
Ini dimana?" gumam Daniel yang baru saja tersadar dari pingsan nya.
Ruangan yang gelap dan lembap, seperti sebuah gudang, namun sangat mengerikan, layaknya tak pernah dihuni lagi, dan lagi yang tak kalah mengagetkan adalah ikatan kuat yang melingkar di tangan dan kakinya, Daniel meronta-ronta, ia ingat, bahwa sebelumnya ia bertemu dengan Elisa, bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya itu masih belum kering sempurna.
Langkah kaki terdengar mendekat, Daniel mendelik ketika melihat Elisa datang dengan kantong plastik di tangan nya, kini wajahnya basah bukan karena air hujan, melainkan keringat dingin yang membanjiri wajah dan tubuhnya, terlihat ia gemetar, bukan lagi karena dingin yang menyerang tubuhnya tetapi ketakutan yang melanda dirinya.
"Apa yang kau lakukan padaku?Lepaskan aku Elisa" ujar Daniel sembari meronta.
"Tenanglah dan jangan berisik, nah aku membawakan makanan untukmu, kau mau kue?" ujar Elisa mengeluarkan sepotong kue dari plastik yang di bawanya.
"Elisa, kubilang lepaskan aku" teriaknya.
"Kau tak mau kue? Baiklah bagaimana kalau bubur tuna ini?" ujar Elisa menunjukan sekaleng bubur tuna kehadapan Daniel.
"Wanita sial, jangan main-main denganku Elisa"
Sambil bersiul, Elisa bahkan tak menggubris perkataan Daniel, ia sibuk membuka kaleng bubur itu, mengambilnya dengan sendok dan disodorkan nya ke mulut Daniel.
"Cuih"
Elisa mendelik melihat perlakuan Daniel terhadap bubur yang berada di tangan nya itu.
"Ini bubur tuna, ini rasa nya enak, kau harusnya bersyukur masih kubiarkan merasakan makanan seenak ini, karena orang mati tak akan bisa untuk memakan ini lagi" ujar Lisa dengan wajah datar nya.
"..."
Elisa menghela nafasnya, ia memegang rahang Daniel kasar dan menuangkan semua bubur tepat di mulut Daniel, pria itu hanya memejamkan mata nya, gelagapan akibat perbuatan Elisa, hingga akhirnya ia terbatuk dan membuat bubur di mulutnya berceceran kemana-mana.
"Hah, kau malah membuang nya"
Lisa melepaskan tutup kaleng itu, perlahan ia mendekat kearah Daniel, membuat pria itu kembali meronta-ronta, ia membuka pakaian Daniel dan tersenyum karena melihat nama nya masih terpampang disana.
"Kau terlalu berisik sayangku, dan kau ini sama sekali tidak tau caranya berterimakasih, kau harus ku beri pelajaran" ujar Lisa memasukan kain kedalam mulut Daniel.
SRETT...
Lisa menguliti sebagian dada nya, membuat Daniel memejamkan mata nya dan menjerit walau tak mengeluarkan suara, ia mengulangi hal itu hingga menimbulkan banyak luka pada tubuh pria itu, kini tubuhnya telah dipenuhi banyak luka dan darah.
Daniel terlihat terengah-engah, menahan rasa sakit mungkin sangat berat baginya, Lisa mengambil kembali kain yang menyumpal mulut Daniel, air mata nya menggenang di pelupuk mata nya, ia terlihat begitu menyedihkan.
"Elisa, tolong jangan seperti ini, biarkan aku pergi" rengeknya.
"..."
Wanita cantik itu tak berkata apapun, ia hanya menyeringai seakan puas akan hasil yang telah ia kerjakan.
"Dan, katakan padaku bahwa kau lebih memilihku daripada wanita ****** itu" ujar Lisa tenang.
"...Apa?"
"Katakan, aku menunggu"
__ADS_1
Daniel tak dapat lagi membendung emosinya, ia bahkan lupa bahwa nyawanya bisa saja melayang saat itu juga.
Ia menatap tajam kearah Elisa yang juga sedang menatap dirinya.
"Tetaplah menunggu Elisa, karena sampai kapanpun aku enggan memilih orang gila sepertimu" teriaknya.
"Hah, kau ini pandai sekali menyakiti hati wanita ya Dan"
"Wanita?Kau bukan lah wanita, kau itu seorang monster"
"Pft, monster? Monster itu tidak menampakan diri, kau tahu Daniel, mereka bersarang di dalam diri kita, tepat nya didalam sini" ujar Lisa menunjuk kepala nya sendiri.
"..."
"Jadi jaga ucapanmu Dan, jangan memancing monster didalam diriku"
"...Kau akan menyesal telah berbuat hal ini padaku Elisa"
"Apa yang membuatku menyesalinya?"
"Keluargaku tidak akan tinggal diam melihatku seperti ini, Ayahku akan membunuhmu Elisa, dia bahkan akan menyiksamu lebih daripada yang kau lakukan padaku, Ayahku itu mafia, kau tau Elisa" ujar Daniel terbata-bata, entah itu adalah fakta atau hanya gertakan, tapi itu berhasil membuat Elisa tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, kenapa jadi bawa-bawa Ayahmu, apa aku harus menjelaskan juga siapa Ayahku padamu" ujar Elisa mengusap air mata yang terjatuh akibat tawa nya.
"APA YANG KAU TERTAWAKAN, AKU SERIUS, LEPASKAN AKU ******...LEPA..."
BRUAAK...BRUAAK...BRUUKK...
Hosh...Hosh...Hosh...
Cairan kental berwarna merah menetes dari ujung bilah kayu yang masih digenggam oleh Elisa, ia bahkan sedang mengatur nafasnya, sedangkan pria yang terikat itu kini terkapar lemas dengan wajah yang dipenuhi dengan darah, beruntungnya dia masih bernyawa, itu diketahui dari suara jantungnya yang masih berdetak.
"Hah, astaga kau berhasil memancing monster dalam diriku Daniel" gumam Elisa sambil memegang dahinya.
Daniel merintih, kini wajahnya tidak lagi arogan seperti tadi, darah yang mengucur dari kepala, pelipis, mulut bahkan hidung nya itu membuat tubuhnya semakin melemas, pandangan nya mulai kabur, nafasnya bahkan tercekat, mungkin dia akan mati sebentar lagi karena kehilangan banyak darah dan tenaga.
"Tch, aku tak bisa membiarkan dia mati begitu saja" gumam Elisa.
**
BRAAKK...
Pintu terbuka sangat kasar membuat pria yang sedang duduk di hadapan laptopnya itu menoleh, wanita yang terlihat sangat kesal dengan netra biru yang menatap tajam itu berjalan mendekat, sontak pria yang tak lain adalah Zay itu berdiri dari tempat duduknya.
"Lily?" ucap nya pelan.
"Elzay, katakan dimana Elisa?"
"Elisa?"
"Jangan berpura-pura seakan kau tak tahu Zay" ujar Lily kesal.
__ADS_1
"Aku tak tahu dimana Elisa, tapi ada apa? Kenapa kau terlihat marah, tenanglah dulu"
"Tenang? Elisa, adikmu itu berselingkuh dengan suamiku, apa kau bahkan tak tahu hal itu?"
"..."
"Kenapa kau diam? Kau terkejut?"
Ini pertama kalinya Zay melihat wajah itu menampilkan raut kekesalan, amarah yang meledak-ledak bahkan netra biru yang selalu menatap Zay lembut kini seakan mengacungkan pedang di hadapan Zay.
"Lily, aku benar-benar tak tahu, aku bingung jika kau tiba-tiba marah padaku" tukas Zay dengan raut wajah yang bingung.
"Kau kakak nya, seharusnya kau lebih memperhatikan perilakunya Zay" ucap Lily dengan nadanya yang penuh amarah.
"...Kau marah padaku hanya karena aku adalah saudara Lisa?"
"..."
"Hah, dengarkan aku, aku memang kakak nya, tapi aku tak bisa mengawasi Lisa 24 jam penuh, aku punya banyak kerjaan dan dia ada privasinya sendiri, baiklah mungkin benar aku tak terlalu memperhatikan nya, itu kesalahanku, tapi kumohon tenang lah, kau baru keluar dari rumah sakit, lebih baik kau duduk saja dulu" ucap Zay pelan.
Lily terdiam, ia mungkin saja merasa bersalah karena melampiaskan amarah nya pada Elzay. Pada akhirnya ia mengeluarkan tangisnya, air mata mulai mengalir di pipinya yang halus, Zay menghela nafasnya kasar ketika melihat Lily yang sedang menangis itu.
"Hiks...Hiks..."
ELZAY POV :
Aku bingung dan juga canggung, melihat nya menangis seperti ini, dadaku menjadi sesak, aku tak menyukainya.
Aku bahkan tak tau harus bagaimana, berdiri di hadapan nya dan dia menangis di sofa itu, apakah yang dilakukan Elisa pada nya itu benar-benar menyakiti hatinya? Aku jadi merasa bersalah.
Haruskah aku menangis mengikutinya? Itu konyol, tapi ini sudah 10 menit, dia masih saja menangis, aku tak tahan lagi.
Aku melangkahkan kakiku perlahan lalu berjongkok di hadapan nya, tanganku bergerak sendiri untuk menyeka air mata yang terus jatuh dari mata nya itu, kini dia tertegun dan menatapku sambil menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menahan tangisnya, sambil menatapku.
Tanpa sadar aku jadi mengelus pipi nya yang basah akibat banyaknya air mata yang terjatuh, pipi nya sangat halus, wajahnya jadi berantakan, tapi dia masih terlihat sangat cantik, aku jadi heran apa yang membuat Daniel masih melirik perempuan lain.
Ya, dia memang pria bajingan, aku sudah tau itu.
"Wanita mencintai laki-laki yang menyakitinya, lalu laki-laki menyakiti wanita yang dicintainya, ironi bukan?" ucapku.
"..."
Netra birunya kini menatapku, tapi tampaknya ia sudah tak menangis lagi, aku membenahi rambut pirangnya yang berantakan, dia bahkan tak menolak ketika aku menyentuh wajah dan rambutnya.
"Aku minta maaf atas semua yang diperbuat oleh Lisa, dia salah aku akui itu, dia jahat padamu, tapi bukan berarti bahwa Daniel itu orang yang baik, kau paham maksudku bukan?"
Dia menundukan kepala nya, mungkin dia malu padaku.
"Mungkin aku harus berbicara pada Elisa nanti nya" ujarnya.
"JANGAN LAKUKAN ITU"
__ADS_1