Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Sungai Seine


__ADS_3

Bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kau cintai tergeletak lemah? Sedih bukan? Itulah yang kini tengah Aldi rasakan. Melihat Riana tak berdaya, membuatnya ingin menangis.


Kania, ibunya, bahkan membantu Aldi merawat Riana. Sejak pulang kemarin sore, Riana sudah demam tinggi. Aldi bahkan harus mengangkatnya dari mobil karena Riana tak lagi memiliki tenaga untuk berjalan.


Sejak semalam juga, Aldi selalu berada di sisi Riana. Aldi bahkan mengorbankan waktu kuliahnya untuk menjaga Riana. Ia menjalankan pekerjaannya dari rumah.


Aldi tengah fokus dengan laptop di pangkuannya saat Riana mulai menggerakkan tubuhnya. Demamnya sudah turun sejak pagi tadi.


Perlahan, Riana membuka matanya dan melihat Aldi di sana. Aldi meletakkan laptopnya dan memegang dahi Riana. Kemudian ia tersenyum. Riana bergerak ingin duduk. Aldi pun membantunya.


"Sudah enakkan?" tanya Aldi saat Riana sudah duduk. Riana mengangguk.


"Mau makan?" tanyanya lagi.


Riana menggeleng. "Minum aja."


Aldi mengambil gelas yang sebelumnya sudah ia isi dengan air hangat. Setelah kembali meletakkan gelas tersebut, ia menatap Riana lagi.


"Kamu, kenapa gak kuliah?" suara Riana terdengar lemah.


"Lagi libur. Tadi, teman aku kirim pesan. Dia bilang, dosen gak datang. Jadi, aku di rumah sama kamu saja."


"Terima kasih ya." Aldi mengangguk.


Riana memperhatikan wajah lelah Aldi. Ia mengangkat tangannya dan membelai lingkaran hitam di mata Aldi.


"Bohong! Kamu, begadang kan?"


"Gak kok. Kamu saja yang lagi sakit, jadi salah lihat," elak Aldi.


Kamu baik banget sih, Al. Seandainya dari awal kamu yang menikah dengan ku, mungkin hatiku tidak akan sehancur ini.


Setetes air mata jatuh dari sudut mata Riana. Aldi melihatnya. Ia mengangkat tangannya dan menghapusnya dengan ibu jari.


Riana menggenggam tangan Aldi yang ada di pipinya. Mata keduanya beradu pandang. Cukup lama mereka saling menatap.Riana mencoba menyelami mata itu.


Tanpa Riana sadari, jantung Aldi semakin berdetak dengan kencang. Kinerjanya semakin tak terkendali. Aldi lebih dulu memutus tatapannya.


"Apa kau menyukaiku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Riana.


Aldi menoleh cepat pada Riana. Ada kegembiraan yang ingin melompat dari dasar hatinya.


Apa dia sudah menyadarinya? Bisakah kami memulai hubungan kami, lebih dari sekedar sahabat?


Aldi tak menjawabnya. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia memberitahunya ataukah terus menyembunyikan perasaan itu?

__ADS_1


Dari balik pintu, Kania tersenyum. Ia menunggu putranya mengatakan isi hatinya sendiri.


"Di," panggil Riana.


"A-aku lupa. Aku punya tugas. Nanti aku ke sini lagi ya."


Aldi pergi dari kamar Riana. Wajah Riana terlihat kecewa. Ia memalingkannya dan menatap langit Prancis yang di guyur salju.


*****


Aldi terkejut melihat mamanya di depan pintu. Beliau terlihat melipat tangannya di perut. Alisnya terangkat tinggi dengan tatapan menantang. Aldi meneguk salivanya sulit.


"Mama, sejak kapan di sini?" tanya nya lirih, setelah menutup kamar Riana.


Kania menarik tangan Aldi ke kamarnya. Setelah memastikan pintu itu terkunci, Ia menjewer telinga Aldi sekuat tenaga.


Melihat kekuatannya, sepertinya Tania amat jengkel dan frustasi. Aldi sampai mengadu kesakitan karena perbuatan ibunya yang tidak kenal ampun.


"Adududuh ... ampun ma, ampun," ucapnya dengan nada mengiba.


"Kamu b***h atau apa sih? Kenapa gak sekalian kamu bilang iya?" ucapnya dengan nada gemas.


"Aku, takut ma." Kania menghembuskan napas kasar mendengar jawaban Aldi.


"Dengar, Nak! Kamu harus keluar dari zona ini. Jika kamu terus berada di zona yang sama, selamanya kamu tidak akan pernah tahu hasilnya. Saat Riana memelukmu dulu, apa kau bisa melihat kekhawatiran Riana?" Aldi mengangguk.


"Sekarang, apa yang membuat kamu ragu? Takut Riana membencimu?"


"Itu salah satunya, ma. Aku tidak kehilangan dia. Asal dia bisa di sampingku, aku sudah cukup senang."


"Tapi, sampai kapan, Nak. Riana harus tahu. Atau kau rela kehilangan dia lagi?"


Aldi menatap ibunya. Ia tahu, jika dirinya adalah seorang pecundang yang hanya berani mencintai dalam diam. Berlindung dalam ikatan persahabatan.


Pikirannya kembali melayang pada saat Riana menikah. Haruskah ia kembali kehilangan Riana? Aldi tenggelam dalam pikirannya.


"Pikirkan baik-baik. Jika, kau terus seperti ini, mana yakin, kau akan kehilangan Riana lagi. Jika, sampai itu terjadi, kemungkinan besar, Riana tidak akan pernah lagi berpaling pada mu." Kania melangkah keluar dari kamar yang Aldi tempati.


*****


Sepanjang musim dingin, kegiatan Riana dan Aldi tidak terlalu padat. Riana bahkan telah menguasai bahasa Prancis yang terus ia latih bersama Aldi.


Sampai detik ini, Aldi masih menyimpan rapat perasaannya pada Riana. Riana pun tak lagi menanyakannya. Meski sejujurnya, ia ingin tahu.


Musim dingin pun berganti. Bunga-bunga mulai bermekaran. Meski pagi hari suhu udara cukup dingin, tetapi di siang hari udara hampir sama dengan Indonesia.

__ADS_1


Ini adalah saat yang tepat bagi mereka berjalan-jalan. Sepulang kuliah, Aldi mengajak Riana melihat suasana menara Eiffel. Tempat itu, memang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.


Riana terlihat bahagia. Mereka mengelilingi semua tempat. Mengambil potret kebersamaan mereka di sana dan mengunggahnya di akun media sosial mereka.


Langkah mereka terhenti di teman dekat dengan sungai Seine. Menatap jernihnya air di sana.


"Bagaimana, apa kau senang." Riana mengangguk. Senyum itu terukir manis di wajahnya.


Dua insan yang masih menikmati sore itu, kini tengah menanti matahari tenggelam. Semburat merah di langit Paris mulai terlihat. Aldi menatapnya intens. Membuat Riana salah tingkah.


"Aku menyayangimu." Aldi mengucapkannya.


Ia sudah menimbang semuanya selama beberapa bulan terakhir. Kata-kata itu sukses membuat Riana menoleh tak percaya pada ria itu.


Aldi menarik pinggang Riana mendekatinya. Dengan sepenuh hati, ia mencium puncak kepala Riana. Riana menyunggingkan senyuman untuknya.



...with someone special...


Nun jauh di negara lain sana, ada seorang pria yang geram melihat kebersamaan mereka. Riana tidak pernah memposting sesuatu di akunnya. Terakhir kali, mungkin sekitar satu tahun yang lalu. Itu pun, ia memposting kebersamaan mereka dulu.


Siapa lagi, jika bukan Arkan. Pria itu seakan menjadi seorang stalker. Hampir seluruh kegiatan Riana ia pantau melalui media sosialnya. Sayangnya, Riana tak pernah mengunggah apa pun.


Ini, kali pertama Riana mengunggahnya. Arkan merasa geram. Ia meremas ponselnya kuat. Setelah terdiam beberapa saat, ia memutar nomor telepon seseorang.


"Aku tahu, kau terus mengikutinya. Dia ada di Paris kan?" ucapnya setelah teleponnya tersambung.


"..."


"Kembalilah. Aku akan membuat ibumu juga kembali. Dengan catatan, kau tidak boleh merampas Riana dariku. Jika itu terjadi, tidak hanya ibumu yang ku buang. Kau pun akan ku buang jauh."


Arkan segera memutus panggilannya. Kemarahan begitu kentara di wajahnya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.


*****


sore genks...


itu visual Aldi dan Riana ya🀭


ada yang bisa tebak siapa. ngomongΒ² Aldi gak pake sosmed ya. jadi, dia juga gak tahu masalah foto yang di upload Riana beserta tulisannya.


oke genks... promo selanjutnya...


__ADS_1


jangan lupa mampir yah...


sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan..πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2