
"KYAAAAAA"
Lily menjerit kesakitan ketika pergelangan tangan nya ditekan sekuat tenaga oleh Elisa, alhasil pisau yang digenggamnya pun terjatuh. Menyadari bahwa Elisa akan mengambil pisau itu, dengan cepat Lily menendang pisau itu kesembarang arah yang pada akhirnya memicu kekesalan Elisa padanya.
Tamparan telak mendarat sempurna di pipi wanita berambut pirang itu, membuatnya tersungkur dengan darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.
Tentu saja Lily tak tinggal diam saat itu, dengan berbekal kenekatan dan juga dendam pribadinya, ia melawan Elisa dengan segenap tenaga nya, walaupun tenaga nya tentu tidak sebanding dengan psikopat gila macam Elisa.
Tatapan dari bola mata yang berwarna hitam itu semakin tajam tatkala Lily berhasil memukul wajahnya, pipinya tergores dan berdarah, sepertinya itu terkena cakaran Lily sebelumnya.
Lily melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu, kembali kedalam dan memasuki sebuah kamar kosong, bibir pucat nya bergetar dengan mata nya yang sibuk mencari dimana tempat yang aman baginya, pelipisnya mengeluarkan banyak darah akibat hantaman Elisa, pada akhirnya sebuah lemari yang berada disudut itu adalah pilihan nya, ia menutup mulutnya sembari mengeluarkan airmata nya, dari celah lemari ia dapat melihat, Elisa tiba dengan sebilah pisau dapur tajam di tangan nya, namun dia akhirnya bernafas lega ketika Elisa pergi dari sana, terdengar suara langkah kakinya menjauh, Lily melepaskan tangannya yang sedari tadi menutupi mulutnya agar tak mengeluarkan suara, ia meringis ketika mendapati kaki juga tangan nya terluka sangat banyak, luka yang ia dapatkan ketika melawan perempuan gila yang tengah mencarinya sekarang.
Aku belum ingin mati, kumohon seseorang tolong aku, batin nya sembari menangis ketakutan.
Sudah agak lama ia berada dalam lemari itu, tak ada tanda-tanda Elisa menemukan persembunyian nya, nafasnya terasa sesak berada disana. Ia menggerakan tangan nya untuk membuka pintu lemari itu perlahan, berharap udara disekitar kamar itu masuk, namun ia tetap tak bisa bernafas dengan baik, seakan hanya menghirup karbondioksida yang ia keluarkan sedari tadi.
Kepalanya mulai pusing, ia membuka lemari itu dan keluar dari sana, ia berjalan terhuyung hendak membuka pintu, namun sial pintu itu terkunci dari luar.
Tubuh Lily mulai melemas, ruangan ini sangat panas, tak ada udara yang masuk, semua jendela tertutup bahkan tak ada ventilasi, semua nya makin memburuk ketika pintu yang satu-satu nya menjadi sarana udara masuk ini terkunci.
Ia terduduk bersandar di pintu, menatap langit-langit kamar itu dengan pandangan yang semakin buram.
Aku sudah tak tahan lagi, dia sengaja, dia tau aku berada disini, apa aku benar-benar akan mati sekarang? gumam nya.
Air mata nya menitik di wajah nya yang pucat, netra birunya memandang sekeliling kamar itu, kamar yang dipenuhi dengan banyak nya debu dan juga gelap.
Lily memejamkan mata nya, mungkin mati seperti ini juga lebih baik ketimbang ia harus disiksa oleh Elisa seperti Daniel, namun pada akhirnya ia tersadar, tidak ada yang baik dengan mati seperti ini, ia harus bertahan hidup, bagaimanapun Elisa adalah seseorang yang berbahaya, setidaknya ia harus bisa selamat dari sini dan melaporkan Elisa pada pihak kepolisian.
Kembali ia melihat kesekeliling kamar itu, ia mendelik ketika netra birunya menatap sebuah kotak perkakas berada di sudut ruangan itu, dengan sisa tenaga nya, ia menggerakan tubuhnya meraih kotak itu dan membukanya, hanya ada sebuah palu dan benda-benda kecil lain nya.
BRAAK...BRAKKK...
Dengan sisa-sisa tenaga nya, ia melayangkan palu itu ke gagang pintu, bermodalkan semangat untuk tetap bertahan hidup, akhirnya kerja kerasnya berhasil, pintu itu berhasil terbuka, segera ia membuka pintu dan menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya secara perlahan.
SREET....
__ADS_1
"KYAAAAAAAAA...."
Jeritan Lily menggema disana, itu mengulas senyuman di wajah mengerikan Elisa.
Lily mendelik dan melenguh kesakitan ketika mendapati luka gores cukup dalam pada lengan nya.
Dimana palunya?
Netra birunya mencari-cari dimana ia menjatuhkan palu yang digenggam nya tadi.
"Ah, aku tak akan memakai pisau ini" tukas Elisa sembari menjatuhkan pisau dengan darah di setiap sisinya itu.
Ia melangkahkan kakinya perlahan, tersenyum melihat Lily yang bergetar ketakutan di lantai yang dingin itu, ia mendaratkan kedua telapak tangan nya di leher jenjang Lily, menekan nya dengan sangat kuat, merubah rona wajah Lily jadi membiru, netra birunya membesar dan bergetar. Elisa menyeringai, sembari menatap mata Lily tak berkedip, kaki yang meronta di bawah sana tak membuatnya bergeming, ia menikmati kesakitan Lily hanya dengan menatap mata wanita itu, Lily mencengkram tangan Elisa yang mencekiknya dengan kuat, membenamkan kukunya disana hingga menciptakan sebuah luka dengan darah yang mengalir, namun itu tetap tak membuat Elisa berhenti, hingga pada akhirnya Lily tak kuat lagi, wajahnya pucat membiru, tangan nya mulai jatuh terkulai dan itu membuat Elisa semakin melebarkan senyumnya bak iblis.
DUAAAKKK.....
"EHK..."
Tenaga Elisa mulai menghilang dan perlahan tangan nya terlepas dari leher jenjang wanita itu, tubuhnya terhuyung, mata nya tertutup dan akhirnya terkapar dilantai, tepat disamping Lily.
Bunyi sebuah benda yang diyakini sebuah palu itu berdenting di lantai itu, seorang pria dengan rambut abu melebarkan kedua mata nya, dengan cepat ia memeluk Lily dan memeriksa dada nya, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan, mata nya pun berkaca-kaca mendapati Lily yang hampir saja mati lemas dikarenakan ulah Elisa.
"Oh tuhan, syukurlah jantung nya masih berdetak" gumam nya.
"...Z...zay..." lirih Lily dengan suara parau nya.
"Iya, aku disini" ujar Zay.
Pria itu menggigit bibir bawahnya, dengan cepat tangan nya memapah Lily dan mengendongnya, untuk beberapa saat mata nya melirik kearah Elisa yang tak sadarkan diri, lebam di tekuk lehernya menandakan bahwa pukulan Zay dengan palu itu sangat telak mengenai saudara kembarnya itu, ia berdecak kemudian membawa Lily pergi bersama nya.
ELZAY POV :
Aku benar dengan datang kesini, Lisa benar-benar sudah kelewat batas, aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh, berharap jangan ada kata terlambat buatnya.
Aku menolehkan pandanganku kekursi belakang, Lily masih bertahan dengan rintihan-rintihan nya yang membuatku semakin panik.
__ADS_1
"Kumohon bertahanlah" ujarku dengan menambah kecepatan mobilku.
**
Aku berjalan cepat, sembari mengikuti pergerakan para suster ini mendorong Lily hingga ruang perawatan.
Hingga akhirnya aku berhenti tepat di depan pintu ruang perawatan tersebut.
Lagi-lagi terjadi, situasi menjengkelkan seperti ini, aku hanya berharap bahwa hasil akhirnya tidak seperti waktu itu.
Hah...
Aku menghela nafasku kasar, menggerakan kakiku dengan berbalik dan pergi dari tempat itu.
Mungkin Lily akan baik-baik saja bila aku meninggalkan nya sebentar, lagi pula dia sudah dirawat di rumah sakit.
Sekarang, aku hanya tinggal kembali dan melihat kabar saudariku.
**
Dengan tatapan datarku, aku membuka pintu rumah itu, rumah yang dulu menjadi tempat favoritku dan Lisa, tentu saat itu Ibu masih bersama dengan kami.
Dia tidak ada, batinku.
Aku berdiri sambil memasukkan kedua tanganku kedalam saku celanaku, ini tempat dimana Elisa pingsan akibat kupukul menggunakan palu yang kutemukan terkapar disudut sana, dan sekarang dia tidak ada disini, dimana anak itu.
DUAAKKK....
"Ahhk..."
Aku bertumpu pada lututku, pundak kananku terasa sangat nyeri, bocah sialan ini sungguh-sungguh menyebalkan.
"Itu balasan untuk yang tadi"
Dengan perasaan yang kesal, aku bangkit dan membalikkan tubuhku, dia terus saja menyeringai kearahku dengan mengangkat sebuah palu ditangannya, ah tentu itu palu yang sama seperti yang aku gunakan tadi.
__ADS_1
Dia mengayunkan palu itu padaku, apa dia sudah gila, dia tentu akan membunuhku jika saja palu itu mengenai wajah atau kepalaku.Lihatlah, bahkan ia terus-terusan ingin melukaiku, aku hanya perlu menghindarinya saja, tapi kekesalan dalam diriku ini sudah mencapai batasnya, aku segera menyudahi permainan konyol nya dengan menahan tangan nya dan melepas palu itu dengan paksa, kami saling menatap dengan tatapan yang sama, namun kini aku mengerutkan dahiku, kucengkram rahang nya dengan kuat, membuat tatapan nya yang tajam itu kini berubah menjadi takut ketika menatap mataku.
"Sepertinya aku terlalu baik padamu, Lisa"