Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Rian menangis


__ADS_3

Mereka kini sudah berada di rumah. Riana memilih diam sepanjang jalan. Ia tak menanggapi sedikitpun ucapan Arkan. Sesekali, ia hanya akan mengangguk atau menggeleng.


Arkan sendiri terlihat bingung melihat sikap diam Riana. Riana yang biasa terlihat ceria, kini terlihat tak bersemangat sedikitpun. Ia membiarkan Riana beristirahat.


Arkan keluar dan kembali ke ruang kerjanya. Rian yang sedari tadi memperhatikan kakaknya, mulai memasuki kamar Riana.


Riana yang memang belum memejamkan matanya menoleh dan mendengus kesal. Tak bisakah dirinya beristirahat dan menjauh barang satu hari dari kedua kakak beradik ini? Ia merasa terus di usik. Rian yang menaruh rasa padanya, semakin membuatnya ingin menjauh.


Rian duduk di samping ranjang Riana. "Kalian darimana?" tanyanya.


"Jika kau sangat ingin tahu, tanyakan saja pada kakak mu." Riana membuang pandangannya.


"Sepertinya, sekarang kau membenci ku. Tidak apa. Aku tidak masalah. Aku akan buktikan, jika aku tulus mencintaimu." Rian beranjak meninggalkan kamar Riana.


"Lain kali, kau harus mengetuk pintu sebelum masuk. Sangat tidak sopan kau keluar masuk kamarku semau mu."


Rian tersenyum dan mengangguk. Tanpa berbalik lagi, ia menutup pintu kamar itu. Riana kesal melihat keduanya. Arkan yang terlihat memberi perhatian, tetapi tak pernah menganggapnya. Membuat Riana mengira, jika Arkan juga mencintainya. Namun, ia sadar jika Arkan hanya melakukan tanggung jawabnya tidak lebih.


Di sisi lain, ada Rian yang memberinya perhatian lebih, dan secara gamblang menyatakan perasaannya. Riana tidak mengerti. Sejujurnya, rasa cinta untuk Arkan tumbuh dengan sendirinya dalam hati dan pikirannya. Namun, ia tak bisa merubah cinta itu menjadi benci. Rasa untuk Rian tidak pernah ada sejak awal. Ia hanya menganggap Rian sebagai adik iparnya.


Jika saja ia bisa memilih, ia ingin melabuhkan hatinya pada Rian. Namun, hatinya telah menjatuhkan pilihan.


Ia menghela napas kasar. Kepalanya terasa berat memikirkan hal itu. Riana ingin berlari jauh dari kenyataan. Kembali ia berpikir, sampai kapan dirinya harus menghindari semua itu? Bukankah menghadapinya lebih baik?


"Kenapa aku harus terjebak diantara mereka? Menyebalkan sekali." Riana bergumam kesal.


*****


Sudah lima hari Riana berdiam diri di rumah. Kondisinya kini semakin membaik. Setiap hari, Devan akan datang melihat keadaannya. Setiap hari pula, Rian secara diam-diam mencium keningnya.

__ADS_1


Bukan Riana tidak mengetahuinya. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Namun, sejak Rian mengungkapkan perasaannya, Riana berubah menjadi dingin. Riana memilih bungkam dan tak menghiraukan semua perbuatan Rian.


Arkan pun mulai menaruh curiga. Tak urung, ia membiarkannya. Ia juga tak peduli, jika adik dan istrinya memiliki hubungan di belakangnya. Karena ia tahu, ia pun menyembunyikan hubungan lain di belakang istrinya.


*****


Pagi itu, Danu ayah dari Arkan dan Rian, memanggil keduanya. Ia menatap kedua anak laki-laki kebanggaannya bergantian. Sayangnya, kedua mengecewakan dirinya.


"Arkan, apa kau akan terus seperti ini?" Arkan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan ayahnya.


"Memangnya, aku kenapa?" Danu menghela napas lelah.


"Apa kau tidak bisa belajar mencintainya?" Arkan mengangkat sebelah alisnya. Kini, ia tahu arah pembicaraan mereka.


Rian tidak ikut campur dalam pembicaraan keduanya. Ia masih setia berdiam diri. Namun, saat ia mengerti maksud pertanyaan ayahnya, pandangannya terangkat.


Tanpa sadar, Rian mengepalkan tangannya erat saat mendengar ucapan ayah nya. Ada perasaan tak rela yang bercokol dalam dadanya.


"Dan kau Rian." Rian mengarahkan matanya pada sang ayah.


"Jangan dekati Riana!"


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyukainya? Apa hanya Arkan yang pantas kalian perhatikan sementara aku tidak? Apa hanya dia anak papi? Atau hanya karena sejak dulu aku membangkang kalian, kalian terus mencap ku sebagai sampah? Aku mencintainya dan aku akan memperjuangkannya. Aku akan merebut hatinya. Jika suatu saat Riana sendiri yang menjauhi ku, maka dengan senang hati aku akan menghilang dari pandangannya. Bukan hanya dari pandangannya. Bahkan, dari kehidupan kalian pun aku akan pergi."


Rian mengungkapkan semua kemarahannya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa berpaling. Hatinya terasa amat sakit mendengar peringatan dari ayahnya sendiri.


Arkan terdiam. Bagaimanapun, Rian adalah adiknya juga. Dia juga berhak bahagia. Saat ini, dalam keadaan sadar Arkan berjanji dalam hatinya, untuk mendekatkan Rian dengan Riana.


Meski tanpa Arkan sadari, hatinya akan ikut terluka. Karena ia belum menyadari rasa cinta yang mulia bertunas dalam hatinya.

__ADS_1


Danu memijit pelipisnya. Ia merasa amat bersalah pada putra keduanya itu. Arkan dan Rian memang memiliki sifat yang berbeda. Arkan yang tertutup, sedangkan Rian yang dengan terang-terangan berani menyatakan pendapatnya. Jika suka, ia akan mengatakan suka. Jika tidak, ia akan katakan tidak.


Hanya karena Rian dengan terang-terangan menyingkirkan kekasih Arkan yang bernama Cecil dulu, Rian harus menanggung akibat hingga belasan tahun. Entah sampai kapan, dia harus merasakan kepahitan hidup.


Rian menangis di dalam kamarnya saat ia tiba di rumah. Ia menahan sesak di dadanya. Dia tak ingin terlihat lemah di mata siapa pun.


Riana berniat mengambil buah dari ruang makan. Ia membuka pintu dan mendengar isak tangis. Riana mencari asal suara dan menemukan asal suara itu.


Suasana rumah itu memang selalu sepi. Hingga ia mampu mendengar hal sekecil apapun yang terjadi. Ia membuka perlahan kamar Rian.


Sepertinya Rian tak menyadari keberadaan Riana. Rian menangis diantara kedua lututnya. Tangisnya terasa sangat menyayat hati.


Hati Riana ikut merasa pedih mendengar tangis pria itu. Ia mendekatinya dan menepuk pundaknya.


Rian terkejut saat meresahkan tepukan di pundaknya. Ia mendongak dan mendapati Rian yang tengah menatapnya. Rian menghapus kasar air matanya dan membuang pandangannya. Ia berusaha mengendalikan kesedihannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Riana.


Rian terdiam. Ia merasa malu memperlihatkan kelemahannya. Apalagi, dihadapan wanita yang dicintainya.


Riana duduk di samping Rian. Dia siap mendengarkan semua cerita pria itu. Namun, setelah beberapa menit, Rian tak kunjung bicara.


"Aku minta maaf karena aku menjauhi mu. Tapi, aku tidak ingin memberimu harapan palsu." Riana pikir, Rian bersedih karena sikapnya yang menjauhi pria itu hingga ia bicara lebih dulu.


"Bukan karena dirimu. Tapi, jika aku boleh minta, tolong jangan jauhi aku. Aku tahu, kau sudah jatuh hati pada kakakku." wajah Riana bersemu merah mendengar ucapan Rian.


"Aku tidak akan memaksamu untuk berpaling darinya. Hanya saja, tolong beri aku kesempatan untuk dekat denganmu. Jika suatu saat nanti kau tetap memilih kakakku, aku akan menjauhi mu."


Riana menatap dalam ke mata Arkan. Seandainya ia di jodohkan dengan Rian, mungkin Riana akan sangat mudah jatuh hati padanya. Mungkin juga, kini rumah tangga mereka akan harmonis.

__ADS_1


__ADS_2