Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 40 : Failed!


__ADS_3

Kedua mata Rui membulat seketika mendengar pernyataan dari gadis yang berada di hadapan nya itu.


Dengan wajahnya yang sendu dan tatapan nya yang menyedihkan itu dia mengatakan hal yang bahkan tak bisa diterima oleh Rui.


"Eleeya,apa kau tahu arti dari ucapanmu itu?"


"..."


Kembali gadis itu bungkam dan mengalihkan pandangan nya dari Rui,membuat Rui semakin gusar dan semakin bingung dengan perubahan gadis itu.


Secara fisik itu jelas Eleeya yang sama, tapi dia bukanlah Eleeya yang akan selalu tersenyum ketika melihat Rui seperti dulu,gadis yang ada di hadapan Rui ini adalah gadis yang bahkan berkali-kali mengalihkan pandangan nya seolah tak ingin melihat wajah Rui lagi,sejujurnya itu membuat hati Rui jadi sedikit terluka.


Seketika keheningan melanda diantara mereka berdua,sampai akhirnya keheningan itu buyar ketika dering ponsel Rui menggema di ruangan itu.


"Ya Tian"


"Rui,kita tidak punya pilihan lain,kita harus membebaskan mereka" ujar Tian dari seberang sana.


"Apa?Itu tidak mungkin,kita hanya perlu sedikit lagi memaksa dia mengakui perbuatan nya" jawab Rui tak terima dengan pernyataan Tian.


"Rui,seharusnya kau mengerti,apa yang bisa kita lakukan?Kita bahkan tak punya bukti apapun,berkasmu sudah ku berikan tapi itu tidak lah cukup"


"...Tapi"


"Kau tidak seharusnya menjadi egois" ujar Tian mengakhiri percakapan nya di telpon.


Rui memejamkan matanya sesaat setelah menyadari bahwa semua usahanya ini hanyalah sia-sia.


Kemudian netra nya menatap lurus kearah Eleeya yang sedang menundukan wajahnya itu.


"Apa kau akan terus diam seperti itu Eleeya?" tanya Rui yang sedang menahan kekesalan nya.


Kemudian di ruangan lain,terlihat Yohan tengah terduduk dengan tangan yang masih terborgol.Dia memandang lurus dengan tatapan nya yang kosong,tak berbicara apapun juga tak melakukan apapun.


"Kalau memang mereka itu sepasang kekasih,maka itu tidak akan bagus untuk kita" ujar Tian yang sedang berdiri tak jauh dari tempat Yohan duduk.


"Hah,kepalaku hampir pecah,sedari tadi ototku menegang ketika berada di luar" ucap Alana sambil menghela nafasnya.


"Seharusnya aku tidak mendengarkan dan mempercayainya ketika dia bilang dia menemukan pelakunya" ujar Tian memilin-milin dahinya.


Alana melirik kearah Yohan yang masih terkesan melamun dengan tatapan kosong nya itu, dia sungguh terlihat tak berdaya ketika ia dipisahkan dengan gadis itu.


Lalu,sesuatu mengejutkan Alana,membuat wanita itu tersentak dan menautkan kedua alisnya.


Yohan baru saja meliriknya dan menunjukan sebuah senyuman kecil kepada Alana, tentu saja itu hanya di tujukan pada Alana karena hanya wanita itu yang melihatnya.

__ADS_1


Apa-apaan senyuman itu?Itu terlihat seakan dia mengejekku,pikir Alana dalam hati.


Seketika Alana membelokan tubuh beserta wajahnya untuk tak lagi berhadapan dengan pria yang membuat jantungnya berdetak cepat hanya karena sebuah senyuman,atau lebih tepatnya seringaian.


"Kau tak apa Lana?Wajahmu pucat,kau sedang tak enak badan?" tanya Tian yang bingung ketika melihat perubahan pada Alana.


"...Aku tidak apa-apa,jangan khawatir" jawab Alana yang lalu melirik kearah Yohan sebentar.


"Ah Tian,kurasa tidak ada salahnya kita mempercayai Rui,aku tidak sepenuhnya menyalahkan dia untuk hal ini" ujar Alana.


"Hah,kau memang selalu seperti itu kepada anak itu bukan?" jawab Tian.


"..."


"Dan dari pada itu,kita punya masalah baru lagi sekarang" ujar Tian tiba-tiba sambil menunjukan ponsel nya yang berdering.


Tian dan Alana pun saling menatap ketika tahu bahwa atasan mereka yaitu Pak Nathan tengah menelpon Tian sekarang.


Mau tak mau Tian kemudian menjawab panggilan itu.


"Hah,dia sangat marah dan sekarang dia sudah hampir sampai kesini" ujar Tian sambil menghela nafasnya.


Alana jadi tidak fokus lantaran seringaian yang dilontarkan Yohan padanya.


Rasanya dia mengerti mengapa Rui begitu yakin kali ini,pria itu memang pasti ada kaitan nya dengan kasus orang hilang itu.


Tapi yang salah disini adalah fakta bahwa mereka tak ada bukti yang kuat,dan saksi yang Rui punya malah seakan membela pria itu.


"Lebih baik kita menemuinya,dia juga akan baik-baik saja disini,kedua tangan nya masih diborgol" ujar Alana pada Tian


"Ya kau benar" jawab Tian sambil menganggukan kepala nya.


Pada akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan itu meninggalkan Yohan yang tengah duduk memandang lurus kearah depan,dengan tatapan nya yang kosong,siapa yang akan tahu apa yang dipikirkan nya saat itu.


"Apa yang salah sebenarnya pada kalian?" ujar Pak Nathan sembari berjalan cepat menuju ruangan yang ditempati Eleeya dan Rui.


"Pak kepala,dengarkan dulu,dia sangat yakin saat memberitahukan nya kepada kami" jelas Tian sambil mengikuti jalan nya Pak Nathan yang tergesa-gesa.


"Anak itu tidak pernah tidak yakin,kau tau maksudku bukan?"


"..."


"Pak Kepala,kami mohon tenang lah" ujar Alana berusaha menenangkan atasan nya yang tampak sangat marah itu.


"Jadi dimana anak itu?" tanya Pak Nathan.

__ADS_1


"Dia ada diruangan itu Pak Kepala" jawab Tian menunjuk sebuah ruangan yang berada di tengah-tengah.


Dengan menghela nafas berat,Pak Nathan melangkahkan kakinya untuk menemui Rui,namun langkahnya terhenti ketika mendapati Rui yang keluar dari ruangan itu secara tergesa-gesa sambil mengepalkan tangan nya.


Itu jelas membuat Pak Nathan beserta Tian juga Alana terkejut,apalagi ketika tahu dia memasuki ruangan tepat disebelahnya yang sudah jelas ada Yohan di dalam nya.


Melihat hal itu meraka pun segera menyusul Rui yang terlihat sangat kesal itu.


Rui berjalan cepat kearah Yohan yang sedang melamun dan melayangkan pukulan nya tepat di wajah Yohan.


Yohan yang terkejut dan dengan paniknya berusaha menghindar dari pukulan Rui yang bertubi-tubi padanya.


"Dasar pembohong gila,bajingan" teriak Rui terus memukul Yohan.


"A-apa maksudmu" ujar Yohan yang terlihat kaget saat itu.


"RUI HENTIKAN!" Teriak Pak Nathan dari kejauhan.


Rui terhenti ketika mendengar suara Pak Nathan yang berteriak padanya,dengan tangan yang masih mencengkram kuat kerah baju Yohan, dia tersentak ketika mengetahui kedatangan Pak Nathan saat itu.


Melihat itu adalah Pak Nathan yang datang,Yohan pun meronta-ronta dan akhirnya cengkraman di kerah bajunya pun terlepas,itu membuat Yohan bergerak menjauh dari Rui dan mendekat kearah Pak Nathan.


"Pak tolong aku,dia terus saja memukulku,padahal aku tak melakukan apapun" ujar Yohan seraya menampilkan raut wajah polosnya.


"Yohan?" ujar Pak Nathan yang terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dituduh sebagai pelaku bagi Rui adalah Yohan.


"Pak Kepala,ini tidaklah..."


"CUKUP!" bentak Pak Nathan dan membuat semua orang disana tersentak,tak terkecuali Alana dan Tian.


"Tian dan Alana,bawa Yohan keruangan lain dan lepaskan borgolnya,beri dia segelas air" ujar Pak Nathan.


Tian dan Alana tak bisa berbuat apapun kecuali menuruti perintah atasan nya.


Alana menolehkan pandangan nya kearah Rui, untuk pertama kalinya ia melihat bagaimana menyedihkan nya pria itu, dia terlihat begitu kebingungan, tapi tak ada yang bisa gadis itu lakukan saat ini.


"Pergilah,kembali kekantormu,aku akan menemuimu disana" ujar Pak Nathan seraya membalikan badan.


"Tapi Pak Kepala,aku..."


"RUI!" Teriak Pak Nathan dan membuat Rui tersentak.


"Berhentilah membuat kekacauan,turuti perkataanku,demi kebaikan kita semua" ujar Pak Nathan lalu berjalan pergi meninggalkan nya.


Rui diam mematung melihat punggung Pak Nathan yang berjalan menjauh, hari itu dia merasa dunia nya seakan runtuh, ia menggigit bibir bawah nya menahan rasa geram nya, menendang sesuatu yang ada disana untuk sekadar melepas rasa sesak di dada nya.

__ADS_1


__ADS_2