
"..."
Dia tau maksud dari pembicaraanku, bahkan dia menebaknya dengan sangat tepat.
Tapi tentu aku belum puas dengan pernyataan nya tadi.
Baiklah, aku hanya perlu tenang seperti yang dilakukan nya, sambil memamerkan lesung pipi nya, ia mengisi gelas kosong nya dengan es lime yang ia buat, lalu ia meminumnya hingga gelasnya kosong.
"Aku sedih karena ternyata kau berpikiran seperti itu tentangku" ucapnya.
"..."
"Aku tau aku bersalah padamu, tapi tolong percaya padaku, aku tidak akan menerima Daniel jika tau ia sudah beristri"
Hah, haruskah aku mempercayainya? Dia terlihat yakin dengan setiap omongan nya, raut wajahnya juga mengekspresikan kesedihan, aku jadi merasa bersalah karena terkesan sedang menuduhnya.
"...Maafkan aku, hanya saja hatiku..."
"Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang kau rasakan"
Dadaku seketika sesak, aku sudah berbuat hal bodoh dengan datang kesini dan menuduh Elisa yang jelas tak akan melakukan hal-hal buruk itu.
Aku terus menundukan kepalaku, dia tak berbicara begitu juga denganku, tapi aku kembali teringat sesuatu, penggalan pesan yang menyatakan kalau mereka akan bertemu hari itu, itu lupa aku tanyakan, padahal itu yang terpenting.
Aku mendongakan kepalaku, aku sedikit terkejut mendapati sorot mata nya yang dingin itu menatap tajam diriku, apa sedari tadi dia menatapku seperti itu,batinku.
"Ada yang ingin kau katakan Lily?" tukasnya.
"...Saat itu, satu hari sebelum Daniel ditemukan dalam keadaan sekarat, apa saat itu kalian bertemu?"
"..."
Dia kembali tak bereaksi, orang normal setidak nya akan kaget walaupun orang itu tidak melakukan nya, tapi wanita ini... Aku tak bisa membaca apa isi kepala nya, selain sorot mata nya yang seakan menusuk wajahku itu tak ada lagi yang bisa diterka dari ekspresinya.
Ah, dia tersenyum lagi, kali ini apa yang akan dilontarkan dari mulutnya.
"Apa maksudnya?"
Aku membenci situasi ini, aku sendiri yang datang kesini dan aku sendiri juga yang tertekan.
"Aku melihat pesan kalian yang terakhir kali, dipesan itu jelas tertulis kalian akan bertemu, dan itu adalah satu hari sebelum Daniel ditemukan sekarat" lantangku.
"..."
Dia diam lagi, kenapa dia tak langsung menjawab, apa dia sedang berpikir cara untuk mencari alibi.
Hah, lama-lama aku tak tahan lagi.
__ADS_1
"Elisa, kenapa kau diam saja?"
"Ah, kami tidak bertemu" jawab nya.
"Tidak bertemu?" ulangku memastikan.
"Ya, dia tidak datang menemuiku, oh jangan salah paham dulu, kurasa alasan dia ingin bertemu denganku adalah untuk menyalahkan semua nya padaku karena pertengkaran yang terjadi pada kalian"
"..."
Mereka tidak bertemu?
Daniel lah yang tak menemuinya, apa saat dalam perjalanan menemui wanita ini Daniel kemudian dirampok. Hah, aku pusing, aku berspekulasi terlalu banyak, dadaku makin terasa sesak, ini sesak yang berbeda, bahkan nafasku rasa nya tersangkut, pandanganku mulai kabur, mungkin ini akibat dari otakku yang terlalu banyak berpikir.
Aku mengusap dahiku, bahkan aku berkeringat.
Sebenarnya kenapa?
Tenggorokanku kering seperti terbakar, dan kulihat Elisa hanya menatapku datar.
"Ah.."
"Lily, kau kenapa?"
"Aku pusing dan tubuhku tidak enak" ujarku sambil memegangi dahiku yang berkeringat lumayan banyak.
Ah, aku ingin pulang saja, tapi aku tak sanggup, penglihatanku mulai berbayang akibat pusing dan sesak yang kurasakan.
Elisa mulai memapahku, raut wajah nya terlihat khawatir, tapi aku merasa itu semua palsu.
Hah, lagi-lagi aku berpikiran buruk tentangnya, padahal dia telah mencemaskanku.
Seluruh tubuhku panas, terutama di tenggorokan dan paru-paruku, rasanya aku terbakar dari dalam sana.
Kini aku berbaring di ranjang empuk yang kuyakini tempat tidur Elisa.
Aku melirik sekilas, Elisa tidak ada, kemana dia pergi.
Dengan sisa tenagaku, aku merogoh saku celanaku, mengambil ponselku, tapi pandanganku terlalu kabur, aku mengetik asal dan mengirimkan teks itu, kuharap aku tidak salah kirim.
Aku haus, tenggorokanku mungkin akan meledak, sebenarnya apa yang terjadi padaku, aku melirik sampingku, ada segelas air putih, dengan terpaksa aku meraih nya karena tak tahan dengan panasnya kerongkongan ku.
Oh tidak aku malah mengambil sebuah arloji bukan nya air.
Tunggu sebentar, walaupun pandanganku kabur, tapi aku masih bisa mengenali arloji itu, itu milik Daniel dan aku sangat yakin itu, bukan nya arloji itu juga ikut dirampok hari itu, tapi kenapa ada di sini, di kamar Elisa.
Apa-apaan ini, jantungku berdetak sangat kencang, perasaan takut kini menyeruak dalam diriku. Dengan ragu aku membuka laci yang ada di sana, berharap yang kutakutkan tidak terlihat. Tapi, harapanku ternyata tidak terkabulkan, aku melebarkan kedua mataku, pupilku bergetar menatap dua barang itu, sebuah dompet dan handphone, aku yakin itu milik Daniel, karena aku sendiri yang membeli kedua barang itu untuk dirinya.
__ADS_1
Aku tak bisa membendung air mataku yang akan terjatuh, perasaan tak menyangka dan takut menjadi satu.
"Ini tidak mungkin..."
"Apa yang tidak mungkin Lily?"
"..."
DEG!
Tubuhku bergetar dengan sendirinya, itu suara Elisa, dia kembali, apa yang harus kulakukan, dibanding itu aku sudah tak kuat menahan rasa sakit didalam tubuhku, bagai menjalar hingga kewajahku.
Aku membalikkan tubuhku perlahan dengan gemetar, dia berdiri di ambang pintu, menatapku lekat dengan netra hitam nya yang tajam.
"Ternyata racun itu tidak bagus, aku ditipu situs online sialan itu"
"...Huh?"
"Ya, metode racun itu memang tidak cocok denganku" ujarnya sambil terkikik.
Jadi, semua yang terjadi pada tubuhku ini akibat dia meracuniku?.
Keterlaluan, apa dia mencoba membunuhku disini?.
Aku ingin sekali mengutuknya dengan mulutku, tapi suaraku bahkan tidak mau keluar, nafasku semakin sesak, dadaku panas, aku merasa lidahku kelu, aku terengah-engah, kesulitan bernafas, seperti bernafas di ruangan tanpa oksigen, apa aku akan mati, pandanganku mulai mengabur kembali, kulihat Elisa masih berdiri disana menyaksikanku yang tengah sekarat di atas tempat tidurnya.
"Menggelepar seperti ikan yang dijauhkan dari air, lumayan juga" ujarnya sambil menyeringai.
Aku tak bisa mempertahankan kesadaranku lagi, pandanganku mulai gelap, dimulai dari samar-samar, keabuan, lalu hitam dan gelap.
**
Author POV :
Mobil putih itu berjalan sangat cepat, hampir saja menabrak pengendara mobil lain nya, Elzay sebagai pengemudi mobil tersebut kelihatan sangat panik, ia menekan pedal gas nya lebih dalam, sorot mata nya yang tajam itu menatap lurus kedepan.
Ada apa dengan wanita disekitarku, kenapa mereka semua keras kepala.
"Elisa Fioneer", itu kata-kata yang ia kirim lewat pesan ke ponselku tadi, yang benar saja, dia masih nekat menemui wanita mengerikan itu.
Ayolah Lisa, kau tak mungkin berbuat macam-macam pada Lily bukan? batin Zay bermonolog.
3..4..5..7...
Jari telunjuknya menekan angka itu dengan cepat, itu adalah sandi memasuki Apartemen Elisa, dengan langkah cepat Zay segera masuk kesana, terlihat gelas besar berisi es lime di meja ruang tamunya, netra hitam nya menatap lurus kearah kamar tidur Elisa yang tertutup, sembari mengerutkan dahinya ia melangkahkan kakinya dan mendobrak pintu itu.
Ia mendelik, melebarkan kedua mata nya seakan menahan kekesalan nya.
__ADS_1
"...Huh?".