
"Sekarang kamu mandi dulu. Aku mau ajak kamu jalan." Aldi melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya.
Riana menganggukkan kepala dan ikut tersenyum. Ia pun melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Aldi kembali menghela napas lega. Sedetik kemudian, rahangnya mengeras mengingat kelancangan Saskia.
Aldi menggelengkan kepalanya. Entah apa yang tengah ia pikirkan dan rencanakan saat ini. Aldi duduk di ujung ranjang dan membuka ponselnya.
Membuka aplikasi pesan dan mengetikan beberapa kata. Selesai mengetiknya, Aldi menyimpan ponselnya.
Riana keluar dengan rambut basah. Aldi tersenyum melihat istrinya. Ia berdiri dan mendekati Riana. Merebut handuk di tangan istrinya dan membantunya mengeringkan rambut Riana.
"Aku saja, mas." Riana memegang pergelangan tangan Aldi. Membuat pria itu menghentikan gerakannya dan mematikan hair dryer.
Aldi tersenyum dan mengecup kening Riana lembut. Ia melanjutkan kegiatannya hingga selesai.
"Sudah. Jangan berdandan terlalu cantik!" Riana mengangkat kedua alisnya bingung.
"Nanti banyak yang naksir kamu." Aldi berbisik pada Riana.
Riana terkekeh mendengar ucapan suaminya. Ia pun merias dirinya se natural mungkin. Setelah siap, ia berdiri dan menghampiri Aldi, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
Sekilas, Riana melihat nama Saskia di sana. Riana mengerutkan dahinya tak percaya. Apa mungkin ini urusan pekerjaan?
Riana tak ingin lagi gegabah. Aldi sendiri terkesan tak menutupinya sedikit pun. Aldi menoleh dan tersenyum. Riana membalasnya dengan sedikit terpaksa.
Tak bisa Riana pungkiri, ada rasa dongkol yang tiba-tiba menguasai hatinya. Riana berusaha untuk tenang dan tidak terbawa emosi.
"Ayo!" Aldi menggenggam tangan Riana mesra.
Riana mengikuti kemana langkah Aldi berjalan. Mulutnya terasa gatal ingin bertanya. Sebelumnya, ia hanya menangkap nama Saskia tanpa sempat membaca isi pesan yang Aldi kirimkan pada wanita itu.
"Mas." Riana menoleh.
Aldi pun ikut menoleh padanya. "Kenapa, Sayang?"
"Gak apa-apa." Riana kembali melihat ke arah jalan.
Aldi menggenggam sebelah tangan Riana. Sebelah tangannya lagi, memegang roda kemudi. Sesekali matanya menatap Riana.
"Kamu percaya sama aku, kan?" Riana menoleh.
Bimbang, itulah yang saat ini Riana rasakan. Haruskah ia percaya? Namun, selama ini Aldi tak pernah mengecewakannya.
Riana pun menganggukkan kepalanya kaku. Aldi tersenyum lembut pada istrinya. Ia pun kembali memfokuskan pandangannya pada jalan dihadapannya.
Empat puluh menit kemudian, mereka memasuki mall ternama di kota Jakarta. Aldi memarkirkan mobil di lantai satu.
__ADS_1
Mereka keluar bersamaan dan masuk ke dalam mall. Sepanjang jalan, Aldi tak melepaskan genggamannya.
Keduanya masuk ke dalam lift. Riana memutar pandangannya. Sudah lama rasanya ia tak menginjakkan kaki di mall. Senyumnya terbit kala mengingat kenangan manisnya bekerja di dalam mall.
Tidak seperti wanita pada umumnya yang senang menghabiskan waktu untuk sekedar hang out atau berbelanja, Riana justru merindukan mall hanya untuk bertemu teman-temannya yang masih bekerja di sana.
"Kamu kok senyum-senyum begitu?" Aldi ikut tersenyum.
"Aku teringat dulu pernah kerja di mall. Jadi kangen sama teman-teman." Senyum Riana semakin lebar.
Aldi mengusap kepala Riana sayang. Lift pun terbuka di depan restoran ala western. Aldi merangkul pinggang Riana mesra. Dari tempatnya berdiri, Aldi melihat Saskia bersama beberapa orang wanita.
Senyum Riana pudar saat melihat ada Saskia di depannya. Wanita itu tengah membelakangi mereka. Ia sedang sibuk tertawa bersama dua wanita lainnya.
Riana menoleh pada Aldi. Pria itu tersenyum dan mengangguk sekilas. Ia bahkan mengeratkan pelukannya di pinggang Riana. Seolah menyatakan kepemilikan Riana.
Seorang wanita di depan Saskia lebih dulu melihatnya. Ia terlihat memberi kode pada Saskia agar menoleh ke belakangnya.
Saskia pun menoleh dengan senyum secerah mentari. Saat dirinya menyadari kehadiran Riana, senyum itu berubah dipaksakan.
"Hai Rey." Saskia tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Aldi.
"Nama kamu ... siapa ya? Aku lupa." Saskia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Riana." Saskia menganggukkan kepalanya saat Riana menyebut namanya.
"Duduk!" Saskia menunjuk tempat di sampingnya.
"Oh, iya. Mau pesan apa?" Saskia menyerahkan buku menu pada Riana.
Riana mengambilnya dan membuka buku menu itu. Aldi menunjukkan beberapa gambar yang terlihat menggugah selera.
Riana pun memanggil waiters dan menyebutkan pesanan Aldi. Kemudian, menyebut jus alpukat untuk dirinya.
"Kamu gak makan?" Aldi mengerutkan dahinya setelah waiters berlalu dari meja mereka.
"Aku belum lapar." Riana mencoba tersenyum.
Jika ia boleh jujur, ia merasa insecure dihadapan Saskia dan teman-temannya. Ketiganya terlihat cantik dan berkelas. Belum lagi, barang-barang yang mereka gunakan terlihat bermerk.
Sementara Riana, terlihat sangat biasa.Kulitnya pun tak sebersih Saskia dan teman-temannya. Mungkin mereka baru selesai perawatan di mall ini juga.
"Ya sudah, nanti aku suapi saja, ya." Riana baru akan membuka mulutnya, saat Aldi menginterupsinya.
"Tidak ada bantahan!"
Akhirnya, Riana menghela napas dan terdiam. Mereka pun mulai berinteraksi. Tentu saja tanpa Riana. Riana bahkan merasa seperti patung atau obat nyamuk yang memang sengaja dipasang.
__ADS_1
Hidangan yang Riana pesan pun tiba. Riana mengaduk jusnya dan mulai meminumnya. Berharap, es yang ada di dalam jus mampu mengurangi hawa panas dalam dadanya.
"Aa." Aldi membuka mulutnya seraya menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Riana.
Riana pun membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu. Saskia dan kedua temannya membuang muka.
Usai makan, Riana pamit ke toilet. Aldi pun mengangguk. Riana berjalan menuju toilet.
Saat ia keluar, terlihat Saskia dan kedua temannya di dalam sana. Salah satu temannya keluar lebih dulu.
"Heh!" Saskia mendorong pundak Riana, hingga wanita itu berteriak kaget.
"Lo harusnya tahu diri. Lo, siapa yang berani-beraninya mendekati Aldi? Gua tahu, Lo itu janda kan?"
Riana terkejut saat mendengar ucapan Saskia. Kemana Saskia yang terlihat lembut, sopan, baik hati dan terlihat elegan?
Kali ini, Riana bisa melihat keaslian wajah Saskia yang dibalut oleh topeng selama ini. Riana berusaha tetap berdiri tegak.
"Apa status gua, gua rasa Lo gak berhak ikut campur. Lagi pula, gua sama Aldi sudah menikah. Lo gak akan bisa berbuat apa-apa!" Riana seakan tengah menantang Saskia.
Mata Saskia membulat sempurna mendengar Aldi dan Riana telah menikah. Wajahnya memadam menahan amarah yang akan tersembur keluar dari mulutnya.
Saskia mengayunkan tangannya dan menampar Riana. Riana memegang pipinya yang terasa panas.
Sejak kemarin, ia memang belum menyalurkan emosinya yang terpendam. Hingga kali ini ada masalah, ia pun menyalurkannya pada Saskia.
"Kenapa Lo nampar gua?" Saskia menyeringai.
Terlihat ia seakan membuat kode pada sahabatnya. Keduanya bergerak menahan kedua lengan Riana.
Saskia mulai menampar pipi Riana hingga Riana sendiri merasakan kebas di bagian pipinya. Tidak hanya itu, ia bahkan menarik rambut panjang Riana.
Kedua teman Saskia membuat Riana berlutut, hingga Saskia bisa menjambak rambut Riana dan membuatnya mendongakkan kepala ke arahnya.
"Lo dengar, ya. Kalau Lo gak pernah hadir diantara hubungan gua dan Aldi, mungkin saat ini, gua adalah istri dari Aldi. Bukan Lo!"
Riana meringis merasakan kulit kepalanya yang terasa ingin lepas dari sana. Keempatnya terkejut, saat salah satu pintu di dekat mereka terbuka dengan cara kasar.
Kedua teman Saskia melepaskan genggaman tangan mereka. Riana meringis merasakan pedih di kedua pipinya.
"Setelah kau melakukan itu, kau tidak mau minta maaf?"
"Bukan urusan, Lo!" Saskia dan ketiga karenanya memilih berlalu.
Dengan cepat, wanita yang baru keluar dari toilet itu menahan lengannya. Setelah itu, mendorong Saskia, hingga ia hampir terjatuh.
"Mau apa Lo?" pekik Saskia.
__ADS_1
"Minta maaf!" tatapan mata wanita itu terlihat sangat menusuk.
Namun, Saskia terlihat tak takut sedikitpun.