
Satu minggu berlalu. Arkan masih setia dalam diamnya. Meski begitu, ia sudah mulai mau membuka mulutnya untuk makan. Sesekali, ia akan menjawab pertanyaan Yasmine. Meskipun hanya kata 'iya' atau 'tidak' yang keluar dari bibirnya.
Pagi ini, Yasmine mencoba membawa Arkan keluar untuk sekedar melihat taman di halaman belakang. Yasmine membantunya turun bersama kepala pelayan. Ini pun, atas perintah Rian.
Rian sendiri mulai disibukkan dengan rutinitas kantor. Sesekali, ia akan menghubungi Arkan melalui Yasmine.
Yasmine dan kepala pelayan mendudukkan Arkan di bangku taman yang terkena sinar matahari. Arkan menatap sekelilingnya.Tidak ada emosi yang terlihat di sana. Tatapannya datar dan tanpa ekspresi.
"Ini, rumah papi kan?" tanyanya tiba-tiba.
Yasmine dan kepala pelayan saling pandang. Sepertinya, Arkan mulai menampakkan kemajuan. Kepala pelayan mendekatinya dan berkata, "ya. Aden benar."
Arkan menganggukkan kepalanya lemah. Ia kembali menatap hamparan rumput yang menghijau, serta bunga yang di tanam di sana. Ingatannya kembali pada masa kecilnya yang sempat bahagia.
"Di dekat pohon itu, dulu papi mengangkat ku di pundaknya. Mengajak ku berlari dan mengitari bunga-bunga di sana. Mami bahkan membawakan buah-buahan dan menyuapi kami. Tapi semua berubah. Aku tidak tahu apa yang terjadi, hingga papi dan mami bertengkar hebat saat itu.
"Mereka bahkan tak menghiraukan kehadiranku. Saat mami akan melempar papi dengan vas, vas itu melenceng dan mengenai dahi ku." Yasmine dan kepala pelayan melihat Arkan menangis.
Yasmine dan kepala pelayan tak mampu menhan tetes air mata saat mendengar semua kisah pilu Arkan. Mereka hanya mampu menundukkan kepala dan menelan kesedihan mereka.Yasmine merekam semua ucapan Arkan dengan video. Sesuai dengan perintah Rian, yang mengatakan, jika Yasmine wajib melaporkan segala perubahan dalam diri Arkan. Baik itu emosi, ekspresi, ucapan, dan segala kegiatan yang Arkan lakukan. Kemudian, ia mengirimkannya pada Rian.
Rian pun mengirimkan video rekaman itu pada dokter pribadi keluarga mereka. Ia bahkan memilih pulang lebih cepat dari biasanya. Meeting penting yang harus dihadirinya pun, harus ia tunda. Saat ini, prioritasnya adalah Arkan dan ayahnya.
Tiba di rumah, ia bertanya pada pelayan, dimana Arkan berada. Setelah mengetahui tempat Arkan, ia segera menuju taman belakang. Ia berjalan perlahan mendekati Arkan. Rian memberikan kode kepada kepala pelayan dan Yasmine untuk meninggalkan Arkan.
Rian pun duduk di samping Arkan. Arkan menoleh sekilas dan tersenyum. Mereka pun terdiam menatap taman yang terhampar dihadapan mereka.
"Bagaimana perasaan kakak saat ini?" tanya Rian.
"Seperti yang kau lihat."
"Mau melihat papi?" Arkan menoleh dan terdiam seraya menatap adiknya. Tak lama, ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Rian memapah Arkan berjalan. Merangkul bahu kakaknya dan melangkah beriringan. Mereka masuk ke dalam kamar Danu Artajaya. Kondisi Danu memang sudah jauh lebih baik setelah kedatangan Arkan dan Rian. Kini, ia bisa duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Arkan," sapa Danu. Mata Danu di penuhi dengan cairan bening yang siap tertumpah. Ada kerinduan mendalam yang ia rasakan pada putranya. Ada rasa bersalah yang mencolok di dalam dadanya. Ada permintaan maaf yang selalu ia gumamkan dari bibirnya.
"Papi," lirih Arkan.
"Papi ingin memelukmu. Apa boleh?" Air mata itu tak lagi mampu bertahan. Runtuh sudah tembok keegoisan yang selama ini Danu pertahankan.
Arkan terdiam mematung mendengar ucapan papinya. Danu masih menanti. Tangannya masih terbentang lebar untuk menyambut putranya.
"Pergilah, kak! Kau merindukan pelukan papi kan?" Ucapan Rian membuat mata Arkan berkaca-kaca.
Perlahan Arkan mulai melangkah. Danu menarik putranya kedalam pelukan. Menumpahkan segala rasa sayang yang terhambat akibat kesalahan di masa lalu. Arkan hanyalah korban keegoisannya dan istrinya.
Rian ikut meneteskan air mata melihat kejadian itu. Untungnya, hanya mereka bertiga yang ada di sana. Jika tidak, bisa di pastikan mereka akan menanggung malu dihadapan para pelayan.
*****
Pagi hari yang cerah, menampakkan sinar mentari yang hangat. Rian bangun pagi sekali saat itu. Ia sengaja, menghubungi dokter yang menangani Arkan sejak awal mereka tiba. Melihat kondisi Arkan yang mulai membaik, membuat Rian optimis akan kesembuhannya.
"Sudah siap?" tanya Rian.
"Mau kemana?" tanya Arkan kembali.
"Kita periksakan kondisi kakak. Aku yakin, kakak akan kembali normal lagi."
Arkan tersenyum tulus. Senyum yang bahkan tidak pernah Rian lihat. Sedetik kemudian, Arkan menganggukkan kepalanya.
"Oke," jawabnya.
Mereka pun segera bersiap-siap dan segera menuju rumah sakit untuk bertemu dengan dokter yang menangani Arkan. Tiba di sana, Arkan sengaja menggunakan hoddie dan masker untuk menutupi wajahnya. Rian tak ingin mencoreng nama kakaknya, mengingat namanya yang cukup di kenal masyarakat.
__ADS_1
Sesi pengobatan pun di lakukan di ruangan tertutup. Dokter mulai menanyakan beberapa hal kecil pada Arkan. Rian dengan setia menunggu dirinya di sana. Melihat proses pengobatan yang Arkan jalani.
Beralih pada tahap berikutnya, dokter mulai melakukan hipnoterapi. Terapi ini di lakukan, agar Arkan menghadapi trauma yang tersimpan jauh di bawah alam sadarnya. Tujuannya, agar trauma itu lepas dan tak lagi muncul ke permukaan saat Arkan menghadapi pemicunya.
Saat inilah, Arkan sampai berteriak dan mengeluarkan semua kemarahan dan kebencian yang lama ia pendam. Hingga ia menangis, meraung dan memaki. Setelah ia sadar, ia merasakan kelelahan yang luar biasa.
Usai menjalani terapi, dokter mulai menurunkan dosis anti depresan yang Arkan konsumsi. Arkan masih membutuhkan waktu untuk lepas dari traumanya. Dokter menyarankan, agar Arkan tetap diajak berbicara dan terus melakukan konsultasi. Rian pun melakukannya sesuai dengan saran dokter.
*****
Enam bulan sudah Arkan menjalani pengobatan. Kondisi psikisnya mulai terkontrol dengan baik. Hubungannya dengan sang ayah pun mulai membaik. Bahkan, ia mulai meminta Mery tinggal bersama mereka.
Rian pun mulai membicarakan perbuatan Veni pada ayahnya. Danu tidak menyangka, jika Veni benar-benar menyerang putranya. Ada kemarahan yang terlintas di matanya. Namun, mengingat saudara kembarnya yang sudah berkorban untuknya, ia memaafkannya. Dengan syarat, semua kartu kredit yang Veni pegang, akan di blokir total. Sementara kartu debit, akan di kurangi jumlah pengiriman uang bulanan.
Veni tak bisa melawan ucapan Danu. Ia mengakui kesalahannya. Mendapatkan maaf saja ia sudah bersyukur. Ia tak ingin dimasukkan kedalam penjara. Sementara Dani, meminta maaf pada saudara kembarnya akibat ulah istrinya.
Yasmine pun mulai dibebas tugaskan dari mengurus Arkan. Ada kesedihan yang menyapa relung hatinya. Yasmine akui, ia merasakan ketertarikan pada Arkan. Entah apa yang membuatnya tertarik pada duda beranak satu itu. Yang Yasmine tahu, ia menyukai Arkan.
"Yasmine." suara itu membuat Yasmine menoleh kan pandangannya.
"Den, ada yang bisa saya bantu?" tanya Yasmine.
"Terimakasih," ucap Arkan. Ya, pria itu adalah Arkan.
"Untuk apa den?" tanya Yasmine.
"Karena kau sudah menemani dan menjagaku selama beberapa bulan ini," ucap Arkan.
"Oh, sama den," Yasmine menundukkan kepalanya. Kecanggungan pun tercipta di antara mereka.
*****
__ADS_1
Pagi genks.... bab Arkan selesai ya... mari kita lanjutkan bab Riana....
sampai jumpa di bab selanjutnya genks.... bye bye🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖