Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 72 S2 : WAHANA


__ADS_3

ELISA POV:


Ini makan siang yang menyenangkan, aku bahkan harus terus berpura-pura tersenyum dan terlihat tenang di depannya, rasanya aku ingin segera menikamnya saat ini juga.


Dia terus saja menceritakan kehidupan indahnya hingga saat ini, sedari tadi aku tak bisa memalingkan pandanganku dari perutnya, itu adalah satu-satu nya tujuanku mengajaknya makan siang hari ini, tapi kurasa berjalan-jalan dengan nya juga menyenangkan.


"Lily, bagaimana kalau setelah ini kita pergi ketaman hiburan yang disana" ujarku.


"Ah tapi, aku masih ada kerjaan di kantor, Zay pasti marah padaku" jawabnya ragu.


Aku lupa, Zay sangat menyukai wanita ini, kalau dia tau orang yang kuajak makan siang itu adalah Lily, dia pasti akan memarahiku.


Hah, persetan dengan Zay, aku kan tidak melakukan apapun, aku tidak akan membunuh wanita yang ada di depanku ini, aku hanya mengajaknya bermain, hanya itu.


"Itu masalah gampang, Wim ada disana menggantikanmu"


"Tapi.."


"Aku sedang sedih karena baru saja putus dari pacarku, Zay selalu sibuk, aku tak punya siapa-siapa yang bisa kuajak pergi, kumohon temani aku Lily" ujarku dengan tampang sedihku.


"...Ba-Baiklah, aku akan menemanimu"


Kulihat raut wajah ragu darinya ketika mengatakan hal itu, aku hanya tersenyum dan tetap mengajaknya pergi, aku tahu dia, orang yang tak pernah berkata tidak pada orang lain, aku jadi penasaran, kalau aku berkata bolehkan aku memiliki suaminya, apakah jawabannya tetap seperti itu?.


Pada akhirnya semua berjalan seperti yang aku pikirkan.


Kami berjalan beriringan, layaknya dua orang sahabat yang tengah menikmati akhir pekan bersama, terkadang aku heran, apa kebodohan nya memang sudah mendarah daging? Tapi sepertinya tidak, wanita ini hanya naif, dan aku membencinya.


Netra hitamku memandangi satu wahana yang sangat aku sukai, Roller Coaster.


"Mau coba naik yang itu?" tanyaku.


"Ah, itu agak.."

__ADS_1


Pft, dia takut, aku merasakan ketakutannya, itu sungguh menggemaskan, tanpa permisi aku menarik tangan nya dan dengan bodohnya dia mengikuti, memperlihatkan senyumnya yang terpaksa padaku, ya ampun aku jadi merasa bersalah, haha. Aku hampir saja melepas tawaku, ini benar-benar menggelikan, jelas-jelas permainan ini tidak memperbolehkan orang hamil untuk menaikinya, tapi lihat saja dia, dia bahkan tak menolak ajakanku, tapi itu hal bagus, karena kalau dia menolak, dadaku akan terasa sesak nantinya.


Aku menatap datar dan sesekali melirik semua orang yang menaiki wahana ini, tak terkecuali Lily yang berada di sampingku.


Semua orang berteriak, entah senang atau takut, aku tak tahu, tapi raut wajah mereka menggambarkan kalau mereka ketakutan, kulihat Lily, wajahnya sangat menyedihkan, dia benar-benar ketakutan, tanpa sadar aku tersenyum simpul karena nya, pepatah itu benar, kebodohan seseorang itu bisa menguntungkan orang lain.


Sedari tadi dia memegang perutnya yang terasa keram, bahkan ia memuntahkan seluruh isi perutnya ketika turun dari wahana itu, wajahnya jadi pucat, tapi dia tetap tersenyum dan bilang tidak apa-apa.


Itu jawaban yang sangat salah, aku akan mempertimbangkan kalau dia ingin pulang sekarang.


Tapi sekali lagi, dia berkata "Aku tidak apa-apa Elisa".


Kali ini aku tergoda melihat wahana gelap itu, Rumah Hantu.


Sepertinya keadaan Lily membaik sekarang, rona merah pada pipinya sudah mulai terlihat, itu sedikit mengesalkan, tapi jika aku melihat segala sesuatu dari segi positif, maka semua hal bodoh yang kulakukan ini pasti akan menguntungkan, kita coba saja.


"Kau Elisa Fioneer, benarkan?"


"...Maaf?"


Aku hanya menyunggingkan senyum manisku pada mereka, para remaja yang mengaku menjadi penggemarku, haruskan aku merasa senang sekarang?.


"Bagaimana kalau hantu disini tiba-tiba membunuh, atau ada pembunuh berantai disini, hii aku jadi takut kekeke"


Aku hanya tersenyum mendengar para remaja ini berbicara mengenai pembunuhan didepanku.


"Ya, kita hanya berempat disini, bagaimana kalau hanya ada dua yang selamat keluar dari sini" ujarku.


"Kakak, itu menyeramkan" ujar mereka sambil terkikik.


"Ya Elisa, itu memang menyeramkan" ujar Lily menambahi.


"..."

__ADS_1


Tempat ini lembab dan gelap, ini mengingatkan aku dulu saat aku dan Zay masuk ke tempat seperti ini, bahkan dari awal hingga akhir, raut wajah kami berdua tetap sama, datar. Dan itu pun sama seperti kali ini, orang yang menjelma sebagai hantu dan mencoba menakut-nakuti kami, itu sangat membosankan, bahkan cairan kental yang pastinya bukan darah asli itu sangat disayangkan, coba saja mereka memakai darah asli, tempat ini akan aku jadikan tempat favoritku juga.


Suasana nya sedikit mencekam ketika aku melihat ada tangga diujung jalan, aku menyeringai tanpa sadar, kulihat dua remaja ini mengubah posisi mereka, yang awalnya didepan kini memindahkan diri kebelakangku dan Lily.


"Aku takut, disana pasti ada hantunya" ujar salah satu dari mereka.


"Tidak ada, lihatlah aku akan jalan duluan" ujar Lily bak pahlawan yang mementengi kami.


Ia menyusuri tangga yang dihiasi dengan lumut palsu di sudut kanan dan kirinya, aku sedikit kaget ternyata tangga ini lumayan tinggi, apa benar ini sebuah wahana permainan, ini malah seperti wahana menuju kematian, pikirku.


Kulihat Lily sudah setengah jalan, aku naik keatas, berpindah ke belakang si dua remaja itu.


"Tidak apa-apa, turunlah dengan hati-hati" ujarku.


Sunyi dan senyap, aku menggerakan tanganku, mendorong tubuh kedua gadis remaja yang ada didepanku ini, mereka tergelincir, berteriak dan akhirnya terjatuh, menggelinding hingga akhirnya mencapai posisi Lily, bahkan Lily yang kaget itu tak berusaha menyelamatkan dirinya, kudengar benturan keras setiap kali mereka jatuh dari anak tangga satu ke satunya lagi, tak ada teriakan, yang ada hanya bunyi tulang yang patah.


Aku turun perlahan, menyalakan lampu senter dari ponselku, dan pemandangan indah kini terlihat di mataku.


Gadis manis yang mengaku sebagai penggemarku kini tergeletak kaku dengan kepala yang patah, tangan nya bahkan membengkok dengan kaki yang mengangkang, dan yang satunya terkelungkup dengan kepala pecah dan darah yang berhamburan kemana-mana, sungguh keras lantai itu ternyata.


Sayang sekali mereka mati, padahal mereka ini penggemarku, memang benar, berhati-hatilah pada apa yang kau ucapkan, karena kita tak akan pernah tau bagaimana ucapan itu menjadi harapan yang terkabulkan, dan seperti yang mereka ucapkan, disini benar-benar ada seorang pembunuh berantai.


Aku menyeringai, kini tempat ini kunobatkan sebagai wahana favoritku, karena anyir darah sekarang ini berasal dari darah yang asli.


"NGH..."


Telingaku menangkap lenguhan seseorang, oh benar, aku melupakan Lily.


Aku mencari suara rintihan itu, lampu ponselku menangkap Lily yang sedang merintih kesakitan, kepalanya berdarah dan yang terpenting adalah dia mengalami pendarahan pada ************ nya, sedari tadi dia memegangi perutnya sambil merintih:


"Anakku...Anakku"


Aku menatapnya datar, setidaknya dia tidak mati, ada bagusnya dia berjalan lebih dulu, dia jadi terjatuh tak terlalu jauh.

__ADS_1


Aku rasa ini sudah cukup, aku mendekat kearahnya, membantu nya dan membawa nya keluar, bahkan aku menyuruh orang-orang disana memanggil Ambulance, setidaknya dia harus berterimakasih pada Zay, dia lah satu-satunya alasan untukku tak menghabisi Lily sekarang ini.


__ADS_2