
"Tenanglah tuan Ronstar,lepaskan dulu pisaumu agar tidak ada orang yang terluka"
Yohan tak mengindahkan ucapan dari Tian, ia menatap tajam wajah Tian dengan pisau yang masih mengarah ke leher Rui, kini ujung pisau itu sudah menusuk daging Rui sedikit demi sedikit,membuat Rui meringis karena sakit.
Tian semakin panik,seluruh tangan nya berkeringat dingin,karena ini kali pertama nya ikut dalam penangkapan orang,apalagi yang akan ditangkap ini adalah orang yang gila.
Ia mengatur nafasnya,berusaha untuk tetap tenang dan menghela nafasnya, lagi-lagi ia berbisik kepada rekan nya.
Dan tak lama kemudian,seorang petugas polisi datang dan yang membuat Yohan tersentak adalah, dia membawa serta Eleeya sebagai sandera nya dengan menodongkan pistol di kepala Eleeya.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" teriak Yohan dengan membulatkan kedua mata nya.
"Aku sudah bilang untuk tenang dan lepaskan pisaumu,apa kau ingin aku menembaknya lebih dulu agar kau menuruti permintaanku?" ujar Tian dengan perkataan mengintimidasi.
"Hah,silahkan saja,kau pikir aku idiot,hah?" ujarnya terkekeh.
Tian mengepalkan tangan nya, selain gila pria ini cukup pintar,dia tau kami tak mungkin melakukan hal itu,lalu bagaimana ini?bila menembaknya,dia akan membunuh Rui.
Tian memegang kepala nya yang sudah hampir pecah saat ini, dia melihat kearah Rui, pria itu bahkan hampir tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga dan juga darahnya yang tak kunjung berhenti dari kakinya.
**Eleeya Pov :
Beberapa menit yang lalu, seorang polisi mendobrak pintu kamarku dengan paksa, aku yang ketakutan hanya diam dan gemetar saat dia memintaku untuk mengikuti perkataan nya, dia memborgol tanganku kebelakang dan membawaku kesini,tak lupa dengan menodongkan pistolnya kearahku, aku bertanya apa aku akan ditembak sungguhan?Tapi polisi itu tak menjawab nya,membuatku semakin takut dan khawatir.
Ketakutanku tak hanya sampai disitu, ketika aku tiba di tempat Yohan dan Kak Rui berkelahi, sudah ada banyak polisi yang mengelilingi Yohan saat itu, kulihat wajah Kak Rui sudah babak belur, kondisi nya sangat menyedihkan, dia mungkin sekarat tapi untung nya dia masih sadar.
Dan disini lah aku sekarang, aku sangat takut, air mataku tak berhenti mengalir dari pelupuk mataku, aku segera ingin berlari kearah Yohan, kulihat dia menatapku dengan tangan yang masih menodongkan pisau kearah leher Kak Rui.
"Yohan, aku sangat takut hiks,hiks" ucapku terisak.
Tanpa sadar aku berkata seperti itu, terlihat dia terdiam disana,ekspresi wajahnya berubah, tak lagi mengerikan seperti tadi.
Dia seakan ingin mendekat dan memelukku yang sedang gemetar ketakutan.
Dia menjatuhkan pisaunya, melepaskan Kak Rui begitu saja dan berjalan perlahan kearahku.
__ADS_1
"El,jangan takut,aku ada disini" ujarnya tersenyum seolah ingin membuatku tenang.
Aku masih saja menangis, aku tidak lagi berpikir bahwa hal itu malah memberikan kesempatan bagi para polisi untuk segera menangkapnya.
Saat dia hendak melangkahkan kakinya kearahku,disitu lah para polisi itu membekuknya dan memborgol tangan nya tepat di hadapanku.
"YOHAAANN" Teriakku ketika melihat Yohan hendak dibawa oleh mereka.
Tangisku makin pecah,kenapa ini bisa terjadi?
Aku hanya ingin hidup dengan baik bersama nya, hatiku seakan terkoyak menyadari hal yang terjadi hari ini.
Detektif yang kuketahui bernama Hetian itu pun membuka borgol dilenganku.
Kulihat beberapa dari mereka segera mengamankan Kak Rui dan membawanya pergi,tapi itu sudah tak penting bagiku, aku segera berupaya lari menuju Yohan, tapi Detektif Tian menghalangiku.
"Pak,jangan tangkap Yohan,kumohon jangan bawa dia pergi" ujarku memohon sambil menangis tersedu.
Detektif itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, itu membuatku kesal, ingin rasa nya aku mengambil pistolnya dan menembak semua polisi-polisi itu disini, tapi aku tau itu tidak mungkin.
Sontak aku langsung menolehkan pandanganku kearahnya, kulihat Yohan sedang berupaya menahan tangisan nya hingga mata nya memerah, tapi tetap saja air mata jatuh mengalir ke pipinya.
Itu menambah rasa kesedihanku, tatapan nya seolah berkata,"Eleeya berada didekatku sekarang, tapi aku bahkan tak bisa meraih dan memeluknya" itulah yang tertulis dalam tatapan nya terhadapku.
"Pak,biarkan aku memeluknya untuk yang terakhir kali" ujarku memohon pada Detektif Tian.
"Maaf nona,tapi itu tak bisa,aku tak bisa mengambil resiko untuk itu"
"Dia tak mungkin menyakiti aku,apa kau bahkan tak punya hati walaupun sedikit?" teriak ku yang sudah tak dapat menahan amarahku pada Detektif itu.
"..."
Namun Detektif itu hanya menatapku tanpa berbicara apapun,membuatku sangat frustasi karena nya.
"Aku mohon pak,aku mohon..hiks,hiks" aku merengek sekali lagi,aku bahkan mencengkram erat jaket nya dan menangis sejadi-jadinya, bagaimana bisa orang ini berlaku sangat kejam padaku.
__ADS_1
"Baiklah"
Aku mendongakkan kepalaku, aku sangat senang saat itu, aku mengucapkan banyak terimakasih padanya dan langsung berlari kearah Yohan, aku memeluknya erat,walau ia tak bisa membalas pelukanku karena tangan nya diikat.
Yohan menenggelamkan kepalanya di leherku,dia menangis begitu pula denganku.
"Jangan tinggalkan aku" ucapku disela tangisku.
"Tidak,tolong jangan menangis,aku juga jadi sedih karenanya" ujarnya parau.
Sungguh aku tak ingin melepaskan pelukanku kala itu, tapi Detektif tian segera menarik Yohan untuk ikut pergi dengan nya.
"Tidak,tolong jangan bawa dia"
Aku berteriak histeris ketika para polisi itu membawa Yohan pergi, kulihat ia menoleh kearahku dan tersenyum.
"Tidak apa-apa,aku akan segera kembali padamu" ucapnya.
Hari itu rasanya duniaku sudah runtuh, hatiku hancur, dadaku sesak dan kepalaku serasa mau pecah, aku tak lagi punya harapan.
Saat aku melihat ia masuk kedalam mobil bersama Detektif Tian dan pergi menjauh dariku, aku merasa seakan dia tak akan kembali padaku lagi,aku merasa itu adalah hari terakhirku melihatnya, dan perasaan itu membuatku gila.
Aku hanya bisa termenung saat beberapa petugas membawaku menuju rumah sakit, aku tak lagi memikirkan apapun, hanya Yohan yang aku pikirkan.
Aku bahkan belum sempat mengatakan kehamilanku padanya.
Sial,aku bahkan sudah mengkhayal bagaimana bahagianya hidupku nanti, aku bahkan sudah berangan-angan untuk membuatnya kerepotan saat aku mengidam sesuatu nanti nya, melahirkan anakku yang didampingi oleh nya, membesarkan nya bersama dan jadi keluarga kecil yang bahagia, setidaknya itu yang ku impikan, tapi semua nya sirna, itu tidak akan aku rasakan sekarang, itu sungguh hanya menjadi angan-angan saja.
Aku tau cepat atau lambat kejahatan nya pasti akan diketahui oleh polisi, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini.
Aku kembali menangis, bahkan bila diperbolehkan aku ingin ikut dikurung dipenjara, selama itu bersama nya,aku tidak apa-apa.
Aku tak ingin sendirian lagi, sekarang aku harus bagaimana tanpa dia, dan dia apa akan baik-baik saja selama disana.
"Aku ingin bersama nya" gumamku terisak.
__ADS_1