Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 68 S2 : Aku tidaklah gila!


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, terlihat Daniel masih terjaga dengan secangkir kopi ditangan nya dan laptop dihadapan nya, Lily sudah sedari tadi tidur, entah mengapa mata Daniel enggan terpejam, tiba-tiba saja dia teringat dengan Elisa, sejak hari dimana Daniel memutuskan hubungan nya dengan Elisa, esok nya Elisa sudah tidak pernah datang kekantor, bahkan dia sepertinya memutuskan kontrak kerja nya secara sepihak.


Aku merasa bersalah padanya, tapi sejak awal hubungan itu memang sudah salah, batin Daniel.


Diliriknya Lily yang tengah tertidur pulas diatas ranjang mereka.


Lalu, Daniel pun dikejutkan dengan suara email masuk pada laptopnya yang masih menyala.


Raut wajah nya sedikit bingung ketika menerima email tak dikenal, apalagi email itu masuk pada malam hari.


Segera ia membuka email tersebut, dan ekspresinya pun berubah, mata nya membulat lebar menatap layar laptop nya.


Ada banyak foto-foto dirinya tengah bertelanjang dada hingga tanpa sehelai benang pun, bahkan video saat-saat ia berhubungan badan dengan Elisa.


Dengan cepat Daniel menghapus semua foto dan video memalukan itu, ia menutup laptop nya, dan mengepalkan tangan nya.


"Apa yang dia pikirkan sebenarnya" gumam Daniel menahan kekesalan nya.


TRING!


TRING!


TRING!


Daniel menoleh kearah ponselnya yang tergeletak di atas meja, ada banyak pesan yang masuk di ponsel nya dan itu dari nomor yang tidak dikenal.


Daniel menarik nafasnya dan mengeluarkan nya secara perlahan, dengan ragu-ragu ia membuka isi pesan tersebut.


Terdapat foto dan video yang sama seperti di email, Daniel kembali membulatkan mata nya, perasaan takut mulai menyelimuti dirinya, segera ia menghapus semua kiriman itu dari ponsel nya.


TRING!


AKU TAK AKAN MELEPASKANMU BEGITU SAJA, KAU ADALAH MILIKKU,DANIEL...


Dengan cepat, Daniel segera mematikan ponsel nya dan mengeluarkan kartu sim nya, tangan nya bergetar ketika memikirkan hal-hal itu, ia menggigit bibir bawahnya, ini adalah kesalahan nya, ia tidak tahu bahwa selama ini dia telah berurusan dengan wanita yang gila.


**


Suara kikikan menggema di kamar yang terlihat elegan itu, asap rokok mengudara hingga keluar dari jendela yang terbuka.


Elisa terkekeh didepan layar laptop nya, sambil menikmati hisapan demi hisapan dari rokok yang dipegang nya.


"Aku tak akan membiarkan kau melupakan aku secepat itu Daniel" ujarnya sambil tersenyum.


DRRT...DRRT...DRRT...


Disaat yang bersamaan, ponsel miliknya pun bergetar, Elisa meilirik kearah ponselnya dan mendecak sebal karena ternyata Elzay sedang menelpon nya.


Dengan malasnya, ia pun akhirnya menjawab panggilan dari Elzay.


"Hallo" ucap Elisa malas.


"Lisa, kau kemana saja? Susah sekali menghubungimu beberapa hari ini dan kau pun tak menemuiku" ujar Zay dari seberang sana.


"Kenapa?Kau rindu ya, haha"

__ADS_1


"Hah, berhentilah bercanda, sekarang kau ada dimana?"


"Aku sedang di Apartemenku"


"Lisa, jawab aku, apa kau yang melakukan nya?"


"..."


"LISA"


"Melakukan apa Zay?"


"Kau yang membunuh wanita itu, bukan?"


"..."


"Hah, bahkan pria itu..."


"Tidak, bukan aku yang melakukan itu"


"Berhentilah berbohong padaku Lisa"


"..."


"Hei Lisa, kau sudah kelewat batas, apa alasanmu?Cinta?Kau memang sudah gila Lisa"


"..."


Elisa mengenggam erat ponsel yang berada di telinga nya, dia menggigit bibir bawah nya, seakan menahan amarah karena perkataan yang dilontarkan oleh Zay.


"...Lisa, aku minta maaf, aku tidak bermak..."


Belum sempat Zay menyelesaikan kalimatnya, namun Elisa segera mematikan telepon nya, ia terduduk lemas di atas ranjang empuknya, mata nya yang sudah memerah menatap tajam lurus kedepan.


"Kenapa semua orang mengatakan bahwa aku ini gila, bahkan sekarang Zay hiks,hiks" gumam Elisa beriringan dengan isak tangisnya.


"Hanya Ibuku yang tidak menganggapku begitu, hiks,hiks, hanya Ibu" gumam nya lagi.


FLASHBACK ON


ELISA POV:


Aku mendengar suara asing dari ruang tamuku, perlahan aku mengintip, mencari tahu siapakah yang datang bertamu kerumah.


Seorang pria dewasa dengan rambut ikal coklat sedang berbicara akrab dengan Ibuku, bahkan mereka tertawa bersama.


"DORR..."


Aku terperanjat, jantungku seakan meledak karena terkejut.


Zay, si sialan ini sangat mengagetkanku.


Aku mengerutkan dahiku dan menatap Zay kesal, kulihat tanpa rasa bersalah Zay malah tertawa terbahak-bahak dihadapanku, aku jadi semakin kesal karenanya.


"Berhentilah tertawa" ujarku.

__ADS_1


"Pft, iya iya, aku berhenti" ujarnya sambil memalingkan wajahnya, aku tahu dia masih tertawa.


"Kau masih tertawa Zay" ujarku yang mulai jengkel.


"Baik,baik, aku berhenti, soalnya aku tak tahan, wajahmu lucu sekali"


Aku mendengus kesal, ingin rasanya aku memukul wajah konyolnya itu, tapi aku akan membiarkan nya untuk kali ini.


"Zay, kau tahu siapa yang sedang mengobrol dengan Ibu?"


"Tidak, memangnya siapa?" ujar Zay yang menolehkan kepala nya dan mengintip mengikutiku.


Pada akhirnya kami pun mendekat kesana karena rasa penasaran kami, untuk kali pertama kami bertemu secara langsung dengan Paman Rui yang ada di cerita Ibu.


Dia tampan, walau tak setampan Ayahku dan Zay, dan persis seperti apa yang Ibuku bilang, dia orang baik dan peka.


Aku tersenyum ketika dia menyapaku, kulirik Zay yang hanya menatapnya datar ketika Paman Rui bilang ia sangatlah mirip dengan Ayahku.


Hari itu, dihari yang biasa aku dan Zay lalui, melakukan aktifitas yang tidak ada habisnya, seperti pergi kesekolah, belajar, bermain bahkan mendengarkan obrolan tidak penting dari semua teman-temanku.


Ditengah perjalanan, tepat di jalan lintas yang biasa aku dan Zay lalui, jalan yang paling kami benci ketika melintasinya karena ada anjing yang selalu berisik ketika melihat kami melintas, itu terjadi setiap hari, netraku selalu menatap anjing sialan itu dengan tajam.


Hari itu, aku terhenti sejenak, menatapi anjing yang terus saja mengonggongi kami berdua, aku sangat kesal dan berpikir untuk menyumpal mulut anjing itu, ketika aku sedang berpikir demikian, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di seberang kami, aku dan Zay hanya bengong menatapi mobil tersebut, ketika kaca mobil itu turun kebawah, barulah kami berdua tahu bahwa itu adalah Paman Rui.


Di dalam mobil, ia banyak sekali bercerita mengenai Ibuku, bahkan ia membelikan kami makanan yang banyak.


Dia baik dan kaya, aku heran kenapa dia belum menikah hingga sekarang, setidak nya begitulah tanggapanku terhadapnya pertama kali, sebelum pada akhirnya dia mendapatiku tengah mencoba menggorok leher anjing sialan itu.


Aku ingat betul bagaimana reaksinya saat itu, sejujurnya aku menyukainya, aku bahkan sempat tersenyum kearahnya.


Sejak saat itu, entah mengapa ia langsung menetapkan aku sebagai orang gila yang sakit mental, bahkan ia memaksaku untuk pergi ke psikiater.


Dia begitu heboh, hingga hal itu tersebar hingga kesekolahku.


Apa yang salah pada Paman Rui?


Aku hanya menyingkirkan sesuatu yang membuatku kesal, bukankah itu hal wajar, kenapa dia berlebihan sekali, ya ampun aku jadi tak habis pikir, gara-gara dia orang-orang jadi benar-benar menganggap aku gila.


Aku menangis tersedu-sedu ketika teman-temanku mulai menjauhiku karena itu, untungnya aku punya Zay yang selalu memelukku dan memberikanku eskrim ketika aku sedih dan menangis, dan berkat dia pula gosip yang mengatakan aku gila berangsur-angsur hilang, lalu keadaan pun kembali seperti semula.


Aku ingat sekali percakapan nya ketika memaksa ibuku untuk mengajakku ke psikiater, bahkan dia membawa-bawa nama Ayahku.


Kulihat Ibuku marah pada nya.


"Berhentilah Kak Rui, anak-anak ku semua nya baik-baik saja, tidak ada yang salah pada mereka"


Itu lah kalimat yang dikatakan oleh Ibuku.


Hah, Ibuku memang terbaik, aku sungguh menyayanginya.


"Hah"


Aku menghela nafas panjang, setidaknya beberapa hari setelah hari itu, aku tak melihat Paman Rui lagi, selamanya.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2