Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 63 S2 : Pertemuan (Part 1)


__ADS_3

Zay menghisap rokok ditemani dengan secangkir Espresso kesukaannya, tatapan nya lurus kearah luar, menatap betapa derasnya hujan yang jatuh dari langit.


Terlihat semua pengunjung di kafe itu terutama para gadis menatap kearah Zay, mereka seakan mencari-cari perhatian Zay dengan menatap dan tersenyum malu, namun Zay tak memperdulikan nya, dia sibuk menikmati pemandangan yang paling dia sukai yaitu hujan.


"Hah, kenapa hari ini tiba-tiba hujan, untung saja pertemuan dengan klien kita sudah selesai" celoteh Wim yang sedang bersama dengan Zay saat itu.


"Ya" jawab Zay singkat.


"Kau tau Zay?Terkadang aku tak menyangka kalau kau akan berhasil mendirikan perusahaanmu sendiri seperti sekarang ini" ujar Wim sambil menghisap rokok nya.


"Ya, usaha memang tak pernah mengkhianati hasil, itu yang dikatakan Ibuku, dan ternyata perkataan nya memang benar" jawab Zay sambil tersenyum.


"Ah, jadi Lisa tak lagi tinggal serumah denganmu?" tanya Wim.


SLURP...


Zay menyeruput minuman nya lalu menggelengkan kepala nya pelan.


"Tidak, dia bilang dia akan tinggal di apartemen X karena dekat dengan tempat pemotretan nya" jawab Zay sambil beranjak dari tempat duduk nya.


"Kau mau kemana?" tanya Wim.


"Toilet, aku ingin mencuci tanganku" jawabnya.


Zay melangkahkan kakinya menuju toilet dengan cepat, namun seseorang tiba-tiba menabrak tubuhnya dan membuat si penabrak terjatuh.


"Maafkan aku" ujar si wanita penabrak yang sedang menunduk dan berusaha berdiri itu.


"Tch" decak Zay.


Ia pun mengerutkan dahinya melihat wanita itu, walau sedikit kesal, pada akhirnya ia tetap membantu wanita itu berdiri.


"Kau tidak apa-apa?" ujar Zay sambil membantu wanita itu.


"Iya, aku tidak apa-apa"


Wanita dengan rambut pirang itu pun mendongakan wajahnya dan tersenyum kearah Zay, netra birunya yang bagaikan air laut itu pun seakan menghipnotis Zay saat itu, hingga membuat Zay terdiam tak berkedip sedikit pun.


"Terimakasih" ujar wanita itu membuyarkan lamunan Elzay terhadap dirinya.


"Lily" gumam nya pelan.


Wanita cantik itu tertegun, netra birunya menatap dalam wajah tampan Zay seakan mengingat-ingat pria itu.


"..."


Zay hanya menatapnya dengan tatapan yang datar, walau begitu ia sama sekali tak bisa menolehkan pandangan nya terhadap gadis itu.


"...Elzay, apa benar kau?" ujar gadis itu tiba-tiba.

__ADS_1


"Akhirnya kau mengingatku" ujar Zay sambil tersenyum.


"Kau banyak berubah, aku hampir saja tak mengenalimu" ujar gadis yang bernama Lily itu.


"Apa itu karena warna rambutku?"


"Ya, kau makin tampan sekarang, maksudku dulu kau juga sudah tampan" ujar Lily terkekeh menggoda Zay.


Zay hanya menyunggingkan senyum manisnya, lalu pandangan nya pun terhenti pada jari manis gadis itu, melingkar sebuah cincin emas berkilau disana, untuk beberapa saat itu membuat Zay terdiam.


"Kapan kau kembali?" tanya Zay.


"Oh, aku baru kembali dikota ini minggu lalu, itu karena suamiku ada pekerjaan disini" ujar Lily tersenyum.


"...Suami?" tanya Zay ragu.


Lily menganggukan kepalanya mantap, itu membuat Zay sedikit kecewa karena nya.


"Ya, aku sudah menikah tahun lalu, bagaimana denganmu?"


"Ah, aku belum memikirkan pernikahan, dan selamat atas pernikahanmu walau sudah sangat terlambat" ujar Zay mengulurkan tangan nya.


Lily tersenyum dan menyambut uluran tangan Zay.


Percakapan mereka mengalir begitu saja, bahkan Lily pun sempat bercerita bahwa ia juga sedang mencari pekerjaan yang pas untuk nya sekarang.


"Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku kapan saja kau membutuhkan bantuan" ujar Zay memberikan kartu nama nya pada Lily.


Saat itu adalah saat dimana Zay berdebar karena seorang wanita, perasaan senang sekaligus kecewa juga dirasakan nya, sepanjang jalan saat kembali pulang kekantor pun Zay hanya menatap keluar jendela, memikirkan wanita yang baru saja ditemui nya tadi.


Liliana Grace, cinta pertama Elzay pada saat duduk di bangku SMA nya, belum sempat Elzay menyatakan perasaan nya, ia terlanjur pindah ke luar negeri, dan hari ini disaat mereka di pertemukan kembali, perasaan itu ternyata masih ada, namun Lily bukan lah wanita yang sendiri lagi, ia telah bersuami.


Elzay terkekeh sejenak ketika memikirkan apa yang telah dialaminya itu, setidak nya ia tidak segila Elisa yang akan melakukan hal di luar nalar hanya untuk perasaan cinta.


*


Suara bising dari musik yang diputar sangat keras, terlihat asap rokok beterbangan dimana-mana, hingga lampu yang berkedap-kedip menambah riuh suasana di klub malam itu.


Sekumpulan orang bahkan sedang menggoyangkan tubuh mereka mengikuti nikmatnya musik yang diputar, ada juga sebagian yang terkapar akibat terlalu mabuk.


Dimeja yang berada di sudut, Elzay bersama Elisa dan Wim tengah menikmati hisapan rokok mereka ditemani dengan Vodka di gelas mereka masing-masing.


"Zay, apa posisi sekretaris di kantormu masih kosong?Aku ada kenalan yang sedang mencari pekerjaan, dia sudah berpengalaman kok, tenang saja" ujar Elisa sambil meneguk habis minuman nya.


"Tidak, aku sudah ada kandidat" ujar Elzay.


"Huh?Sayang sekali, padahal dia cantik" ujar Elisa sambil menyenggol lengan Elzay hingga membuat pria itu mengerutkan dahinya.


"Lisa, kudengar management mu menyelenggarakan sebuah acara pertemuan besok malam" tanya Wim.

__ADS_1


"Ya itu benar, pasti akan ada banyak orang yang datang, rasanya aku enggan sekali menghadiri acara itu" ujar Elisa mematikan api rokok nya.


"Kenapa?Bukankah bagus bila kau hadir disana, kau hanya harus berpura-pura ramah seperti hal nya dirimu, aku yakin ada banyak sponsor yang melirikmu nantinya, bukan kah aku benar Zay?"


"Ya, kali ini Wim benar" ujar Elzay.


"Ya,ya baiklah, aku akan pergi" jawab Elisa menuangkan minuman ke gelasnya lalu meneguknya kembali hingga habis.


Zay memainkan pematik apinya dengan tatapan nya yang datar, mungkin dia masih memikirkan Lily sejak tadi, disaat Elisa dan Wim tengah bersenang-senang, Zay hanya menyendiri, seakan mengingat kembali masalalu nya.


***Flashback On


Elzay Pov***


Ini adalah musim dingin pertamaku sejak aku masuk SMA, aku memakai mantel tebal pemberian Ibuku, mantel yang sama seperti yang Lisa kenakan.


Sejujurnya, aku tak begitu suka dengan sekolah, karena aku tak terlalu suka berkumpul seperti yang teman-temanku lakukan, berbeda dengan Lisa, dia sangat menikmati masa sekolahnya, tapi aku harus berpura-pura menikmatinya demi Ibuku.


Ibuku bilang bahwa aku harus mempunyai banyak teman di sekolah, dan aku melakukannya, bahkan anak-anak di sekolahku sangat menyukaiku, tentunya Ibuku senang karena hal itu.


Hari-hariku sangat lah membosankan, setidaknya yang kurasakan saat itu, hingga aku bertemu dengan seorang gadis cantik di perpustakaan sekolah.


Kulitnya seputih salju, rambutnya yang bewarna pirang dan tampak sangatlah halus, lalu mata nya yang bewarna biru bagai air laut itu sungguh menyita semua perhatianku, aku tak dapat mengalihkan pandanganku.


Aku terus saja bertanya-tanya tentang dia, hingga kutahu bahwa gadis itu bernama Liliana dan dia adalah adik kelasku.


Aneh nya, baru pertama kali dalam hidupku, aku tak bisa berhenti memikirkan seseorang, aku terus saja mencari keberadaan nya ketika di sekolah.


Saat itu, aku memberanikan diriku untuk mengajak nya berbicara, dan ternyata dia meresponku dengan baik, kami menjadi dekat karena nya, bahkan Lisa pun tahu akan hal itu, aku ingat benar Lisa selalu menggodaku setiap saat, bahkan Ibu juga ikut menggodaku karena Lisa, itu benar-benar membuatku malu.


Hari itu, aku tak sengaja terkena serpihan kaca dan membuat telapak tanganku terluka, Lily menyadari nya, aku sangat mengingatnya, wajah cantiknya yang cemas melihat luka di tanganku, aku menyukainya.


Apalagi sentuhan nya yang lembut ketika membalut luka ditelapak tanganku, aku tak bisa berhenti menatapnya saat itu.


"Sudah selesai" ujarnya membalikan badan nya hendak pergi meninggalkanku.


Entah kenapa saat itu aku menjadi panik, hingga tanpa pikir panjang, aku meremas serpihan kaca dengan tanganku yang satu nya dan membuat tanganku terluka dan berdarah sangat banyak.


"Lily, kau belum mengobati yang satu nya" ujarku menunjukan tanganku yang sudah berdarah sangat banyak itu.


*Flashback Off


*Author POV


Elzay menyalakan kembali rokok dan menghisapnya.


Seketika asap memenuhi udara sekitarnya ketika dia menghembuskan nya.


"Aku tak mengerti, kenapa aku begitu bodoh saat itu" gumam nya.

__ADS_1


Elzay memandang kearah Elisa yang sedang menari bersama dengan Wim.


"Ya, setidaknya kami bisa menjadi teman" gumam nya lagi.


__ADS_2