
Diatas meja yang diyakini berada didalam sebuah kamar, terdapat banyaknya surat kabar yang kusam dan terlihat sudah sangat lama, disana tertera banyaknya berita tentang kasus pembunuhan yang disertai dengan terpampangnya foto pria muda yang sangat tampan.
Semua surat kabar itu memiliki isi berita yang sama yakni kasus pembunuhan berantai yang terjadi 27 tahun silam.
Berita yang menghebohkan pada zaman nya dimana terjadinya kasus pembunuhan keji yang dilakukan oleh seorang pria muda yang diduga seorang psikopat, kasus itu kini menjadi legenda di kota itu, semua orang bahkan mengingat nya.
Tak jauh dari meja tempat surat kabar itu bertumpuk, seorang pria nampak sedang tertidur pulas di ranjangnya yang empuk, pria dengan rambut abu itu menggeliut dan mengedip-ngedipkan mata nya ketika sinar matahari menembus jendela dan menerpa wajahnya.
Ia membuka perlahan matanya, netra hitamnya menyorot kearah jendela itu, wajah tampan nya seketika mendengus ketika mengetahui cahaya itulah yang membuatnya terbangun.
Pada akhirnya ia pun memaksakan dirinya untuk bangun, dengan malasnya ia beranjak dari sana, pria dengan raut wajah datar namun terlihat sangat tampan itu pun berdiri, dengan rambutnya yang acakan dan kancing piyama yang terbuka hingga terlihat otot dada nya yang sangat memanjakan mata kaum hawa bila melihatnya.
Ia mengambil segelas air diatas nakasnya lalu meneguknya sampai habis.
"Hah"
Ia menghela nafas panjang, diliriknya jam dinding didalam kamarnya, tak lama kemudian ia pun memasuki kamar mandinya.
Kini pria tersebut sudah terlihat rapi dengan setelan jas yang dipakainya, rambut abunya sudah tak acak-acakan seperti tadi.
Dia berjalan perlahan dan berhenti di ruang tengah rumahnya, menghadap dinding yang terpajang banyaknya foto dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana nya.
Banyak sekali foto-foto disana, dimulai dari foto wanita cantik berambut coklat bersama pria tampan berambut hitam yang berada di sebuah taman hiburan hingga foto bocah kembar yang tertawa berjejer disana.
"Hah, itu masalalu yang menyenangkan" ujarnya tersenyum.
Tepat setelah itu, ia melenggang pergi, mengendarai mobil mewahnya dan berhenti tepat di area gedung pencakar langit.
Ia berjalan masuk dan terlihat semua orang disana menyapanya dengan hormat, terlihat dia membalas sapaan mereka dengan senyumnya yang terlihat meneduhkan bagi semua pekerja di sana.
Ia berjalan dan masuk keruangan yang luas dan rapi, duduk di kursi kebesaran nya dan mulai mengutak-atik laptop didepannya.
Sunyi dan senyap, hanya terdengar suara ketikan dari jari tangan pada laptopnya, ia tersenyum, menikmati suasana diruangan nya yang tak berisik, namun hal itu tak berlangsung lama ketika seseorang mengetuk pintu ruangan nya.
"Hah, sungguh menganggu" gumam nya.
TOK..TOK...TOK...
"Masuk"
Seorang pria tampan dengan luka dimata nya pun memasuki ruangan itu.
"Zay, sebentar lagi kita akan meeting bersama klien kita" ujar pria itu.
Pria tampan berambut abu yang tak lain adalah Elzay itu pun menghela nafasnya dan mengangguk pelan, lalu ia pun kembali menghadap layar laptopnya.
BRAAKKK
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan sangat keras, wanita cantik,seksi namun anggun pun melangkah masuk lalu duduk tepat dihadapan Elzay.
__ADS_1
Elzay hanya mengerutkan dahinya ketika melihat wanita yang masuk keruangan nya tanpa izin itu, dan lagi wanita itu tersenyum kearahnya.
"Kemana sopan santunmu?" tanya Elzay dengan tatapan datarnya.
"Hei, kau baru mengecat rambutmu?" tanya wanita itu.
"Ya"
"Sayang sekali, padahal kau lebih cocok dengan rambut hitam Zay"
"Itu benar, sayangnya aku tak ingin terlihat sama persis denganmu"
Wanita itu hanya terkekeh dan beranjak dari sana, berjalan pelan dan mendaratkan bokong seksinya di sebuah sofa.
Ia mengambil selembar surat kabar yang ada di atas meja dan membaca nya.
"Ada apa kau kesini?" tanya Elzay lagi.
"Aku rindu padamu,Zay" ujar wanita itu dengan tatapan yang masih terfokus pada surat kabar itu.
Elzay hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan ia pun tersentak ketika mendapati wanita itu tengah terkikik seraya sedang mendapati cerita yang lucu.
"PFT,HAHA dasar bodoh" ujar wanita itu masih membaca surat kabar itu dengan tertawa.
"Hei, jangan bertingkah mengerikan di ruanganku" ujar Elzay.
"Ah tidak, berita ini terlihat lucu bagiku" jawab nya.
"Iya, ini betul-betul lucu"
"Bukankah orang yang ada dikoran itu adalah kekasihmu?"
"..."
Wanita itu terdiam, tak menjawab pertanyaan Elzay namun juga tak tertawa lagi.
"Jangan bercanda Zay, dia bukan kekasihku, dia orang gila yang bahkan tega membunuh istrinya sendiri"
"Kau pikir aku ini idiot?"
"..."
"Buang jauh-jauh sifatmu yang buruk itu Lisa, bahkan obsesimu itu membuatmu jadi seperti orang gila" ujar Elzay dengan nada yang menekan, membuat wanita yang tak lain adalah saudara kembarnya Elisa itu tertegun.
"Kenapa kau marah padaku Zay?"
"..."
Elisa mulai memperlihatkan tampang polos dan sedihnya, mungkin ia akan menangis sebentar lagi.
__ADS_1
"Aku tak melakukan apapun Zay, kenapa kau terus saja memarahiku, hiks hiks"
"Hah, berhentilah berlagak, aku tau kau hanya pura-pura"
"...Huh?"
Elisa tersentak, ia mendelik menatap saudara kembarnya yang sibuk dengan laptopnya itu, mendapati bahwa Elzay mengabaikan tangisan nya, Elisa pun terkekeh.
"Baik,baik bahkan kau mengabaikan aku yang menangis sekarang, kalau dulu kau pasti akan segera cemas dan memelukku,bukan begitu Zay?"
"Ya, itu karena dulu aku belum tahu bahwa kau pandai berpura-pura" ujar Elzay malas.
Elisa meletakan koran yang tadi dibacanya, lalu menyandarkan punggungnya di sofa, sambil melipat kedua tangan nya, ia pun menatap tajam kearah Elzay.
"Dengarkan aku Zay, kau tak berhak melarangku atas apa yang kulakukan, ini mengenai percintaanku, kau tahu?Ibu bahkan bilang mengejar orang yang kita cintai itu bukanlah tindakan yang salah, lantas apa kesalahanku?" ujar Elisa dengan tatapan nya yang datar.
"..."
"Zay yang agung ini mana paham soal cinta, kau hanya bergonta ganti pasangan tanpa adanya perasaan didalam nya, ya ampun aku jadi merasa kasihan pada para wanita itu" ujar Elisa sambil memilin-milin dahinya.
Elzay masih sibuk dengan pekerjaan nya ketika Elisa berbicara panjang lebar tentang dirinya, bahkan pria yang pertama kali masuk keruangan itu masih berdiri disana sambil melihat adegan sepasang anak kembar yang adu argumen ini.
"Hah, aku akan pergi sekarang" ujar Elisa beranjak dari sofa dan bersiap meninggalkan ruangan itu.
Tepat di depan pintu Elisa pun menghentikan langkah kakinya dan melirik ke arah pria tampan dengan bekas luka di mata nya itu.
Elisa pun tersenyum kearah pria itu dan dibalas dengan ekspresi kikuk pria itu.
"Jas yang bagus Wim" ujar Elisa memberikan kedipan mata nya yang menggoda pada pria itu.
Pria yang bernama Wim itu pun hanya menelan saliva nya ketika wanita cantik itu menggoda nya, dia sampai tak berkedip menatap wanita itu hingga ia keluar dari ruangan itu.
"Hei"
Suara berat dari Elzay pun seketika menyadarkan Wim, ia pun tersentak lalu menatap ke asal suara.
Terlihat Elzay sedang menatapnya dengan tatapan yang datar namun menusuk.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Wim.
"Hah, kuberi tahu satu hal, kalau itu aku, aku akan berpikir ratusan, ah bahkan ribuan kali untuk tertarik pada wanita seperti Lisa" ujar Elzay
Wim, atau William Tan adalah bawahan sekaligus teman dekat Zay dan Lisa, mereka dekat sejak ketiga nya kuliah di kampus yang sama, semenjak kematian Eleeya, Zay dan Lisa terus bekerja keras, berbagai pekerjaan mereka jalani hingga pada akhirnya mereka lulus dengan pencapaian yang luar biasa.
Luka goresan yang terdapat di mata sebelah kanan Wim, adalah luka yang diterimanya akibat kemarahan Lisa.
Wim yang sudah tertarik pada Lisa sejak masa kuliah itu tak sengaja melihat Lisa yang sedang ingin mencelakai seorang mahasiswi menggunakan serpihan kaca, Wim ingin menghentikan aksi gila Lisa saat itu dan alhasil kaca itu menggores matanya hingga ia harus menjalani sebuah operasi.
"Tapi dia sangat manis" ujar Wim sambil terkekeh membuat Zay mendengus karena nya.
__ADS_1
"Ya, dia memang anak yang manis, setidaknya dulu" gumam Zay.