Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Kedatangan Cecil


__ADS_3

Dua minggu sudah hubungan Arkan dan Riana membaik. Selama itu pula, Rian tak pernah memperlihatkan batang hidungnya. Entah dimana ia berada saat ini.


Riana bahkan sudah berhenti dari pekerjaannya. Ia mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikannya. Arkan pun mendukung keputusan Riana.


Arkan bahkan mengantarkan Riana ke berbagi tes untuk masuk ke perguruan tinggi. Hubungan keduanya semakin hari semakin dekat. Arkan bahkan tak pernah lagi bertemu dengan Cecil.


Beberapa kali Cecil datang ke kantor Arkan. Namun, Arkan selalu menolak untuk menemuinya. Arkan selalu mempunyai berbagai alasan untuk tidak bertemu.


Cecil merasa sangat kesal. Ia memilih kembali pulang. Ia pun menuju lift dan menunggu. Tepat di saat lift terbuka, terlihat Riana melangkah keluar dengan percaya diri.


Cecil pun melampiaskan rasa kesalnya pada Riana. Ia mencekal lengan Riana dan mendorongnya kearah tangga darurat.


"Lepas!" Riana menghempaskan tangan Cecil yang mencengkeramnya. Ia menatap Cecil tajam.


"Maaf ya. Aku hanya tidak ingin kau merasa semakin terpuruk. Sudah beberapa hari ini, Arkan tidak ingin menemui siapapun. Aku yang kekasihnya saja, tidak ingin ditemui. Apalagi dirimu?"Cecil menertawakan Riana.


Riana tidak menggubris ucapan wanita itu. Ia memilih tetap menemui Arkan. Cecil mencibirnya. Ia ikut keluar dari sana. Riana terus berjalan menuju ruangan Arkan. Cecil tersenyum miring melihatnya.


Sedetik kemudian, wajahnya terlihat marah. Ia melihat Riana di izinkan masuk oleh asisten Arkan. Bahkan, tanpa menghubunginya lebih dulu. Malas berdebat, membuat Cecil memilih menunggu di loby.


*****


Sampai langit berubah jingga, Arkan ataupun Riana tak terlihat keluar. Cecil terus menunggu di sana. Lima belas menit kemudian, terlihat Arkan dan Riana berjalan bersama. Arkan bahkan menggandeng tangan Riana.


Rasa cemburu menguasai hati Cecil. Ia mendekati keduanya dan menampar pipi Arkan. Arkan terkejut. Seingatnya, ia sudah menyuruh Cecil pergi sejak siang tadi.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Riana.


"Bukan urusan mu." Cecil mendorong tubuh Riana, hingga Riana terjerembab.


Arkan menatap Cecil marah. Cecil tidak takut dengan tatapan itu. Ia membalas tatapan Arkan tak kalah tajam.


"Kau bilang kau tidak akan mencintainya, kau juga bilang akan menceraikannya. Tidak hanya itu. Kau bilang padaku, jika kau sangat mencintaiku. Tapi apa, kau bahkan berjalan dengan wanita s****n ini dengan mesranya. Kau tahu bagaimana rasanya? Sakit. Sangat sakit."


Tatapan Arkan tidak berubah. Arkan tak menjawab setiap ucapan Cecil. Air mata terlihat membasahi wajah cantiknya.


"Kenapa kau diam saja? Tidak bisakah kau menjawab setiap pertanyaan ku?" tanyanya sendu.


Cecil menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Riana merasa iba. Ia mencoba mendekati Cecil. Ia akan memeluk Cecil, saat Cecil menyadari kehadirannya dan kembali mendorongnya.


Riana terdorong dan menabrak vas bunga besar yang terpajang di dekat meja resepsionis. Mereka sedang berdiri di dekat sana. Vas itu pun hancur. Telapak tangan Riana bahkan terkena pecahan vas itu.

__ADS_1


"Riana," pekik Arkan.


"Kau!" Arkan menunjuk Cecil.


Nyali Cecil menciut melihat kemarahan Arkan. Namun, ia berusaha tetap berani. Bukan aku yang salah. Salahnya merebut kekasih ku. Salahnya yang tak bisa menjaga keseimbangan hingga terjatuh. Cecil terus menyalahkan Riana dalam hatinya.


"Aku akan bicara denganmu nanti."


Arkan mengangkat tubuh Riana. Ia tak mempedulikan pandangan orang yang berada di sekitarnya. Hadi pun mulai membereskan kekacauan yang terjadi.


*****


Arkan membawa Riana ke rumah sakit. Luka Riana segera dirawat oleh petugas kesehatan. Setelah memastikan tidak ada pecahan kaca yang menempel, dokter segera membersihkan luka itu dan menutupnya dengan kain kasa. Riana tak dapat beraktifitas normal dengan kondisi tangannya yang seperti itu.


"Mas, aku gak bisa ngapa-ngapain dong?"


"Tidak apa. Sementara ini, biar mbak Asih yang melakukan pekerjaan mu. mbak Asih juga yang akan membantumu mandi."


"Apa?"


"Apa aku salah? Memang, kau bisa membersihkan tubuhmu sendiri dengan kondisi tangan yang terbalut kanan dan kiri?" Riana menggeleng.


Kedua mata riana membola mendengar ucapan Arkan. Ia langsung menggeleng kuat menolak rencana Arkan.


"Kalau begitu, biarkan mbak Asih yang melakukannya."


"Iya, mas."


Pada akhirnya, Riana menuruti ucapan Arkan. Mereka segera pulang. Arkan menuntun langkah Riana.


Tiba di rumah, mereka menuju kamar. Arkan segera memanggil Mbak Asih untuk membantu Riana. mbak Asih mengerti dan menuruti semua perintah dari Arkan.


"Aku pergi dulu. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Cecil. Atau dia akan terus mengganggu kita."


"Mas, yakin? Apa dia tidak akan melakukan hal yang macam-macam?"


Arkan mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut yang menjuntai keluar ke belakang kupingnya.


"Tenang saja. Aku hanya ingin kita hidup harmonis tanpa gangguan dari siapa pun."


Riana tersenyum mendengar ucapan Arkan. Ia pun menganggukkan kepalanya setuju. Arkan benar, mereka harus menyelesaikan semua masalah mereka sampai tuntas. Setelah mendapat izin dari Riana, Arkan mengecup keningnya dan berpamitan.

__ADS_1


*****


Disebuah apartemen mewah milik Cecil. Wanita itu tengah menenggak banyak minuman keras. Rasa sakit hati yang memenuhi rongga dadanya, membuatnya melarikan diri pada minuman.


Baru saja Arkan pergi. Arkan menegaskan padanya, jika hubungan mereka berakhir. Ia tak dapat melanjutkan hubungan mereka. Arkan mengakui, jika dirinya kini sudah mencintai Riana.


frustasi atas kegagalan cintanya yang kedua, membuat Cecil meminum semua minuman itu. Pandangannya bahkan sudah mengabur. Membuatnya tak lagi dapat melihat dengan jelas.


*****


Arkan baru saja sampai di rumah. Riana sudah tertidur. Mungkin, reaksi obat tersebut membuatnya mengantuk. Arkan pun membersihkan tubuhnya. Selesai dengan ritual itu, Arkan merebahkan diri di samping Riana dan terlelap.


Keesokkan harinya, Arkan bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk Riana. Ia membawanya ke kamar mereka.


Riana masih tertidur pulas. Arkan membangunkannya dengan lembut. Perlahan, Riana membuka matanya.


"Loh, mas udah bangun?"


Riana ingin duduk. Ia lupa, jika kedua tangannya terluka. Ia meringis kesakitan.


"Pelan-pelan dong."


Riana tersenyum. "Maaf, mas. Aku lupa."


"Makan ya, aku suapin." Riana mengangguk.


Arkan pun menyuapi Riana. Setelah selesai, Arkan juga membantu Riana minum obat. Tujuannya, agar luka tersebut tidak terlalu sakit dan cepat kering.


"Aku mandi dulu ya. Kamu, gak masalahkan aku tinggal kerja?"


"Enggak, mas. Mas berangkat aja."


Arkan mengacak rambut Riana. Kemudian ia masuk ke dalam bathroom. Setengah jam kemudian, ia sudah siap dengan setelan jas yang ia pilih sendiri.


"Aku berangkat, ya. Nanti, aku akan suruh mbak Asih membantu mu mandi ya."


Riana mengangguk. Ia cukup bahagia dengan perhatian Arkan. Tiba-tiba, ucapan Cecil terngiang di telinganya.


"Apa semua yang diucapkan Cecil itu benar? Jika benar, apa kami akan bercerai?" gumamnya.


Mbak Asih masuk dan membantu Riana. Pikiran Riana pun teralihkan untuk sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2