
Eleeya tak sadarkan diri karena terlalu banyak menangis, mentalnya begitu buruk akibat shock bertubi-tubi yang ia alami, beruntung,anak yang di kandungnya tidak kenapa-kenapa, janin nya sehat.
*
Eleeya membuka kedua mata nya, kamarnya terlihat sepi, tak ada siapapun, ia memegangi kepala nya yang masih sangat pusing, ia melepas alat infus yang di pasang di lengan nya karena merasa tak nyaman, ia merasakan wajahnya bengkak terutama area mata, itu karena dia telah menangis seharian.
Ia termangu,menatap lurus dengan pandangan yang kosong.
"El"
Eleeya tersentak, suara Yohan yang memanggil nama nya bergema di telinga nya, ia berpikir bahwa itu hanya lah halusinasi nya, tapi dia terus menerus mendengar suara itu.
Ia beranjak turun dari ranjang nya,mengikuti asal suara yang memanggilnya itu, hingga akhirnya tanpa sadar ia sudah berada di atap Rumah sakit itu, terlihat samar-samar sosok Yohan yang sudah menunggu nya di ujung atap.
Desiran angin disana seakan membuat gadis itu terhipnotis, bibir Yohan yang tersenyum padanya dengan tatapan yang sangat dirindukan oleh Eleeya itu membuat gadis itu segera ingin datang pada nya.
"Aku sudah bilang aku akan kembali"
"Yohan" gumam Eleeya sambil merekahkan senyumnya ketika melihat sosok Yohan disana.
"Kemarilah,ikut denganku,mari kita bersama selama nya" ujar Yohan mengulurkan tangan nya.
Eleeya segera berlari menghampiri Yohan untuk menyambut uluran tangan nya, satu hal yang tidak ia sadari, ia berlari mengejar Yohan yang berada di penghujung atap yang akan membuatnya terjatuh bila terus berlari kesana.
Ya, itu hanyalah halusinasi nya semata, Yohan yang dilihatnya itu bukanlah Yohan yang nyata, itu muncul dengan sendirinya karena dia merindukan sosok Yohan.
TEP..
Eleeya terhenti ketika Rui memegang tangan nya, dan segera memeluknya, saat itu juga sosok Yohan dalam pandangan nya menghilang.
"Apa kau sudah gila?Kau ingin mati,hah?" ujar Rui dengan nada panik dan kesal.
"...Huh?"
Eleeya menolehkan pandangan sekeliling nya, namun sosok Yohan sudah tak ada lagi.
"Tadi dia ada disini" gumam Eleeya.
"SIAPA?"
"Yohan"
"Hah?Astaga Eleeya" Rui segera membawa Eleeya dalam dekapan nya.
"Dia sudah tidak ada Eleeya, kau harus menerima kenyataan itu" bentak Rui.
"..."
"Jangan lagi lakukan hal bodoh seperti itu, itu sangat berbahaya,bagaimana bila kau jatuh" ujar Rui sambil mengusap-usap puncak kepala Eleeya,wajahnya terlihat sangat panik saat itu.
Eleeya hanya diam mematung didekapan Rui,layak nya orang idiot.
"Kau harus tetap hidup dengan baik,ingat calon anakmu,kau tidak boleh egois"
"...Hiks hiks, maafkan aku Kak Rui,maafkan aku" ujar Eleeya membalas pelukan Rui.
*
"Kau sudah tenang sekarang?" tanya Rui yang sudah melihat Eleeya tak lagi menangis.
Eleeya menganggukan kepala nya pelan,lalu ia pun menarik ujung baju Rui perlahan,membuat Rui memiringkan kepalanya karena bingung.
"Bisakah kau mengantarku kerumah Yohan sebentar, ada sesuatu yang ingin kupastikan disana" ujar Eleeya pelan.
"..."
__ADS_1
"Sekali ini saja" mohon nya.
"Hah,baiklah"
*
Eleeya memasuki pekarangan rumah itu,berjalan perlahan melewati garis kuning yang melingkari rumah itu, membuka pintu nya dan masuk.Seketika kenangan akan mereka berdua menyeruak menyerbu ingatan Eleeya, itu membuat Eleeya kembali bersedih.
Cepat-cepat ia berjalan menuju kamar Yohan dan membuka lacinya, diambilnya sebuah kotak kecil yang tergembok itu lalu ia bergegas pergi, ia tak ingin berlama-lama disana karena akan menambah luka dihatinya, namun ia terhenti di depan pintu kamarnya, setelah tak lama berpikir, ia pun masuk kekamar nya dan membuka lemari pakaian nya, dia mencari-cari sesuatu dan akhirnya ketemu, foto pertama dan terakhirnya dengan Yohan yang diambil di taman hiburan, ia memeluk foto itu dan membawa nya.
Setelah nya dia pun kembali dan itu adalah terakhir kali dia kesana.
Malam itu, ketika dia sendirian di kamar inap nya, ia mengeluarkan sebuah kunci kecil yang diberikan petugas penjara tempo hari, dimasukan nya kedalam gembok itu dan berhasil terbuka.
Eleeya segera membuka kotak itu,dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah cincin dengan berlian kecil yang berkilau disekitarnya, disana juga terdapat secarik kertas, ia membuka kertas itu dan membaca isi tulisan nya.
El,aku tak pandai dalam hal ini,
Aku sengaja menulis ini karena aku malu mengatakan nya, kau selalu bilang kalau kau mencintaiku bukan? Walau pada akhirnya kau selalu tersiksa.
Itu mengesankan bagiku...
Waktu itu kau bertanya padaku apakah aku juga mencintaimu..
Jawaban nya ya,aku memang mencintaimu..
Cincin ini adalah hadiah ulang tahunmu yang sebenarnya..
Aku ingin menjadikan kau milikku seutuhnya,maka jadilah istriku...
Tes..tes...
Air mata mulai menetes membasahi selembar kertas itu, ia memeluk kertas itu sembari menangis sedih.
Lalu ia memakai cincin itu di jari manisnya, sambil tersenyum ia berkata;
*
***Eleeya pov:
Hari itu aku merasakan perasaan nyaman pada diriku, aku mulai membuka mataku, dan terkejut karena aku berada di tempat yang tak asing bagiku.
Ini adalah kamar yang kutempati selagi tinggal bersama Yohan.
Aku bangun dan mengusap-usap kembali mataku,barangkali aku berhalusinasi lagi, tapi ini bahkan terasa sangat nyata bagiku.
"Kau sudah bangun El?"
Ah,suara ini aku sangat mengenalnya, sontak aku langsung menoleh keasal suara.
Yohan tengah berdiri tepat di depan jendela,membelakangi cahaya yang akan masuk.
Dia tersenyum padaku,senyum yang selama ini selalu kurindukan itu kini terlihat lagi.
"Kau tak ingin memelukku?Kau tak rindu padaku ya?" ujarnya melebarkan tangan nya.
Tanpa pikir panjang,aku segera beranjak dan berlari kearah nya,memeluk tubuhnya erat,bahkan aroma tubuhnya yang sangat kurindukan itu dapat kuhirup kembali.
Ia membelai rambutku dan sesekali mengecup puncak kepalaku, Ah rasanya sangat lah nyaman.
"Nah,ayo pergi bersamaku" ajaknya.
"..."
Aku terdiam, disitu aku tersadar bahwa ini tidak lah nyata, aku ingat perkataan Kak Rui saat itu, walau akan sangat menyenangkan bila akhirnya kami bisa bersama bahkan dineraka sekalipun, tapi aku memikirkan anak yang sedang kukandung ini, akan sangat kejam bila aku mengikuti keegoisanku,bahkan ia belum sempat melihat dunia yang sangat keras ini.
__ADS_1
Aku melepaskan pelukanku,dan mundur perlahan sambil menundukan kepalaku, terlihat Yohan kebingungan akan ekspresi dan tingkahku, aku mendongakkan wajahku dan menatap mata nya.
Tak lama kemudian ia pun tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
"Baiklah,baiklah aku mengerti, aku akan menunggumu, dan sampai hari itu tiba hiduplah dengan baik dan jaga calon anak kita" ujarnya.
"...Huh?"
Aku tersentak,sejak kapan dia mengetahui hal itu bahkan dalam mimpiku.
"Pft,kau bingung,imut sekali hahaha.."
"..."
"Kau pikir aku ini idiot?Aku bahkan sudah mengetahuinya sebelum kau bertanya soal bayi padaku dulu"
"Ah,lalu bagaimana kau mengetahuinya"
"Kau tidak membakar testpack nya dengan benar El" ujarnya terkekeh.
Aku mendelik mendengar ucapan nya, apakah mimpi ini adalah nyata?
Semua ini begitu nyata, aku bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
Aku sudah tak peduli ini mimpi atau bukan,yang jelas aku jadi merasa sangat lega karena nya, aku kembali memeluk tubuh Yohan dengan erat.
Aku bahkan berjanji akan menjaga calon anak kami dan melahirkan nya.
Bagiku Yohan selalu hidup di hati dan pikiranku, dia selalu ada disampingku,dan sampai saat itu tiba,dimana kami akan bersama lagi, selama itu,aku akan menuruti perkataan nya dengan menjalani hidup dengan baik.
*
Angin yang berhembus hari itu menyeka rambutku, aku meletakan sebuah bunga di atas pemakaman yang tertera nama Yohan Alcester Ronstar di batu nisan nya.
Setidaknya dia kemudikan secara layak bersama dengan kedua orang tua nya.
Aku menoleh kesamping kananku, terlihat diujung sana, Kak Rui sedang melakukan hal yang sama denganku di pemakaman Detektif Alana.
Semua memori tentangnya akan aku simpan didalam hatiku, kini aku kembali hidup sendirian, waktu itu Kak Rui tiba-tiba melamarku, aku sangat terkejut tapi aku menolaknya, Kak Rui pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada diriku, apalagi orang ini akan sangat marah bila ia mengetahuinya.
Aku memandangi jari manisku yang melingkar sebuah cincin disana.
"Aku merindukanmu" gumamku.
"Aku juga" ujarnya berbisik ditelingaku.
Aku tersenyum,aku tidak benar-benar sendirian,dia selalu menemaniku kemanapun aku pergi.
Aku mengusap perutku yang sudah membesar, aku menoleh kesampingku, kulihat wajahnya yang tampan tersenyum padaku.
Ya,begini sudah cukup untuk ku, aku bahagia walau hanya seperti ini.
...----------------...
Season 1 tamat
Terimakasih buat para readers yang setia udah dukung dan baca karyaku.
Aku akan lanjut ke season 2 setelah hiatus untuk beberapa hari.
Aku akan berusaha membuat karya yang lebih baik lagi, maafkan bila banyak salah dalam setiap ceritaku, atau jalan cerita nya yang tidak menarik, karena aku hanyalah pemula,hiks :')
Di season 2 ini bukan lagi cerita tentang Yohan,Eleeya dan Rui ya, cerita nya tentang... Eh NO SPOILER haha...
Pokoknya cerita nya masih bersangkutan kok sama mereka, stay tune yaaa
__ADS_1
Sekali lagi makasih yaa 🙏🙏🙏🙏
See you in CAABA season 2 yaaa :)