Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Syal


__ADS_3

Riana menutup pintu dan membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia merasa amat malu bertingkah layaknya ABG labil yang baru mengenal cinta.


"Astaga, malu banget aku. Masa aku langsung meluk Aldi tadi? Di depan Tante Kania lagi. Ya ampun. Tadi Aldi bilang apa? Aku cemburu? Kenapa? Apa aku harus cemburu? Sama siapa?" rentetan pertanyaan itu hanya bisa Riana pertanyakan pada dirinya.


Ia memegang jantungnya yang sejak tadi berdetak lebih cepat. Kenapa jantungku berdetak cepat? Aku gak lagi serangan jantung kan?


Riana menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia melakukannya beberapa kali. Berharap detak jantungnya segera bekerja dengan normal.


Tanpa Riana sadari, nama Arkan mulai tergeser secara perlahan. Terlebih, dengan pertemuan intens antara dirinya dan Aldi. Ia tersenyum saat kilas memori masa SMA nya terbayang kembali dalam benaknya.


*****


Riana adalah seorang siswi pindahan. Ia baru saja masuk ke sebuah SMA bergengsi di Jakarta. Saat itu, ia adalah siswi pemalu di sekolahnya. Ada satu pria yang sejak awal kedatangannya, selalu memberikan senyuman.


Tak hanya itu, pria itu jugalah teman pertamanya. Dia juga membantu Riana dalam banyak hal. Lambat laun, hubungan mereka semakin dekat. Banyak siswa siswi yang mengira mereka berpacaran.


Tidak ada satupun diantara keduanya yang mengklarifikasi hubungan mereka. Seolah, mereka tak menampik gosip itu. Riana maupun Aldi, tak pernah sekalipun berpisah. Apa pun yang terjadi, keduanya selalu bersama.


Bahkan, kedua keluarga mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Masa itu, adalah masa paling bahagia yang Riana rasakan. Namun, Dua tahun kemudian, tepat setelah mereka lulus, Aldi harus pindah ke Prancis. Bukan tanpa sebab, itu semua adalah permintaan ayah Aldi.


Riana pun mulai kembali seperti dulu. Tidak memiliki teman dekat. Meskipun ia tetap bergaul dengan yang lain, tetapi hubungan mereka tak sedekat hubungannya dengan Aldi.


*****


Aldi tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Senyum terus terukir di wajah tampannya. Sungguh, ini kali pertama ia merasa begitu bahagia.


Selama ini, ia menahan diri untuk tidak memeluk Riana. Oleh sebab itu, saat Riana berlari memeluknya dan bertanya dengan nada khawatir, membuat Aldi begitu bahagia.


Semoga saja, dia segera menyadari perasaanku padanya, batin Aldi.


"Karena wanita tidak waras itu, aku bisa melihat Riana mengkhawatirkan ku."


Lagi-lagi, Aldi merasa seperti bocah SMA yang baru merasakan jatuh cinta. Kedekatan keduanya yang lebih intens, membuat rasa cinta Aldi pada Riana semakin bertambah.


*****


Keesokkan harinya, Riana turun lebih dulu ke meja makan. Di sana terlihat Kania, ibu dari Aldi. Beliau melayangkan senyum padanya. Namun, Riana menundukkan pandangannya. Ia masih merasa malu karena kejadian kemarin.


"Kenapa nunduk begitu?" tanya Kania heran.


"Gak apa-apa, Tante." Kania tertawa.


"Tante gak akan ngeledek kamu, Sayang. Ayo, angkat pandangan kamu!" titah Kania.


__ADS_1


Perlahan Riana mengangkat pandangannya. Kania mendekat dan memeluknya. Riana membalas pelukannya.


"Terimakasih, sudah mengkhawatirkan putra mama kemarin."


Riana terdiam. Ia merasa bingung dengan ucapan Kania tadi. Rasanya, Riana tidak pernah memosisikan Kania sebagai ibunya.


"Mulai sekarang, panggil mama. Sama seperti Aldi," lanjut Kania.


Kedua mata Riana membola. Ia merasa, perubahan ini terlalu cepat. Kania menggenggam tangan Riana hingga Riana terkejut.


"Boleh kan mama minta sesuatu?" tanpa sadar, Riana mengangguk.


"Jaga hati Aldi. Sebenarnya, hati Aldi jauh lebih rapuh dari yang kamu duga."


Kali ini, Riana tak menutupi kebingungannya. Ia semakin tidak mengerti arah pembicaraan itu.


"Maaf, m-ma," ucapnya terbata. Ia belum terbiasa memanggil wanita di depannya ini dengan sebutan 'mama'.


"Suatu saat, kamu pasti akan mengerti." Jika kamu sudah menyadari cinta Aldi untukmu.


Riana tak lagi bertanya. Ia hanya menganggukkan kepala. Tak lama, keduanya melihat Aldi turun. Pria itu melemparkan senyum termanis untuk Riana. Tak ada alasan bagi Riana untuk tidak membalasnya.


"Bonjour," sapa Aldi.


Riana tersenyum menyambut Aldi. Riana semakin terkejut saat Aldi mengecup puncak kepalanya. Riana merasa, ini kali pertama Aldi bertindak mesra padanya. Wajahnya terasa panas akibat rasa bahagia yang menjalar.


A**pa Aldi.... Riana tak melanjutkan kata hatinya.


"Jadi, yang kemarin itu siapa?" Riana masih merasa penasaran dengan wanita kemarin.


"Dia itu mahasiswi tingkat lima. Aku tahu dari salah satu dosen di sana. Sepertinya dia mengalami gangguan mental sejak menduduki tingkat tiga. Pihak kampus juga baru menyadarinya sejak awal semester ini. Namun, mereka tak ingin menuduh karena tidak ada bukti," cerita Aldi.


"Jadi, karena kasus kemarin, pihak kampus baru mengeluarkannya?"


"Correctement," ucap Aldi.


Riana menghembuskan napas lega saat mendengar cerita itu. Bukan hanya karena Aldi selamat, tetapi juga karena nyawa orang lain yang ikut selamat, termasuk dirinya.


*****


Tanpa terasa, Riana kini sudah berada di Prancis selama tiga bulan lebih. Saat ini, Prancis sudah memasuki musim dingin.


Riana yang belum terbiasa dengan musim dingin di sana, mulai merasakan tubuhnya melemah. Di kampus, ia merasa kepalanya sakit, tubuhnya lemas dan tak bertenaga.


Pria misterius yang selalu duduk di samping Riana melihatnya. Ia memberikan syal miliknya. Ia melingkarkannya di leher Riana. Riana terkejut. Ia menolehkan kepalanya pada pria itu.

__ADS_1


"Utilisez-le, vous en avez plus besoin," ucapnya. (pakailah, kau lebih membutuhkannya)


"Merci. je reviendrai plus tard," ucap Rina tulus. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. (terima kasih. Akan ku kembalikan nanti.)


Pria itu berlalu lebih dulu. Meninggalkan Riana yang masih terpaku di tempatnya. Selama tiga bulan ini, ia selalu duduk bersama pria itu. Riana selalu mencurigai dirinya adalah Rian. Namun, melihat sikap dewasa pria itu, Riana meragukan asumsinya itu.


Siapa ya dia?


Riana bergegas membereskan bukunya dan keluar kelas. Saat ia keluar, Aldi baru tiba di depan kelasnya. Melihat wajah Riana yang memerah, Aldi membuka sarung tangannya dan mengecek suhu tubuh Riana.


"Kamu, sakit?" tanyanya khawatir.


"Gak apa-apa. Belum terbiasa saja," ucapnya lirih.


"Ini, punya siapa?" tanya Aldi yang melihat syal yang tidak ia kenal.


"Teman sekelas tadi. Dia meminjamkannya."


Aldi mengambilnya dan menukarnya dengan miliknya. Ia juga membuka sarung tangannya dan memakaikannya ke tangan Riana.


"Kamu nanti kedinginan."


"Tidak. Aku sudah biasa. Ayo, pulang! Kamu harus istirahat, minum air hangat dan minum obat."


Aldi menggenggam jemari Riana dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Di parkiran, mereka bertemu dengan pria misterius yang selalu ada di sekitar Riana. Aldi sudah mengetahuinya. Pria itu memang tengah mengawasi Riana. Bahkan, sejak di bandara Indonesia.


Aldi menghampirinya setelah meminta Riana masuk lebih dulu. "Masuklah!" Riana mengangguk.


"DΓ©solΓ© mec. C'est le tien. Laissez-le utiliser le mien. Je vous remercie." pria itu mengambil syalnya dan berlalu. (maaf, bung. Ini milik Anda. Biarkan dia menggunakan punya saya saja. Terima kasih.)


Aldi kembali ke mobilnya dan melihat wajah Riana yang semakin merah. Sepertinya, suhu tubuh Riana semakin tinggi. Tak ingin membuang waktu, Aldi segera melajukan mobilnya pergi dari sana.


*****


pagi genks.... lelah juga mentranslate bahasa ya. jika bahasa prancisnya masih banyak salah, maafkan aku ya. aku hanya mencopasnya dari google😭


semangat semua...


promo pagi iniπŸ‘‡πŸ‘‡



jangan lupa mampir ya genks


sampai jumpa di bab selanjutnya.... πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2