Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 75 S2 : Interogasi


__ADS_3

ELISA POV:


Ini kali pertama aku masuk keruangan ini, ruangan yang cukup besar namun menyesakkan, aku duduk di kursi yang telah disediakan oleh mereka, tepat di hadapanku tiga orang pria yang tak kukenali menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda, aku tak tahu mereka menatap curiga, atau menatapku karena pakaianku yang minim dan ketat ini, ah ini seperti adegan di sebuah film, haruskah aku menyalakan rokokku disini?


Pfft, ini menggelikan.


Mereka semua detektif? Sepertinya tidak, aku bertaruh hanya pria yang dipojokan dengan setelan kemeja biru itulah detektifnya, sebenarnya mereka sudah memperkenalkan diri tadi, tapi aku melupakan hal itu karena menurutku itu tidak lah penting.


"Nona Elisa Fioneer, beberapa waktu lalu kami sempat ingin bertemu dengan Nyonya Foster, namun keadaan nya masih kurang memungkinkan untuk kami tanyai, jadi apa hubunganmu dengan Nyonya Foster?"


Oh mereka memulainya, ini menegangkan.


"Dia temanku"


"Dua remaja yang tewas pada kejadian itu, apa kau mengenalnya?"


"Tidak, aku dan Lily baru saja bertemu mereka pada hari itu"


"Apa hanya ada kalian berempat disana?"


"Ya, kurasa"


"Bisa kau jelaskan kejadian sebelum kecelakaan itu?"


"...Aku tidak yakin, karena disana cukup gelap, saat itu kami mencoba menuruni tangga yang ada disana, dan Lily lah yang pertama kali menuruni nya, dua anak itu berjalan tepat didepanku, aku mendengar mereka bercanda disetiap langkah kaki mereka, sesaat setelah aku mendengar tawa mereka, aku pun mendengar teriakan dari mereka beriringan dengan suara dentuman yang sangat keras, itu membuatku sangat terkejut dan panik, itu terjadi sangat cepat, dan saat aku tiba di anak tangga yang terakhir mereka sudah...seperti itu"


"..."


"Kenapa kau berada diatas sedangkan Nyonya Foster berjalan lebih dulu yang mana posisinya berada paling bawah?"


"Karena awalnya aku tak ingin menuruni tangga itu, tangga itu sangat curam, aku takut, bahkan dua anak itu pun juga takut, namun Lily menegaskan bahwa itu tidak apa-apa dengan berjalan menuruni tangga itu lebih dulu"


"Menurutmu mereka tergelincir?"


"Ya"


"..."


"Ah, tangga itu tak seharusnya berada disana, itu sangat curam, akan sangat menakutkan jika itu memakan korban lagi"


Aku menjawab nya dengan sangat santai, ya tentu tangga itu berada di waktu dan tempat yang sangat tepat, sekarang jika ingin kujabarkan, yang terlihat tegang bukan aku melainkan mereka, ah bukan hanya wajah mereka yang tegang, mungkin adik kecil mereka pun ikut merasakan ketegangan ini tatkala aku membuka jaketku dan menyilangkan kakiku.


"Nona Elisa, kami mendapat laporan bahwa kau yang sengaja membuat mereka terjatuh, kau yakin kau tidak mendorong mereka?"


"Laporan?"


"Ya, seseorang melapor kepada kami dengan begitu antusias dan percaya diri"


"Apa kau yakin mereka hanya tergelincir, atau kau sengaja membuat mereka tergelincir Nona Elisa?"

__ADS_1


"Aku tidak tau mengapa seseorang itu membuat laporan seperti itu tentangku, tapi jawabanku adalah tidak, aku tidak pernah melakukan itu"


"..."


"Aku tak mempunyai alasan untuk melakukan hal itu, terlebih pada dua remaja yang sama sekali tak kukenali"


Hah, seseorang membuat laporan kata nya, biar kutebak, itu pasti Daniel.


Dia sungguh manis ketika ingin bermain denganku, baiklah aku kan mengikuti semua permainanmu.


"Bukan untuk dua remaja itu, tapi untuk temanmu Nyonya Foster" ujar detektif yang berdiri tegak sedari tadi.


Aku hanya menyunggingkan senyumku dan menampilkan wajah polosku yang seakan tak tau apapun.


"Kenapa aku harus melakukan hal keji itu pada temanku sendiri?"


"..."


"Pak, aku tak menyukai laporan tak berdasar yang diajukan kepadaku, apa dia punya bukti? Dan sejujurnya aku kecewa, mengapa orang terhormat seperti kalian bisa menuduh seseorang tanpa adanya bukti, apa itu sudah menjadi prosedur baru kepolisian sekarang?" ujarku sambil tersenyum, terlihat mereka saling memandang satu sama lain sekarang.


"Kami minta maaf atas perbuatan kami yang tak menyenangkan anda Nona Elisa, namun kami ada alasan atas semua itu"


"Benarkah?"


"Daniel Foster, kau mengenalnya?"


"Apa hubunganmu dengan nya?"


Kini aku melebarkan senyumku, detektif sialan ini mencoba memancingku ternyata, aku menatap wajahnya, sorot matanya tajam juga, bahkan dia satu-satu nya yang masih menaruh ekspresi curiga padaku, aku jadi penasaran, apa wajahnya akan tetap menampilkan ekspresi seperti itu ketika aku berhasil mengajaknya keatas ranjang.


"...Dia mantan pacarku"


"Mantan pacar?"


"Ehem" ujarku sambil mengangguk-anggukan kepalaku.


"Bisa saja kau melakukan itu karena kecemburuanmu"


"Pak, kau sungguh berpikir aku wanita menyedihkan yang tak bisa melupakan kenangan dengan mantan pacarku?"


"...Ngh, itu benar, Nona Elisa tidak terlihat seperti itu"


Dua polisi itu memang pintar, tetapi juga bodoh, aku memang bukanlah wanita menyedihkan seperti itu, itu yang membuat mereka pintar karena menyadari hal itu dan mereka sangat bodoh karena percaya dengan tampang polosku.


"Apa kau yang membuat sebuah tato bertuliskan namamu di dada Tuan Foster, Nona Elisa?"


"Pft, tato? Aku tak pernah berbuat seperti itu"


"Jadi maksudmu Tuan Foster telah mengatakan hal bohong?"

__ADS_1


"Ya, itu dia sendiri yang membuatnya"


Aku mendengar suara pintu terbuka, kulirik sebentar, wajah yang sangat kukenali kini bahkan hadir disini, Daniel dengan raut wajahnya yang kesal, melangkahkan kakinya dan berbisik kepada si detektif sialan itu, dia menatapku sebentar, dan aku hanya tersenyum kearahnya.


"Nona, flashdisk ini adalah rekaman CCTV yang berada di dalam mobil Tuan Foster, kami akan memutarnya"


"..."


Hah,sialan.


Rekaman CCTV, jadi saat itu semua nya terekam disana.


Kulihat dengan seksama bagaimana senyum Daniel mengembang, seolah-olah meremehkan aku.


Dia benar-benar idiot, baiklah kita lihat saja dulu rekaman itu.


Sebuah rekaman yang tak terlalu jelas disana telah berjalan, bahkan suaranya pun sangat tak jelas.


Aku menyeringai ketika melihat diriku sendiri dan Daniel yang tengah berciuman di rekaman tersebut, lalu rekaman pun selesai, seakan Daniel hanya ingin mempertontonkan ciuman panas kami kepada para polisi itu.


Aku melebarkan senyumku dan mengedipkan sebelah mataku kearah Daniel, terlihat ia begitu panik dan mungkin akan segera meledak-ledak tak terima dengan hasil rekaman itu.


"Kenapa hanya itu yang terekam, dia memukulku dan membuatku pingsan, lalu membuat tato sialan ini di tubuhku" teriak Daniel.


Aku ingin sekali tertawa, menertawai betapa bodohnya pria yang kugilai ini, menurutnya aku bahkan tak memikirkan hal itu? Aku bahkan sudah memikirkan nya secara matang sebelum aku masuk kedalam mobilnya hari itu, rekaman itu, aku sudah meretasnya.


"Pak, biar kuperjelas, dia yang memaksaku untuk berciuman saat itu"


"BOHONG! Dia berbohong pak, itu malah kebalikan nya"


Ini sangat menyenangkan, dia panik dan takut, bahkan detektif dan para polisi itu terlihat kesal akan perilakunya itu, mungkin aku harus segera mengirimkan kabar istimewa pada Lily nantinya, Aku jadi tak sabar menunggu Daniel mendatangiku.


"Nona Elisa, terimakasih atas kerja sama anda, dan maaf atas penuduhan tak berdasar yang telah saya lakukan, apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan saya" ujar si detektif yang bahkan tak kuketahui nama nya itu.


"Penuduhan tak berdasar, itu memang menyakitkan hatiku, tapi aku akan melupakan nya jika kau ingin makan malam denganku" ujarku sambil tersenyum kearahnya.


Lihatlah, bahkan wajahnya kini sudah tak seserius tadi, ia bahkan tersenyum kikuk ketika mendengarkan ucapanku barusan, mau apapun profesinya, dia tetap seorang pria, kau tau maksudku.


Aku tak menyukai situasi seperti tadi, tapi aku bahkan tak tegang sedikitpun, semua nya terasa mengalir begitu saja, situasi yang bahkan dapat mengancamku menjadi tersangka itu berhasil kulalui dengan sangat mudah, aku menyimpulkan ini dari cerita Ibuku tentang Ayah, memang benar kalau pesona itu merupakan senjata paling ampuh, beruntungnya aku memiliki itu, melihat mereka bertiga tadi aku jadi terkekeh, aku hanya menyunggingkan senyumku dan mereka menjadi salah tingkah, kurasa interogasi ini tak ada apa-apa nya, setidak nya mereka bukan lah detektif seperti Paman Rui yang diceritakan oleh Ibu, dan lagi hal bodoh yang dilakukan Daniel, sejujurnya itu membuatku kesal dan jengkel, tapi aku menahan nya karena aku masih menyukai pria itu.


***


Aku melihat keluar apartemenku, diatas sini aku bisa melihat, embun yang terjatuh dari pepohonan akibat hujan semalam, aku lumayan menyukai cuaca seperti ini, kulihat asap rokok ku melayang dan bercampur dengan angin yang mengudara, aku jadi teringat Zay, dia sangat menyukai hujan.


Tenang dan sepi, aku menjadi lebih tentram, kapan terakhir kali aku merasakan kedamaian seperti ini, rasanya aku pun tak ingat lagi.


Sepertinya kejadian kemarin sudah sampai ke telinga Lily, dan kudengar mereka bertengkar hebat gara-gara hal itu, buktinya Daniel menelponku dan berteriak bagai orang gila kepadaku dan dia mengatakan aku menghancurkan rumah tangga nya, aku bahkan belum melakukan apapun.


Aku tersenyum senang, aku tinggal menunggu nya datang padaku dan menyambutnya dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


__ADS_2