
Yohan mengusap luka yang diakibatkan oleh Rui itu dengan selembar kain yang diberikan oleh Tian, dengan raut wajah yang sendu ia menundukan kepala nya,membuat pria paruh baya yang berada di depan nya makin merasa bersalah karenanya.
"Nah ini,minumlah terlebih dahulu" ujar Pak Nathan seraya memberikan segelas air putih pada Yohan.
Yohan mengambil gelas tersebut dan meneguk air putih itu perlahan,namun raut wajahnya masih saja sama.
Pak Nathan pun membisikan sesuatu ke telinga Alana dan di balas dengan anggukan oleh gadis itu,setelah nya gadis itu pun pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
"Kami sangat menyesal atas kejadian hari ini,apa ada yang bisa kami perbuat untuk menebus kesalahan kali ini Yohan" ujar Pak Nathan dengan wajah yang tak enak hati tentunya.
Yohan memejamkan matanya lalu menatap Pak Nathan yang tengah berdiri di hadapan nya itu.
"Entah lah,kejadian ini tak bisa dianggap enteng Pak Nathan,anak buahmu yang bernama Rui itu sudah sangat keterlaluan" ucap Yohan sambil terus mengusap luka di wajah tampan nya.
"Aku tahu,aku akan memberikan nya hukuman,aku pastikan itu" ujar Pak Nathan seakan berusaha menenangkan Yohan.
"Dia memasuki rumahku tanpa izin,menuduhku yang tidak-tidak,mempermalukanku bahkan menyerangku,apa kompensasi yang bisa kudapatkan dari semua itu?" ucap Yohan menatap Pak Nathan.
"..Ah itu apa ada yang bisa kita sepakati?" tanya Pak Nathan,terlihat raut wajahnya begitu panik mengetahui seberapa banyak kesalahan yang diperbuat oleh bawahan nya itu.
"Lalu pacarku,Ah..."
Yohan tersentak dan secara tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
Itu membuat Pak Nathan dan juga Tian terkejut karena nya.
Dia menolehkan pandangan nya kesana kemari,seakan sedang mencari sesuatu.Netra hitamnya membesar ketika tahu sesuatu yang ia cari tak berada disana.
Lalu kepanikan nya sirna ketika pintu ruangan itu terbuka dan seorang gadis memasuki ruangan itu.
Seketika raut wajah yang dipenuhi dengan kecemasan pun berubah.
"Eleeya" panggilnya.
Dengan binar diwajahnya,ia melangkahkan kakinya menuju gadis yang baru masuk itu lalu memeluknya.
Gadis itu kaget,namun pada akhirnya ia merasa lega dan membalas pelukan pria itu.
Yohan memejamkan matanya,ia senang dapat mencium aroma tubuh Eleeya lagi,ia pun menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Eleeya seraya berkata.
"Pak,jangan biarkan pria tadi(Rui) menampakan dirinya dihadapan kami lagi,aku hanya ingin pulang bersama Eleeya,hanya itu..Aku tak menginginkan apapun lagi" ujar Yohan dengan tangan yang masih memeluk Eleeya.
"Ah, iya Yohan,aku akan memastikan semuanya seperti yang kau inginkan" ucap Pak Nathan sambil tersenyum kikuk.
Dan itu lah pada akhirnya mereka berdua dibebaskan karena mereka sama sekali tidak bersalah.
Pak Nathan menyuruh Tian untuk mengantarkan mereka kembali kerumah mereka.
Yohan membuka pintu rumah mereka yang tak terkunci itu dan kemudian masuk lebih dulu,sepanjang perjalanan Yohan tak mengucapkan sepatah kata pun, tatapan nya pun sangat datar membuat jantung Eleeya berdegup sangat kencang.
"El,kemarilah" ujar Yohan.
__ADS_1
Eleeya yang berada di belakang Yohan pun segera berjalan mendekat ketika tahu ia dipanggil.
BRAAAAKKKK
"NGH.." Lenguh Eleeya kesakitan.
Yohan menyudutkan Eleeya di dinding sambil mencengkram kuat pipi gadis itu,tatapan nya yang tajam seakan menusuk mata Eleeya saat itu.
"Apa kau tidak mengindahkan semua peringatanku?" ucap Yohan dengan nada emosi.
Gadis itu tersentak namun tak bisa berkata apapun,ia hanya bisa memegangi tangan Yohan yang mencengkram kuat pipinya dengan kedua tangan mungilnya.
"Kau lihat wajahku" ujar Yohan sambil menunjuk dan mendekatkan wajahnya pada Eleeya.
"Kau pikir aku seperti ini gara-gara siapa,hah?"
Air mata gadis itu mulai menetes,ia tahu dia salah,Yohan telah berulang kali memberinya peringatan untuk tetap diam didalam rumah apapun yang terjadi,namun dia tak cukup pintar untuk membedakan mana yang tipuan dan mana yang bukan.
"Apa kau tahu seberapa takutnya aku ketika berada didalam ruangan itu?"
"...Huh?"
"Aku takut kau kan membeberkan semuanya pada si brengsek itu dan mengkhianati ku" teriaknya.
Eleeya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,karena dia tidak akan melakukan hal itu pada Yohan.
"..."
Untuk kesekian kalinya,pria yang sangat menakutkan beberapa menit yang lalu itu berubah menjadi pria yang lembut, yang memeluk Eleeya dengan erat dan mengusap kepala gadis itu dengan sangat lembut.
"Tapi itu patut disyukuri" ujarnya dengan tangan yang masih mengelus puncak kepala Eleeya.
"Aku bersyukur kau tidak mengkhianatiku El,aku merasa senang" ujarnya lagi.
"..."
Eleeya hanya diam dipelukan Yohan seperti orang idiot,airmata nya sudah berhenti menetes.Ia merasa lega bahwa Yohan akhirnya mengerti bahwa dia tidak mungkin mengkhianati pria itu, ia mencintainya walau faktanya ia tidak tahu perasaan sesungguhnya dari orang itu.
*
Pak Nathan duduk dikursinya dengan kedua tangan didagunya,menatap tajam kearah tiga orang bawahan nya yang sedang berdiri di depan nya.
"Kalian benar-benar keterlaluan" ucap Pak Nathan.
"Kalian mempermalukan aku sebagai atasan kalian,bisa-bisa nya kalian melakukan hal bodoh seperti itu"
"Maafkan aku Pak,ini semua adalah salahku" ucap Rui menundukan tubuhnya.
"Baguslah kalau kau menyadarinya"
"..."
__ADS_1
"Tapi,semua ini tidaklah selesai hanya dengan kau meminta maaf padaku,kau tahu?"
"Saya siap menerima segala konsekuensinya" ucap Rui menundukan wajahnya,tak berani menatap wajah atasan nya itu.
"Hah" Pak Nathan menghela nafasnya.
"Kalian akan saya skorsing selama satu bulan penuh" ujar Pak Nathan setelahnya.
Mereka bertiga tersentak dan menatap satu sama lain,terlihat bagaimana Tian menahan kekesalan nya pada Rui saat itu,membuat Rui semakin menundukan kepala nya karena tak enak hati pada rekan nya itu,sedangkan Alana hanya memilih diam.
"Pak,aku mohon jangan libatkan mereka berdua pada masalah yang kubuat ini,ini murni kesalahanku sendiri,maka dari itu tolong cabut hukuman mereka" ujar Rui yang kembali membungkuk kan tubuhnya dihadapan Pak Nathan.
"..."
Pak Nathan tak menjawab nya,dan Rui tetap pada posisi nya itu.
Itu membuat Pak Nathan bingung mengerutkan dahinya melihat sikap bawahan nya itu.
"Baiklah,tapi sebagai gantinya kau lah yang akan menanggung hukuman mereka,masa skorsingmu menjadi 3 bulan penuh,apa kau paham?"
Rui menggigit bibir bawahnya dan dengan amat terpaksa ia menerima hukuman yang diberikan padanya.
"Ambilah surat skorsingmu dan selama itu,coba lah untuk merenungi kesalahanmu,kau beruntung karena aku hanya meng-skorsingmu Rui"
"Baik Pak Kepala" jawab Rui.
Tian mendelik melihat bagaimana sikap Rui saat itu,sejujurnya dia memang sangat kesal pada anak itu,tapi disisi lain ia merasa sangat kasihan padanya.
Dia bahkan rela menerima hukuman yang harusnya diberikan pada Tian dan Alana, sepertinya itu sedikit menyentuh dan membuat kekesalan dalam diri Tian berangsur hilang.
Rui melangkahkan kakinya gontai ketika selesai menerima surat skorsing bagi dirinya.Tiga bulan adalah jangka waktu yang sangat lama, apa yang akan dia lakukan selama itu.
Rui duduk sejenak di kursi yang berada disana,melepaskan penatnya walau hanya sedikit, dipandanginya lagi surat hukuman yang berada ditangan nya itu.
Lalu ia kembali menggigit bibir bawahnya, kali ini bibirnya pun terluka,mengingat seberapa sering ia melakukan hal itu ketika sedang menahan rasa kesal nya.
Ini semua gara-gara ulahku sendiri,Eleeya tidak akan bertemu dengan pria itu dan tidak akan menjadi seperti sekarang bila aku tak mengabaikan perasaan nya dulu,pikirnya.
"Dia benar,aku tidak akan bisa melakukan hal itu padanya,aku ini teman yang sangat buruk" ujar Rui menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan nya.
Perasaan bersalah terus saja berputar dipikiran pria itu, ditambah bayangan Yohan yang seakan menghantui nya itu membuat dia ingin menghilangkan semua ingatan nya.
Untuk sesaat,dia mengingat perkataan Alana.
Aku terlalu ceroboh dan terlalu menggebu-gebu,aku bahkan tidak tahu orang seperti apa yang sedang menjadi lawanku,gumam nya dalam hati.
Terlepas dari itu,Rui teringat saat dimana Eleeya mengatakan telah jatuh cinta pada pria itu dihadapan nya, ekspresi wajahnya saat dia mengatakan hal itu,dia masih bisa mengingatnya.
Dia memejamkan matanya untuk beberapa saat, lalu tangan nya bergerak memegang dadanya sendiri.
"Itu menyakitkan" gumam nya.
__ADS_1