
"Ambilah kunci ini" ujar Elisa sembari mengacungkan sebuah kunci kehadapan wajah Daniel.
"...Huh?"
Apa dia serius?batin Daniel.
Pemikiran panjang melayang dalam kepala nya, sembari menatap wajah cantik Lisa yang sedang tersenyum sambil memberi kunci yang sedari tadi dicari-cari olehnya, dengan segera ia menyambar kunci itu.
Anak kunci sudah masuk kepada tempat nya, yang diperlukan hanya memutarnya agar pintu itu terbuka, dengan tangan nya yang gemetar ia menarik gagang pintu itu, dan tanpa menoleh kebelakang, pria itu melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan tempat itu, ia tertatih bahkan meringis kesakitan karena telah memaksa tubuh terluka nya untuk bergerak tanpa henti.
Hosh..Hosh..Hosh...
Rasa nya nafasnya tercekat di tengah tenggorokan nya, sudah agak jauh dia berjalan tapi belum juga ditemukan satu pun orang disekitar sana.
"Sebenarnya ini dimana, daerah apa yang sepi sekali seperti ini" tukas Daniel sambil terengah-engah.
Wajahnya memucat dan lebih meringis, rasa perih menjalar di seluruh tubuhnya, terutama bagian belakang dan wajah nya, seperti nya dia sudah mencapai batasnya, tapi dia tetap tak menyerah, pria itu terus melangkahkan kakinya walaupun hampir pingsan.
Ia menyipitkan mata nya, bibirnya terangkat pelan ketika tau bahwa tak jauh lagi ia akan mencapai sebuah pemukiman, setidak nya disana ada banyak orang-orang untuk dimintai tolong.
Dengan langkah gontai dan senyum yang mengembang ia terus berjalan, tapi ada sesuatu yang aneh, jalanan disini begitu gelap sedari tadi, tapi sekarang rasa nya semakin lama semakin terang, dengan pelan ia menolehkan kepala nya, cahaya terang yang semakin dilihat semakin menyakitkan mata itu kian mendekat dengan cepat, pria itu membulatkan mata nya, membuka mulutnya seakan bersiap untuk berteriak, namun kecepatan benda yang bercahaya itu ternyata lebih cepat daripada suara dari tenggorokan nya.
Huuu love...Huuu loverboy
What're you doin' tonight, hey boy...🎶🎶
Seutas senyum pun mengembang di wajah cantik wanita yang berada di dalam mobil hitam milik pria itu, ya mobil yang memancarkan cahaya terang dan menabrak tuan nya dengan cukup keras hingga terpental, musik di dalam mobil itu masih menggema sembari ia menatap pria yang tergeletak tak jauh dari depan mobil nya.
Lisa membuka pintu mobilnya, dengan apron yang masih melekat di tubuhnya, ia melangkahkan kakinya mendekat, memastikan apa yang terjadi pada pria itu.
Gerakan ringan dan pelan masih terlihat pada jari jemarinya, itu membuat seringaian di wajah Lisa.
__ADS_1
Dengan mata terpejam, pria itu melenguh kasar dan pelan, nafasnya masih ada tapi tak tau itu sampai kapan bisa bertahan.
"Dia tidak boleh mati" gumam Lisa.
Lisa kembali kedalam mobil, mengambil sarung tangan dan pisau lipat yang selalu siap siaga menemaninya kemana pun.
Netra hitam nya menatap datar pria yang hampir meregang nyawa itu, tak lama mata nya mulai menyipit ketika salah satu tangan nya mencoba memaksa untuk membuka mulut Daniel, kini peran pisau itu sudah sangat jelas, memotong memang sudah menjadi tugas pisau itu, dan dia melakukan nya dengan sangat apik.
Dengan segenap tenaganya, ia kembali mengangkut tubuh Daniel agar memasuki mobil itu.
Ia melirik dan menatap tajam area itu, jangan sampai ada yang tertinggal, apapun itu, bahkan tanah yang berbentuk saat ia menyeret Daniel pun harus segera dihilangkan.
"Nah sekarang, aku tinggal memodifikasi mobil ini sedikit" ujarnya sambil menyeringai.
BRUK..BRUKK..BRUAAK...
Hantaman demi hantaman melayang pada kaca mobil, bahkan moulding nya pun ikut penyok akibat hantaman menggunakan sebuah tongkat kasti yang telah disiapkan oleh Lisa, tak hanya itu, bahkan bagian dalam pun dirusak oleh nya, entah lah apa yang sedang ia pikirkan.
Ini adalah jalan yang sering dilintasi orang-orang, Lisa membawa Daniel ketempat yang paling tepat.
Setelah nya, ia segera melenggang pergi meninggalkan Daniel seorang diri disana yang terbujur lemas dengan darah mengalir deras pada mulut nya.
"Nah, sebentar lagi kau akan di bawa kerumah sakit, kau tidak akan mati, tenang saja" gumam Lisa sambil tersenyum.
**
Lily terengah-engah ketika berjalan dengan sangat cepat sepanjang koridor rumah sakit, ia bahkan tak memikirkan bagaimana raut wajah nya sekarang.
Mata nya memerah, bahkan bibir nya memucat ketika mendengar kabar tak mengenakan dari seseorang yang menelpon nya pagi ini.
Ia mendelik ketika melihat seorang pria dengan balutan kasa yang sangat banyak pada tubuhnya, bahkan oksigen di area hidung dan mulutnya, pria itu tak sadarkan diri, beruntung nya ia masih dapat bertahan.
__ADS_1
Lily terduduk lemas melihat suaminya terbaring lemah tak berdaya didalam ruangan itu, ia menangis, air mata membanjiri seluruh wajah nya.
Tak jauh dari tempat nya menangis, pria dengan rambut abu itu pun segera melangkahkan kakinya mendekat, menatap nya iba dan memasang tampang bingung.
"...Jangan terlalu banyak menangis, banyaklah berdoa agar Daniel cepat sadarkan diri" ujar Zay mencoba menenangkan Lily.
"SNIF...SNIF..."
Lily menyeka air mata nya, hidung nya jadi ikutan memerah karena menangis, ia sangat kaget ketika pertama kali mendengar Daniel masuk rumah sakit, dan ia hampir pingsan ketika seorang polisi berkata bahwa Daniel mungkin saja dirampok dan disiksa sang perampok.
"Hiks..Kenapa semua nya jadi seperti ini" ujarnya sembari menangis.
"..."
Didepan ruangan itu, di tempat duduk yang telah disediakan, ia memilih duduk paling ujung sambil menangis tersedu-sedu, pria disamping nya hanya bisa menepuk pundaknya, berusaha membuat wanita itu tenang walaupun itu tidak mungkin mudah.
Tak berselang lama, langkah kaki dari sepatu tinggi pun terdengar, kian lama kian mendekat, Zay menolehkan pandangan nya, ia mengerutkan dahi ketika melihat saudara perempuan nya tengah menyunggingkan senyum kecil kearah nya.
Ia menghela nafas kasar, mencoba tetap tenang agar ia tak menjadi orang aneh.
Itu jelas bukan perampokan, itu alibi anak ini saja, gumam Zay dalam hatinya sembari menatap tajam kearah Lisa.
Lisa mendelikan mata nya sambil memanyunkan bibirnya, gesture nya seakan berkata "Ada apa Zay?".
Dengan tatapan datar nya, Zay menggerakan kepala nya sedikit memberi peringatan untuk segera pergi dari sana.
Itu tak membuatnya bergeming, Lisa mengangkat jari kelingking nya, mengacungkan nya ke arah Zay.
Netra hitam itu mendelik, menyorot dalam kewajah Lisa, menyiratkan kekesalan didalam nya, Lisa melebarkan bola mata nya lalu terkekeh pelan, ia menyatukan kedua telapak tangan nya membentuk gerakan memohon yang berarti "Maafkan aku".
Permainan gesture mereka selesai ketika Lily mendongakan wajahnya yang sedari tadi dibenamkan pada telapak tangan nya, wajah nya memerah, serta mata nya membengkak karena menangis tak henti, netra biru nya menatap sayu kearah Lisa yang berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
"Lisa..." ujarnya parau.