Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)

Kiss Me Or Kill Me (Cium Aku Atau Bunuh Aku)
Chapter 83 S2 : Alasan membenci (Part 1)


__ADS_3

"Huh?"


Tak ada siapapun, kamarnya bahkan rapi dan bersih seperti biasa nya.


Elzay menghela nafasnya, menatap setiap inci dari kamar itu, seakan mencari kejanggalan disana.


"Cih" decaknya.


Ia keluar dari kamar itu dan melangkah gontai sembari berpikir, sesaat ia menatap lekat kearah es lime yang berada di meja ruang tamu, netra hitam nya bahkan sangat tajam ketika menyoroti minuman itu.


"Hah sial, bahkan nomor Lisa maupun Lily sama-sama tidak aktif" gerutu nya.


**


LILIANA POV:


Nafasku sudah tak sesak lagi, rasa panas seperti terbakar sudah tak kurasakan lagi, kini tubuhku sudah lebih ringan, apa ini berarti aku sudah dibebaskan dari dunia?


Semua ingatan yang menyakitkan itu kembali terlintas di benakku, rasa nya aku ingin menangis dan menjerit, Elisa... Dia adalah dalang dibalik kematian Daniel, ternyata rasa curigaku selama ini benar adanya, aku jadi merasa bersalah karena tak mendengarkan kata-kata Daniel waktu itu, jika saja aku sedikit lebih tenang dan percaya apa kata nya, dia tidak mungkin meninggal.


Dan beberapa saat lalu, Elisa bahkan meracuniku, aku takut, perasaan menakutkan ini sungguh menyiksaku.


Sesaat setelah aku tenggelam dalam kesedihanku, samar-samar aku melihat cahaya, pandangan yang kabur dan menjadi jelas semakin aku mengedipkan mata.


Aku bisa merasakan udara yang kuhirup, baunya seperti bau dinding yang rapuh dan sebagian aku merasa seperti aroma debu.


Dimana ini?


Apa disini tempat para orang yang mati?


Kini mataku terbuka lebih lebar, penglihatanku juga sudah semakin jelas, tapi aku menjadi heran, ini sama sekali tempat yang tidak kukenali.


"..."


Deg!


Aku tersentak ketika menyadari bahwa aku masih hidup.


Aku ingat, sesaat tadi aku merasa tersiksa karena racun yang diberikan Elisa padaku, kemudian aku tak sadarkan diri di atas kasur wanita itu, lalu ketika aku membuka mataku, aku sudah berada disini, terduduk lemas di sebuah gudang dengan tangan yang terikat kebelakang.


Aku meronta, tapi itu sia-sia, ikatan nya sangat kuat, semakin aku meronta, tanganku pun semakin tergores karena nya.


"Wah wah, bangun dengan bersemangat, aku suka itu, ah penawar racun itu lumayan juga"


Suara yang kukenali terdengar dari atas tangga, Elisa menuruni anak tangga satu demi satu dengan perlahan, wajahnya menyeringai, membuatku bergetar dengan sendirinya. Ah, dia berhenti ditengah anak tangga itu, kulihat ia dengan tajam, ia tertawa, menutup wajahnya sambil tertawa geli, sebenarnya apa yang lucu baginya?.


"Pft, ketika aku menuruni tangga ini, aku jadi teringat kejadian itu" ucapnya.


Kejadian itu?


Apa maksudnya?


Dia berhenti tertawa, dalam kegelapan disana aku yakin dia tengah menatapku tajam, aku bisa merasakan itu.


"Itu kejadian paling menyenangkan ketika kita pergi bersama"


"..."

__ADS_1


"Saat itu, tanganku bergerak sendiri untuk mendorong kedua fansku itu" ucapnya sambil terkekeh.


Aku mendelik, mataku melebar dan mulutku mengangah, dia mendorong kedua bocah tak bersalah itu? Apa tujuan nya? Apa dia sudah gila?


"Apa maksudmu Elisa?"


"Huh? Kau belum mengerti juga ya? Baiklah, aku akan memberikan bahasa yang ringan, nah dengar baik-baik, aku sengaja mendorong mereka dari atas tangga"


"..."


Air mataku keluar tanpa disuruh, bagaimana bisa ada orang sekeji dia?


Kejadian mengerikan itu, kejadian itulah yang merenggut calon anakku.


"...Apa salah mereka padamu?"


"Huh, salah? Aku tidak membutuhkan hal itu untuk melakukan apa yang aku mau, tapi sejujurnya sesuatu yang berada di dalam perutmu dulu itu sedikit mengangguku"


Apa, dia bicara apa?


Anakku?


Dia sengaja melakukan itu untuk mencelakai aku juga anakku?


Itukah yang sedang ingin disampaikan nya padaku?


"..."


"Oh kau menangis, tolong jangan menangis Lily" ujarnya sembari berlari mendekat kearahku.


"Hiks, Elisa Hiks, apa salahku padamu? Kenapa kau begini terhadapku?"


"..."


"Kau tau? Semua yang ada didunia ini, sudah sebagaimana mestinya, seperti halnya pembunuh datang untuk membunuh, dan korban datang untuk mati"


"..."


Kata-kata mengerikan yang ia ucapkan itu cukup membuatku gemetar, itu artinya dia akan membunuhku, oh tuhan aku sungguh takut.


Aku menarik nafasku lalu mengeluarkan nya, aku sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata, saat ini aku harus tenang agar aku bisa berpikir bagaimana caranya keluar dan kabur dari sini, terlebih aku harus terlepas dari tali sialan ditanganku ini.


Dia menatapku dengan tatapan itu, tatapan datar dan menakutkan, kemudian ia berjalan, menarik sebuah kursi dan duduk di hadapanku, tangan nya merogoh saku jaket nya, menaruh sebatang rokok di mulutnya dan membakarnya, membuat ruangan pengap itu dipenuhi dengan asap yang mengudara.


"Kau... wanita kepar*t kau Elisa, kau sudah membunuh calon anakku, membunuh suamiku dan kini kau berencana membunuhku disini,hah?"


"Interupsi, aku tidak membunuh suamimu, dan aku juga tak berencana membunuhmu jika kau berperilaku baik hari ini"


"Hah, Daniel sudah mati, dan itu jelas ulahmu, lalu kau meracuni air lime itu, kau memang sakit Elisa"


"..."


Jantungku berdegup kencang, nafasku tak beraturan, ini kali pertama aku berteriak pada seseorang setelah Daniel, rasa nya aku tak bisa lagi membendung perasaan sakitku.


"Daniel mati bukan karena diriku, dan aku juga tidak meracuni air lime nya, kau terlalu berlebihan" tukasnya.


"Kau masih beralasan,hah?"

__ADS_1


"Aku berkata jujur, aku meminum air lime yang sama sepertimu, tapi lihatlah, aku segar bugar" ujarnya terkekeh.


Dia benar, kenapa aku tak memikirkan hal itu, kalau air itu yang beracun, jelas kondisinya akan sama sepertiku, lagipula mana mungkin dia mau menanggung resiko itu.


Oh, aku tau...


"...Gelasnya" gumamku terbata.


Kulihat senyuman merekah di bibir tipisnya, sambil menjentikkan jarinya, ia terlihat sangat senang.


"Benar, gelasnya, aku memang menaruh racun itu digelasnya, tepatnya gelasmu" ujarnya sambil tersenyum.


Aku mengepalkan tanganku, sungguh aku benar-benar marah padanya, hidupku hancur seketika gara-gara wanita iblis ini.


"Kenapa kau sangat membenciku Elisa?"


"..."


Dia diam, sembari menghisap rokok nya, ia menatapku datar, begitu pun aku yang tengah menatapnya tanpa ragu.


"Uh, aku tak suka tatapan itu" ucapnya.


Ah, dia beranjak, berjalan perlahan dan mengambil beberapa tumpukan kertas dan kembali ketempat duduknya semula.


"Coba kau amati gudang ini, apa ini terlihat asing bagimu?"


Apa maksudnya?


Aku menatap kesana kemari, namun beberapa kalipun aku mengamatinya, gudang ini memang sangat asing bagiku, aku tak bisa mengingat bahwa aku mengetahui tempat mengerikan seperti ini.


"Hah, kau tak ingat? Padahal kau menuliskan dan menggambarkan nya secara apik pada artikel ini"


"Artikel?"


"Ya, artikel ini"


Elisa menunjukan berkas yang bertuliskan "Biografi sang pembunuh, ditulis oleh Liliana Grace"


Hah, artikel itu adalah artikel yang kutulis saat sekolah dulu, tapi kenapa dia masih menyimpan nya, apa kaitan nya artikel itu dengan semua ini.


"Masih belum ingat? Baiklah, aku bacakan saja supaya kau ingat, ehem ehem"


"..."


"Yohan Alcester mulai menyeret para korban nya kedalam gudang bawah tanah rumah nya, menuruni tangga yang sedikit rapuh. Bilik yang gelap dan pengap, juga terlihat lembab dan bernuansa mengerikan, ia melecehkan setiap wanita yang ia bawa disana, menyiksanya secara brutal lalu membunuhnya, oh aku tak sanggup melanjutkan nya"


Aku mencerna semua nya, dan itu lah yang membuat aku tersentak, tubuhku gemetar hebat, kata-kata yang kutulis disana, apa benar tempat itu adalah disini, ditempatku berada sekarang?.


Kini dia tersenyum melihatku, aku yang bergetar ketakutan, bahkan seperti tikus kecil yang berada di hadapan kucing kelaparan.


"Sudah ingat?"


"..."


"Tidak,tidak, gudang ini bukan lokasi dalam artikel yang kau tulis itu, ini hanya semacam replika saja" tukasnya


Aku semakin tidak mengerti maksud dari pembicaraan nya.

__ADS_1


"Orang yang kau tulis biografinya ini, apa kau bahkan mengenalinya?"


"...Huh?"


__ADS_2