Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 89 S2 : Epilog


__ADS_3

Hari silih berganti, ini waktu terdamai yang bisa dirasakan sesaat sejak kejadian-kejadian mengerikan waktu itu, hari demi hari dilalui wanita berambut pirang itu dengan biasa saja, menerima semua nya dengan hati yang lapang, tentu ia lakukan, bahkan saat ia tau bahwa dalang kematian Daniel sudah tertangkap dan yang lebih mengagetkan ia malah mengenali orang tersebut, namun tak bisa dipungkiri atas kekesalan nya terhadap Elisa, wanita yang menyebabkan semua nya terjadi. Ketika ia mulai mengutuk Elisa, kembali ia teringat perkataan dari Zay, bahwa terlepas dari semua kesalahan yang Elisa perbuat, itu tak lekang dari kesalahan fatal Daniel, suaminya itu.


Hati yang kosong perlahan terisi kembali, bukan karena ia dengan mudahnya melupakan orang yang lama, namun itu karena ia tak senaif itu, sebagaimana ia menunggu, orang yang telah mati tak mungkin hidup kembali.


Kini, ia harus bertahan menjalani hidupnya, bahkan hari-harinya semakin lebih baik saat ia bersama dengan Zay, pria tampan yang bahkan memiliki segalanya. Terlepas dari semua masa lalu keluarga nya, Lily mengerti dan mengetahui bahwa Zay tidak sama seperti mereka. Dia memang pria yang dingin, tapi sangat hangat ketika Lily menyusurinya lebih dalam.


Itulah yang tengah dirasakan olehnya saat ini, kehangatan yang diberikan Zay untuk dirinya itu mampu menghilangkan setiap luka yang ia rasakan.


LILIANA POV:


Aku merasa inilah kehidupan, biduk rumah tangga yang kujalani bersama Daniel bahkan tak ada apa-apa nya ketika aku bersama Zay, aku tahu Daniel mencintaiku, tapi aku tak tau berapa banyak bagian yang ia beri padaku, rasanya perasaan dan kata cinta nya itu telah di belahnya menjadi beberapa bagian dan diberikan kepada wanita-wanita lain yang tak aku ketahui, tapi tetap tak dipungkiri bahwa dia pernah menjadi bagian dihidupku, menemaniku selama itu.


Aku menerima semua masalalu Zay, aku menghargai setiap kejujuran nya, bahkan aku juga sering mengunjungi Elisa di tempatnya menjalani perawatan bersama Elzay, dia sangat menyayangi saudarinya, aku tahu dari tatapan nya itu.


Elisa, harus berada dipenjara ketat berkedok rumah sakit jiwa itu, ia tak bisa diadili karena penyakit mental nya, itu sungguh hal yang mengejutkankanku, hal yang tak pernah kusangka dan juga membuatku kesal sebenarnya, tapi begitulah hukum di negara ini.


Terlepas dari itu, semakin hari aku semakin jatuh, maksudku jatuh cinta pada pria itu, pria yang tak lain saudara kembar Elisa.


Dia sungguh berhasil membuatku sulit tertidur karena terus memikirkan nya.

__ADS_1


Aku sangat ingat ketika hari itu dimana hujan yang membasahi tanah itu mulai berjatuhan, dia memegang tanganku dan mengenggamnya, netra hitam nya menatapku dalam dan aku berdebar karena nya, dia tersenyum dan itu membuat wajahku jadi memanas. Ia menciumku dengan lembut, membuatku melayang dan ingin selalu berada di dekapan nya.


Angin yang berhembus kini menerpa wajahku, aku duduk di taman yang berada di atap rumah Zay, malam ini terdapat ribuan bintang yang bersinar di langit.


Hah, aku menghela nafasku.


Kuambil gelasku yang berisi sampanye itu lalu meneguknya.


Kulihat didepanku Zay tengah tersenyum.


Lalu, tiba-tiba ia membuatku kaget, ia beranjak dari kursinya lalu mendekat kearahku, aku menatapnya, mata nya menatapku dalam membuatku kebingungan karena nya.


"Ada apa?" tanyaku.


Bersinar, sebuah cincin dengan berlian disekitarnya, itu terpampang di hadapanku.


Apa ini sebuah lamaran?


"Maukah kau menjadi... Ah tidak, jadilah istriku Liliana Grace" ujarnya tersenyum.

__ADS_1


Aku tersentak dan mendelik bagai orang idiot, hampir aku menangis karena perbuatan nya itu, dia sungguh melamarku, apa ini sungguhan pikirku?.


"...Ya Zay" jawabku sambil meneteskan airmata haru.


Kulihat Zay tersenyum lega, ia segera memasangkan cincin itu kejari manisku, dia memelukku erat, bahkan mengangkat tubuhku untuk mengekspresikan kebahagiaan nya.


"Aku sangat senang malam ini Lily, akhirnya sebentar lagi kau akan menjadi istriku" ujarnya.


"Iya, aku juga sangat senang" tukasku sambil mencium bibirnya.


"Kau tau, itu cincin yang diberikan Ayah untuk Ibuku, bukan karena aku tak mampu memberikanmu yang baru, hanya saja Ibu memberinya padaku waktu itu, dia berpesan untuk memberikan cincin ini pada orang yang kucintai, dan hari ini aku memenuhi janjiku pada Ibuku" ujarnya.


Aku sedikit tercengang, lalu menatap dalam cincin yang berada di jari manisku itu, benar-benar cincin yang indah dan cantik, kurasa Ayahnya bukan lah orang yang seberbahaya itu, pantas sekali Elisa benar-benar marah saat aku merilis artikel itu, aku bersalah, aku mengutuk diriku sendiri.


Aku merasa kehangatan di setiap jariku karena Zay mengenggamnya.


"Kau sama seperti Ibuku, kalian sama-sama wanita lemah lembut dan baik, aku beruntung bisa memilikimu Lily" tukasnya.


Jantungku berdebar mendapat pengakuan seperti itu darinya.

__ADS_1


Aku menatapnya dalam sembari tersenyum, kalau dilihat begini, dia jadi sama persis dengan Ayahnya, aku masih ingat raut wajah Ayahnya, fotonya ada terpajang dirumah Zay dan banyak tersebar di internet. Apalagi sekarang Zay mengubah warna rambutnya menjadi hitam kembali, bagai pinang dibelah dua, ah tiga bila Elisa ikut serta.


Tapi itu tidak penting, momen bahagia ini tidak harus aku rusak dengan memikirkan hal lain nya, cukup rasakan perasaan haru bercampur bahagia bersama nya malam ini.


__ADS_2