Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 88 S2 : William Abigail Tan (Part 2)


__ADS_3

Suara benda tajam yang keluar masuk menembus kulit manusia menggema di telingaku, pemandangan dimana darah kental bercucuran yang berasal dari perut pria botak yang tak lain adalah teman Reid itu terlihat tepat di depan mataku.


"Hah"


Kulihat wajah panik dari Reid, bibirnya pucat dan keringat mulai mengucuri wajahnya, ia bergetar, namun tak berusaha lari, ia hanya terduduk lemas sambil melebarkan kedua bola mata nya, menyaksikan teman nya yang sedang meregang nyawa akibat tusukan berkali-kali pada perutnya.


"Ah, darah bocah sialan ini membuat bajuku kotor, padahal ini favoritku" gumam Lisa sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang terciprat darah.


Tubuhku gemetar, bahkan aku sendiri tak bisa mengontrolnya.


Seseorang telah terbunuh tepat di depan mataku, dan pembunuhnya ada Lisa, temanku sendiri.


Apa aku sudah gila?Aku bermimpi?


Ini tidak mungkin, seseorang tolong bangunkan aku karena aku tak ingin berada dalam mimpi ini.


Tanpa sadar aku meneteskan airmataku, aku mendelik ketika Lisa menatapku dengan sebuah senyuman, wajahnya bahkan penuh dengan bercak darah, dan itu terlihat mengerikan.


"Wim, kau tak apa?" tanya nya.


"..."


"Oh Wimku yang malang, jangan menangis dan takut, aku sudah ada disini" tukasnya sambil memelukku.


Saat itu aku tersadar bahwa ini bukanlah mimpi, kehangatan yang berasal dari pelukan Lisa saat itu membuatku terasa sangat nyaman.

__ADS_1


"Kenapa mereka berbuat jahat padamu?" tanya nya.


"...A-Aku tidak tau"


"Hmm apa kau pernah dengar kata-kata ini?"


"...Apa?"


Dia mendekatkan bibirnya ketelingaku dan membisikkan ku sesuatu.


"Jika ada seseorang yang membencimu tanpa alasan, maka berilah ia alasan" bisiknya.


Aku tersentak, ucapan nya ada benarnya juga, aku melirik kearah Reid yang dengan bodohnya masih berada disana, menatap kosong teman nya yang mungkin sudah mati itu dengan tubuh yang bergetar hebat, aneh nya aku menyukainya, ekspresinya yang ketakutan dan raut wajahnya menyedihkan, aku begitu menyukai pemandangan itu.


Aku mengambilnya ragu, sorot mata gadis itu sangat memberi kekuatan pada diriku yang sebelumnya tak ada sama sekali, aku berjalan mendekat, Reid menatapku sambil menangis ketakutan, aku tau tubuhnya pasti sangat lemas, ada banyak waktu untuknya melarikan diri, tetapi dia tak mempergunakannya dengan baik, maka ini bukan salahku.


Aku menusukkan pisau itu tepat di matanya dan seluruh permukaan wajahnya berkali-kali, hingga wajahku kini dipenuhi oleh semburan darah Reid.


Tubuh dua anak itu tergeletak digang itu, dengan kondisi yang mengenaskan tentunya, tapi ada yang aneh, rasa sesak di dadaku yang selama ini aku pendam mulai hilang, rasa menjengkelkan itu sudah tak bersarang di dalam diriku lagi, aku merasa bebas, dan itu semua berkat Lisa.


Aku semakin jatuh cinta pada gadis itu, gadis yang merubah hidupku, yang memberiku kekuatan menjalani kerasnya hidup, gadis yang terus berada disisiku dan mau menjadi temanku, aku bahkan berjanji akan menjaga nya, semua akan kulakukan untuknya bahkan untuk menghilangkan nyawa orang sekalipun. Walaupun hingga saat ini Elisa hanya menganggapku sebagai teman nya, tapi aku tetap menyukai gadis itu, kebiasaan nya yang buruk dan sifatnya yang obsesif itu tak membuatku berhenti menyukainya, mungkin ada kesamaan diantara kami, hanya saja aku tak terlalu menyadari hal itu.


Malam itu aku melihat Lisa melemparkan jasad seorang wanita di sungai X, tapi aku bukanlah satu-satunya orang yang melihat kejadian itu, seorang pria sialan yang sedang mabuk melintas disana dan melihat hal itu, pria itu pasti akan melaporkan kejadian itu dilihat dari gerak-geriknya, aku kesal melihatnya, dengan telapak tanganku, aku membekap mulutnya, dan menariknya hingga kesemak-semak yang gelap, karena pria ini tak bisa diam, akhirnya aku memasukan kantong plastik yang kutemui didekat sana lalu memasukan kepala pria itu kedalam nya, kulihat dia berteriak dibalik kantong plastik itu, mata nya menatapku tajam sambil melotot, hidungnya kembang kempis karena aku yakin dia tak bisa bernafas, pada akhirnya dia tewas setelah sekian lama meronta-ronta.


Aku mengendap-endap seraya mengintip apakah Lisa masih disana. Dan ternyata aku bisa lega karena Lisa sudah pergi dari tempat itu, kini giliranku yang akan membuang pria sialan ini.

__ADS_1


Keesokan harinya, berita di televisi menyiarkan hal itu, penemuan mayat pria dan wanita di sungai X.


Kurasa Lisa pasti terkejut kenapa di sungai itu terdapat dua mayat, ya tapi aku yakin dia sudah mengetahuinya.


Ah, seperti hal nya kematian Daniel beberapa waktu lalu, itu juga ulahku. Aku sangat kesal dan cemburu pada pria sialan satu itu, apa sebenarnya yang dilihat Lisa padanya, aku tak mengerti.


Lisa pernah berkata padaku waktu itu, dia akan melihatku sebagai seorang pria saat Daniel mati (lihat chp 76).


Saat mendengar hal itu aku sudah berencana membunuh bajingan itu, tapi ketika aku mengetahui dia disiksa Lisa dan berakhir dirumah sakit, aku merasa senang dan juga kecewa di saat bersamaan, aku senang karena pada akhirnya Lisa memberikan nya penyiksaan yang hebat lalu aku juga kecewa karena Lisa masih membiarkan dia hidup. Hari itu aku berhasil masuk keruang tempat ia dirawat, tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung membekapnya dengan bantal, aku menikmati detik-detik terakhirnya, hingga akhirnya dia tak bergerak lagi dan mati.


Sampai sini aku berharap dimana Lisa memilihku sebagai lelakinya, bahkan aku berkhayal menjadi seperti Daniel dan para kekasihnya dulu, dimana dia menjadi obsesi kepadaku, aku menunggu itu terjadi.


Jantungku berdegup ketika mengetahui Lisa digiring kekantor polisi, aku terus mengutuk Zay karena hal itu, itu saudarinya sendiri, kenapa dia tega berbuat hal itu, ah aku tau semua nya karena Lily, si jandanya Daniel Foster brengsek itu, kini aku tau mengapa Lisa sebegitu membenci wanita itu. Saat Zay menelponku untuk menemui Lisa karena dia kesepian, aku segera menemuinya, aku melihatnya, wajahnya sangat cantik walau tanpa riasan yang biasa ia pakai, dia tersenyum kepadaku, kami berbincang sangat lama, bahkan aku merawatnya hari itu, menyuapinya makan hingga mengusap puncak kepala nya saat ia tertidur, hingga terakhir kali ia membisikan kalimat itu padaku.


"Bunuh Lily untukku" bisiknya.


Batinku bergejolak, ini kali pertama ia meminta sesuatu padaku, tentu aku tak bisa menolak nya, dengan sebuah senyuman aku menganggukan kepalaku, aku tak ingin mengecewakan nya, itu lah janjiku pada nya.


Namun, semua rencanaku gagal karena Zay, dia datang disaat yang tidak tepat, kami bahkan sempat berkelahi saat itu, aku tau kalau Zay bukan lah lawanku, bahkan tatapan nya yang memukulku secara brutal itu mengingatkan aku pada tatapan Lisa saat menghabisi teman Reid saat itu, mereka memang saudara kembar terlepas dari apapun perbedaan sifat mereka, mereka masih memiliki kesamaan.


Akhinya aku mendekam di penjara, dan divonis hukuman seumur hidup atas semua hal yang kuperbuat, para polisi berhasil mengindentifikasi sidik jariku pada mayat Daniel dan juga si pria yang kubunuh di danau, walau bukan aku pelaku untuk si mayat wanita itu, tapi aku mengakuinya, mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada polisi, bukan?.


Hah, ternyata aku tak cukup pintar untuk melakukan hal itu seperti Lisa, aku terlalu bodoh, mungkin itu yang membuat dia tak suka padaku, aku menyedihkan sekali.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2