
Rasa rindu yang memenuhi hati Arkan membuatnya tak ingin melepas Riana saat melihatnya. Namun, Riana yang memberontak memaksa Arkan melepaskannya. Ia tak ingin Riana membencinya.
Riana membuang pandangannya dari Arkan. Arkan menggenggam jemari Riana erat. Matanya menatap Riana lembut.
"Kenapa kau pergi begitu saja? Apa aku sudah tak berarti lagi bagimu?" wajah Arkan terlihat sendu.
Riana tak ingin keluarganya mendengar pertengkaran mereka. Ia menarik Arkan ke tempat lain. Ia mulai menarik napas dalam dan menatap Arkan.
"Apa aku harus bertahan di sana? Sampai kapan? Sampai kalian menikmati hari menjadi orang tua?" air mata Riana menetes deras saat mengucapkan kata demi kata itu.
"Bukan begitu, Sayang." Arkan meraih Riana kedalam peluknya. Namun, Riana lebih dulu menolaknya.
"Aku sudah jatuh cinta padamu. Maaf, karena aku terlambat menyadarinya. Maaf, karena kau harus terluka karenanya. Maaf, karena keb*****n ku membuat mu semakin terluka lebih dalam."
Riana menatap mata Arkan dalam. Ia melihat ketulusan di sana. Terbersit rasa ingin kembali pada Arkan dan memulai semuanya kembali dari awal. Namun, bayangan Cecil melintas di pelupuk matanya.
"Apa mas tahu level tertinggi dari mencintai?" Arkan terdiam dan menunggu Riana melanjutkan ucapannya.
"Melepaskan. Jika mas memang mencintaiku, lepaskan aku. Mulai lah kehidupan yang baru dengan Cecil. Bangun keluarga kalian dengan baik. Jika kau pernah menyakitiku, jangan sakiti Cecil. Bayi dalam kandungannya adalah buah cinta kalian. Jangan katakan jika kau melakukannya tanpa cinta. Anak dalam kandungan Cecil akan terluka."
Arkan tak mampu menjawab semua ucapan Riana. Mendengar kata melepaskan, membuatnya semakin takut. Namun, Arkan tak mampu menyanggah ucapan Riana.
"Beri aku satu kesempatan!" ujar arkan
"Kesempatan apa, maksud mas? Semua sudah selesai mas. Please, jangan lagi kamu mempersulitnya."
"Dengarkan aku dulu!" Riana merapatkan bibirnya.
"Aku sedang menyelidikinya. Jika sampai bayi itu bukan anakku, Aku pastikan mereka keluar dari hidupku."
"Lalu, jika hasil penyelidikan mu membuahkan hasil dan memang benar bayi itu anakmu, sementara aku masih di sana, apa kau pikir hatiku tidak akan semakin hancur? Atau kau ingin berpoligami? Tidak mas. Aku tidak mau mengorbankan hatiku hanya untuk hal konyol seperti itu. Pergilah mas! Tolong secepatnya urus perceraian kita. Jika kau tidak mau, aku yang akan mengurusnya."
Riana menahan laju air mata yang sudah akan tumpah dari kedua sudut matanya. Arkan yang mendengar semua ucapan Riana terkekeh.
"Jadi, kau hanya mencintaiku sebesar ini. Tidak lebih dari seujung kuku ku sedikit pun."
Riana menatap Arkan tajam. "Terserah apa yang ingin kau katakan. Cukup aku yang tahu sebesar apa rasa cinta ku padamu. Sekarang, pergilah."
Riana berbalik dan akan kembali ke rumahnya. Arkan mengetatkan rahangnya melihat hal itu. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya.
*****
Riana kembali terpuruk. Ia menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Air matanya mengalir deras menumpahkan rasa sakit dan sesak di dadanya.
Rizky baru saja masuk dan mendengar suara isak tangis dari kamar kakaknya. Ia mencoba membuka pintu. Namun, ia tak bisa membukanya.
Rizky mengetuknya perlahan. "Kak," panggilnya.
Riana yang mendengar suara Rizky segera menormalkan suaranya serta menghapus air matanya dengan kasar. Ia mengambil tisu basah dan mengusap jejak air mata dari pipinya.
Setelah memastikan ia baik-baik saja, ia membukakan pintu. Rizky segera menatap mata kakaknya dan menyelidikinya.
__ADS_1
"Kakak kenapa?"
"Tidak apa. Tadi, nonton film sedih banget. Jadi nangis."
Kau bohong.
"Jangan kebanyakan nonton drama. Mata kakak sudah bengkak."
"Uuhh, adik kakak sudah besar rupanya."
Rizky melengos dan meninggalkan kakaknya. Ia tak ingin kakaknya tahu, jika dirinya tengah menahan amarah.
Riana menghela napas lega melihat Rizky tak menaruh curiga. Ia kembali masuk dan menyandarkan tubuhnya di belakang pintu.
*****
Malam hari terasa amat sepi. Dua insan yang terpisah jarak, memandang langit gelap yang sama. Arkan yang masih menunggu hasil penyelidikan orang suruhannya. Sementara Riana, tengah merenungi nasib pernikahannya yang kini berada di ujung kehancuran.
"Riana."
Suara itu menyadarkan Riana dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya dan menemukan seorang pria yang sangat ia kenali.
"Aldi," lirihnya.
Pria yang selama ini selalu ada untuknya. Namun, mereka harus terpisah karena jarak. Air mata Riana menetes. Hampir saja dia berlari dan memeluk Aldi. Ia sadar, dirinya kini tak lagi sendiri. Riana pun mengurungkan niatnya.
Aldi mendekat dan duduk di samping Riana. Menatap kedalam mata Riana. Mata yang selama ini ia rindukan. Mata yang selalu membawa ketenangan dalam hatinya.
"Aku kembali." Riana mengangguk.
"Apa kau tidak ingin memeluk ku?" kembali ia mengangguk.
"Lalu?"
"Statusku," lirihnya.
"Karena kau sudah menikah?" Riana kembali mengangguk.
"Ikutlah bersama ku. Ibu pasti setuju."
Riana menghapus air matanya dan menatap Aldi. "Bagaimana kabar ibu?"
"Ibu bilang, dia kangen sama kamu." Riana terkekeh.
"Gak percaya?"
"Percaya. Kenapa hanya Aldo yang di sini?"
"Karena Aldo sedang merintis usaha yang dia dirikan sejak SMA. Dia tidak menginginkan perusahaan ayah."
"Ah, maaf. Aku baru ingat ayah sudah berpulang."
"Tidak apa. Kau pasti sedang bersedih?"
__ADS_1
"Aldo pasti sudah memberitahu mu." Aldi mengangguk.
"Butuh bantuan?" Riana menggeleng.
"Jika aku butuh, aku akan menghubungi mu." Aldi tersenyum.
*****
Keesokkan harinya, Aldi kembali menemui Riana. Keluarga Riana memang sudah mengenal Aldi. Rizky pun sangat mengenal Aldi.
Aldi yang mengetahui kesedihan Riana sengaja datang dan mengajak Riana ke tempat favoritnya. Riana melupakan sedikit permasalahannya. Ia menikmati hari itu dengan kebahagiaan.
"Aku senang melihat wajah ceriamu lagi."
"Aku jadi lebih cantik ya?" Riana memiringkan kepalanya menatap Aldi.
Aldi terkekeh mendengar ucapan Riana. Ia mengacak rambutnya dan menggamit jemari Riana. Sejenak Riana lupa akan statusnya sebagai seorang wanita yang sudah menikah.
"Wah, ternyata pemikiran ku cukup tepat. Melihat mu bersama pria lain sudah cukup menjadi bukti, kalau kau adalah wanita m*****n. Lebih tepatnya, penggoda."
Riana tertegun melihat keberadaan Veni di sana. Ia segera menarik tangannya yang di genggam oleh Aldi.
Aldi mengepalkan tangannya erat mendengar ucapan wanita paruh baya di depannya ini. Ia memang tidak mengenalnya. Namun, tidak bisakah wanita itu menjaga lisannya dihadapan banyak orang?
"Nyonya, sepertinya Anda adalah orang yang berpendidikan tinggi. Sayangnya, Anda tak bisa menjaga lisan Anda. Mungkin, ada baiknya Anda mengikuti kelas kepribadian. Permisi!"
Aldi menarik pergelangan tangan Riana dan pergi dari sana. Wajah Veni memadam setelah mendengar ucapan Aldi yang ditujukan padanya. Secara tidak langsung, Aldi telah menghinanya.
"K****g ajar. Lihat saja nanti. Akan ku pastikan kau dan anakku bercerai," gumam Veni.
Entah apa alasan Veni tak menyukai Riana. Riana bahkan tak pernah membuat masalah dengannya.
"Dia siapa?" tanya Aldi. Kini mereka sudah berada di area parkir.
"Ibu mertuaku," lirih Riana. Riana menundukkan pandangannya dari Aldi. Ia merasa malu pada teman sekaligus pria yang pernah ada di hatinya.
"Sudah, jangan sedih lagi. Aku selalu ada untukmu." Aldi mengusap rambut Riana sayang.
Riana tersenyum pada Aldi. Aldi selalu saja bisa menghiburnya. Dia bagai obat penawar dalam kesesakan yang menghimpit Riana.
*****
Maaf kesorean up nya. aku abis antar anak vaksin. maklum ya, mak-emakπ€
oke kesayangan. ini promo hari iniπππ
oh iya genks. masuk ke grup FB aku yuk.
__ADS_1
ada apa aja di sana?? yang pasti, kalian bisa menemukan novel keren lainnya. banyak penulis hebat lainnya yang juga merekomendasikan karyanya di sana.
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan π€π€π€ππππππ