
Pagi hari Riana bangun lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena dirinya tidur cukup lama kemarin. Wajar saja ia bangun lebih cepat bukan?
Riana segera membersihkan dirinya dan keluar setelah membereskan kamarnya. Ia beranjak ke dapur dan mencari makanan untuknya makan. Tak menemukan apapun yang dicarinya, ia memutuskan memasak beberapa makanan yang mudah dan cepat.
Satu jam kemudian, semua masakan itu pun selesai ia buat. Ia segera duduk di meja makan dan menikmati masakannya sendiri. Selesai makan, ia beranjak membereskan piringnya dan sisa makanan yang lain ia tutupi dengan tudung saji.
Saat tengah mencuci piring kotor dan peralatan masak, Mbak Asih muncul dan mengejutkan Riana. "Neng, sudah bangun? Masih jam lima pagi loh, Neng," ucap Mbak Asih.
"Mbak, ngagetin aku saja. Iya, Mbak, efek gak makan malam semalam dan tidur kelamaan. Jadi, bangun kepagian dan langsung sarapan," ucap Riana.
"Loh, den Arkan memang gak bangunin, Neng? Padahal mbak sudah bilang ke den Arkan loh, kalau, Neng belum makan malam," jelas Mbak Asih.
Riana hanya tersenyum menanggapi ucapan asisten rumah tangganya. Kemudian, ia berpamitan untuk kembali ke atas. Riana membuka balkon kamarnya dan menikmati udara pagi yang terasa sedikit sejuk.
Bosan berada di kamar, Riana melangkah keluar dan menuju taman belakang rumah. Ia menikmati terpaan angin pagi yang menembus kulit mulusnya. Menatap bunga-bunga yang bermekaran di sana.
Terlihat matahari mulai terbit dari sebelah timur. Riana tersenyum menyambut hari. Ia bersyukur untuk semua hal yang ia terima dalam hidupnya.
*****
Matahari mulai meninggi saat itu. Riana segera masuk dan menemukan Arkan yang tengah menikmati sarapan pagi di meja makan. Ia melirik sekilas dan tersenyum dalam hati.
"Kamu gak sarapan?" tanya Arkan.
"Aku sudah sarapan," ucapnya sambil lalu.
Tanpa sengaja, Riana terpeleset dan hampir saja jatuh, jika Arkan tak segera mengangkatnya. Riana meringis sakit pada pergelangan kakinya yang terkilir.
"Arrgghh," pekik Riana.
Bugh,
"Aww," pekik Arkan.
Riana menoleh dan melihat, jika dirinya terjatuh dan menimpa Arkan. Ia segera berdiri. Namun, ia kembali terjatuh dan menimpa Arkan kembali karena kakinya yang terkilir.
Mata mereka bersirobak. Jantung Riana berdegup dengan kencang kala menatap wajah tampan milik Arkan. Arkan sengaja berdeham untuk menyadarkan Riana dari lamunannya.
"Ekhem," Arkan berdeham.
"Sampai kapan kau akan berada di posisi ini?" tanya Arkan.
__ADS_1
Riana melihat pada posisi yang dimaksudkan Arkan. Ia membelalakkan matanya lebar saat menyadari, begitu intimnya posisi mereka saat ini. Sekali lagi Riana mencoba bergerak. Namun, ia tetap tak bisa.
"Aku gak bisa bangun. Kaki ku sakit," ucap Riana.
Arkan mencoba memindahkan posisi Riana ke samping lebih dulu. Setelah itu, ia membantu Riana untuk bangun dari posisinya saat ini. Melihat Riana yang berjalan pincang, ia memanggil Mbak Asih seraya menuntun Riana menuju sofa.
"Mbak Asih," panggil Arkan.
Dengan tergopoh-gopoh mbak Asih segera menghampiri tuannya. "Iya, den," jawab Mbak Asih.
"Ambilkan es dan letakkan dalam kantung kompres," perintah Arkan.
Mbak Asih segera mengambilkan apa yang tuannya minta. Setelah menyerahkan es dalam kantung kompres yang diminta Arkan, Arkan meminta Mbak Asih untuk membereskan kamar bawah untuk ditempati oleh Riana sementara.
"Mbak, bereskan kamar di samping ruang kerja ku untuk Riana tempati ya. Dia tidak mungkin tidur di kamar atas saat kakinya sedang terkilir seperti ini." Mbak Asih segera melaksanakan tugas yang diminta atasannya.
Tanpa Arkan ketahui, sejak Arkan membantu Riana saat akan terjatuh tadi sampai saat ini, Arkan tengah mengompres kakinya, tatapan Riana tak sedikit pun teralihkan darinya.
Hati Riana berdesir merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dalam dadanya. Pandangan matanya tak lepas dari Arkan. Mengingat khawatirnya Arkan saat menyuruh Mbak Asih untuk menyiapkan kamar bawah, membuat Riana mulai membuka hatinya pada pria itu.
"Belum puas menatapku?" tanya Arkan.
Riana dengan segera membuang pandangannya. Sesekali ia akan meringis sakit saat Arkan menekan bagian kakinya yang mulai membengkak.
"Kenapa saat menatapku tadi kau tidak merasa sakit?" tanya Arkan.
"Kapan aku menatapmu?" tanya Riana.
"Tidak mau ngaku lagi. Jelas-jelas kamu tadi menatapku, tapi tidak mau mengaku," ucap Arkan ketus.
"Percaya diri sekali!" serunya seraya membuang pandangannya.
*****
Pada akhirnya, Arkan tidak mengizinkan Riana bekerja. Ia meminta Riana untuk tetap di rumah sampai kakinya pulih. Mau tidak mau, Riana menuruti ucapan Arkan.
Malam harinya, Arkan pulang dan mengetuk kamar Riana. Riana menyuruhnya masuk. Pintu pun terbuka dan menampakkan Arkan yang baru saja kembali.
"Bagaimana kakimu?" tanyanya.
"Masih seperti tadi pagi," jawab Riana.
__ADS_1
"Sebaiknya, kita periksa ke dokter saja." Riana segera menggeleng kuat.
"Gak usah. Di urut saja. Nanti pasti sembuh," tolak Riana.
"Di urut?" tanya Arkan dengan dahi berkerut tajam.
Riana mengangguk yakin.
"Apa itu?" tanya Arkan yang tak mengerti.
Riana menepuk dahinya. Ia lupa, jika dihadapannya ini adalah orang kalangan atas yang tak mengerti urut mengurut. Riana pun terlihat berpikir mencari kata lain yang bisa pria itu mengerti.
"Pijit," ucap Riana seraya memperagakannya.
Arkan hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf o. Tak lama kemudian, kembali pintu kamarnya diketuk dari luar. Riana menyuruhnya masuk.
Terlihat seorang wanita paruh baya menghampirinya. Riana pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Tukang urut itu pun segera melakukan tugasnya.
Riana berkali-kali meringis sakit. Bahkan , air matanya menetes akibat menahan rasa sakit di kakinya.
Arkan turut meringis melihat cara tukang urut itu memijit kaki Riana. Ia tak bisa membayangkan, jika dirinya ada di posisi Riana.
Setelah selesai, Riana mulai bisa bergerak seperti biasa. Hanya saja, Riana masih perlu berhati-hati. Kondisi kakinya masih belum stabil saat ini.
"Kau sudah makan?" tanya Arkan.
"Belum. Kalau kau ingin makan, makan saja lebih dulu," ucap Riana.
Arkan keluar dan menutup pintu. Tidak sampai sepuluh menit, pria itu kembali ke kamar Riana dan memberikan baki yang berisi nasi serta lauk pauk dan teman- temannya.
"Makan dulu." Arkan segera keluar dari kamar Riana.
Riana sedikit terkejut dengan sikap yang di tunjukkan Arkan padanya. Riana tersenyum menerima perhatiaan dari Arkan.
Pasalnya, ini kali pertama Arkan memperhatikannya sejak awal mereka menikah. Ada perasaan hangat yang menelusup ke dalam relung hatinya. Wajahnya merona mengingat kejadian sejak pagi tadi hingga malam ini.
Sepertinya Riana mulai menyukai Arkan. Pria itu bersikap dingin di luar. Namun, dalam hatinya memiliki kehangatan.
Sungguh, perhatianmu telah mengubah hatiku. Salahkah jika ku katakan aku mencintaimu? Aku tidak berharap kau membalas cintaku. Tapi, beri aku kesempatan, untuk membuktikan cintaku padamu, (Riana)
*****
__ADS_1
Malam genks, maaf malam ini hanya 1 bab. aku udah ngantuk. besok kita lanjut lagi ya ..
bye.... lope lope buat kalian semua😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️