Love After Marriage And Divorce

Love After Marriage And Divorce
(LAD) Lahir


__ADS_3

Usia kandungan Riana sudah memasuki bulannya. Kini, ia hanya tinggal menunggu kelahiran buah hatinya. Beruntung, saat awal kehamilan, ia tidak mengalami morning sickness seperti kebanyakan wanita hamil. Sesekali ia akan muntah. Namun, tidak begitu mengganggu.


Sebaliknya, Aldi mengalami ngidam yang cukup aneh. Ia bisa tiba-tiba ingin makan rujak, es krim, jus, atau makanan lainnya saat tengah malam. Saat dia menginginkannya tengah malam, maka ia akan terbangun dan mencari makanan tersebut hingga dapat.


Satu kali, Aldi menginginkan rujak tumbuk. Namun, ia menginginkan makanan itu langsung dari Indonesia. Akhirnya, ia harus membeli tiket dan terbang ke Indonesia keesokan harinya demi rujak yang harganya tidak sampai lima puluh ribu rupiah.


Riana menggelengkan kepalanya heran, melihat proses mengidam yang dialami suaminya. Aldi bahkan hanya membalasnya dengan senyuman. Sementara Kania tertawa melihat ngidam yang benar-benar berpindah pada putranya.


Aldi bahkan sudah mengambil cuti sejak akhir bulan lalu. USG terakhir menunjukkan, jika jenis kelamin anak mereka adalah perempuan. Aldi dan Riana tidak mempermasalahkannya. Apa pun jenis kelaminnya nanti, mereka tetap bersyukur dan akan menerimanya.


Malam ini, entah mengapa Aldi tidak bisa tidur sama sekali. Ada perasaan berdebar yang tidak ia ketahui sebabnya. Aldi mencoba memejamkan matanya. Namun, tetap tak bisa.


Aldi bangun dan meminum air hangat untuk membantunya lebih rileks. Setelahnya, ia kembali ke kamarnya. Baru saja ia masuk, Riana terlihat bergerak tak nyaman.


Sebagai suami siaga, ia mendekat dan memeriksa kondisi istrinya. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.


"Perut aku mules."


"Mau buang air besar?" tanyanya lagi. Riana menganggukkan kepalanya.


Aldi membantu Riana berjalan ke kamar mandi. Sejak memasuki usia kandungan sembilan bulan, Riana memang semakin sering buang air besar dan kecil. Terkadang, ia tak bisa menahannya dan terpaksa menggunakan pantyliner.


Air kecil yang dibuang Riana pun tergolong sedikit. Dokter bilang, itu adalah efek dari tertekannya kandung kemih oleh bobot bayi. Sejak itu, Riana selalu menggunakan pantyliner. Satu hari, ia bisa menggantinya sebanyak lima kali.


Usai membuang hajatnya, Riana kembali ketempat tidur. Namun, belum sempat ia mencapai tempat tidur, ia merasa ada sesuatu yang keluar tanpa bisa ia tahan.


"Mas, kok aku kaya pipis di celana ya. Tapi aku gak bisa nahannya." Aldi mengerutkan dahinya.


"Maksudnya?"


"Mas, keluar lagi." Raut wajah Aldi berubah panik.


"Kamu jangan nakutin aku, Sayang," ucap Aldi memelas.


"Sebentar, aku panggil mama dulu." Aldi segera bergegas keluar kamar.

__ADS_1


Riana bahkan tak berani bergerak dari tempatnya berdiri. Perlahan, ia merasakan rasa sakit di perutnya. Keringat dingin mulai terlihat di dahinya. Tak lama, Kania dan Aldi masuk.


Kania menekan saklar di dekat pintu dan melihat Riana yang mulai terlihat menahan sakit. Ia meminta Riana untuk melepas pakaian dalamnya. Kania ingin memeriksa cairan yang keluar dari inti tubuh Riana.


"Buka dulu, Sayang. Mama mau lihat sebentar." Riana menunduk perlahan dan membukanya.


Kania melihat ada sedikit bercak darah di sana. Ia segera menyuruh Aldi membawa perlengkapan bayi yang sudah disiapkan ke mobil. Aldi mengerutkan dahi dan ingin bertanya. Namun, ia urung melakukannya. Ia memilih melakukan tugas yang disuruh ibunya.


Kembali, Kania meminta Riana bergerak perlahan. Memintanya berjalan perlahan ke luar dari kamar. Saat Aldi kembali, Kania meminta Aldi untuk mengganti baju tidurnya.


Kania tidak mengatakan sesuatu yang akan membuat Aldi atau Riana panik. Kania segera menghubungi dokter yang menangani Riana. Ia berbicara dengan sedikit menjauh dari pasangan itu.


Setelah menghubungi dokter, Kania turut mengganti pakaiannya. Aldi dan Riana menunggunya di ruang tamu. Sepuluh menit kemudian, mereka mulai menuju rumah sakit.


"Tadi itu, Riana kenapa, Ma?" tanya Aldi.


"Gak ada apa-apa." Aldi mengerutkan dahinya bingung.


"Lalu, kenapa sekarang kita ke rumah sakit? Apa tidak bisa menunggu pagi?" protes Aldi.


Serempak, Riana dan Aldi menatap Kania. "Dugaan apa?" tanya keduanya.


"Sudah, fokus saja." Kania mengalihkan perhatian Aldi dan Riana.


Aldi pun kembali memfokuskan diri menatap jalan di depannya. Kania mengusap-usap perut Riana perlahan. Wajah Riana, kembali terlihat normal.


"Masih sakit?" tanyanya lirih.


"Sedikit." Kania tersenyum, mendengar jawaban menantunya.


Jalan yang sepi, membuat mereka tiba di rumah sakit dengan lebih cepat. Aldi segera memarkirkan mobilnya. Kemudian, membantu Kania memapah Riana.


Riana dibawa menuju ruang persalinan oleh perawat. Mereka sudah diberitahu akan kedatangan Riana. Prosedur pemeriksaan pun mulai dilakukan.


"Ma, kenapa Riana dibawa ke ruang bersalin?" bisik Aldi.

__ADS_1


"Karena istri kamu akan melahirkan," jawab Kania enteng.


Raut wajah Aldi pun berubah panik. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Kania menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu. Terdengar suara perawat yang memanggil mereka, di tengah kepanikan Aldi.


"Iya, Sus," jawab Kania. Aldi ikut mendekat.


"Siapa yang akan menemani pasien?" tanyanya.


Kania menyuruh Aldi untuk masuk dan menemani Riana. Aldi pun masuk. Kali ini, ia melihat Riana mulai merasakan sakit. Ia mendekat dan menggenggam tangan Riana.


"Sakit ya, Sayang?" tanyanya khawatir.


Riana tak mempu bicara. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Aldi membantu mengusap keringat di dahi Riana dan mengecupnya.


Kian lama, rasa sakit yang diderita Riana semakin bertambah intens, hingga perawat kembali melihat kemajuan dari pembukaan. Saat itu, dokter yang memeriksa Riana pun hadir.


Kini, keduanya pun mengerti. Ini adalah saatnya mempertaruhkan hidup. Entah siapa yang akan menang. Aldi berharap, istri dan anaknya bisa lahir dengan selamat.


Riana pun semakin tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menerus menderanya. Belum lagi, bayi dalam kandungan terus menendang. Membuat perutnya terasa semakin sakit.


Ia meremas tangan Aldi kencang. Aldi membiarkannya. Meski terasa sakit, ia tidak peduli. Ia terus menyemangati istrinya itu. Dua jam kemudian, terdengar suara tangis bayi yang cukup kencang memenuhi ruangan itu.


Aldi dan Riana menitikkan air mata bahagia melihat putri kecil mereka yang kini lahir ke dunia. Aldi mengecup dahi Riana berkali-kali. Menggumamkan rasa terima kasihnya atas perjuangan sang istri.


*****


Tidak terasa, sudah satu minggu Riana merasakan menjadi ibu. Ia harus rela bangun di tengah malam untuk mengganti popok bayinya, menyusuinya, dan lainnya.


Aldi ikut membantu istrinya itu. Ada rasa bahagia dalam hati keduanya, saat mengurus buah hati mereka. Aldi dan Riana menikmati peran baru mereka. Kania bersyukur, melihat anak dan menantunya yang saling bekerjasama dalam mengurus keperluan buah hati mereka.


Kania pun ikut membantu Riana. Membuatkan makanan yang bergizi, camilan, dan memandikan si kecil. Riana merasa sangat beruntung memiliki keluarga baru yang memperhatikannya. Sebentar lagi, papa dan mamanya juga akan datang melihat putrinya.


*****


ah, kurang ngena... Gak apalah ya....πŸ˜…πŸ˜… sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1



__ADS_2