
Riana tiba di mall tempatnya bekerja. Ia menunggu lift terbuka seraya melihat jam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
Masih sempat ke kantor Mas Arkan sebentar.
Riana bergeser ke arah lift sebelahnya. Karena, diantara banyaknya lift yang berjejer disana, hanya lift itu lah yang bisa membawanya ke area kantor Arkan.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu lift itu. Karena lift itu memang dikhususkan bagi karyawan kantor. Lantai yang dituju pun, tidak sama dengan yang lain. Lift itu, hanya akan menuju ke lantai satu, dua, enam dan seterusnya ke atas. Sementara lift yang lain, akan menuju lantai satu hingga lima saja keatas.
Riana menekan angka sepuluh. Beberapa menit kemudian, ia tiba tepat di dekat ruangan Arkan. Baru saja ia keluar lift, ia harus menyaksikan Arkan bergandengan tangan mesra dengan kekasihnya yang ia bawa ke rumah mereka waktu itu.
Ia membulatkan tekadnya untuk meraih hati Arkan. Perlahan, ia mendekati mereka. Terdengar Arkan yang tertawa bersama wanita itu. Sudut hati Riana berdenyut perih melihatnya. Saat mereka bersama, Arkan tak pernah tertawa seperti itu. Tak pernah bersikap lembut, dan tak pernah memberikan perhatiannya.
"Mas."
Arkan dan Cecil menoleh. Cecil tersenyum miring pada Riana. Sementara Arkan mengubah wajahnya datar.
"Ada apa kau ke sini?"
Riana menyodorkan kotak makan yang dibuatnya tadi. Arkan melihat kotak itu dan Riana bergantian. Alisnya terangkat melihat sikap Riana yang berbeda.
Tidak biasanya. Ada apa ini?
Tangan Arkan menggapai kotak itu dan menyimpannya. "Sudah. Ada lagi?"
Riana menggelengkan kepalanya. Ia segera berbalik dan menuju lift yang tadi dinaikinya. Setelah kepergian Riana, Arkan membuka kotak makan itu dan mengerutkan alisnya melihat menu makanan yang tersaji.
"Apa itu, Sayang?" Arkan mengangkat bahunya acuh.
"Sini, biar aku coba." Cecil mengambil kotak makan itu dan mencicipinya.
"Enak loh, Sayang. Apa ini masakan pembantu kamu?"
Arkan pun memutuskan mencicipinya. Apa yang Cecil katakan memang benar, tetapi ini bukanlah masakan mbak Asih.
"Ini bukan masakan, Mbak Asih." Cecil menatapnya. Apa ini masakannya?
"Terus? Mana mungkin dia kan?"
Ah, benar juga. "Mungkin dia beli dan diletakkan di dalam sini."
Setelah memikirkannya, Arkan dan Cecil memakannya hingga tandas.
*****
Ditempat kerjanya, Riana memperhatikan sekeliling dan tidak menemukan Rian. Supervisor nya bahkan menanyakan keberadaan Rian padanya. Riana yang memang tidak mengetahuinya, menjawab dengan jawaban tidak tahu.
Hingga waktu pulang, tidak ada kabar yang terdengar dari Rian. Pria itu, bak hilang ditelan bumi. Riana mencoba menghubungi ponsel Rian. Sedikitpun tidak tersambung. Meski dengan aplikasi chatting sekalipun.
Rian kenapa ya? Aku harus melihat dia ke kamarnya nanti. Takutnya, dia sakit.
Riana melangkah cepat dan melupakan Yani dan Edy yang berjalan di belakangnya. Bahkan, mengabaikan teriakan mereka. Riana langsung menghentikan taksi yang lewat di depannya.
__ADS_1
Jika biasanya Riana akan mengirit luar biasa, kali ini ia tak melakukan itu. Ia mengkhawatirkan kondisi Rian. Bukan karena ia mulai menyukai pria itu. Namun, ia merasa Rian membutuhkan perhatian.
Tiba di rumah, ia mengabaikan mobil Arkan yang sudah terparkir cantik di halaman. Bahkan, Arkan sampai mengerutkan dahinya melihat Riana yang naik terburu-buru.
Arkan mengikuti langkah Riana. Seketika, ia mengerti tujuan Riana. Ia tersenyum miring saat melihat Riana mengetuk kamar yang Rian gunakan.
"Kau mencari dia?"
Riana menoleh mendengar pertanyaan itu. Saat itulah dia menyadari keberadaan Arkan. Ini adalah pertama kalinya Arkan kembali setelah pria itu bertengkar hebat dengan Rian.
"Mas, sudah kembali? Kapan mas pulang?"
"Sudah sejak tadi."
Riana mengabaikannya. Melihat itu, Arkan sedikit kesal. Riana yang tak mendapat jawaban dari dalam, memutuskan memutar kenop pintu kamar Rian. Ia khawatir, jika Rian sakit.
Kosong. Itu adalah pandangan pertamanya. Ia semakin memasuki kamar itu. Membuka kamar mandi dalam.
Tidak ada. Riana pun mengerti alasan Arkan kembali. Rian sudah tidak ada. Jadi, tidak ada alasan bagi Arkan untuk tidak kembali ke rumahnya. Riana menghembuskan napas kasar sebelum keluar dari sana.
Terlihat, Arkan yang tersenyum. Riana menatap datar wajah Arkan yang puas atas ketidakberadaan adiknya. Riana berjalan kembali ke kamarnya.
"Kenapa? Tidak menemukan kekasih mu?"
Riana menoleh. "Kekasih? Rian?" Arkan hanya menganggukkan kepalanya.
"Dia bukan kekasihku."
"Jadi apa? Teman tapi Mesra?"
Saat ia akan menutup pintu, Arkan menahannya.
"Apalagi mas?"
"Dengar! Apa kau sedang ingin mengambil perhatianku dengan cara mengirim makanan untuk ku?"
Kedua bola mata Riana berputar cepat. Ia menggigit bibirnya. Sepertinya, rencananya sudah tercium oleh Arkan.
"Diam, berarti benar. Kalau begitu, kau bisa memulainya. Pindah ke kamar ku malam ini juga."
Arkan meninggalkan Riana yang terpaku di sana. Riana jelas sangat terkejut mendengar ucapan Arkan.
Pindah ke kamarnya? Astaga...
"Riana cepat!" teriak Arkan.
Riana tersadar dan segera masuk ke kamar yang ditempatinya. Ia bergidik ngeri mendengar teriakan Arkan tadi. Segera Riana mengunci pintu kamarnya. Ia memilih membersihkan diri dan tidur.
Setengah jam Arkan menunggu, ia tak melihat kedatangan Riana. Bosan menunggu, membuatnya mendatangi kamar Riana.
"Rupanya kau takut? Baiklah."
__ADS_1
Arkan membiarkannya kali ini. Ia kembali ke kamarnya.
*****
Keesokan harinya, Riana memilih menghindari Arkan. Ia akan keluar dengan cara mengendap-endap. Saat tak melihat Arkan, ia segera pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat. Arkan melihatnya. Namun, ia tak mengejarnya. Pria itu membiarkan Riana pergi begitu saja.
Malam harinya, Riana kembali. Sama seperti pagi tadi, ia pun masuk dengan mengendap-endap. Tak melihat mobil Arkan, ia masuk dan menuju kamarnya.
Ia terkejut, saat tak bisa membuka pintu kamarnya. Dari belakang, sebuah tangan besar menariknya masuk ke kamar Arkan. Arkan tersenyum miring melihat Riana yang ketakutan. Pria itu segera mengunci kamar dan menyimpan kuncinya.
"Aku akan memberimu kesempatan untuk mendapatkan hatiku. Jadi, mulailah menjadi ISTRI yang baik." Arkan menekankan kata istri.
Riana meneguk salivanya dengan sulit. Ia mengerjapkan matanya cepat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Haruskah ia melayani Arkan sepatutnya?
"A-apa a-aku harus me-melayani mu?" Arkan mengangguk.
"Ca-caranya?"
"Kau bisa mencari tahunya sendiri."
Arkan meninggalkan Riana yang terpaku ditempatnya. Tentu saja, kunci kamar berada di tangannya.
Dengan segera, Riana mencari tahunya melalui simbah. Lagi-lagi, semua artikel yang di bacanya berhubungan dengan keintiman suami-istri.
Namun, ia mengingat cara mamanya melayani papanya. Mamanya akan menyiapkan pakaian ganti untuk papanya dulu. Selalu seperti itu saat pagi dan sore. Selain itu, menemani papanya makan di meja makan.
Mendengar suara gemericik air, membuat Riana segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Ia meletakkannya di ujung ranjang. Kemudian, ia duduk menunggu Arkan keluar.
Arkan keluar hanya dengan handuk yang melilit di bagian pinggangnya. Riana memekik dan segera menuju kamar mandi. Ia teringat, jika dirinya belum mengambil baju ganti.
"Astaga, aku belum ambil baju."
Riana kembali keluar dan membuka lemari. Tidak ada baju miliknya di sana. Ia menoleh pada Arkan yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Apa?" tanya Arkan tanpa menoleh.
"Aku mau ambil baju mas."
"Tidak usah pakai baju. Nanti juga akan di lepas."
Seketika, wajah Riana memadam mendengarnya.
*****
Nethink: Negatif thinking
Posthink: Positif thinking
Simbah: google
Beberapa kata yang ku pakai ya. Biar jelas aja maksudnya.
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan kembangnya genksπ€
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ