
"Yohan,siapa yang datang?" tanya Eleeya.
"Kita harus naik terlebih dahulu,kau sendiri yang pernah bilang bahwa disini pengap dan sesak" jawab Yohan sambil membawa Eleeya naik kembali ke atas.
Mereka berlalu dari gudang itu dan kini duduk di ruang tengah.
"Yohan,apakah mereka polisi?"tanya Eleeya dengan raut wajah yang cemas.
"..."
Mata tajam dari pria itu kini hanya menatap datar gadis yang tengah cemas di hadapan nya itu.
"Memang nya kenapa kalau mereka polisi?" ujar Yohan.
Eleeya tersentak kaget,dia bertanya kenapa?Apa dia sudah tidak waras?Dia itu kriminal,seorang pembunuh,jika polisi datang maka semua nya akan selesai.
Aku tidak akan bisa bertemu dengan nya lagi setelah itu.
"Kau sakit?Wajahmu pucat"ujar Yohan
Huh?Apa dia tidak panik sama sekali?Dia terlihat sangat biasa saja,apa hanya aku disini yang berlebihan seperti orang gila,gumam nya lagi.
"Kau sedang tidak berpikiran macam-macam kan,El?"
"Ah,t-tidak Yohan"
"Baguslah,dan sebagai pengingat untuk dirimu El,aku akan mengatakan ini" ujar Yohan mendekat ke telinga Eleeya.
Eleeya hanya diam menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Yohan saat itu.
"Kita ini sama,aku adalah pembunuh begitu juga kau" bisik Yohan hingga membuat si pendengar merinding.
Eleeya membulatkan kedua mata nya,tubuh nya bergetar,dia lupa bahwa dia juga pernah membunuh seseorang akibat Yohan, bukan hanya Yohan yang akan tamat, dia pun akan bernasib sama jika polisi menangkap mereka.
"A-aku takut" ujar Eleeya pelan.
Yohan menatap gadis nya yang tengah ketakutan itu,ia pun membawa gadis itu dalam pelukan nya,memberikan kehangatan dalam artian bahwa semua nya akan baik-baik saja.
"Sudah kubilang,dengarkan aku maka kau akan baik-baik saja"ujar Yohan.
"..."
"Ah satu hal lagi,aku ingin kau mengingat ini,satu..dua..dua..satu" ujar Yohan tiba-tiba.
Eleeya terperanjat, apa maksud dari perkataan nya, apa arti di balik angka-angka itu?
"Ah Yohan,barusan tadi apa?" tanya Eleeya pelan.
"Itu kata sandi untuk bersembunyi" ujar Yohan sambil terkekeh.
Eleeya hanya diam, dia tak mempertanyakan nya lagi, karena dia sudah disuruh mengingat nya maka dia harus mengingat nya, begitulah pikiran Eleeya saat itu.
"Kau ingin jalan-jalan hari ini?" tanya Yohan.
"Iya,aku ingin" jawab Eleeya cepat.
"Pfft,kenapa kau ini selalu imut begitu" ujar Yohan sambil mencubit kedua pipi gadis nya itu.
Eleeya mengusap-usap pipi nya yang memerah,entah itu karena cubitan Yohan atau karena rasa malunya terhadap Yohan,rasa nya kedua nya bercampur menjadi satu.
"Bagaimana kalau kita menonton bioskop" ujar Yohan dan langsung di jawab dengan anggukan dan binaran mata dari Eleeya.
Yohan hanya tersenyum ketika melihat gadis nya begitu bahagia hanya karena diajak menonton bioskop saja.
"Nah,bersiap-siap lah kalau begitu" ujar Yohan.
*
Rui masuk kekamar nya dengan perasaan campur aduk,dia sengaja pulang cepat karena dia merasa pusing.
Dia menjatuhkan dirinya di kasur lalu menatap layar ponsel nya,dia mencoba menghubungi nomor Eleeya namun sudah tidak aktif lagi.
"Anak ini sebenarnya kemana sih?"gumam Rui.
Rui duduk dan menyandarkan punggung nya di dinding sambil memejamkan mata nya sembari berpikir.
"Aku yakin pasti ada yang disembunyikan oleh Yohan,entah kenapa aku jadi tak menyukai nya"gerutu Rui sendirian.
"Dia bisa saja membodohi Alana dan semua orang,tapi tidak denganku" gerutu nya lagi.
__ADS_1
"Hah"
Rui menghela nafasnya dan berbaring kembali.
Ia memegangi kepala nya.
"Aku bisa mati lebih cepat bila terus begini"ujar nya.
DRRTT...DRRTTT
Rui meraba kesembarang arah guna mencari-cari ponsel nya yang bergetar.
Wajah nya masih menghadap bantal dan mata nya pun masih tertutup.
Hingga akhirnya ponsel yang ia cari-cari pun ketemu,ia melihat layar ponsel nya,hari sudah hampir malam.
"Ah,aku ketiduran" gumam nya sambil menekan tombol menerima panggilan.
"Hallo ibu"
"Hallo Rui,kenapa kau lama sekali mengangkat telpon ibu"ujar suara di sebrang sana.
"Aku tadi sedang tidur bu" jawab Rui sambil memijat-mijat dahinya.
"Apa kau bekerja terlalu keras?Ayah dan ibu sedari tadi menunggu telponmu tapi kau tak kunjung menelpon,maka nya ibu menelponmu lebih dulu"
"Ah maafkan aku bu,hanya saja pekerjaanku memang agak banyak beberapa hari ini"
"Ya,yang terpenting jaga kesehatanmu ya nak,apa kau sudah makan?"
"..."
"Rui?"
"Iya bu,aku sudah makan tenang saja, kalian juga jaga diri kalian baik-baik disana"
Setelah berbincang sejenak dengan sang ibu,Rui meletakan ponsel nya dan memegang perut nya yang berbunyi.
"Ah,sepertinya aku memang harus makan sesuatu"gumam nya.
Baru saja hendak beranjak dari tempat tidurnya,terdengar suara bel berbunyi.Rui yang mengira-ngira siapa yang datang pun bergegas untuk membukakan pintu.
Rui sedikit kaget,karena ternyata yang datang keapartemen nya itu adalah Alana.
"Oh hai Lana,silahkan masuk"
"Baik"jawab Alana dan segera masuk kedalam.
Alana duduk di sofa dan mengeluarkan kantong yang di bawa nya.
"Kupikir kau akan membutuhkan ini,jadi aku membawa nya"ujar Alana yang mengeluarkan isi dari kantong yang di bawa nya itu.
Sekotak pizza dan dua kotak rice box lengkap dengan lemon tea kini dihidangkan oleh Alana.
Saat itu Alana bagaikan penyelamat Rui dari kelaparan yang tengah melanda nya.
"Apa yang kau lakukan sedari tadi,bahkan kau pun belum mengganti bajumu"ujar Alana.
Rui menggaruk-garuk kepala nya dan terkekeh sedikit untuk menutupi rasa malu nya.
"Mandilah dan setelah itu kita makan"
Tanpa perlu berlama-lama,Rui langsung bergegas menuju kamar mandi,dan setelah nya mereka pun menyantap makanan nya bersama.
"Wah,terimakasih sekali,kau tau saja kalau aku sedang lapar"ujar Rui yang kekenyangan setelah menghabiskan hampir seluruh pizza dan nasi kotak nya.
"Tidak masalah"jawab Alana.
"Tumben kau mampir kesini,bawa makanan lagi"
"Ya,aku hanya kepikiran dirimu saja,dan ternyata benar dugaanku,kau pasti sedang kesulitan"ujar Alana menyeruput lemon tea nya.
"..."
"Hei Rui,sebagai temanmu aku ingin bertanya sesuatu padamu"
Rui hanya menolehkan wajah nya pada gadis itu,dan pandangan nya itu seakan berkata "Bertanya apa?".
"Sebenarnya apa yang membuatmu sangat kesulitan saat ini?Kasus kita atau tentang Eleeya?"ujar Alana dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Jelas hal itu membuat Rui tersentak kaget,sejujurnya dia saja juga tidak tau apa yang membuatnya kesulitan saat ini.
"Apa maksudmu?"ujar Rui.
Gadis itu menghela nafasnya seakan kesal dengan balasan yang di berikan Rui.
"Dengar,sebagai rekanmu,aku akan membantumu melakukan apapun selagi itu benar,bila kau memang berniat mencari keberadaan temanmu itu,kita bisa melakukan nya,tapi setidaknya biarkan kita fokus dalam pekerjaan yang di berikan kepada kita terlebih dulu" ujar Alana.
Sejujurnya ucapan Alana itu tidak ada yang salah,aku harus mengesampingkan urusan pribadiku dengan urusan pekerjaanku,tapi kenapa rasanya sungguh sulit,setiap aku ingin fokus pada pekerjaanku,ada saja hal yang berkaitan dengan Eleeya,seolah-olah Eleeya terhubung pada semua nya, itu tidak boleh di biarkan,pikir Rui.
"Apa kau mencintai gadis itu Rui?"
"...Maaf?"
Rui sungguh terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alana.
Ekspresinya sungguh seperti tak menyangka,seseorang akan menanyakan hal itu pada nya,pupil mata nya bergetar dengan mulut yang sedikir mengangah,lalu tak lama ia pun tertunduk seakan memikirkan sesuatu membuat orang yang bertanya hanya mengerutkan dahinya dan kebingungan.
Flashback on*
Rui's Pov
Hari itu aku sangat ingat,aku yang masih memakai seragam SMA berjalan berdampingan dengan gadis manis yang memakai seragam SMP nya.
Kulihat di sekitar lengan nya ada luka lebam, tapi aku membiarkan nya saja.
Gadis itu berusaha tetep tersenyum di depanku,namun aku tau dia sedang menutupi rasa sedih nya.
Sebenar nya,sebagai seorang teman aku harus selalu memberi perhatianku dan menghiburnya dikala seperti itu,tapi aku tidak pernah melakukan nya.
Mungkin itulah dia tidak pernah terbuka terhadapku atas semua masalah nya,aku sudah berteman dengan nya sejak kecil.
Dulu dia anak yang begitu ceria,maka nya aku menyukai nya dan menjadi teman nya,tapi semua itu berangsur-angsur berubah ketika orang tua nya meninggal.
Anak itu jadi dingin dan suram,tapi aku tetap berteman dengan nya karena dia selalu berusaha tidak menunjukan sisi nya yang seperti itu di depanku.
Hingga kami beranjak dewasa dan aku juga sudah punya banyak teman saat itu, aku selalu di olok-olok temanku karena berteman dengan gadis aneh seperti nya,aku masih bisa menahan nya,tapi disisi lain aku berpikiran untuk menjauh darinya,namun aku juga sangat merasa kasihan pada nya.Hingga akhirnya aku tetap memutuskan berteman dengan nya karena rasa ibaku.
Waktu itu dia mengatakan bahwa dia menyukaiku, aku sungguh terkejut saat itu.
Aku melihat nya hanya sebagai seorang adik yang harus di beri lebih banyak perhatian karena ia kesepian,bukan sebagai wanita.
Aku menolak nya langsung, kulihat wajah nya memerah dan syok, tapi dia masih tersenyum padaku, aku jadi merasa tak enak saat itu.
Hingga saat itu,ia mulai berubah padaku.
Ia lebih tertutup,dan wajah murung nya lebih sering di perlihatkan padaku.
Aku juga merasa bahwa hubungan kami lebih renggang.
Saat masuk kuliah,aku lebih sering melihat lebam di tubuh nya atau pun muka nya,dia memang menutupinya,tapi aku masih menyadari nya.Itu adalah perbuatan paman dan bibinya,aku tau itu.
Dan sama saja seperti yang lalu,aku hanya bisa menghiburnya dengan kata-kata walaupun aku sendiri sadar bahwa ia tidak memerlukan itu.
Perasaanku sekarang dihantui dengan rasa bersalahku pada nya,aku selalu saja memikirkan nya hingga kini,ditambah aku juga merindukan wajah nya,rasa sesak bila mengingat senyum yang selalu ia berikan padaku dulu,sekarang tidak ada lagi,terlebih rasa kesal ketika memikirkan bagaimana kalau ia sudah bahagia dengan pria lain.
Aku tidak tau perasaan apa ini.
**Flashback off
Author pov***
"Rui?"
Keheningan terpecah ketika Alana memanggil nama nya.
"Ah ya?Maaf sepertinya aku sedikit pusing Lana"ujar Rui sambil memijat-mijat dahinya.
"..."
Alana menghela nafas nya sebentar.
"Baiklah,kau harus istirahat,aku akan pulang"ujar nya berdiri bersiap untuk pulang.
"Alana" panggil Rui.
"Ya" ucap Alana menolehkan pandangan nya pada Rui.
"Terimakasih"
__ADS_1
Seketika pipi Alana bersemu merah,lalu ia pun menarik sudut bibirnya ke atas dan mengangguk kan kepala nya pelan,lalu ia pun pulang meninggalkan Rui dengan segala pikiran nya yang sedang tertuju ke Eleeya.