
Rui mematikan api rokoknya setelah mengeluarkan asap terakhir dari mulutnya, kemudian ia berjalan pelan untuk kembali masuk kedalam dan duduk bersama Tian dan yang lain nya.
"Kau habis darimana?" tanya Tian.
"Aku habis merokok" jawab Rui.
Rui memandang sekeliling nya, netra nya seakan sedang mencari seseorang disana.
"Sedari tadi aku tidak melihat Ibu nya Lana"
"Oh dia mungkin sedang istirahat,sedari tadi dia selalu menangis histeris dan berakhir dengan pingsan"
"Hah,kalian tau?Aku dengar dari seseorang yang tinggal di lantai yang sama dengan Alana kemarin, katanya belum lama ini Alana bertengkar hebat dengan Ibunya,bahkan itu membuat Alana menangis"
"Bertengkar?"
"Iya, kau tau kan hanya ada dua orang yang tinggal di lantai itu, jadi orang itu bisa dengan jelas mengetahui kalau ada orang bertengkar"
"Hah,apa itu yang menganggu pikiran nya selama ini?"
"Kupikir itu mungkin,karena hal itu sering sekali terjadi,itu yang dikatakan orang itu padaku"
"Ya,aku juga pasti akan tertekan bila selalu bertengkar seperti itu, tapi sangat disayangkan dia orang nya baik,bahkan pada junior seperti kita"
Rui hanya diam mendengarkan ketika semua rekan nya tengah sibuk membicarakan tentang Alana saat itu.
Ia menyandarkan punggung nya di sofa,mengadahkan kepalanya keatas dan memejamkan matanya.
Hari itu, aku mendengar Alana bertengkar dengan seseorang lewat telepon, dia terlihat sangat kesal,bahkan matanya memerah seakan menahan air mata nya agar tak keluar, ketika aku tanya ada apa, dia hanya tersenyum dan menjawab tak ada apa-apa.
"Hah,kami selalu begini,dia selalu memulai pertengkaran ini"
Itu lah yang dia katakan, aku bahkan tak bertanya lagi karena kupikir dia tak ingin membahasnya, terlihat diraut wajahnya,dia kelelahan.
Seharusnya aku tak menambah beban pikiran nya,aku mengatakan hal yang kejam waktu itu padanya,padahal dia telah mengalami hari-hari yang berat di kehidupan nya.
Kini tak berguna bila aku berkata bahwa aku menyesal,karena dia sudah tiada sekarang,gumam Rui didalam pikiran nya.
"Hei Rui, kita harus pulang" ujar Tian yang membuyarkan pikiran Rui saat itu.
"Ah,ya baiklah"
Rui melamun di sepanjang perjalanan pulang.
Banyak hal yang ia tengah pikirkan,bayang-bayang Alana yang sedang marah padanya, wajah Eleeya yang tak ingin bertemu dengan nya bahkan ekspresi Yohan yang menyeringai saat meremehkan nya,semua berkutat di dalam pikiran nya,menjadi satu dan membuat kepalanya seakan ingin meledak.
Tian yang sedang mengemudi hanya bisa menghela nafas ketika melirik kearah Rui yang begitu terlihat menyedihkan.
"Kita semua bersedih atas hal ini,kau tahu?" ujar Tian.
"..."
__ADS_1
"Ada apa dengan keluarga nya?" tanya Rui dengan suaranya yang lirih
"Hah?Kau tak tahu apapun tentangnya?Kupikir kalian dekat" jawab Tian setengah terkejut.
"..."
"Ya,itu cukup wajar karena sifat Lana yang tertutup,jadi orang tua nya itu bercerai tahun lalu,itu karena ibunya menikahi pria lain, aku juga tak tahu bagaimana detailnya karena aku pun dengar ini dari teman-teman nya, setelah itu dia hidup sendiri,seakan membenci ibunya,kerap kali mereka selalu saja bertengkar seperti yang dibicarakan oleh teman kita tadi" jelas Tian panjang lebar.
"Ah,itu pasti sangat berat untuknya" jawab Rui merenung.
"Berhentilah memasang wajah seperti itu,aku kesal" ujar Tian yang sudah geram karena sedari tadi Rui selalu menunduk dan tak bersemangat,benar-benar bukan seperti dia biasanya.
"Sebenarnya belum lama ini terjadi kesalahpahaman diantara kami" ujar Rui ragu.
Tian mengerutkan dahinya ketika mendengar penuturan Rui yang tak jelas, terlihat pula keraguan dari ekspresi Rui saat itu.
Rui hanya merasa harus menceritakannya pada seseorang agar beban nya sedikit berkurang.
Di sepanjang perjalanan mereka,Rui menceritakan hal-hal yang membuat terjadinya salah paham diantara mereka,hingga pernyataan cinta dari Alana dan pertengkaran mereka terakhir kali, Tian mendengarkan sambil sesekali menghela nafasnya.
"Hah,percintaan itu rumit sekali,dan sekarang kau merasa bahwa kematian nya itu gara-gara kau,begitu kah?"
"..."
Rui hanya diam sambil menundukkan wajahnya,bila saat itu ia tahu hal ini terjadi,dia pasti tak akan menolak wanita itu dan membuatnya bersedih,itu lah yang sedang dipikirkan nya sekarang.
"Berhentilah berpikiran seperti itu, Lana bukan lah tipe wanita yang dengan mudahnya mengakhiri hidup hanya karena cinta,apalagi untuk orang sepertimu"
Mobil mereka pun berhenti tepat didepan apartemen yang ditinggali Rui, dengan langkah gontai Rui berjalan masuk kerumahnya,dia melangkahkan kakinya pelan,menatap lurus di sepanjang koridor dengan pikiran yang tertuju ke Yohan.
Dia mengepalkan tangan dan mengernyitkan dahinya.
Semua ini bermula karena nya bukan?Bahkan perubahan sifat Eleeya sampai pertengkaranku dengan Lana,semuanya karena si keparat itu.
"Haah"
Tepat ditengah koridor yang sepi itu,dia berhenti dan menghela nafasnya panjang, sehingga deru nafasnya menggema disana.
"Dadaku sesak,lagi-lagi aku menyalahkannya atas segala hal buruk yang aku alami" gumam nya.
***
Eleeya bergegas menuju ke kamar mandi,sedari tadi ia merasa tak enak badan,perutnya bahkan terasa begah sepanjang hari.
WUEEKK..WUEEKKK
Ia memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga badan nya melemas.
Ia tak ingat pernah salah makan sampai hari ini, tapi entah kenapa,perutnya terasa sangat mual bahkan selera makan nya pun hilang.
Seusai mencuci muka nya, ia berjalan perlahan dan mengambil kalender yang berada di atas nakas.
__ADS_1
"Periodeku... Lewat" gumam nya.
GLEK!
Eleeya menelan saliva nya ketika mencoba menghitung periode haid nya berkali-kali, sudah lewat 15 hari.
Ia meraba perutnya, namun dengan rasa cemas yang luar biasa.
"Bagaimana ini?" gumam nya terbata.
Eleeya teringat,selama melakukan hubungan intim dengan Yohan,dia memang tak pernah sekalipun meminum obat kontrasepsi.
Bahkan bila tebakan nya benar, ia tidak bisa merasa bahagia atas kabar ini.Reaksi Yohan lah yang terpenting, bagaimana kalau dia tidak menginginkan hal ini.
"Besok aku harus memastikannya" gumam nya pelan.
Dia melangkah masuk kedalam kamarnya, terlihat pria tampan itu sudah menunggu nya di dalam, dengan tersenyum pria itu melambaikan tangan nya,menyuruh Eleeya untuk segera mendekat kesampingnya.
Tanpa pikir panjang,Eleeya segera mendekat dan berbaring di sampingnya.
"Kau darimana?"
"Ah,aku baru saja mencuci mukaku"
Sebisa mungkin Eleeya menyembunyikan kekhawatiran nya, dia tak ingin hal yang belum dipastikan ini diketahui oleh Yohan.
"Kau kelihatan sangat lelah,apa kau sakit?" tanya Yohan.
"Tidak,aku hanya mengantuk"
Yohan menatap dalam wajah Eleeya,lalu tersenyum setelahnya.
"Kalau begitu tidurlah,lagipula ini sudah larut"
"Ya"
"Ah,selimutnya ada dikamarku,tunggu sebentar aku akan ambilkan" ujar Yohan turun dari kasur dan berjalan keluar untuk mengambilkan selimut untuk Eleeya.
Eleeya mengedip-ngedipkan matanya, nyatanya dia memang merasa kelelahan walaupun tak melakukan apapun,mata nya tak mampu lagi menahan rasa kantuk yang menyerangnya,hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya, bahkan pada saat Yohan kembali kekamarnya dengan membawa selimut, Eleeya sudah tidur sangat lelap, pria itu hanya tersenyum.
Yohan mendekat dan memakaikan selimut itu pada Eleeya dengan pelan karena tak ingin membuatnya bangun.
Dia menatap dalam wajah Eleeya yang sudah tertidur pulas itu.
Jarinya membenahi helaian rambut yang menutupi wajah cantik Eleeya.
"Wanitaku" gumamnya.
Dia pun kembali tersenyum dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi Eleeya.
"Ya,dia wanitaku" gumam nya lagi.
__ADS_1