
Kini pandangan seluruh orang tertuju pada pria tampan berambut abu yang memasuki kantor itu, itu bukan kali pertama ia datang ke kantor itu, tempat Lisa melakukan pekerjaan nya.
Wajahnya tenang, bahkan ia selalu tersenyum ketika semua orang menyapa nya, itu membuat wajah seluruh wanita disana memerah.
Dia melangkahkan kakinya, menuju ruangan yang bisa dipastikan bahwa Lisa ada didalam nya.
Dan benar, ketika pintu itu terbuka, terlihat Lisa sedang membenahi hiasan di wajahnya, ia bahkan menoleh dan tersenyum kala itu tanpa ingat kesalahannya.
"Zay?Ada apa?" tanya nya.
Dengan raut datarnya, Zay melangkahkan kakinya mendekat, dilihatnya baik-baik wajah Adiknya itu, ingin rasanya ia memukul wanita yang mempunyai paras sama sepertinya itu, tapi kembali dia ingat, bahwa Ibu mereka akan sangat membenci itu.
Zay memejamkan mata nya sambil mengatur nafasnya, berharap emosinya mereda dengan sendirinya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Lisa sekali lagi.
"Ada apa kau bilang?"
"...Huh?"
"Rasanya aku sudah pernah bilang padamu untuk tak melakukan apapun terhadap Lily"
"..."
"Kau tak mengindahkan perkataanku?"
"..."
"Hei, aku bicara padamu"
Lisa diam membisu, bahkan ia tak berani menatap sorot mata Zay yang menusuk dan menembus wajahnya, tak ada teriakan, yang ada hanya penekanan disetiap ucapan nya.
"Aku tak melakukan apapun pada nya, dia terjatuh itu karena sebuah kecelakaan" ujar Lisa mengelak.
"Kecelakaan?PFT, kau pikir aku idiot?Apa kau lupa kau sedang berbicara pada siapa Lisa?"
"..."
"Berhentilah menganggunya, ini peringatan pertama dan terakhirku"
"Kau marah padaku hanya gara-gara wanita itu Zay?"
"..."
Sejenak menjadi hening saat Elisa melontarkan pertanyaan itu, netra hitam mereka kini saling menatap dengan tatapan yang datar, suasana pun seketika berubah menjadi buruk, untuk pertama kalinya mereka bertengkar secara serius.
"Aku hanya menyayangkan kau yang tak pernah mendengar perkataanku"
"Ha, seharusnya kau sadar Zay, siapa yang menyebabkan Ibu kita mati, huh?"
"..."
"Haruskah aku mengingatkanmu kembali pada hal itu?"
__ADS_1
"Itu tidak ada kaitan nya"
"Tentu saja ada, aku membenci wanita itu dari dulu, kau tau itu Zay, bahkan aku masih mengingat artikel yang dia buat mengenai Ayah kita, dia menulis dengan percaya dirinya bahwa Ayah seorang pemerkosa, bahkan pedofil, dan bla bla bla, ya ampun aku tak tau dia dapat darimana cerita itu"
"..."
"Lalu, sejak saat itu, berita itu kembali muncul di permukaan, menjadi perbincangan hangat kembali dan terdengar di telinga Ibu kita, dan selanjutnya kau tau apa yang terjadi, Ibu kita menjadi sedih, gila dan mati karena menyayat tubuhnya sendiri, haha benar kata seseorang, pena memang lebih tajam daripada sebuah pedang"
"...Hentikanlah Lisa"
"Apa menurutmu ini semua kebetulan?Tidak ada yang kebetulan Zay, semua ini sudah ditakdirkan, dia datang kembali setelah sekian lama, membuka lukaku akan kehilangan Ibu"
"..."
"Kenapa kau melotot padaku?Baiklah aku akan mengkesampingkan hal itu, aku menginginkan suaminya sekarang"
"Daniel?"
"Ya, kau tau dia? Zay, kau harus mendapatkan apa yang kau inginkan dengan segala cara, bahkan bila itu tak masuk akal, dunia memang seperti itu, dan itulah yang sedang kulakukan sekarang untuk mendapatkan Daniel"
"Hah, diamlah Lisa, aku muak dengan sifat burukmu itu, dan satu hal yang kau harus tau, aku tak akan melakukan seperti halnya yang sedang kau lakukan sekarang, karena kita tidaklah sama" ujar Zay membalikkan badan berniat akan pergi dari sana.
"Jangan menyangkal Zay, kau dan aku itu sama"
"...Jalan pemikiran kita berbeda Lisa, itu yang membuat kita tidaklah sama dan jangan lupa tentang peringatanku tadi"
BRAAKKK...
Pintu tertutup kasar sesaat Zay keluar dari sana, Lisa menggigit bibir bawahnya, pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Zay itu berhasil membuatnya sangat kesal.
Lisa mengacak seluruh alat make-up nya hingga jatuh berserakan dimana-mana, ia menatap cermin yang berada di hadapan nya, terpampang wajah cantik seorang wanita, ia mengusap mata nya kasar sehingga noda hitam memenuhi area mata nya akibat Eyeliner nya yang luntur.
"PFT, PWAHAHAHA KEKEKE"
Lisa tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya dan mengadahkan kepalanya kelangit-langit, tawanya menggema di ruangan itu, lalu kembali ia menatap wajahnya yang terpantul di cermin.
"Sudah kubilang, aku menginginkan Daniel bagaimana pun cara nya, walau itu adalah cara yang tak masuk akal sekalipun" gumam nya sambil menyeringai.
**
Sudah beberapa hari setelah kejadian itu, keadaan Lily sudah membaik, bahkan ia sudah boleh kembali kerumahnya, namun ia harus menerima kenyataan bahwa ia kehilangan bayinya, bahkan Daniel sangat kesal dan juga sedih mendengar hal itu.
Di tempat tidurnya kini Lily berbaring, wajahnya tetap cantik walau tanpa hiasan, dihadapan nya terduduk sosok pria yang berstatus suaminya, tengah memegang semangkuk bubur hangat yang siap diberikan kepada Lily.
Ia melirik keatas meja, ada banyak rangkaian bunga disana, kiriman dari beberapa teman-teman nya, bahkan Elzay pun mengirimkan bucket bunga indah untuk mendoakan kesembuhan nya, itu membuat Lily tersenyum simpul.
Netra biru nya terhenti sesaat ketika ia melihat sebucket bunga mawar hitam diantara banyak nya bunga disana, ia mengerutkan dahinya, menjulurkan tangan nya agar dapat meraih bunga itu.
Aku berduka atas apa yang terjadi pada anakmu...
Lisa*
"..."
__ADS_1
"Itu pemberian siapa?" ujar Daniel mengagetkan Lily.
"Ah, temanku"
"Dia memberimu mawar berwarna hitam?"
"...Ya, mungkin karena dia menyukainya" sanggah nya.
Daniel hanya mengangguk-anggukan kepalanya bersamaan dengan senyum kecut Lily.
"Oh aku baru ingat, siang ini aku ada pemotretan, tidak apa-apa jika kau dirumah sendirian?"
"Ya, tidak apa-apa, lagipula aku sudah membaik"
Daniel tersenyum simpul, ia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, berniat mengganti pakaian nya untuk bersiap-siap pergi bekerja, namun ia tak sadar bahwa sedari tadi Lily sedang memperhatikan nya.
"..Dan, dadamu terluka?"
Daniel tersentak, bagaimana bisa ia melupakan hal ini, luka sialan yang diberika Elisa padanya hari itu, segera ia memakai pakaian nya dan tersenyum kearah Lily yang sedang bingung.
"Iya, itu hanya luka kecil" ujarnya.
"Tapi itu tetap sebuah luka, perlihatkan padaku, aku akan mengobatinya"
"Tidak perlu, lagi pula aku sudah hampir telat" ujar Daniel mendekati Lily dan mengecup pelan dahinya.
"Aku pergi dulu"
"...Baiklah, hati-hati"
***
Desiran air terdengar bersamaan dengan alunan musik dari Queen, Lisa menikmati setiap tetes air yang membasahi tubuh telanjangnya, bagai penghilang rasa penat dalam dirinya, ia memejamkan matanya untuk beberapa saat, sudah beberapa hari ia tak menemui Zay, itu membuatnya tak tenang, dan dia yakin Zay pun sama seperti dirinya.
Ia membuka matanya cepat ketika telinganya menangkap suara dentingan bel dari depan rumahnya.
TING..TONG...TING...TONG....
Lisa segera mematikan air yang mengguyurnya, menarik handuk yang berada tak jauh darinya dan melilitkan ditubuhnya dengan cepat.
CEKLEK...
Dua orang pria yang tak dikenalinya terpampang didepan pintu, mereka mendelik, bahkan membulatkan kedua mata mereka ketika melihat wanita cantik yang hanya dibalut handuk pendek itu berdiri didepan mereka, tak hanya itu tubuhnya yang masih sangat basah bahkan buliran air masih menempel di tubuh seksi Lisa, itu membuat kedua pria itu tak berkedip, bagai rejeki nomplok, itu tak bisa dilewatkan, pikir kedua pria itu.
"Siapa ya?" ujar Lisa membuyarkan isi kepala mereka yang bisa dipastikan sama.
"Oh, kami dari kantor kepolisian X, apa benar anda Elisa Fioneer?"
"...Ya benar"
"Nona Elisa, bisakah anda ikut kami sebentar, karena kami ingin meminta penjelasan terkait kecelakaan yang terjadi di taman hiburan beberapa waktu lalu"
"..."
__ADS_1
Lisa tersenyum setelah beberapa saat ia tak bereskpresi.
"Tentu, aku akan mengganti pakaianku dulu"