
Yohan menggendong Eleeya menuju kamarnya, namun ia mengurungkan niatnya, ia melirik kamar Eleeya dan membuka pintu kamar itu. Diletakannya tubuh ramping gadis yang tengah mabuk itu di kasur, Eleeya masih meracau tak jelas sambil terkekeh dan menggeliat di atas kasur itu. Yohan menatapi gadisnya yang terlihat sangat imut ketika sedang mabuk. Lalu ia pun melepas kancing kemejanya sendiri satu persatu hingga kini tubuhnya yang seksi dan atletis itu terlihat sangat menawan.
"Woah! Kau sangat seksi. Aku jadi ingin memakanmu," ujar Eleeya yang menatap sayu tubuh Yohan.
"Pft, itu lucu sekali," gumam Yohan.
"Sepertinya itu tidak akan sesuai keinginanmu, karena saat ini kau lah yang akan kumakan," ujar Yohan yang terlihat seperti serigala, siap menerkam kelinci di hadapannya.
Eleeya memandangi wajah Yohan dengan seksama lalu ia pun mengeluarkan senyumnya. "Ada apa dengan senyummu itu?" tanya Yohan yang duduk di sebelah Eleeya.
Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepala nya. "Ah, sejak kapan kau menyukaiku?" tanya Yohan.
Gadis itu menatap Yohan sebentar lalu memejamkan matanya seraya berpikir.
"Sudah lama sekali," jawabnya.
"Benarkah?" tanya Yohan lagi.
Gadis itu mengangguk-angguk dengan mata yang setengah terbuka.
Yohan memandangi gadisnya itu dengan datar lalu memutar bola matanya ke kiri dan kekanan, dia terlihat canggung dan agak kikuk.
"Oh, kau sering sekali ya di lecehkan paman mu?" tanya Yohan tiba-tiba.
"..."
Gadis itu diam tak menjawab, dan itu membuat Yohan terlihat lebih kikuk di hadapan Eleeya.
"Pamanku? Dia hanya melecehkanku dua kali. Tapi dia hampir setiap hari menghajarku." Eleeya menjawab dengan wajah merah dipipinya.
"Dua kali? Bukannya sering ya? Ah lalu, siapa yang lebih sering?" tanya Yohan menggebu-gebu.
"Itu Leo!" jawab Eleeya.
"Leo?" tanya Yohan memastikan.
Kembali Eleeya menganggukan kepalanya.
"Ah begitu, kurasa aku sudah salah paham." Yohan berbisik.
"Kau berkata sesuatu?" tanya Eleeya tiba-tiba.
__ADS_1
Yohan hanya tersenyum. "Tidak ada," ujarnya.
"..."
Yohan membelai gadis yang berada di sampingnya itu.
"Hei, kau wanitaku! Ingat lah itu!"
Lalu, dengan cepat Yohan menyambar bibir tipis gadis itu menggunakan bibirnya, lidah mereka terpaut menikmati satu sama lain.
"Ah, rasanya aku akan ikut mabuk karena bibirnya," bisik Yohan di sela ciuman panas mereka.
"Sentuh aku disana!" ucap Eleeya lembut dengan tangan yang mengarah ke bawahnya.
Yohan tersentak, matanya terbelalak mendengar penuturan Eleeya, gadis yang sangat penakut itu kini telah berani meminta suatu hal pada Yohan tanpa rasa takut, dan hal itu membuat seringaian di bibir Yohan terlihat.
"Wah-wah, lihatlah bajingan kecil ini." Yohan bersemangat.
Tangan kanan Yohan menyusup ke dalam celana Eleeya untuk mewujudkan keinginan gadis itu, sementara bibir mereka masih bersatu, ******* kecil pun keluar dari mulut Eleeya menambah gairah dan semangat bagi Yohan. Melihat Eleeya yang menggeliat penuh kenikmatan lalu erangan demi erangan terdengar dari bibir tipis Eleeya, itu membuat Yohan semakin ingin memakan gadis itu.
"Bersiaplah, aku akan memasukannya!" ucap Yohan yang tengah bersiap-siap.
"..."
"Hei, tenanglah! Itu milikku," ujar Yohan sambil memegang pipi gadis itu.
"Hah, kurasa aku akan gila." Yohan berkata sambil menggerakan pinggulnya dan itu membuat wanita yang berada di bawahnya mendesah dan mengerang.
Malam ini terasa sangat panjang, begitu pula dengan permainan yang mereka lakukan.
(stamina Yohan bagai kuda gaes)
...****************...
"Oi Rui! Ini dokumen yang kau minta," ujar salah seorang staff di kepolisian.
Rui menerima dokumen itu lalu melihat isinya.
Semenjak dia ditugaskan pak Nathan untuk menangani satu kasus orang hilang, dia begitu sibuk mencari informasi sana sini mengenai orang itu, dia terlihat sangat serius untuk hal ini. Sambil membaca isi dari dokumen itu, ia berjalan menuju ruangan nya, disana sudah ada seorang gadis cantik yang tengah menunggunya.
"Ada petunjuk?" ujar gadis cantik itu.
__ADS_1
Rui menatap gadis itu lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku harus bisa mencari setidaknya satu petunjuk saja, kalau sampai minggu depan kita tak membuahkan hasil sama sekali, kasus ini akan ditutup dan orang itu akan dianggap hilang selamanya, sama seperti yang sudah-sudah," ujarnya dengan raut wajah yang sangat serius.
Terlihat gadis yang bersamanya itu tengah menghela nafas melihat rekannya yang begitu tertekan.
"Andai saja orang-orang yang hilang ini adalah sejumlah orang penting atau dari keluarga kaya raya, aku yakin kasus mereka akan di usut sampai ke akarnya." Rui menggerutu sambil meremukan dokumen yang ia pegang.
"Hei, hati-hati bicaramu, kita ini masih di kantor!" ujar gadis itu mengingatkan.
Rui membanting dirinya di sofa, lalu kembali disibukan dengan dokumen yang ia pegang itu.
"Apa isi dokumen itu?" tanya gadis itu.
"Tak banyak, nama lengkap nya Cedric Ledanny, umur nya 26 tahun, tinggal sendirian karena orang tua nya bercerai, tidak kuliah dan bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran cepat saji." Rui menjelaskan isi dokumennya.
"Kita sudah mencoba ke restoran tempat ia bekerja, namun pegawai serta pemilik restoran itu tak memiliki informasi apapun seputar orang ini," ujar Rui sambil memegangi dahinya.
Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya yang agak jauh dari Rui lalu berjalan mendekat ke arah Rui dan kemudian duduk disebelah pria tertekan itu.
"Aku akan membaca berkas yang ini!" ujar gadis itu.
"Ya silahkan," jawab Rui memberikan berkas yang diminta rekan kerjanya, Alana.
Mereka pun sibuk membaca berkas yang ada di genggaman mereka masing-masing.
"Dia punya tiga teman dekat, mungkin kita bisa menemui mereka untuk mencari informasi," ujar Alana.
"Apa tertulis nama-nama mereka?" tanya Rui.
Alana menganggukan kepalanya. "Ya, disini tertera Julian Rade, Ted Lawlis dan terakhir Leo Relophan."
Seketika Rui pun tersentak saat mendengar nama terakhir yang disebutkan Alana. "Leo.. Relophan?"
"Ada apa? Kau mengenalnya?" tanya Alana.
"Ya, aku mengenalnya. Bajingan gila itu... Mungkin dia yang harus pertama kali kita temui," ujar Rui.
"Baiklah. Oh dan satu lagi," ujar Alana tiba-tiba sambil menyodorkan berkas terakhir.
"Disini disebutkan bahwa tempat terakhir yang ia kunjungi adalah Mall Plaza. Mungkin kita juga harus mengecek kesana," ujar Alana.
__ADS_1
Rui mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju. Walaupun hanya sedikit sekali petunjuk, tapi ini perlu di coba, dia yakin orang-orang hilang ini bukan hanya sekedar hilang, kemungkinan mereka di culik sekitar 20% dan sisa nya memungkinkan mereka sudah mati, sebagai Aparat dia berhak menemukan dalang dibalik semua kejadian aneh ini.