Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 61 S2 : Prolog


__ADS_3

Angin musim semi menerpa dua bocah yang sedang berlarian kesana kemari, mereka tampak sangat bahagia, tertawa bersama dan bergandengan tangan kemanapun mereka berlari.


Terlihat sang ibu hanya duduk dan memperhatikan tingkah kedua bocah kembarnya dengan tersenyum.


Eleeya telah merawat dan membesarkan buah hatinya bersama Yohan dengan sangat baik, walau mereka harus tumbuh tanpa sosok Ayah disamping mereka.


Elzay dan Elisa Ronstar, walau sekarang mereka akan menyembunyikan nama belakang mereka, dua bocah kembar yang begitu mirip dengan Ayahnya itu bahkan rambut hitam juga mata hitam pekat bagai malam itu pun terlihat sama, terkadang melihat mereka berdua itu akan menciptakan kerinduan yang mendalam bagi Eleeya pada sosok Yohan yang sudah tak ada lagi didunia.


Eleeya selalu menanamkan kebiasaan baik untuk anak nya, seperti halnya harus bersikap ramah pada semua orang, dia ingin anaknya tumbuh dengan banyak teman yang mengelilingi mereka, tidak seperti dirinya dulu yang menjalani kehidupan sosial yang sangat menyedihkan.


Eleeya juga selalu berkata pada mereka untuk saling menjaga dan menyayangi satu sama lain, itulah yang ditanamkan Eleeya pada kedua anaknya itu.


Setiap malam adalah waktu bagi Eleeya menceritakan dongeng sebelum tidur untuk kedua anaknya.


Dan Eleeya akan menceritakan tentang Yohan pada kedua anaknya, bagaimana sifat Yohan, kepribadian nya, pertemuan pertama mereka, cara Yohan yang membuat Eleeya jatuh cinta hingga bagaimana terobsesinya Eleeya pada Yohan.


Eleeya juga tak ingin menyembunyikan fakta siapa sebenarnya Ayah mereka, walau seberapa menyedihkan fakta itu, itu tetaplah Ayah mereka.


Tentu yang disampaikan Eleeya tidak lah sedetail itu.


Anak nya masih terlalu muda untuk mendengarkan bagaimana mengerikannya yang telah dilakukan oleh Ayah mereka.


"Apa kau begitu mencintai Ayah,bu?" tanya Elisa kecil.


"Ya, Ibu sangat mencintainya, Ibu telah melakukan segala macam cara untuk bisa terus bersama dengan Ayah kalian"


"Woah" ujar Elisa kecil yang bersemangat.


Mereka memanglah saudara kembar, tapi respon yang mereka keluarkan terkadang terlihat berbeda.


Seperti halnya Elzay, ketika Eleeya bercerita tentang Yohan padanya, ia hanya mendengarkan dengan raut wajahnya yang datar, namun ia juga tak menunjukan kebencian nya, berbeda dengan Elisa, sorot mata Elisa yang berbinar ketika mendengarkan semua cerita itu, seakan ia merasa hebat punya Ayah seperti Yohan.


Namun, mereka sangat paham kalau Ibunya sangatlah mencintai Ayahnya itu, dan itu membuat mereka juga mencintai Ayahnya dari waktu ke waktu.


Mungkin Eleeya berpikir itu akan bagus ketika tidak ada yang perlu disembunyikan pada anak-anak nya.


Namun, ternyata itu tidak sebaik yang Eleeya pikirkan, setidaknya untuk anak perempuan nya.


Hari itu, Elisa sedang berada dikelasnya, dia sedang membaca buku pelajaran nya seperti biasa, hingga fokusnya teralihkan ketika ia melihat teman nya membawa sebuah boneka yang sangat cantik.


Mata nya berbinar melihat boneka itu, tetapi tatapan nya itu bukan lah tatapan kagum, melainkan tatapan yang mempunyai arti lain, seperti ingin memiliki boneka itu juga.


"Woah, bonekamu cantik sekali" ujar Elisa.


"Iya, Ibuku yang memberikan ini padaku" jawab bocah kecil seusianya itu.


"Boleh aku melihatnya?"


"Tidak boleh, nanti kau akan merusaknya"


"Tidak akan, aku hanya ingin melihatnya saja"


"Em..Baiklah"


Bocah kecil itu pun memberikan bonekanya pada Elisa.


Elisa begitu terpana melihat kecantikan dari boneka milik teman nya itu.


"Ini untukku saja ya"


"Tidak bisa, itu punyaku, jika kau mau kau harus membelinya sendiri"


Ini sangat cantik, harusnya boneka secantik ini menjadi milikku, bukan miliknya, lagipula untuk apa aku membelinya jika aku tertarik dengan yang ini, gumam Elisa dalam hatinya sambil melirik datar kearah teman nya itu.


Bocah kecil yang merasa aneh dan bingung dengan tatapan Elisa pun segera mengambil kembali boneka nya dan melenggang pergi dari sana.


"..."


*


"Dasar anak kurang ajar, dimana orang tuamu,hah?Kenapa kau membuat anakku menangis?" Teriak seorang Ibu-ibu pada Elisa dengan mata yang hampir saja mau keluar.


Terlihat bocah kecil sang pemilik boneka tadi sedang menangis tersedu-sedu disamping si Ibu.


"..."


"Kenapa kau merusak boneka milik anakku, siapa yang mengajarimu berbuat seperti itu?" teriaknya lagi.


Elisa hanya diam dan menunduk, ia melirik boneka yang sudah sangat rusak itu dipegang oleh bocah kecil yang sedang menangis itu, ia tersenyum kecil hingga tak ada orang yang menyadarinya.


"Lisa, ada apa?" ujar Elzay yang datang ketika tau saudaranya ada dalam masalah.

__ADS_1


"Nah, jadi kau kakaknya ya, tolong ajarkan adikmu untuk tidak bertingkah jahat seperti itu lagi, bahkan dia tidak mau meminta maaf pada putriku" teriak Ibu tersebut pada Elzay.


Elzay melirik Elisa yang sedang menunduk, ia tampak bingung, kenapa Elisa bisa berbuat seperti itu, ini pertama kalinya Elisa melakukan hal yang seperti itu.


"Lisa, kau harus minta maaf" bisik Elzay pada adiknya.


"..."


"LISA"


Elisa tersentak ketika Elzay membentaknya, dia pun mendongakkan wajahnya perlahan, terlihat Elisa menggigit bibir bawahnya, ia menatap semua orang disana dengan wajah polos dan sedihnya.


"Aku minta maaf sudah merusak bonekamu" ujar Elisa.


Sibocah kecil itu masih menangis, tapi karena melihat wajah Elisa yang sedih, pada akhirnya ia menganggukan kepala nya.


Elisa tersenyum dan menyeka air mata bocah itu.


"Aku menyesal, aku tidak akan mengulanginya lagi" ujar Elisa dengan senyumnya yang manis.


*


Elisa duduk didepan rumahnya sambil memainkan capung ditangan nya, dengan tatapan nya yang datar, ia menatap capung yang tengah mengibaskan sayapnya seraya sedang meronta meminta agar di bebaskan dari Elisa.


"Aku ingin sayapmu" gumam nya.


Ia mulai mencabut satu persatu sayap pada capung itu, dan membuang sembarang tubuh capung yang sudah tak bersayap itu.


"Coba saja dia memberikan bonekanya padaku saat itu, maka boneka itu tidak akan aku rusak dan dia tidak akan menangis, dia memang bodoh" gumam Elisa.


"Lisa.."


Elzay yang tadinya ingin mendekati Elisa pun terhenti ketika mendengar gumaman Elisa.


Elisa menoleh keasal suara, ia mengerutkan dahinya melihat Elzay yang menatapnya dengan raut wajah yang cemas.


"Mengapa kau berkata hal yang mengerikan seperti itu?" tanya Elzay.


"Apa maksudmu Zay?"


"Kau sengaja merusak boneka milik temanmu?Kenapa?"


"Pelankan suaramu, nanti Ibu dengar"


"..."


Elzay pun mendekati Elisa dan memandang wajah saudara nya yang terlihat sedih itu.


"Kenapa kau juga marah padaku untuk hal itu?" ujar Elisa menundukan kepalanya.


"Aku bukan nya marah, tapi..."


"Untuk pertama kalinya aku mempunyai keinginan, aku menginginkan boneka miliknya, kenapa semua orang marah padaku, hiks..hiks" ujar Elisa yang mulai menangis.


Elzay tak tega melihat adiknya bersedih seperti itu, ia pun membawa Elisa kedalam dekapan nya, ia sungguh menyayangi adiknya itu, ia tak bisa melihat adiknya bersedih apalagi menangis.



"Aku minta maaf, kau tahu aku tak bermaksud marah padamu, jangan menangis lagi ya, nanti Ibu jadi khawatir kalau melihatnya" ujar Elzay menenangkan Elisa.


Hari itu Elzay mengetahui sisi buruk dari saudara kembarnya itu, Elisa bisa sangat terobsesi pada suatu hal yang membuatnya tertarik, tentu itu tak baik baginya, apalagi Elisa berpikir bahwa bila ia tak mendapatkan hal itu maka orang lain pun juga tak akan bisa mendapatkan nya.


Itu sungguh sebuah kesalahan, namun sebagai saudara, Elzay tak bisa membiarkan saudaranya terlihat sedih, dia sangat menyayangi adiknya, lalu Ibunya pun akan marah bila tau dia membuat Elisa bersedih.


Itu hanya lah cerita masa kecil, bahkan Eleeya pun tak tahu akan cerita itu, sekarang mereka telah tumbuh menjadi remaja yang tampan dan cantik, pekerja keras, mempunyai sifat ramah yang bahkan disukai para tetangga disana, terlebih mereka begitu menyayangi Ibu mereka.


Mereka melalui masa remaja mereka persis seperti apa yang diharapkan Eleeya, punya banyak teman dan juga kasih sayang yang berlimpah dari sang Ibu.


Itu tepat mereka menginjak usia 18 tahun, mereka akan memulai masa kuliah mereka, tepat saat itu pula mereka harus merelakan Ibu yang paling mereka cintai itu pergi untuk selama-lama nya.


Itu menjadi pukulan berat bagi mereka, namun pada akhirnya mereka mengerti, mungkin sudah saat nya Ibu dan Ayah mereka bersatu kembali, itu juga seringkali dikatakan Eleeya pada mereka.


INTERMEZO#


*


*


Seorang wanita cantik tengah berdiri dengan koper besar disampingnya, tak lama sebuah mobil mewah pun datang menjemputnya, seorang pria turun dan menyambut si wanita sambil tersenyum dan memeluk wanita itu.


"Kau sudah menunggu lama?" ujar pria itu.

__ADS_1


"Tidak, aku baru sampai" jawab si wanita.


Si pria pun langsung membawakan koper milik wanita itu dan menaruh di bagasi mobilnya, terlihat dia sedikit kewalahan karena ukuran koper tersebut.


Setelah nya mereka pun memasuki mobil tersebut dan pergi.


"Jadi, ini adalah pertemuan kita yang terakhir?" tanya wanita cantik itu.


"..."


"Hah, baiklah, pada akhirnya aku tak bisa lagi memaksamu"


Debu-debu jalanan pun beterbangan ketika mobil itu melintasi jalan, keheningan melanda mereka berdua selama perjalanan, hingga akhirnya mobil berhenti disalah satu gedung pencakar langit yang terkenal di kota itu, wanita itu turun, tersenyum pada pria yang mengantarnya itu lalu melenggang pergi setelah nya.


Pria itu terlihat kikuk, ada raut merasa bersalah yang tampak di wajahnya, lalu tepat setelah wanita itu sudah menghilang dari pandangannya, ia pun segera memacu mobilnya menjauh dari sana.


Pria itu memarkirkan mobilnya disebuah apartemen, ia mendelik ketika mendapati koper wanita tadi masih tertinggal di dalam mobilnya, dengan sangat terpaksa ia pun menelpon si pemilik koper tersebut.


"Hallo" ujar suara wanita dari seberang sana.


"Ah ya hallo, anu kopermu, kau melupakannya"


"Koper?"


"Ya, koper yang kau bawa bersamamu tadi, itu tertinggal dimobilku"


"Oh ya koperku"


"Haruskah aku mengembalikan nya kepadamu"


"..."


"Hallo?"


"Tidak perlu, itu kuberikan padamu"


"..Huh?"


"Itu hadiah perpisahanku padamu, kalau kau suka kau boleh menyimpan nya, dan kau boleh membuangnya kalau tak suka"


"Apa maksudmu?"


"Buka saja dulu"


Pria itu merasakan sesuatu yang tak enak, dia pun meletakan ponselnya, lalu menatap koper yang berada dihadapan nya itu.


Dengan ragu dan perlahan ia memulai membuka koper tersebut.


Matanya membulat, pupilnya terlihat gemetar, air mata bahkan akan segera keluar dari mata nya saat itu.


Bagaimana tidak, begitu di buka, isinya bukan lah semacam oleh-oleh ataupun hadiah sungguhan, pria itu malah disuguhi mayat seseorang yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Tubuhnya pun gemetar, tangisnya pecah ketika mendapati hal yang membuat hatinya terkoyak, dengan segenap emosinya, ia pun meraih ponsel yang masih berada dalam panggilan itu dan berteriak.


"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN,HAH?KAU BENAR-BENAR WANITA GILA"


"Hei,hei kenapa kau menjadi begitu marah?"


"KENAPA,HIKS HIKS KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU"


"Itu salahmu sendiri, kau mengabaikan rasa cintaku padamu, kau lebih memilih wanita itu ketimbang aku, kau sudah sangat kejam padaku"


"DIA ISTRIKU, KAU WANITA GILA HIKS HIKS"


"Hah,berhentilah berteriak, telingaku sangat sakit mendengarnya, lebih baik kita memulai hubungan kita dari awal, sekarang tidak ada lagi penganggu di hubungan kita,benar kan?"


"WANITA ******, SIMPAN SAJA MIMPIMU ITU, AKU AKAN MELAPORKANMU"


"Sayang tenang lah, kau tau aku terpaksa melakukan hal itu, itu semua karena rasa cintaku padamu begitu besar"


"DENGARKAN AKU, LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA HARUS BERSAMA DENGAN WANITA SINTING SEPERTIMU"


"...Kau sungguh menyakitiku, bila itu yang kau inginkan maka matilah membusuk di penjara, silahkan kau laporkan aku, kita akan lihat apakah polisi akan mempercayaimu ketika barang bukti ada ditanganmu"


"ELISAAAAAAA, JALAAANGGG KAU"


"PFT, HAHAHA sayangku, kau sungguh menyedihkan"


TUT..TUT...TUT...


Tepat setelah itu, panggilan pun diputuskan.

__ADS_1


Terlihat si pria tampak sangat depresi dan frustasi, ia menjambak rambutnya sendiri dengan ekspresi yang begitu menyedihkan.


"AAAAAARRGGGHHHHH ELISAAAA" teriaknya.


__ADS_2