
Malam semakin larut. Namun Riana tak jua mampu menutup matanya. Ingatannya kembali melayang pada ucapan ibu mertuanya, yang mengatakan jika Arkan hanya tengah bermain- main dengannya. Belum lagi ucapan Cecil yang mengatakan jika Arkan tak mencintai dirinya dan akan menceraikannya.
Riana membalik tubuhnya dan menatap Arkan yang kini sudah tertidur dengan lelap. Wajah Arkan terlihat damai dalam tidurnya. Riana menatap semua bagian wajah Arkan. Ia tersenyum kala mengingat kenangan manis yang beberapa waktu ini mereka lewati.
Perlahan, matanya mengantuk dan ia pun terlelap dengan wajah menghadap Arkan. Saat Riana benar-benar terlelap, Arkan membuka matanya perlahan. Tangan Arkan terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Riana. Ia menikmati debaran jantungnya yang menggila, kala menatap Riana.
Aku menyukai irama jantungku saat menatapmu. Aku menyukai tingkah konyol yang bisa ku lakukan di depan mu. Aku juga menyukai waktu yang ku habiskan bersama denganmu.
Perlahan, Arkan mencium kening Riana dan membawanya dalam pelukan. Ia pun kembali terlelap dalam buai mimpi. Mimpi yang hanya dirinya yang tahu.
*****
Tiga hari kemudian, Arkan mengantarkan Riana ke rumah sakit. Sejak kedatangan ibu mertuanya, Riana memilih menikmati setiap hal kecil yang Arkan lakukan untuknya.
"Mas, aku bisa loh pergi ke rumah sakit sendiri. Mas, kalau mau berangkat kerja, kerja saja."
"No. Aku akan tetap menemanimu. Tidak ada bantahan." Arkan segera menginterupsi ucapan Riana.
Riana pun tak lagi membantah dan mengikuti kemauan Arkan. Mereka segera pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Arkan dan Riana segera menuju ruangan dokter. Dokter membuka perban yang membalut kedua tangan Riana. Luka Riana sudah terlihat kering.
"Apa, masih terasa sakit jika digerakkan?" tanya dokter.
"Sedikit, dok."
"Tidak apa. Itu karena tidak digerakkan saja. Apalagi, beberapa hari ini jari Anda diperban. Sering-sering digerakkan saja ya." Riana mengangguk.
"Baik, dok. Kalau begitu, kami permisi."
"Iya, silahkan."
Arkan dan Riana pun meninggalkan ruangan dokter. Arkan dan Riana pun saling melempar senyuman.
Setelah mengantarkan Riana pulang, Arkan baru berangkat bekerja. Riana mulai menggerakkan tangannya secara perlahan.
Bunyi telepon mengalihkan perhatian Riana. Ia mengambil ponselnya dan melihat sebuah nomor baru di sana. Riana tidak mengangkatnya.
Kembali ponsel Riana berbunyi. Masih dari nomor yang sebelumnya. Riana pun memutuskan mengangkatnya.
"Aku ingin bertemu denganmu."
Suara itu membuat Riana mengerutkan dahinya dalam. Ia merasa mengenal suara itu.
"Ini, siapa?" tak ingin hanya menduga, membuat Riana langsung mempertanyakannya.
"Cecil."
Dugaan Riana ternyata benar. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu."
Riana baru akan menutup panggilan tersebut, saat telinganya mendengar ucapan yang sangat mengejutkan dari Cecil.
__ADS_1
"Aku hamil. Anak Arkan."
Bak tersambar petir yang dahsyat, Riana terdiam. Lidahnya terasa kelu dan tak bisa ia gerakkan. Cecil pun turut larut dalam keheningan.
"Apa kau yakin itu anak mas Arkan?" tanya Riana dengan suara bergetar setelah hampir lima menit mereka terdiam.
"Kau pikir aku j****g yang menyodorkan tubuhku pada pria lain? Tolong kau gunakan sedikit otakmu untuk berpikir. Tidak ada gunanya aku menjebak Arkan." Cecil terdengar sangat marah.
Cecil pun memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Riana tak mampu berkata-kata. Apakah ia harus mempercayai Cecil atau Arkan? Kenapa disaat hubungan mereka membaik, ada saja cobaan yang menerpanya. Riana tak habis pikir.
*****
Malam hari Arkan kembali dan melihat Riana duduk termenung di ruang tamu. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Arkan sedikit pun. Arkan menyentuh pundaknya. Riana tersentak kaget melihat Arkan.
"M-mas."
"Kamu, kenapa bengong di sini? Sudah makan?"
"Sudah, mas. Mas mau makan?"
"Aku bisa melakukannya sendiri." Arkan kembali menatap wajah Riana. Ia merasa ada yang berbeda dari wajah Riana. Bahkan Riana memilih tak melihatnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya.
"Apa? Tidak ada." Riana berbohong. Ia mencoba tersenyum seperti biasa pada Arkan.
"Yakin?" Riana mengangguk.
"Aku belum mengantuk. Mas, mandi dan makan saja dulu." Arkan mengangguk dan berlalu.
Arkan berpikir, ada sesuatu yang disembunyikan Riana darinya. Namun, ia tidak tahu apa itu. Ia akan menanyakannya nanti.
Kini, keduanya sudah berada di kamar. Arkan kembali melihat Riana terdiam. Pikirannya entah berada dimana saat ini.
"Sayang," panggil Arkan.
"Kenapa mas? Mas butuh sesuatu?"
"Ceritakan padaku apa yang terjadi. Apa mami datang lagi ke sini dan memarahi mu?" Riana menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Apa Cecil mengganggu mu?"
Riana menatap Arkan. Haruskah ia memberitahu Arkan tentang kehamilan Cecil? Ia sendiri tidak yakin dengan hal itu.
"Mas, boleh aku bertanya?"
"Tanya lah."
"Apa, mas sering melakukan hubungan itu dengan Cecil?"
__ADS_1
"Hubungan?" Riana mengangguk.
"Hubungan apa?"
"Hubungan yang belum bisa aku berikan padamu."
Arkan mengerutkan alisnya dan terlihat berpikir. Seketika ia mengerti maksud Riana.
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya ingin memastikannya."
"Ya! Kami pernah melakukannya. Apa kau marah karena hal ini?" Riana menggeleng cepat.
"Tidak. Kau pasti melakukannya sebelum hubungan kita membaik."
"Kau benar. Tapi, aku tetap sudah mengkhianati pernikahan kita."
"Aku tidak apa. Sungguh. Tapi ...."
Arkan menoleh dan menatap wajah Riana. "Tapi apa?"
"Apa kalian menggunakan pengaman?"
Arkan terdiam. Ia sama sekali tidak bisa menjawabnya. Ia tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka saat itu.
"Apa dia menghubungimu dan mengatakan jika dia ...." Arkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Riana mengangguk lemah. Arkan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Kini, rasa bersalah menghantam jiwanya. Tidak ada yang bisa ia perbaiki kali ini. Semua sudah terjadi.
Riana meneteskan air matanya saat ucapan Cecil dan ibu mertuanya kembali terngiang bergantian dalam benaknya. Inikah akhir dari perjuangan cintanya? Ia tak mungkin membiarkan bayi itu hidup tanpa kehadiran ayahnya. Haruskah ia meminta perceraian, ataukah langsung menggugatnya? Riana terdiam.
"Aku tidak akan melepaskan mu."
Riana mendongak. Seharusnya ia senang mendengar kata-kata itu. Namun, mengingat nyawa anak yang tak bersalah itu, membuatnya tak bisa tersenyum.
"Kita belum memastikan kehamilannya. Ikutlah dengan ku."
"Oke. Kalau begitu, untuk saat ini kita harus tidur di kamar yang berbeda."
"Apa? Kenapa?"
"Aku butuh sendiri."
Tak menunggu jawaban lagi, Riana keluar dari kamar itu. Arkan tak mencegahnya sedikitpun. Riana memasuki kamarnya yang dulu dan mengunci pintu. Ia terduduk dan menangis perih di sana.
Ia begitu mencintai Arkan. Kenangan hampir dua bulan ini, silih berganti dalam ingatannya. Kini, semua akan berakhir. Ia menepuk dadanya yang terasa sesak. Hingga Riana merasa sulit bernafas.
Hujan pun turun membasahi bumi. Seolah ikut merasakan kepedihan hati Riana. Sepanjang malam, baik Riana maupun Arkan tenggelam dalam kegundahan mereka. Keduanya tak dapat memejamkan mata. Riana yang terus meneteskan air mata, sementara Arkan hanya menatap langit yang mencurahkan hujan.
*****
__ADS_1
Pagi genks... selamat beraktifitas.
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan 😘😘😘🤗🤗🤗💖💖💖