-tiba.


Mata Eleeya seketika terbuka mendengar perkataan Yohan,dia bingung maksud dari ucapan nya itu, menjalin pertemanan?Apa yang dimaksud dengan menjalin pertemanan?.


Yohan masih sibuk menciumi leher Eleeya,dan tangan nya sekarang telah bergerak mengarungi bagian tubuh Eleeya yang kenyal, membuat gadis itu terkesiap karena bagian belakang nya tengah di permainkan.


"Aku penasaran,sebenarnya hubungan seperti apa yang kau jalin dengan pria itu selama ini?"


Eleeya menautkan kedua alisnya,seakan tak mengerti arah pembicaraan Yohan sekarang.


"Ah Yohan,kurasa ini bukan lah saat yang tepat untuk membicarakan hal seperti itu" ucap Eleeya bingung.


"Kenapa?" tanya Yohan, kini dia mencoba membuka kancing baju Eleeya satu persatu dengan tangan nya.


Kini kedua gunung kembar Eleeya telah terpampang jelas di hadapan lelaki itu,seketika seringaian pun muncul di wajah tampan nya.


Eleeya memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya ketika Yohan mempermainkan kedua nya.


"Dia...Sangat menganggu, benarkan El? tanya Yohan disela-sela aktifitasnya.


Kembali Eleeya membuka matanya,ia menatap lurus kedepan tanpa berkedip,alih-alih sensasi nikmat,dia malah merasa takut dengan suasana sekarang.


"Hei,jantungmu berdetak lebih cepat" ujar Yohan menempelkan telinga nya di dada Eleeya.


"..."


"Apa kau gugup karena membicarakan tentang pria itu?" tanya Yohan dengan senyum nya dan sorotan matanya yang menyeramkan.


Eleeya menggelengkan kepala nya dengan cepat,menyatakan bahwa ia bukan nya gugup karena membicarakan Rui.


"Tidak?" ujar Yohan mendekatkan wajahnya ke wajah Eleeya.


Eleeya menatap lurus netra hitam yang sedang memandang nya tajam itu, dia menelan saliva nya dan meremas baju Yohan karena jari pria itu tengah memilin bagian sensitifnya.


"Dia itu terlalu menganggu,membuatku sangat muak,dia itu terlalu ikut campur" ucap Yohan kemudian.


"T-tapi Kak Rui..."


Yohan menatap tajam kearah gadis itu, sorotan mata nya yang dingin itu membuat kegelisahan dalam dirinya makin menjadi-jadi.


"Berhenti memanggilnya kakak,telingaku gatal mendengarnya"


"..."


Arah pembicaraan ini,aku tidak mengerti.


Sejak dia mulai berbicara tentang menjalin pertemanan dengan Kak Rui,itu sudah mulai aneh,aku sama sekali tak dapat membaca jalan pikiran pria ini,itu sedikit menyusahkanku,gumam Eleeya dalam hati.


"Aku biasanya selalu memberi pelajaran pada orang yang terlalu ikut campur urusanku" ujar Yohan yang kembali mengaitkan kancing baju Eleeya.


"...Huh?"


"Oh benar,kau adalah satu-satunya orang yang kubiarkan walau kau mencampuri urusanku,hanya kau" ujar Yohan seraya memeluk erat tubuh gadis yang tengah mematung itu.


"..."


"Kenapa kau diam El?Bukan nya tadi kau sangat bersemangat?" bisiknya ditelinga Eleeya.

__ADS_1


Yohan melepaskan pelukan nya kemudian menatap wajah bingung Eleeya, tangan nya bergerak dan itu membuat Eleeya memejamkan mata nya karena takut dengan hal yang akan terjadi.


"Udara nya semakin dingin,lihat bibirmu sudah memucat,sebaiknya jendela nya segera ditutup" ujar Yohan sambil menutup rapat jendela kamar Eleeya.


__ADS_2