Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAM) Riana dan Rian


__ADS_3

Pintu ruangan Arkan terbuka. Terlihat ayah dan ibunya datang bersamaan. Arkan bersikap acuh dan tak peduli. Keduanya duduk di sofa.


Danu membiarkan Arkan melakukan pekerjaannya. Ia mulai mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Datang ke ruangan Arkan sekarang juga," ucapnya saat panggilan itu tersambung.


Tanpa basa-basi, Danu menutup telepon itu. Kemudian, mereka duduk dalam diam. Sesekali, Arkan akan melirik keduanya melalui ekor matanya.


Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya di ketuk. Arkan segera menyuruh orang itu masuk. Arkan melirik sebentar dan kembali fokus saat melihat adiknya yang datang.


Rian melangkah mendekati kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka. Arkan tetap tak peduli. Rian duduk di samping ibunya.


"Ada apa papi memanggilku?" tanyanya.


"Bukankah aku menyuruhmu menduduki jabatan manajer HRD? Kenapa kau justru bekerja di toko?" Rian terdiam.


Arkan mengangkat pandangannya pada sang ayah. "Bekerja di toko?" tanya Arkan.


Danu hanya menganggukkan kepalanya. Sementara itu, Rian bersikap biasa saja. Arkan mengalihkan pandangannya pada Rian.


"Apa kau sengaja mendekati Riana?" tanya Arkan lagi. Kini, ia berjalan mendekati sofa dan duduk dihadapan Rian.


"Jangan berspekulasi sendiri. Kau tidak mengenal siapa aku," ucap Rian tegas. Mata keduanya saling menantang.


"Hentikan! Apa kalian tidak bisa akur sebentar saja? Setiap kali kalian bertemu, kalian selalu saja meributkan sesuatu." Rian membuang pandangannya. Begitupun dengan Arkan.


Veni hanya diam. Ia tidak tahu harus membela siapa. Keduanya adalah putranya yang sangat ia cintai. Namun, entah sejak kapan mereka saling cemburu dan mulai bermusuhan. Selama ini, Veni sibuk dengan teman-teman sosialitanya. Tanpa tahu, apa yang terjadi diantara kedua anaknya.


"Arkan, Rian, kalian sudah dewasa, tidak bisa kah kalian berpikir dewasa juga? Mami tidak pernah tahu apa yang membuat kalian berdua ribut seperti ini." Veni mendengus kesal.


"Karena kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri," sela Danu.


Veni kembali terdiam. Kata-kata Danu sungguh menusuk tepat di ulu hatinya. Ia tak lagi mampu membalas atau sekedar mengelak ucapan suaminya itu. Ia menyadari kesalahannya itu.


Mungkin, itu juga yang menjadi pertimbangan Danu untuk menikahkan Arkan dengan wanita dari kalangan biasa. Yang tidak mengenal kelas sosial dan cenderung betah berada di rumah, hingga anak-anak mereka bisa terpantau dengan baik. Bahkan, memiliki hubungan yang erat dengan sang ibu.


"Aku tidak suka bekerja di tempat dan posisi seperti itu. Papi tahu itukan?" ucap Rian.


Danu mengangguk. "Baiklah, lakukan apa yang kau mau," putus Danu.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak membuka toko untuk kau kelola sendiri?" tanya Arkan ketus.


"Belum menemukan yang cocok saja. Aku juga harus tahu, dimana passion ku, hal apa yang membangkitkan minatku, dan lain sebagainya. Tidak mungkin aku asal menjalankan toko, jika nyatanya aku tidak tahu apa pun tentang produk yang ku jual itukan?"


Arkan memilih kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda. Ia sudah mulai malas mendebat adiknya. Seakan, Rian memiliki banyak jawaban dalam pikirannya.


"Kalau tidak ada hal lain lagi, aku mau kembali bekerja," pamit Rian.


Rian bangkit berdiri dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Ia kembali ke tempatnya bekerja.


"Arkan, apa kau akan terus bersikap dingin pada Riana? Kau tahu kan, papi selalu mengawasi mu?" Arkan menatap ayahnya.


"Tunggu sampai aku siap," jawab Arkan.


Danu mendengus kesal. Namun, tak urung membiarkan Arkan melakukan kemauannya. Ia dan Veni pun memilih kembali.


*****


Riana tengah membuat bon saat Rian kembali. Ia hanya melirik Rian dengan ekor matanya. Yani pun melakukan hal yang sama. Setelah Riana selesai dengan p*******nnya, ia menuju depan tokonya dan mengambil makanan.


"Rian," panggilnya.


Rian yang tengah memajang handset itu pun mendekatinya. "Kenapa kak?" tanyanya.


"Makan dulu," jawab Riana.


"Aku kan lagi kerja," ucapnya.


"Sudah, makan dulu. Biar aku yang teruskan," titah Riana.


"Iya, kak."


Rian pun menuruti perintah Riana dan membuka Styrofoam tersebut. Ia melihat nasi dan lauk pauk serta sayuran di dalamnya.


Wah, dia perhatian juga. Sayang, dia malah nikah sama kak Arkan yang gak akan mungkin tahu terimakasih, gumamnya dalam hati.


Rian mulai memakan makanan pemberian Riana tadi sambil memperhatikan gerakan Riana. Sesekali, ia akan tersenyum melihat tawa Riana saat bicara pada costumer atau Yani sahabatnya. Ia terkejut saat melihat seorang pria yang berwajah oriental.


Siapa dia? Kenapa mereka terlihat dekat? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Ia melihat sikap Edy yang berbeda pada Riana. Pria itu, bahkan berani mengusap rambut Riana. Ada rasa tidak rela yang mulai menjalar di hatinya. Rian mempercepat makannya hingga tersedak.


Yani yang kebetulan berada di dekatnya terkejut. Ia mengulurkan segelas air mineral pada Rian.


"Makannya pelan-pelan aja. Gak ada yang minta," ucap Yani.


"Lo, tahu siapa cowok itu?" tanya Rian.


"Oh, ko Edy? Dia karyawan Koko juga. Tapi, beda toko dengan kita. Mungkin dia mau ambil barang atau tukar receh. Biasanya begitu," terang Yani seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kok dekat banget sama kak Riana?" tanyanya lagi. Yani terkejut.


"Lo, manggil Riana kakak, kenapa sama gua gak?" protes Yani. Yani sengaja mengalihkan pertanyaan Rian.


"Kita seumuran. Lagian, kalau Riana bukan kakak ipar gua, udah gua panggil nama dari kemarin," jawab Rian kesal.


"Terserah Lo deh," ucap Yani.


Ia memilih tak menjawab pertanyaan Rian. Yani takut, jika Rian mengawasi Riana atas perintah Arkan mengingat kedua pria tampan itu memiliki ikatan persaudaraan.


"Jadi, kenapa mereka bisa sedekat itu?" Yani meneguk salivanya sulit.


Yani pikir, Rian sudah melupakan pertanyaan itu. Ia menenggak satu gelas air putih hingga tandas. Meremas kertas nasi bekas makannya tadi sambil berpikir, jawaban apa yang harus ia beritahu pada Rian.


"Ko Edy, sudah seperti kakak bagi Riana. Begitu juga sebaliknya." Rian menganggukkan kepala mengerti.


"Udah, balik kerja," titah Yani.


"Oke senior."


Saat pulang, Rian mengajak Riana pulang bersama. Riana menolaknya. Rian tak patah semangat, ia terus mencobanya.


"Baiklah. Ini yang terakhir."


Rian tersenyum dan membukakan pintu penumpang bagian depan. Rian pun segera melajukan mobilnya menuju rumah. Seperti biasa, hanya akan ada keheningan diantara mereka.


"Kakak kenapa terlihat tidak suka aku membawa mobil ini?" tanya Rian. Ia memutuskan memecah keheningan diantara mereka.


"Tidak pantas aja. Lagi pula, aku hanya karyawan biasa. Jadi, aku lebih suka naik ojek online atau bus."

__ADS_1


Rian mengangguk mengerti. Masuk akal menurut Rian. Mana ada, karyawan toko biasa membawa mobil pribadi? Mewah pula. Jika dia pemilik toko, itu wajar saja terjadi.


Baiklah, mulai besok aku akan naik angkutan umum saja, putusnya dalam hati.


__ADS_2