
Riana duduk termenung di balkon kamarnya dan Arkan. Ia memikirkan ucapan mamanya tadi.
"Ma, bagaimana cara menjadi istri yang baik? Terus, tugas istri itu apa saja?"
"Tugas istri itu, tidak hanya melayani kebutuhan sandang dan pangan saja. Itu hanya sebagian kecil tugas kita. Karena kakak sudah menikah, jadi mama akan bicara secara terbuka. Kamu juga harus melayani kebutuhan yang paling wajib. Kakak tahu?" Riana menggeleng.
"Jangan bilang kakak dan mas Arkan belum melakukannya?" Riana menundukkan kepalanya.
"Kakak, itu adalah hal paling penting dalam berumah tangga. Kalian sudah tiga bulan menikah dan belum melakukan hal itu. Pantas saja, mama masih tidak melihat perubahan. Lakukan perlahan. Mama tahu kakak belum siap. Kakak harus mencobanya."
"Akan kakak pikirkan, ma."
"Jangan hanya kakak pikirkan, tapi lakukan. Mama yakin, kakak bisa mencintai mas Arkan sepenuh hati nantinya."
Riana semakin frustasi. Ia sungguh merasa bimbang saat ini. Bisakah ia menunggu cinta Arkan, baru mereka melakukannya?
"Aku bukannya tidak mau melakukannya, tapi ...."
"Melakukan apa?"
Riana terlonjak kaget mendengar suara Arkan di belakangnya. Ia menoleh dan melihat Arkan sudah bersandar di bibir pintu.
"Mas, kapan pulang?"
"Baru saja. Aku pikir, keluargamu masih di sini. Jadi, aku memutuskan pulang cepat. Ternyata, sudah tidak ada."
"Iya. Mama dan papa hanya ingin melihat keadaan ku saja."
Arkan mengangguk dan kembali ke dalam. Riana mengikuti langkahnya kedalam. Ia melihat Arkan masuk ke dalam bath room. Ia pun menyiapkan pakaiannya dan meletakkan di ujung tempat tidur. Setelahnya, ia keluar dan menyiapkan makan malam.
Arkan turun dan duduk di meja makan. Riana menyiapkan makanan untuknya. Mereka pun makan dalam diam. Usai makan malam, Riana lebih dulu masuk ke kamarnya.
Ia menyiapkan dirinya untuk melakukan apa yang ibunya ucapkan. Berulang kali ia menarik napas dalam dan membuangnya. Ia terus meyakini dirinya, jika cinta akan datang seiring mereka saling menghangatkan diri nanti.
Arkan masuk dan melihat Riana yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang sangat minim. Arkan memandang rendah Riana.
"Kau ingin menggoda ku? Apa kau sudah siap menyerahkan kehormatan mu?"
Riana memalingkan wajahnya. Ia tak bisa menatap Arkan. Arkan mendekatinya dan menyentuh wajah Riana. Tiba-tiba saja, keraguan itu kembali memenuhi hatinya.
Ia melewati Arkan. Arkan menangkap pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Kau yang menggoda ku."
Arkan menarik Riana ke dalam pelukannya. Ia menarik tengkuk Riana dan menautkan bibir mereka. Riana membelalakkan matanya terkejut. Ia tak menyangka, jika Arkan akan menciumnya. Arkan melakukannya dengan perlahan. Riana tak bisa membebaskan dirinya.
Arkan sengaja menggigit bibir Riana hingga wanita itu membuka mulutnya. Arkan dengan cepat menelusup kan lidahnya dan mengabsen setiap inci dalam mulut Riana.
Lenguhan pun terdengar. Kaki Riana terasa lemas tak bertenaga. Ia merasa ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
Arkan menyadari ketidakberdayaan Riana. Ia memilih melepaskan Riana. Riana yang menyadarinya segera memalingkan wajahnya.
"Aku tidak akan melakukannya sekarang. Tidurlah!" ucapnya parau.
Ia menahan hasrat yang sudah menguasainya. Arkan berbalik dan keluar dari kamar. Riana hanya menatap punggungnya hingga menghilang.
"Ya ampun. Kenapa aku seperti wanita penggoda saja sih?" makinya pada diri sendiri.
Riana menutup dirinya dengan selimut. Ia benar-benar merasa malu. Jujur saja, ia sudah pasrah menerima semua yang akan Arkan lakukan padanya. Namun, Arkan menghentikannya.
Bukan Riana tak merasakannya. Pusat tubuh Arkan sudah menegang dan menyentuh bagian pahanya. Riana menyadarinya. Pikirannya bahkan sudah melayang jauh ke awang-awang. Berharap mereka akan melakukannya.
*****
Arkan kembali masuk dan melihat Riana yang sudah tertidur. Ia memandangi Riana tak berkedip sekelebat kejadian tadi kembali membayang di pelupuk matanya. Namun, ucapan Rian membuyarkan ingatannya.
"Kau benar. Aku memang tidak mencintainya." Arkan segera keluar dari kamar itu dan masuk ke kamar lain.
*****
Satu minggu berlalu. Arkan terkesan menghindari Riana. Meski Riana terus melayani kebutuhannya, Arkan tetap tak berpaling padanya.
Kontak fisik yang sempat terjadi diantara mereka pun, seakan tak pernah terjadi. Di awal, Riana merasa sangat malu saat bertemu dengannya. Namun, Arkan seakan tak mengingat kejadian itu.
Melihat hal itu, membuat Riana tak lagi mengingat kejadian itu. Arkan pun semakin terlihat dingin dan tak tersentuh.
Sore itu, adalah pertama kali Arkan menghubunginya. Mengatakan padanya, jika mereka akan ke villa keluarga Artajaya di puncak. Mereka akan mengadakan pertemuan keluarga.
Riana pun menyiapkan semua kebutuhan mereka. Selesai mengepak barang, ia meminta supir yang di siapkan Arkan untuk membawa barang-barang mereka ke mobil. Arkan sendiri, akan langsung menuju villa setelah selesai bekerja.
Riana segera bersiap. Selesai dengan ritual mandi dan make up, ia segera masuk ke dalam mobil. Supir segera mengantarkannya menuju villa keluarga.
Tiba di sana, terlihat Rian yang berdiri di dekat pagar. Rian tersenyum manis padanya. Ia melambaikan tangan pada Riana.
__ADS_1
Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah lebih dari tiga minggu yang lalu Rian pergi tanpa berpamitan. Riana tersenyum pada Rian.
Ia menghampiri Rian. "Ku pikir kau sudah menghilang ditelan bumi?"
"Aku memberimu waktu untuk dekat dengan kakak ku. Apa hubungan kalian sudah berjalan dengan baik?"
"Biasa saja. Tidak ada perubahan." mereka berjalan menuju villa.
"Dia memang pria yang b***h. Kau harus punya stok sabar yang luar biasa banyak."
"Kurang banyak apa lagi?" gumamnya.
"Harus seluas samudra atau jagad raya," bisik Rian.
Riana terdiam mendengar bisikan Rian. Bulu kuduknya meremang saat napas Rian menerpa kulitnya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara itu membuat Riana dan Rian menoleh. Mendapati Arkan yang menatap mereka, membuat Riana menjauhi Rian secara refleks. Melihat hal itu, senyum tipis terlintas di wajah Arkan. Hanya Rian yang melihatnya.
Rian merasa marah melihat senyum tipis itu. Ia merasa diejek secara terang-terangan oleh Arkan. Ia berbalik dan mulai meninggalkan pasangan itu.
"Mas," lirih Riana.
"Jaga sikapmu." Riana mengangguk cepat.
Di depan keluarga Arkan, Riana mencoba berakting mesra dengan pria itu. Meski Arkan terlihat tidak peduli dengan yang ada di sekitarnya. Namun, bagi Riana, menjaga nama baik suami dan keluarganya sangat penting.
Malam pun tiba. Mereka melakukan pesta barbeque. Para sepupu Rian dan Arkan, sengaja mengajak Riana duduk di dekat mereka.
Rian mengawasi tingkah laku para sepupunya yang sejak awal tidak menyukai Riana. Mereka bahkan tak segan menghinanya. Rian yang sejak awal melihatnya, menahan diri untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Dalam keluarga besar mereka, Rian terkenal sebagai anak haram dan pembuat onar. Sejujurnya, ia tidak ingin hadir di sana. Namun, saat mendengar Riana hadir, ia memutuskan datang ke sana. Ia sudah memperkirakan apa yang akan terjadi.
"Riana, mau minum?" seorang sepupu Arkan memberikan minuman yang Riana tidak ketahui.
Riana mengambilnya hanya karena kesopanan. Sayangnya, ia tak bisa menghindar, saat mereka memaksanya meminum minuman itu. Riana akan menenggak minuman itu. Namun, tangan Rian lebih dulu menyambar gelas itu.
"Aku mau yang ini. Buat aku saja."
Rian segera meminum minuman itu. Semua sepupunya menertawakan Rian. Benar saja, minuman itu sudah di campur sesuatu yang membuat Rian muntah-muntah setelah meminumnya. Entah apa yang mereka masukkan kedalam gelas itu.
__ADS_1
Riana terkejut dan membantu memijat tengkuk Rian.