Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 80 S2 : Tak bisa diselamatkan


__ADS_3

"Lisa" ucap nya parau.


Suara nya bergetar saat menyebut nama Elisa, sorot mata nya sayu namun punya artian mendalam, ia menatap Elisa lama sembari terisak, kemudian ia menggigit bibir bawah nya dan beranjak dari tempat duduk nya.


"..."


Ia melangkahkan kakinya pelan, dan kini tengah berhadapan dengan Elisa, ia mulai mengeluarkan tangisnya lagi, sembari menundukan kepala ia sesekali mengusap mata nya yang penuh dengan air mata.


Elisa mengerutkan dahinya untuk sesaat, lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Zay yang menatap mereka berdua penuh kecemasan.


Seringaian muncul di bibir tipisnya, Elisa menggerakan tangan nya, berusaha membawa Lily yang malang kedalam pelukan nya, dengan telapak tangan nya, ia mengusap pelan punggung wanita yang tengah menangis itu.


"Ini pasti berat untukmu, aku segera kesini ketika mengetahui berita ini dari Zay" ujar Elisa lembut.


Terlihat Zay menautkan kedua alisnya, tatapan nya seakan mengatakan "Omong kosong apa yang dia katakan, aku sama sekali tak mengabarinya soal kejadian ini", namun Elisa hanya melirik sebentar lalu tersenyum, membuat Zay mendengus jengkel dengan tingkah nya.


"Hiks..Hiks, kondisinya sangat parah" ujar Lily terisak.


"Seberapa parah?"


"...Tubuhnya dipenuhi luka lebam yang serius, ditambah lidah nya...Hiks..." ucap nya berhenti.


"Lidah nya?"


"...Huuu hiks lidah nya..."


Tangisan nya bertambah, lebih menyedihkan daripada yang tadi, namun Elisa seakan menyukai itu, disisi lain dia juga kesal ketika mendengar penjelasan yang setengah-setengah seperti itu.


"Sudahlah, hentikan pertanyaanmu yang membuat dia menjadi tambah sedih" ujar Zay yang segera menarik Lily dan mengajak nya ke tempat duduk kembali.


"...Maafkan aku" ujarnya kemudian.


Lisa melangkahkan kakinya pelan, berhenti di depan pintu ruangan dan menatap dari balik kaca pintu, ia menyunggingkan senyumnya ketika melihat pria yang tak sadarkan diri itu tergolek disana, mata nya tak berkedip melihat Daniel saat itu, seakan dia sangat senang dengan hasil perbuatan nya terhadap Daniel.


**


Dengan mata yang bengkak dan kesedihan yang menyelimuti, Lily membuka pintu kamarnya, memberesi perlengkapan untuknya menginap di rumah sakit menemani Daniel.


Kepala nya terasa pusing karena terlalu banyak menangis, ia terhuyung hingga akhirnya terduduk lemas di atas kasurnya untuk beberapa saat.

__ADS_1


Ia ingat cerita dari seorang pria tua yang menemukan Daniel terkapar di pinggir jalan pagi itu, kondisi nya sungguh mengenaskan, bahkan mobilnya pun rusak total, seluruh barang berharga nya raib, dimulai dari handphone, dompet, hingga arloji nya, polisi pun akhirnya menyimpulkan bahwa itu ulah dari perampok.


Ketika tau keadaan Daniel, Lily hampir saja tak sadarkan diri, lantaran kondisi suaminya yang begitu mengenaskan, Daniel diyakini telah dikeroyok oleh beberapa orang, bahkan dipukuli, dan yang membuat merinding adalah lidah nya dipotong, setidaknya itulah yang dijelaskan oleh polisi pada Lily.


Polisi sedang melacak jejak para pelaku tindak kriminal itu, namun sampai sekarang belum juga ada kabarnya, itu juga yang membuat Lily menjadi stres, dia bahkan sempat berpikir kenapa para perampok itu tak mengambil mobil Daniel juga, tetapi sekali lagi polisi menekankan bahwa perampok tak dapat mengambil mobil karena sistem sandi yang diterapkan pada mobil tersebut, alhasil mereka menghancurkan mobil itu, itu lah pendapat para polisi itu.


Hah..


Lily menghela nafasnya, tak ada tempat mengadu, baik dia maupun Daniel sudah tak mempunyai orang tua lagi, hanya ada satu-satunya kakak perempuan Daniel lah kerabat mereka, tapi dia terlalu jauh dan tak punya cukup uang untuk datang menemani Lily.


Ditengah-tengah kepusingan nya, tak sengaja mata nya teralihkan pada laptop Daniel yang menyala disana.


Dengan perlahan ia mendekat dan mengutak-atik isi laptop tersebut, ia melihat banyak nya foto-foto mereka berdua menghiasi laptopnya. Air mata mulai mengalir kembali, namun ia tersentak ketika melihat salah satu folder yang berisikan foto-foto Elisa disana, itu membuat Lily mengepalkan tangan nya karena kesal, ia kembali mengutak-atik dengan membuka semua folder yang ada di laptop itu.


Sesuatu membuatnya tersentak sekali lagi, folder yang berisikan pesan-pesan nya dengan Elisa, dimana pesan nya menyiratkan hubungan gelapnya dengan Elisa, dan yang membuat nya terkejut adalah pesan terakhir yang mana tertulis mereka berjanji akan bertemu dan itu lebih tepat nya kemarin.


Lily mendelik mencoba menyerap semua percakapan mereka.


Beberapa saat setelah itu, Lily seakan teringat oleh sesuatu, ia bergegas mengubrak-abrik isi lacinya, dengan wajah yang panik ia mencari-cari sesuatu.


Sebuah memory card, dengan nafas yang terengah-engah ia mulai melihat isi dari kartu memori itu, sebuah rekaman CCTV di mobil Daniel yang sempat di tunjukan nya pada pihak kepolisian, walau dengan hati yang sakit ketika memutar rekaman yang berisikan ciuman mesra antara Daniel dan Elisa, Lily tetap melihat nya, mencari-cari kejanggalan pada bukti rekaman itu.


DRRT....DRRT....DRTT....


Lily tersentak ketika mendengar ponselnya yang bergetar, dengan perlahan ia meraih ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo" ujarnya.


"Hallo, dengan Nyonya Foster"


"Ya, saya sendiri"


"Nyonya, bisakah anda segera kerumah sakit, karena Tuan Daniel Foster dalam keadaan gawat sekarang"


"..Sa..Saya segera kesana" ujarnya terbata.


Ia sudah tak mengeluhkan rasa sakit kepala nya, bahkan hal-hal yang baru saja ditemukan nya itu pun ia kesampingkan, ia bergegas menuju rumah sakit dengan jantung yang berdegup kencang, dimulai dari orang itu mengatakan Daniel dalam keadaan gawat rasa nya ia tak bisa lagi hidup tenang karena nya.


Dengan kaki jenjang nya, ia berlari.

__ADS_1


Melewati koridor demi koridor dan akhirnya ia sampai diruangan dimana suaminya berada.


Mata nya mendelik ketika melihat seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan itu, ia melihat tatapan sang Dokter, itu adalah tatapan iba.


Apa yang terjadi, tanya benaknya dalam hati.


Kenapa suasana ini begitu memilukan, bahkan raut wajah Dokter dihadapanku ini juga tidak baik, batinnya.


"Dokter, suamiku?"


"...Maaf Nyonya, Tuan Foster tak bisa diselamatkan"


"...Huh?"


Bagai petir yang menyambar, wanita itu hanya mengangah dan melotot mendengar pernuturan dari Dokter, bahkan hanya sepersekian jam ia meninggalkan Daniel, dan itu malah harus membuatnya menyesal.


Daniel meninggal?


Suamiku pergi untuk selamanya?


Bagaimana bisa ini terjadi, bahkan dia belum sempat sadar, aku belum sempat berbicara dengan nya, batin Lily.


Ia menangis sejadi-jadinya dikursi itu, maratapi kehidupan nya yang kini entah harus bagaimana.


**


Netra birunya menatap lekat pemakaman Daniel, tatapan nya kosong, tak ada lagi wajah yang ceria darinya, bahkan Elzay pun menyayangkan itu, kini wajah cantik itu tampak lebih kurus, bagian mata nya cekung dan menghitam, tak ada cahaya, itu karena wanita itu begitu terpukul dengan kematian tragis yang menimpa suaminya.


"Dimana Elisa?" tanya Lily dengan suara seraknya.


Elzay menolehkan pandangan nya kearah Wim yang juga menghadiri prosesi pemakaman itu, dengan mengangkat bahunya, Wim kemudian menggelengkan kepala nya.


"...Dia mungkin sedang bekerja" jawab Zay.


"..."


Lily tak menjawab, kembali ia menatap pemakaman Daniel, tatapan nya yang datar mencerminkan kebingungan, ia sudah tak menangis lagi, mengingat sudah berapa banyak airmata yang dikeluarkan nya beberapa hari ini.


Aku harus menemui Elisa secepatnya, batin Lily.

__ADS_1


__ADS_2