
LILIANA POV:
Aku duduk di balkon kamar atas, termenung dan ditemani dengan segelas kopi hangat, ini masih pagi hari, sembari melihat burung-burung yang terbang kesana kemari sambil berkicau.
Ini sudah hari ketiga.
Dan aku sudah menjadi janda selama itu, rasa sedih masih menyelimuti hati dan pikiranku, Daniel pergi meninggalkanku dengan kesan yang sangat buruk, dan lagi misteri tentang siapa orang yang telah menyiksa dan merampok nya itu pun belum diketahui sampai sekarang.
Aku masih ingat saat itu, aku kembali kerumahku setelah mengecek keadaan nya, nafas dan detak jantung nya stabil, tak ada yang salah pada nya, aku tak habis pikir, semua itu terjadi begitu cepat.
Ah sial, aku akan menangis lagi jika terus-terus begini.
Aku mengambil cuti untuk beberapa hari dari kantorku untuk mengurus kremasi dan pemakaman Daniel, aku beruntung Zay sangat mengerti dengan kondisiku, tak kupungkiri dia sangat amat banyak membantuku, mulai dari materi hingga ketenangan mentalku, entah bagaimana aku akan membalas semua kebaikan nya itu.
Aku sempat berpikir, mereka adalah saudara kembar, selain wajah mereka yang sangat mirip, selebihnya mereka berkebalikan sekali.
Elisa, dia dulu anak yang cantik dan baik, bahkan kami berteman baik saat itu, aku tak tau apa yang salah pada dirinya, tapi dia memang sedikit aneh, dia mulai menatapku dengan sangat tajam saat itu, tapi dia juga terkadang bersikap biasa saja denganku, aku merasa kalau dia membenciku, tapi aku tak tau apa alasan nya, selama aku menjalin hubungan pertemanan dengan nya, aku ingat satu hal, Elisa memiliki ketertarikan yang sangat kuat pada suatu objek yang menarik perhatian nya.
Lalu, entah mengapa aku berpikir kematian Daniel berhubungan dengan nya. Aku tau ini salah, tidak seharusnya aku berpikiran buruk tentang nya, tapi jauh didalam lubuk hatiku aku memang menaruh curiga pada nya.
Apa benar yang dulu dikatakan Daniel?
Elisa meneror dan sering mengancam nya, bahkan yang membuat tato nama di dadanya itu adalah perbuatan Elisa sendiri.
Setahuku, Elisa hanya tertarik pada benda-benda yang kebetulan mampu menarik perhatian nya, apa seiring berjalan nya waktu itu jadi berubah? Maksudku dari benda dan kini manusia, seorang pria?.
Apa dia terobsesi pada Daniel?
Tapi, kalau memang dia menyukai Daniel, kenapa dia harus menyiksa seolah ingin menghabisi Daniel?
Apa dia melakukan hal itu karena Daniel menolak nya?
Aku pusing, otakku tak bisa mencerna semua nya, ya tuhan kenapa juga Daniel harus mempunyai sifat buruk seperti itu, dan lagi kenapa aku mau bertahan dengan nya?
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, rasa nya hari-hari yang kulalui semakin berat saja.
Hah, aku menghela nafasku panjang.
Penggalan pesan yang menuliskan bahwa mereka bertemu pada hari sebelum Daniel ditemukan orang dalam keadaan sekarat, itu membebaniku, dan lagi rekaman CCTV itu, jelas video itu hanya potongan rekaman nya saja, dan saat itu Daniel mati-matian berkata bahwa disaat itu Elisa memukulnya dan menggoreskan nama nya di dadanya saat ia tak sadarkan diri, saat itu aku terlalu emosi untuk mendengar dan meyakini perkataan nya, dan sekarang entah mengapa aku percaya perkataan nya, ini murni perasaan istri terhadap suaminya.
SLURP...
Aku menghirup pelan kopiku, menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan.
Tidak ada cara lain, aku harus menemui Elisa dan mendengar penjelasan darinya.
"Sebaiknya aku menemuinya sendiri, kalau bersama Zay, pasti akan canggung" gumamku.
**
Taksi berhenti tepat di sebuah Apartemen besar, untuk sesaat aku hanya menatap Apartemen yang menjulang tinggi itu, perasaanku sedikit tak enak tapi aku menepis segala pikiran burukku. Aku sengaja tak memberi tau Zay bahwa aku menemui Elisa, aku tak tau kenapa dan ada apa, Elzay selalu saja menghalangi niatku saat ingin bertemu berdua dengan Elisa.
__ADS_1
Seingatku ada yang memberi tahuku unit Apartemen Elisa berada di lantai 4, No.202 dan sekarang aku sudah berdiri tepat di depan pintu unit 202.
Lantai ini begitu sunyi, apa hanya unit nya yang ditunggu, maksudku sepertinya unit lain tak ada orang didalam nya.
Jantungku berdetak kencang, padahal aku hanya ingin menyapa temanku, kenapa aku begitu tegang, seakan perasaan ini menyuruhku untuk segera pulang, tapi lagi-lagi aku menepis segala pikiran buruk itu, aku sudah disini, dan sekarang aku hanya tinggal membunyikan bel nya agar Elisa membukakan pintu untukku.
TING TONG
TING TONG
TING TONG
Hah, sudah tiga kali aku membunyikan nya, tapi tetap saja sunyi, apa dia tak berada di rumah nya?
Aku jadi merasa kecewa karena gagal bertemu dengan nya, mungkin aku harus pulang sekarang.
CEKLEK...
"Lily?"
Aku yang sudah berbalik kini mendadak berhenti ketika mendengar suara itu, aku menolehkan wajahku, memastikan orang yang menyebut namaku tadi.
Benar saja, Elisa berdiri di ambang pintu Apartemen itu dengan senyuman di wajah nya.
Ah ternyata tak sia-sia aku kesini, dia benar-benar ada dirumahnya.
"Kenapa tak mengabari dulu kalau ingin kesini?" ujarnya.
Ah benar juga, aku datang bertamu tanpa memberi kabar terlebih dahulu, apakah aku agak keterlaluan?.
Kulihat dia hanya tersenyum, lalu ia membuka pintunya lebih lebar, sepertinya aku diterima bertamu hari ini.
"Masuklah" ujarnya sambil tersenyum itu.
Netraku melihat kesekeliling rumah nya, rumah yang rapi dengan aroma ruangan yang menyejukkan, aku menyukainya.
Kulihat foto-foto nya terpampang banyak di dinding rumah itu, dia memang wanita cantik dan juga seksi, tak heran dia menjadi model yang sempurna.
Aku duduk diruang tamunya, mengambil segelas es lime yang disuguhkan nya padaku lalu meneguknya perlahan.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya nya.
"...Sedikit membaik" jawabku.
"Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada Daniel"
"..."
"Kau tau, kau harus menjalani kehidupanmu dengan sukacita, jangan terlarut dalam kesedihan, nyatanya itu tak menjadikan Daniel kembali hidup, benar bukan?"
"...Ya, terimakasih"
__ADS_1
Aku harus memulai pembicaraan nya, tapi aku bingung bagaimana menyampaikan kata-kata agar tak membuat kericuhan diantara kami berdua.
"...Mm Elisa, apa benar kalian berdua selingkuh dibelakangku waktu itu?"
Akhirnya aku memulainya, aku melirik kearah wajahnya, dia tak bereaksi, bahkan ekspresinya sangat tenang sekali.
"...Mungkin bukan selingkuh, sejujurnya aku tak tau kalau dia sudah mempunyai istri"
"Lalu, setelah kau tau bahwa dia mempunyai istri, kau bahkan masih mengharapkan nya, bukankah begitu?"
"..."
Hah, apa aku keterlaluan?
Tapi aku benar-benar merasa kesal ketika menngingat hal menyakitkan ini lagi.
"Apa maksudmu Lily?" ujar Elisa menyunggingkan tawa nya.
"Aku ingin kau jujur padaku, apa kau menginginkan suamiku Elisa?"
"..."
Aku sudah tak tau lagi, sudah terlanjur, maka aku harus segera menuntaskan nya.
"Elisa, kau benar-benar menginginkan suamiku rupa nya, jadi benar kalau kaulah yang menggoreskan luka berbentuk namamu di dada Daniel,bukan?"
"Pft, kau berbicara apa? Aku tidak melakukan hal itu, untuk apa aku melakukan nya Lily?"
"..."
Netra hitam nya menatapku dengan datar, dia memang lihai menutupi ekspresinya, tapi aku sangat yakin kalau dia sedang membual kepadaku.
"Kau meretas CCTV di mobil Daniel" lantangku yang berhasil membuatnya tersentak walau itu tak terlalu jelas.
"Meretas?"
"Ya meretasnya, begini saja, aku akan memperbaiki video rekaman itu, dan kita lihat apa yang terjadi disana"
Kini dia mulai memperlihatkan ekspresinya, dia kesal, itu terlihat walau samar-samar, sesekali ia mengerutkan dahinya, namun kembali ia tersenyum padaku dan berkata bahwa ocehanku itu tak masuk akal, benar-benar menambah kecurigaanku terhadapnya.
"Apa kini kau sedang menuduhku Lily?" tanya Elisa mengintimidasiku.
Tatapan nya terlihat agak menyeramkan, ia menatap mataku lekat, bahkan tak berkedip sambil menarik bibirnya keatas membentuk senyum simpul.
"..Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya padamu"
"Hah..."
Dia menghela nafasnya kasar dan menempelkan punggungnya disofa itu, sambil melipat kedua tangan nya, ia kembali menatapku, dan aku bersumpah itu sangat menyeramkan.
Tatapan yang begitu banyak tekanan juga tak membuat aku merasa nyaman.
__ADS_1
"Aku tau arah pembicaraanmu, tapi akan aku tekankan padamu, aku tidak membunuh Daniel" ujarnya sambil meninggikan nada suara nya.
"..."