
Suara bising menggema di setiap ruangan yang berada di kantor,semua orang disana seperti nya lebih banyak bergosip dan bersantai ketimbang melakukan pekerjaan mereka.
"Hah"
Rui menghela nafas nya,ia kelihatan sangat letih,bahkan ia tidak tidur beberapa hari hingga membuat kantung mata nya membesar.
Alana memandang rekan nya dengan tatapan khawatir,ia tahu beberapa hal yang terjadi itu membuat pria itu menjadi stres.
"Kau harusnya tak perlu memaksakan diri,setidak nya kau harus makan teratur dan tidur yang cukup" ujar Alana.
"Aku tau,terimakasih" jawab nya.
Rui kemudian bangkit dari tempat duduk nya lalu menghampiri meja yang berada di sudut ruangan nya berniat menyeduh kopi instan dan meminum nya.
"Apa kita akan tetap melanjutkan penyelidikan ini Rui?"
"..."
Rui terdiam sambil menyeruput kopinya.
Tentu dia harus melanjutkan nya,dia tidak ingin rasa stres yang ia derita menjadi sia-sia belaka.
"Iya Lana,kita harus tetap melanjutkan nya" ujar Rui menatap Alana.
"Hah,baiklah"
"Kau sudah menemukan tempat tinggal anak itu Lana?"
"Ya,aku harus memohon pada pria pemarah itu untuk melacak nya, nah jadi kau harus tau bahwa ini tidak gratis" ujar Alana.
Rui terkekeh mendengar ocehan Alana, pria pemarah yang di maksud nya itu pasti Roney, staf depan yang selalu bekerja di depan komputer setiap harinya.
"Ya ya,aku mengerti.Aku akan menraktirmu makan nanti"
Terlihat seutas senyum di bibir Alana mendengar penawaran dari Rui.
"Nah ini dia alamat nya" ujar Alana memberikan selembar kertas pada Rui.
Rui mendelik setelah melihat kertas tersebut.
"Kau yakin ini alamatnya?Sangat sedikit orang yang tinggal ditempat itu" ujar Rui tak percaya.
"Itu lah kebenaran nya,dia memang tinggal disitu" jelas Alana.
"..."
Yang benar saja,tidak seperti perkiraanku,orang yang sangat terkenal di kampus itu bahkan mau tinggal di komplek yang sangat sepi seperti itu, mencurigakan sekali.
itulah isi pikiran Rui.
"Pak Nathan bilang itu rumah peninggalan orang tua nya,dia bisa saja pindah rumah tapi dia tidak mau dan memutuskan untuk tetap tinggal disana sendirian" jelas Alana panjang lebar.
"Sendirian?"
Alana menganggukan kepala nya.
"Ya,pak Nathan yang bilang begitu"
Kemana orang tua nya?
Kalau apa yang disampaikan oleh Lana itu benar, itu menjadi masuk akal.
Menilik dari sifat dan keseharian anak itu,dia mungkin terpaksa tinggal di rumah itu karena itu peninggalan orang tua nya.
__ADS_1
Tapi, tetap saja.
Masih terasa ganjal, pikir Rui.
"Haruskah kita kesana?" tanya Alana.
Rui tersadarkan akibat pertanyaan dari Alana, dia memang harus kerumah Yohan untuk mencari informasi,tapi ada satu hal yang harus dia pastikan terlebih dahulu.
"Ya,kita akan kesana nanti" ujar Rui beranjak dari ruangan itu.
"Hei,kau mau kemana?"
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan,tunggulah sebentar" ujar Rui berlalu.
"Hah,apa sih yang di pikirkan anak itu" gumam Alana menyandarkan punggung nya di sofa.
Rui berjalan cepat,menaiki lift dan berhenti di salah satu ruangan kepala bagian.
Dia langsung mengetuk pintu tersebut dan masuk ketika suara di dalam menyuruh nya.
"Pak Nathan"
"Oi Rui,ada apa?"
"Apa aku...Bisa minta perpanjangan waktu untuk menyelidiki kasus Cedric?"
"Kenapa?Kau sama sekali belum ada perkembangan mengenai kasus nya?" tanya pak Nathan.
"..."
"Dengar aku,tak perlu begitu memaksakan diri,kesehatan juga sangat perlu untuk melakukan tugas melelahkan seperti yang kau kerjakan" ujar pak Nathan.
"Ah,iya terimakasih pak"
"Ohya pak,tentang anak sekampusku waktu itu,kau mengenal nya bukan?" tanya Rui.
Terlihat pak Nathan berusaha mengingat sebentar.
Tak berselang lama pak Nathan pun sudah mengingat nya.
"Ah,apa yang kau maksud itu Yohan?"
"Ya,benar yang itu" ujar Rui sambil mengangguk-anggukan kepala nya.
"Ya aku mengenal nya,rasa nya aku sudah pernah menceritakan nya padamu, dan kenapa juga tiba-tiba kau mengatakan hal ini" tanya pak Nathan.
Ya,sesungguh nya ini memang sangat tiba-tiba, tapi aku tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menanyakan hal ini,batin Rui.
"Aku tak sengaja melihatnya beberapa hari lalu,ia pulang menuju komplek A, aku bertanya-tanya apa yang ia lakukan di komplek yang terkenal sangat sepi itu" ujar Rui.
"Kenapa kau repot-repot memikirkan itu?Jelas itu adalah jalan menuju rumah nya sendiri"
Ah,jadi memang benar dia tinggal disana,gumam Rui dalam hatinya.
"Dia tinggal disana pak?"
"Benar,ah mungkin aku akan sedikit bercerita padamu" ujar pak Nathan.
"..."
"Aku sebenarnya sangat kasihan pada anak itu,dia anak yang baik dan ramah,aku masih mengingat wajah nya yang sedang menangis ketika kehilangan kedua orang tua nya" pak Nathan mulai bercerita.
"Kehilangan kedua orang tuanya?" tanya Rui bingung.
__ADS_1
"Ya,mungkin 10 tahun yang lalu ketika insiden itu terjadi, aku ikut dalam penyelidikan itu tapi hasil nya nihil,kami hanya meyakini bahwa orang tua nya sudah terbunuh di suatu tempat" celoteh pak Nathan dengan ekspresi nya yang sedih.
"Itu hal yang tidak masuk akal pak,bagaimana kalau pelakunya itu adalah orang dalam?"
"Hei jaga bicaramu anak muda,kau pikir Yohan yang membunuh orang tua nya sendiri?" ujar pak Nathan kesal.
"Ah,maafkan aku" ujar Rui tak enak hati.
"Ya sudah lah, jangan berpikiran yang macam-macam,fokuslah pada tugasmu,bila kau minta perpanjangan waktu maka itu akan kukabulkan,kalau selesai kau boleh keluar sekarang" perintah pak Nathan.
"Terimakasih pak,saya permisi " ujar Rui meninggalkan ruangan itu.
"Aku jadi bingung,haruskah aku mewaspadai anak itu sekarang?" gumam Rui sambil berjalan kembali keruangan nya.
*
Pandangan kosong dari Eleeya terpecah ketika mendapati Yohan sudah masuk ke kamarnya membawakan semangkuk bubur dan segelas air putih.
Yohan duduk disamping Eleeya dan mencoba untuk menyuapi gadis itu makan.
Setelah apa yang terjadi pada malam kemarin, Yohan kini telah berubah kembali.
Dia berubah lagi,aku sudah tak tahan dengan sikap nya yang gila ini,batin Eleeya.
"Nah ayo,sekarang kau harus makan" ujar Yohan sambil menyendokan bubur di dalam mangkuk lalu meniup nya.
"Jangan khawatir,ini hanya bubur ayam" ujar nya lagi,kali ini ia menyodorkan sendok itu ke mulut Eleeya.
Eleeya menutup rapat-rapat mulutnya,seakan tak ingin makan dari tangan Yohan,lalu ia pun mengalihkan pandangan nya.
"Kau mengabaikanku?" ujar Yohan dengan suara yang dingin.
Eleeya tersentak.
Tidak,tidak.Ini gawat,aku sudah membuat kesalahan,lebih baik aku turuti kemauan nya untuk kebaikanku.
Eleeya memutar kembali wajah nya,lalu membuka mulutnya.
Yohan tersenyum dan kembali menyuapi Eleeya.
"Bagus,dengarkan aku maka kau akan baik-baik saja"
Seolah tubuh Eleeya sudah terbiasa,itu pasti akan merespon sendiri.Tubuh nya akan gemetar ketika dihadapkan dengan Yohan yang seperti ini.
"Ayolah kau selalu gemetar,padahal aku hanya melihatmu"
"..."
"Hentikan lah,itu akan jadi kebiasaan kalau kau terus begitu"
Sekuat tenaga Eleeya berusaha untuk menghilangkan rasa gemetar nya,namun tubuh Eleeya bahkan gemetar dengan sendirinya.
"I-ini bergetar dengan s-sendirinya" ujar Eleeya.
"Benarkah?"
"Y-ya Yohan"
"Pfft,baiklah baiklah,kau tak perlu tegang seperti itu,imut sekali" ujar Yohan tertawa sambil mencubit sebelah pipi Eleeya.
"..."
"Nah habiskan ini,setelah itu aku akan mengoleskan obat pada luka di tubuhmu,tenang saja aku membeli obat yang paling mahal untukmu,agar luka itu sembuh lebih cepat" ujar Yohan kembali menyuapi Eleeya.
__ADS_1