
Karena kupikir aku telah selesai,aku pun keluar dari apartemen nya.
"Sudah selesai?" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain si pemilik apartemen itu.
"Ah iya,aku hanya mengambil beberapa barangnya" ujarku tersenyum.
"Dia menunggak lama sekali,aku berpikir untuk menyewakan nya dengan orang lain,tapi kulihat barang nya masih banyak sekali,aku jadi bingung" jelas nya.
"Kau boleh menyewakan nya kepada orang lain sekarang,barang-barang nya yang tertinggal juga tolong di buang saja,dan ini uang sewa nya bulan ini beserta tunggakan nya,terimakasih atas kebaikan hati anda" ucapku seraya memberikan nya amplop berisi uang sewa apartemen Eleeya.
Kulihat raut wajahnya sungguh ceria ketika menerima uang itu.
"Wah,saya yang harus berterimakasih,apa kau ini pacarnya?" ujarnya sambil menyenggol lenganku.
"..."
Kupikir aku hanya membalasnya dengan senyuman saja.
"Ah,apa selama ia tidak kembali ada orang yang mencarinya?" tanyaku.
"Kurasa memang ada,dia sepertinya anggota kepolisian"
"..."
"…Maaf,apakah pacarmu itu terlibat sesuatu?"
Hah,orang tua ini banyak tanya juga,dan terlepas dari itu,polisi yang ia maksud itu mungkin Rui.
Anak itu memang menganggu sekali,aku jadi semakin tidak menyukainya.
"Ah itu tidak mungkin,orang yang anda maksud itu memang dari kepolisian,tapi dia mencari kekasihku itu karena dia.."
Aku mendekat kearah telinga si pemilik apartemen.
"...Dia itu juga menyukai kekasihku,kurasa dia ingin merebutnya dariku" bisik ku pada nya.
"Astaga,anak muda zaman sekarang sangat tidak sopan ya,padahal dia itu seorang aparat,aku tidak habis pikir" gerutu si pemilik apartemen.
Aku hanya menyunggingkan senyumku pada nya.
"Maka dari itu,tolong rahasiakan soal pacarku dan juga aku darinya,kau bisa melakukan itu bukan?" pintaku pada nya.
Terlihat orang tua itu tersipu ketika melihat wajahku yang memohon padanya.
Hah,itu sungguh menggelikan.
"Ah,tenang saja,aku pasti merahasiakan nya" ujarnya.
*
Aku duduk dikafe sambil menyeruput minumanku.
Aku mencoba menelpon kontak yang dinamai Paman Randell itu.
__ADS_1
"Ah,tersambung" gumamku.
Terdengar suara menyapa "Hallo" dari seberang sana.
"..."
Orang yang kutelpon ini terus saja berkata "Hallo..Hallo,siapa disana" namun aku mengabaikan nya.
Tak lama setelah itu, aku langsung mematikan panggilan itu.
Aku pun mengirimi nya sebuah pesan singkat yang berbunyi "Mari bertemu di Bar XX malam ini".
Sejujurnya itu adalah cara kuno,tapi setidak nya itu patut dicoba.
Dan benar saja,rencanaku yang sangat kuno ini ternyata membuahkan hasil,orang ini langsung setuju dengan membalas pesanku "Baiklah,kita bertemu malam ini".
"Hah,bajingan mesum ini" ujarku terkekeh.
Kau tahu,Bar XX adalah kedai minuman yang dipenuhi dengan kupu-kupu malam di dalam nya.
Sebenarnya aku sudah menyiapkan rencana lain kalau-kalau caraku tadi tak berhasil, tapi kemesuman nya malah memudahkan aku untuk bertemu dengan nya.
Malam itu,aku mengendarai mobilku menuju Bar tersebut.
Lampu remang-remang,tercium bau alkohol beserta asap rokok yang berterbangan dimana-mana, aku pun tersenyum ketika mendapati orang tua yang sedang menggoda beberapa wanita di meja ujung sana.
Setelah aku mencari informasi,ternyata dia benar orang nya,Randell Relophan,Paman gila yang diceritakan oleh Eleeya.
Sedikit perkenalan,aku membenturkan kepala nya kewestafel hingga kepala nya sedikit berdarah.
Aku tidak berencana membunuhnya disana, setidak nya belum saatnya.
Waktu itu kulihat dia dibantu berjalan oleh seorang wanita.
Karena kebaikan hatiku,aku menawarkan bantuan untuk mengantarkan mereka.
"Kau bersama nya?" ujarku pada wanita itu.
"Ah tidak,aku hanya mencoba mengantarnya saja" ucap wanita itu dengan wajah yang memerah.
Kulirik Paman Eleeya sedang tak sadarkan diri,mungkin dia mabuk berat,dia saja tak terlalu merasakan luka yang ku akibatkan tadi,pikirku.
"Kalau kau tak sedang bersama siapapun,apa kau mau ikut denganku?" ujarku.
Wanita itu sedikit kaget,namun aku tahu dia sangat kegirangan,dasar ******.
"Iya,jelas aku mau" ujarnya sambil merekah kan senyum nya.
Aku menurunkan wanita itu disebuah hotel dan aku menyuruhnya untuk menunggu disana setelah aku mengantar Randell.
Setelah itu aku pun mengendarai mobilku lagi untuk mengantar pria menjijikan ini,mengantarnya ke neraka maksudku.
Aku sangat menikmati ketika melihat raut wajah nya yang panik,gelisah dan ketakutan.
__ADS_1
Aku bosan ketika dia selalu bertanya siapa aku?Kenapa kau melakukan ini?
Dia sangat lah berisik,hingga aku harus memotong lidah nya.
Aku menyayat tubuhnya hingga ia banyak sekali mengeluarkan darah.
Kalau Eleeya ada disini,mungkin ia akan senang melihat bagaimana Paman nya mati karena kehabisan darah,apalagi ketika melihat tubuhnya hancur dan terburai kemana-mana.
Malam itu,malam yang sangat sepi ketika aku melemparkan mayatnya ketengah jalan yang sepi itu,siapa sangka truk besar dengan sopir yang mabuk itu menabrak nya dan menyeret nya sangat jauh,walaupun aku sudah memprediksikan nya,maksudku aku memang sudah melihat truk yang ugal-ugalan itu dari kejauhan.
Terlepas dari situ,aku teringat kalau ada satu hal yang aku lupakan, wanita ****** itu kutinggalkan di hotel dan pasti sedang menungguku.
Aku tidak punya niat untuk melakukan hal itu dengan nya,jadi kubawa saja dia kerumahku, aku tak mungkin membiarkan dia hidup setelah apa yang ia lihat,bukan?
Wanita ini sangat agresif,aku hanya menatapnya,tapi dia langsung menciumku,sebenarnya aku merasa jijik ketika dia melakukan itu,tapi aku menahan nya ketika tahu ada tikus kecil yang sedang menonton kami sambil bersembunyi.
Wanita ini cukup aneh,ketika aku hanya menatapnya,dengan penuh ***** dia langsung mencium bibirku,sedangkan ketika aku menyentuhnya,dia malah berteriak dan meronta-ronta.
Apa sentuhanku terlalu kasar?
Kurasa tidak,aku hanya menjambak rambutnya dan mencoba menyeretnya keluar, tapi yang membuatku sungguh kesal adalah dia berani memukul mataku hingga memerah.
Hah,untungnya dia sudah mati,aku merasa lega.
Dan kau tahu siapa yang membunuh ****** itu?Gadisku yang melakukan nya,aku mengamati sendiri bagaimana ia menusuk wanita itu berkali-kali,walaupun wanita itu sudah mati,dia tetap menusuknya,sungguh mengesankan.
Eleeyaku yang malang,dia seorang pembunuh sekarang.
Sekarang dia pasti tidak akan meninggalkan aku, tidak ada lagi tempat bernaung baginya selain ditempatku, karena aku memegang rahasia terbesarnya.
Hari itu aku berniat untuk memberinya kejutan itu.
Namun,aku sedikit kecewa karena ternyata itu bukanlah Paman nya,melainkan Leo.
Aku jadi mengurungkan niatku, ternyata belum saatnya dia diberi kejutan,aku berpikir lain kali akan kuperlihatkan didepan matanya bagaimana kejutan dariku, dia pasti akan sangat senang.
Untuk sekarang,aku akan membuatnya senang dengan cara lain,terlepas dari semua hal yang telah kulalui, aku merasa banyak perubahan pada diriku,dan mungkin itu dikarenakan gadis itu.
Aku yang selalu merasa hampa sejak kematian ibuku,tidak memiliki emosi dan perasaan apapun.
Sekarang aku bahkan merasa jengkel ketika seseorang menyentuh milik ku.
Aku yang selalu melakukan apapun yang kumau agar dapat menyalurkan rasa sesak ku itu kini tanpa sadar aku mencoba menahan nya.
Hah,apa semua itu?pikirku.
Apa benar selama 10 tahun ini aku hidup dengan penyakit seperti itu?
Yang benar saja, aku hanya tak ingin sosok yang mencintaiku seperti ibuku itu hilang.
Ketika aku menceritakan hal yang terjadi denganku pada ibuku, ibuku selalu saja diam memandangi langit-langit atap yang tak mengesankan.
Tapi sepertinya ibuku seakan tersenyum ketika aku memberi tahunya bahwa aku sedang jatuh cinta sekarang.
__ADS_1