Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 7 : Karena aku mencintaimu


__ADS_3

"..."


Hening? Aku membuka mataku, tidak terjadi apa-apa padaku, aku belum mati pikirku. Dan aku tersentak ketika melihat raut wajah Yohan yang tampak begitu mengerikan.


"Mengapa aku harus menurutimu?" ujar nya dengan suara berat.


"K-karena aku merasakan cinta. A-aku menguntitmu karena aku mencintaimu!"


Akhir nya aku berkata seperti itu, aku sudah tidak tau harus berkata apa lagi, sesungguh nya itu adalah kebenaran nya dan juga aku masih ingin hidup dan aku tak ingin mati konyol disini terlebih di tangannya.


"..."


Yohan hanya diam menatapku dengan tatapan yang datar. Ekspresi nya sangat datar hingga aku tidak tau apa yang akan di katakan nya tentangku sekarang ini. Entah itu memang sebuah kata-kata atau malah kotoran. Tapi satu yang aku tau, tatapan nya kini berbeda dari yang tadi, tak ada aura membunuh seperti tadi dari tatapan mata nya.


"Pft, cinta katamu?"


"Hahahaha, kau ini bodoh atau apa? Sudah mau mati saja masih sempat-sempat nya bicara soal cinta," ujarnya sambil tertawa.


Dia tertawa melihat kesengsaraanku, dan ini bukan lagi tertawa yang aku sukai seperti waktu itu.


"ARGH!" Aku menjerit karena Yohan menjambak rambutku kebelakang, sepertinya menyiksaku ini sungguh menyenangkan baginya.


"Dengarkan aku, aku sangat membenci kata-kata itu,"


"Hiks... Hiks," Aku hanya bisa menangis ketika Yohan memperlakukan aku begitu. Tak berselang lama, ia akhirnya melepaskan cengkraman nya dari tanganku.


"Siapa namamu?"


"Maaf?"


"Tch, nama.. Aku bertanya siapa namamu?"


"El, namaku Eleeya,"


"..."

__ADS_1


Dia menatapku lagi, apa yang ia pikirkan? Apa dia berniat membuat batu nisan yang terukir namaku di atas nya? Dia tidak semurah hati itu kan? Aku menunduk dengan perasaan yang tak karuan. Bagaimana tidak? Seorang psikopat gila berada di depanmu dan sedang menatapmu tanpa kejelasan dengan sebilah pisau di tangan nya. Lalu tiba-tiba Yohan mengulurkan tangan nya, dan itu membuatku panik, sebisa mungkin aku mundur agar menjauh darinya. Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan tangan terikat seperti ini? Hingga pada akhirnya ketakutanku agak menghilang ketika tau bahwa ia hanya memegang daguku. Mau tidak mau aku harus bertatapan dengannya.


"Kau lebih cantik tanpa kaca mata,"


Apa-apaan dia? Kenapa aneh sekali? Disaat seperti ini mengapa dia mengatakan hal seperti itu. Dan yang lebih aneh lagi itu adalah aku, kenapa aku masih sempat-sempat nya malu dan terpesona akibat perkataan nya tadi. Aku seakan lupa bahwa nyawaku bisa melayang kapan saja sekarang. Yohan mendekatkan wajah nya kepadaku, dan itu membuat wajahku semakin memanas, ia mendongak kan daguku ke atas dan dengan cepat pisau ditangan nya membuat goresan di leherku. Itu membuatku terdiam untuk beberapa saat. Aku tidak berpikir ia akan melakukan itu. Darah menetes dari leherku, itu sangat sakit dan perih, air mata mengalir dengan deras di pelupuk mataku sembari aku menahan pedih nya bagian leherku. Dia sengaja melukai leherku, goresan nya tidak dalam. Apa dia sedang mempermainkan aku? Terlihat seringaian di wajah nya. Aku masih membatu dengan air mata yang mengalir dan memenuhi semua wajah ku.


Cup,


Aku membuka lebar kedua mataku. Dia menciumku? Kami berciuman? Disaat seperti ini? Dia ******* bibirku dan aku merasakan kehangatan dari lidah nya yang menari di dalam mulutku.


"Mm, ngh." Aku tak bisa melakukan apapun kecuali menerima apa yang ia lakukan padaku, tanpa sadar aku mengeluarkan suara aneh akibat perlakuannya.


"Hahh.." Nafas Yohan terdengar sangat berat, dia kini menatapku dengan mata yang sayu dan senyum nakal di bibirnya.


"Bajingan kecil yang mesum, kau bahkan menikmati itu. Lihat, wajahmu ini mudah sekali memerah, aku menyukai nya." ujarnya setengah berbisik.


Aku tersentak, tubuhku bahkan merespon tindakan darinya ,permainan lidah nya yang hebat juga sayatan yang ia buat di leherku, rasa nya campur aduk dan membuatku merinding seketika.


"Argh, itu menyakitkan," Rasa sakit menjalar ketika Yohan menekan-nekan pergelangan kakiku.


"Baguslah, itu cukup untuk membuatmu tak bisa kemana-mana,"


"Aku selalu teringat wanita ****** itu. Dia selalu mengatakan bahwa dia mencintaiku, dia selalu memberiku kehangatan di setiap belaian nya,"


Apa maksud nya? Apa yang di bicarakan Yohan sekarang?


"Hah, aku menyayangimu," ucap Yohan sambil menghela nafas.


"A-aku juga menyayangimu, bahkan aku jatuh cinta padamu!" Tanpa sadar aku mengatakan hal itu.


"..."


Ah, dia hanya menatapku aneh. Apa aku telah salah bicara?


"Hei, yang kumaksud itu ibuku. Apa kau adalah ibuku?"

__ADS_1


Apa?Ibunya? Ah ternyata begitu, sungguh memalukan nya. Aku jadi tak bisa menatap wajah nya karena tingkahku yang bodoh.


"..."


"Kau bilang kau mencintaiku bukan?"


Aku mendongakkan wajahku dan mengangguk-anggukan kepalaku dengan cepat. Terlihat Yohan tersenyum melihat reaksiku.


"Maka buktikan lah El,"


BLAMMM


Pintu nya kini tertutup sangat rapat, ia meninggalkan aku sendirian disini dengan darah yang berceceran dimana-mana. Kepalaku jadi pusing akibat kejadian hari ini, ototku semuanya tegang, seperti nya sarafku juga ingin putus saking tegang nya aku hari ini. Aku ingin pergi dari sini. "Hiks..Hiks", "Sial sial, sekarang aku harus bagaimana?"


*


Sudah beberapa hari aku berada disini, keadaanku semakin memburuk, aku merasakan sakit di semua anggota tubuhku, aku selalu meringis karena tidak tahan merasakan sakit nya semua luka-luka ku ini. Ah, aku mendengar lagu dari Queen lagi. Dan disaat lagu itu di putar, Yohan pasti datang kegudang ini, ia lalu menyeretku keluar untuk membersihkan seluruh bagian rumah nya, dengan kaki yang tak bisa di gerakan, aku terseok-seok bergerak kesana kemari dengan tangan dan tubuhku. Dia memang memberiku makan yang layak tapi aku harus makan dengan tangan yang terikat kebelakang, benar-benar seperti seekor anjing. Aku tau Yohan mengawasiku setiap saat, suasana seperti itu membuatku sangat takut. Hanya saja, dia tak melakukan apapun, tapi diamnya Yohan itu mengartikan bahwa dia hanya menunggu, dia menungguku membuat kesalahan, dan bila itu terjadi, maka dia akan menyakitiku tanpa ragu. Itu seringkali terjadi, hingga aku merasa hari-hari ku seakan lenyap. Tapi itu tak lagi penting, yang terpenting sekarang adalah mood Yohan hari ini, itulah yang sangat aku khawatirkan.


*


"Ngh, ngh... Sakit, rasa nya sungguh sakit" lenguh ku.


Lagi-lagi aku meringis karena tubuhku di penuhi luka-luka akibat Yohan.


DUKKK..


"Ahh!"


Dari ujung sana Yohan melemparkan buku ke arahku, aku lupa kalau dia sedari tadi berada disana untuk membaca buku, dia pasti kesal karena aku terlalu berisik, kan?


"Kau berisik sekali! Apa kau tak bosan setiap hari merengek?" ujarnya sambil berjalan mendekati ku.


"Aku sampai memberimu obat penghilang rasa sakit dan membalut semua lukamu karena kau begitu menyebal kan,"


Tubuhku sangat lemas, dan aku merasa sangat tak berdaya. tubuhku menggigil dan kepalaku terasa berat, lalu aku merasakan tangan besar menempel di leherku.

__ADS_1


"Hah, kau demam? Bikin repot saja,"


Aku sudah tak tahan lagi, rasa nya begitu menyiksa. Kulihat ikatan di tanganku dilepaskan oleh Yohan, dan samar-samar aku merasakan Yohan tengah menggendongku keluar dari tempat itu.


__ADS_2