Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Rekaman


__ADS_3

Riana menuruni anak tangga. Matanya menyapu seluruh ruang tamu dan ruang keluarga. Sepi, tidak terlihat seorang pun di sana.


Wanita itu berbalik menuju taman belakang. Biasanya, Yani berada di sana untuk menjemur baby tampannya.


Kembali matanya menyapu tempat itu. Lagi-lagi tidak ada orang di sana. Jantungnya berdetak lebih cepat.


Seperti mendapat ide, Riana kembali ke dalam. Ia menuju kamar yang ditempati oleh Yani dan Aldo. Mungkin saja, Yani belum bangun.


Ia mengetuknya perlahan. Tiga kali ia mengetuk kamar itu. Namun, tak ada sahutan dari dalam. Ia mencoba mencari ibu mertuanya ke atas.


Lagi-lagi, Riana mengetuk pintu. Kembali, rasa kecewa meliputinya. Riana melangkah gontai menuju kamarnya. Terdengar suara mobil yang memasuki halaman.


Riana bergegas menuruni anak tangga dan menuju halaman. Terlihat Yani, Aldo, dan ibu mertuanya turun dari mobil. Hanya satu pintu yang belum terbuka. Pintu bagian pengemudi.


Entah mengapa, matanya berkaca-kaca menanti orang itu keluar dari sana. Tak lama, orang yang dinantinya pun keluar.


Air mata yang sejak tadi sudah mendesak keluar pun, mulai mengalir membasahi pipinya. Ia ingin berlari memeluk pria yang sejak tadi dicarinya. Namun, kakinya terasa berat melangkah.


"Kenapa di luar, Sayang?" tanya Aldi yang kini telah berdiri di depannya.


Mata Riana terus menatap Aldi tanpa berkedip. Ia bahkan tak mendengar sapaan atau pertanyaan yang dilontarkan sahabat, ipar dan mertuanya.


Ia memeluk Aldi erat dan menumpahkan kesedihannya. Aldi membalas pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.


"Masih teringat mimpi malam tadi?" lirih Aldi.


Riana menganggukkan kepala dan menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangat suaminya.


Kania, Yani dan Aldo hanya bisa tersenyum melihat kemesraan Aldi dan Riana. Ketiganya memilih masuk lebih dulu dan membiarkan pasangan pengantin baru itu.


"Kita masuk, ya," ajak Aldi.


Riana menggeleng. Aldi membiarkan Riana memeluknya hingga puas.


"Kamu tadi kemana, Mas? Kok ninggalin aku?"


Aldi pun menceritakan kemana dirinya pergi sejak subuh tadi. Aldi tidak tega membangunkan Riana yang baru terlelap setelah mimpi buruk sebelumnya.


Ia juga tidak mungkin membiarkan Aldo menyetir dalam kondisi panik. Mengalami dilema, membuat dirinya memilih meninggalkan Riana di rumah. Baginya, rumah adalah tempat teraman saat ini.


"Maaf, ya," ucap Aldi.


"Aku ngerti kok. Apa saat anak kita sakit nanti, kamu akan se khawatir itu, Mas?" Riana mendongakkan kepalanya menatap Aldi.


"Sudah pasti. Mana mungkin aku tidak khawatir, melihat Raka sakit saja aku sudah khawatir. Apalagi pada anak sendiri." Riana tersenyum manis.


"Eh, kok kamu tiba-tiba bicara tentang anak?" tanya Aldi kemudian.


"Kamu, sudah ingin memiliki anak?" bisik Aldi.


Wajah Riana memerah malu. Ia mengeratkan pelukannya dan kembali membenamkan wajahnya. Tentu saja ia menginginkan anak. Kapan pun Tuhan memberikannya, ia akan menerimanya.


"Kok diam?"


"Aku malu," jawab Riana.


Aldi terkekeh. Ia mengajak Riana masuk ke dalam. Yani dan Aldo sepertinya sudah masuk ke kamar mereka. Di ruang tamu, hanya terlihat Kania yang sedang membaca majalah.

__ADS_1


"Apa kalian jadi berangkat sore ini?" tanya Kania saat keduanya sudah masuk.


"Iya, Ma. Tugas Aldi sudah semakin menumpuk di sana. Riana juga akan mulai magang. Jadi, kami tidak mungkin menunda kepulangan kami."


"Tapi, mama gak bisa ikut. Tidak apa?"


"Tidak apa, Ma. Anggap saja kami sedang berbulan madu." Riana mengucapkannya dengan senyum malu-malu.



Kania tertawa melihat tingkah menantunya itu. Aldi pun merangkul Riana dan mengecup kepalanya.


"Aldi ke atas dulu ya, Ma. Kangen sama istri." Ia segera membawa Riana pergi dari sana.


"Jangan sampai lupa waktu! Mainnya yang cantik ya. Nanti Riana sampai tak bisa berjalan kamu buat," goda Kania.


"Tenang saja, Ma." Aldi mengacungkan ibu jarinya.


*****


Aldi sudah mengambil barang bawaan mereka dari rumah mertuanya. Riana sengaja tak Aldi ajak. Ia beralasan, jika Riana sedang membantu Yani menjaga Raka yang demam semalam.


Tidak mungkin ia membawa Riana pulang dengan kondisi wajah yang lebam. Ia tidak ingin dituduh melakukan KDRT.


"Sudah siap semua?" tanya Aldi pada Riana.


"Sudah."


Keduanya turun dan bersiap berangkat ke bandara. Kali ini, Aldo yang akan mengantar mereka.


"Bulan madu apa? Pekerjaan ku sudah menumpuk. Mana ada orang bulan madu, tapi tangan melakukan pekerjaan kantor?"


Aldo tertawa mendengar keluhan Aldi. Apa yang Aldi katakan memang benar. Tidak ada orang yang melakukan pekerjaan di saat sedang berbulan madu.


"Perlu bantuan?" Aldo menawarkan bantuannya.


Saat ini, mereka baru saja tiba di bandara. Tidak banyak memang, barang bawaan Aldi dan Riana. Namun, tidak ada salahnya untuk berbasa-basi, bukan?


"Tidak. Terima kasih sudah mengantarkan kami. Pulanglah. Yani membutuhkanmu." Aldi menepuk pundak saudara kembarnya.


"Masuklah dulu. Setelah kalian masuk, aku akan pulang."


"Oke," jawab Aldi.


"Mas, kami pergi dulu ya." Aldo tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Ia menatap punggung pasangan itu hingga menghilang. Ia pun berbalik dan akan menuju mobilnya.


Langkahnya terhenti, saat seseorang menepuk pundaknya. Ia menolehkan pandangannya. Sebelah alisnya terangkat melihat wanita itu.


"Mas, gimana istrinya kemarin? Sudah dilaporkan belum?" tanyanya.


Aldo mengerutkan kening. Melaporkan siapa? Memang ada apa dengan Yani? batinnya.


"Saya yang kemarin menolong istri Anda. Saya lupa memberikan rekaman ini. Saya sengaja merekamnya sebagai bukti." Wanita itu menyodorkan ponselnya.


Aldo mengeluarkan sebelah tangannya dari saku celana. Ia mengambil ponsel itu dan melihat Riana yang diperlakukan dengan kasar.

__ADS_1


Aldo tersenyum miring. Ia rasa, sudah saatnya membalas orang yang menyakiti keluarganya.


"Ah, terima kasih ya, Mba. Saya kemarin mencari Anda. Sayangnya, kita tidak bertemu."


"Gak apa, Mas. Apa perlu saya ikut bersaksi?" tanya wanita itu.


"Oh, tentu saja. Ayo, ikut saya!"


Keduanya berjalan beriringan. Aldo akan meneruskan laporan yang Aldi buat kemarin. Wanita bersama Saskia itu, harus di beri pelajaran.


Aldo segera masuk dan memproses masalah itu. Untungnya, hasil visum Riana kemarin tidak dibawa.


"Ini semua bukti yang dibutuhkan untuk memproses laporan adik saya kemarin." Aldo menyodorkan berkas yang sebelumnya sudah mereka persiapkan untuk melaporkan Saskia.


Pihak berwajib itu pun mengambilnya dan membuka lembaran demi lembaran.


"Baik, Pak. Akan segera kami proses. Mohon maaf, apa korban tidak ikut?" tanya polisi itu.


"Oh, dia sudah kembali ke Paris beberapa jam yang lalu. Ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan." Aldo menjawab dengan penuh keyakinan.


Polisi itu pun mengangguk dan mulai mencatat semua keterangan dari saksi. Setelah dirasa cukup, ia mempersilahkan Aldo untuk menandatangi berkas itu.


Tanpa pikir panjang, Aldo menandatanganinya. Ia tersenyum puas.


*****


Beberapa hari kemudian, kabar penangkapan putri dari seorang pengusaha pun santer terdengar.


Aldi dan Riana yang mulai disibukkan, tidak mengetahuinya. Hingga ponsel Aldi terus berdering pagi itu.


Aldi yang merasa terganggu pun bangun dan melihat notifikasi telepon. Ia mengerutkan dahinya membaca berita yang Aldo kirimkan.


Tak lama, senyumnya mengembang. Ia sungguh sangat berterimakasih pada dukungan saudara kembarnya itu. Kembali ia berbaring dan mendekap Riana erat.


*****


pagi genks....


buat yang nanya kenapa Riana lemah, jawabannya, dia terkena serangan mental.


Jadi, buat kalian yang sering banget bicara kasar pada teman atau orang lain, hati-hati ya. Kita gak tahu, seberapa kuat mental seseorang dalam menerima hujatan atau makian kita.


Saat mental seseorang down, maka rasa percaya dirinya akan musnah dalam sekejap. Dia akan merasa dirinya tidak berharga dan akan menjauhkan diri dari lingkungan pertemanan.


Ini salah satu gejala depresi. Plis, jaga ucapan kalian pada siapa pun. ingat, setiap ucapan kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti.


untuk laporan ke kepolisian, jika bukti kurang Pelaku masih bisa mengelak. Apalagi, money talks ya.


Oke, sampai di sini dulu perjumpaan kita. bye semua. bye kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–


sambil nunggu aku up, mampir ke karya sahabat literasiku.




oke semua... bye....

__ADS_1


__ADS_2