Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 87 S2 : William Abigail Tan (Part 1)


__ADS_3

Flashback on:


WIM POV:


Aku terbangun di pagi hari yang seperti biasa, memakan makanan seadanya seperti halnya seiris roti dan segelas kopi, setidaknya tinggal di kamar sewa ini lebih baik ketimbang harus tinggal di panti asuhan itu.


Jujur saja, aku adalah orang yang menyedihkan, masa kecilku tak terlalu bagus, dari dulu aku selalu di olok-olok oleh temanku yang tinggal bersama di panti asuhan, terkadang saja, aku seringkali disakiti secara fisik maupun verbal oleh mereka, aku tak tahan, hingga kuputuskan untuk keluar dari sana dan memulai hidup baruku sendirian.


Hidupku yang biasa-biasa saja ini perlahan mulai berubah semenjak aku mengenal mereka berdua.


Langkah kakiku gontai melangkah memasuki kampusku, aku sangat beruntung, beasiswa yang kudapatkan itu mengantarkanku ke kampus yang sangat bagus ini, tak hanya itu saja, yang menjadi semangatku ketika kuliah adalah gadis cantik yang tengah berdiri disana, gadis dengan rambut hitam pekat dan bola mata yang senada dengan rambutnya. Namanya Elisa, gadis yang membuatku jatuh hati pada saat pertama kali bertemu, dia memiliki saudara kembar laki-laki yang sangat mirip dengan nya, Elzay.


Entah bagaimana jadinya, kami bertiga menjadi akrab ketika di kampus, ah tak hanya itu, bahkan saat diluar kampus pun kami sering menghabiskan waktu bersama, seperti makan bersama bahkan liburan bersama


Aku yang mengira Elisa adalah gadis yang polos dan lemah lembut itu akhirnya harus mengubur dalam-dalam cara pandangku itu terhadapnya. Pada suatu waktu di koridor kampus, aku mendapati Elisa hendak menikam seorang mahasiswi disana dengan serpihan kaca. Aku terkesiap, tak percaya dengan apa yang kulihat, tanpa sadar aku menghalanginya agar kaca itu tak mengenai siswi itu, alhasil mataku lah yang menjadi korban kaca itu.


Saat itu aku mendengar jeritan dari gadis yang kuselamatkan itu, bahkan saat itu aku sudah dikerumuni banyak orang, rasa perih bagai tersayat kini terasa di bagian mata kananku, aku merasa mataku terlepas dari tempat nya, aku memegang banyak darah yang mengalir dari sana, darah kental yang berbau amis itu terus saja mengalir tak henti, itulah pertama kali dalam hidupku aku melihat darah sebanyak itu.


Aku masuk rumah sakit karena hal itu, menjalani sebuah operasi yang tak pernah kubayangkan seumur hidupku, tapi aku cukup merasa tenang karena kedua temanku selalu berada disisiku, walau tak bisa di pungkiri bahwa salah satu dari merekalah yang menyebabkan aku begini.


Saat itu aku sangat takut, bagaimana kalau aku tak bisa melihat lagi, bagaimana kalau rasa nya sangat sakit, bagaimana kalau aku diejek seluruh anak kampus dengan kondisi mataku. Namun, Lisa yang tersenyum itu memegang tanganku dan berbisik, "Semua akan baik-baik saja, ada aku dan Zay, kau tak perlu cemas". Aneh nya aku merasa tenang setelah mendengar kalimat yang terlontar darinya, aku tak bisa marah atau pun kesal pada wanita itu, aku juga tak pernah berpikir untuk bertanya mengapa dia ingin melukai gadis kemarin, aku rasa dia punya alasannya dan itu bukan urusanku.


Beberapa waktu, kondisi mataku berangsur pulih, dengan sejumlah perawatan intensif yang aku jalani, kini aku tak lagi merasa nyeri pada bagian itu, aku tersenyum lebar sembari memegang bekas sayatan pada mata kananku, ucapan nya benar, semua nya memang baik-baik saja, setidak nya mereka memang selalu ada untukku, itu sudah lebih dari cukup. Aku menyukai pasangan kembar itu, walaupun Elzay adalah anak yang dingin, namun sebenarnya dia adalah anak yang peduli, terlebih pada Elisa, saudari kembarnya, tidak ada yang kami sembunyikan, walau sebenarnya aku agak susah menebak karakter Elzay sesungguh nya, tapi aku teringat, ada satu cerita yang tak diketahui oleh Elzay mengenai aku dan Lisa, cerita yang membuatku jadi lebih menyukai gadis itu, juga membuatku sangat ingin mendedikasikan semua nya pada Lisa, bahkan nyawaku.


Hari itu aku pulang kuliah dengan sangat lelah, aku pulang sendiri kala itu, dengan langkah gontai aku menapaki jalan sempit yang kusebut gang, sejujurnya aku agak trauma lewat jalan ini karena disini terkenal sangat lah sepi, bahkan jika kau mencoba membunuh seseorang disini, aku yakin tak ada yang akan mengetahuinya, aku pernah dihadang bahkan dipukuli oleh Reid dan teman-teman nya (Anak yang sering membully Wim di panti asuhan). Tapi, karena jalan ini satu-satu nya akses agar aku sampai kerumahku lebih cepat, dengan sangat terpaksa aku melewati jalan itu untuk pulang.


Layaknya jalan biasa, angin yang berhembus bahkan menerbangkan debu-debu jalanan disana, aku menghentikan langkahku, jantungku berdegup kencang, aku tak bisa mengalihkan pandanganku, hari sialku terjadi lagi, tepat tak jauh dariku, aku melihat Reid dan satu orang teman nya sedang terkekeh melihatku, sambil menghisap rokok nya, mereka terkikik dan menatapku seakan siap menyiksaku lagi.

__ADS_1


Percayalah, aku sering mencoba melawan, tapi entah kenapa aku tak percaya diri akan kekuatanku sendiri, karenanya aku sering diam selagi mereka memukul dan mempermalukanku.


Dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan berlari dari mereka, tapi sial sekali, kenapa aku harus terjatuh disaat-saat seperti ini, aku mengutuk habis-habisan batu besar yang membuatku terjatuh itu, dan lagi kakiku pun terkilir akibatnya, aku memejamkan mataku, menahan rasa sakit yang menjalar di kakiku itu.


"Ya ampun, sekarang kau penyandang gelar mata cacat ya" ujar Reid sembari tertawa bersama teman nya.


"..."


"Lihat dia, dia ketakutan, dasar bocah bodoh"


Mereka mulai merogoh saku celanaku dan menghamburkan semua isi tasku.


"Hei pecundang, mana uangmu"


"...Aku tidak punya"


Itu uangku yang kudapatkan karena bekerja paruh waktu, kalau dia mengambilnya maka aku tak punya uang lagi.


"Tolong jangan ambil uangku, aku tak punya uang lagi" ujarku sambil memohon.


BUK...


Sebuah pukulan melayang diperutku hingga nafasku tercekat, ah sakit sekali rasa nya.


"Nah, ponselmu bagus juga, untukku saja ya" ujar Reid sembari tertawa.


"...J-jangan"

__ADS_1


Aku terus saja memohon agar uang dan ponselku dikembalikan, sambil menahan rasa sakit di perutku aku berusaha untuk mengambil kembali barang-barang milikku, namun alhasil bukan nya uang dan ponselku kembali, aku malah dipukuli habis-habisan oleh mereka berdua.


Aku ingin sekali menjerit, meneriakkan hidupku yang begitu menyedihkan ini, aku kesal, andai saja aku punya tenaga yang cukup kuat untuk membalas perbuatan mereka, yang kuinginkan adalah menyiksa mereka hingga mati, setidaknya itulah yang selalu aku pikirkan tentang mereka.


"Wim?"


Aku tersentak, kukira aku berhalusinasi ketika suara yang tak asing bagiku itu menyebut namaku, tapi ini bukan halusinasi, Lisa berdiri tepat di belakangku, netra hitam nya memandangku dengan pupil yang bergetar.


Oh tidak, kenapa dia disini, aku harus menyuruhnya kabur dari sini, aku tak ingin dua orang keparat ini juga ikut menyiksanya seperti yang mereka lakukan padaku.


"...L-Lisa, apa yang kau lakukan disini, cepat pergilah"


"..."


Tapi dia tak bergeming, bahkan ia masih menatapku dengan mata nya, namun kali ini berbeda, pupilnya tak lagi bergetar, dan saat itu aku mengetahui satu hal, dia menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya.


"Wah,wah, lihat siapa yang ada disini" ujar Reid menyeringai layaknya pria mesum yang menjijikan.


"Temanmu yang menyedihkan ini sudah menyuruhmu pergi, tapi kenapa kau masih disini"


"..."


Aku berusaha bergerak namun, kakiku rasanya sangat sakit dan ngilu ketika digerakkan, ditambah pukulan yang bertubi-tubi pada wajah dan tubuhku, membuat tubuhku lemas dan seketika aku menjadi orang yang sangat tidak berguna kala itu. Kulihat Reid dan temannya itu sudah mendekati Lisa, aku sangat kesal dan geram, tapi aku tak berdaya, yang kubisa hanya diam dan melihat Reid mencoba memegang wajah Lisa yang bahkan aku saja tak pernah menyentuhnya.


SRETT....


CRAAT...

__ADS_1


"....Hahhh" ujarku mengangah.


__ADS_2