
Setelah memastikan kondisi Arkan, Rian kembali menghubungi Aldi. Ia juga kembali ke apartemennya sendiri. Ia tak mungkin terus berada di apartemen kakaknya di saat seperti ini.
Rian tak ingin memancing emosi Arkan, hingga pria itu kembali merubah kepribadiannya. Sampai saat ini, Arkan sudah berada dalam tiga sifat berbeda. Untungnya, saat ia dalam kepribadian yang berbeda, selalu ada Hadi di sisinya. Arkan pun hanya menunjukan perubahan sikap tanpa merubah identitasnya.
Sebelum menghubungi Aldi, Ia kembali menghubungi Ivan temannya. Ia ingin mempertanyakan perihal Arkan. Ia semakin tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada apa, An?"
"Aku ingin berkonsultasi."
"Silahkan."
Rian pun menceritakan kondisi Arkan yang terbaru. Sementara temannya itu mendengarkan dengan baik. Hingga Rian menyelesaikan ceritanya, barulah Ivan berdeham.
"Kita tidak bisa terus berasumsi, Rian. Ada baiknya, kau membujuk dia untuk menemui ahli jiwa. Jadi, kakakmu akan mendapatkan pengobatan yang tepat. Kondisi jiwa yang terus dibiarkan, akan semakin memperparah keadaannya."
"Dia sudah pernah diperiksa. Hasilnya seperti yang aku katakan waktu itu. Namun, sekarang aku meragukan hasil itu."
"Ada kemungkinan, ada kesalahan diagnosis. Hal ini tidak bisa kita tentukan dalam waktu singkat. Butuh waktu untuk memperhatikan perilakunya."
Mendengar penuturan Ivan, membuat Rian semakin bingung cara membujuk Arkan. Ia pun berpamitan pada Ivan dan menutup teleponnya.
Bagaimana cara ku membujuknya menemui psikiater? Rian menjambak rambutnya frustasi.
*****
Seorang gadis tengah membaca buku di bawah pohon yang ada di belakang kampusnya. Rambutnya yang tergerai indah, melambai tertiup angin. Pemuda di belakangnya mengeluarkan ponsel dan memotretnya diam-diam.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sang pria di depannya. Ia melemparkan senyumnya dan berdiri menghampiri pria itu.
"Sudah selesai?" tanya Riana.
"Sudah." pria itu memasukkan ponsel di tangannya ke dalam kantung celananya.
Mereka pun bergandengan tangan dan berjalan menuju parkiran. Mereka saling bertukar cerita dan menggoda sesekali. Saat tengah asyik bercanda, Riana menangkap siluet tubuh pria yang ia kenal. Ia menoleh dan mendapati Rian di sana.
"Rian," lirih Riana.
Langkah keduanya terhenti dan menatap pria dihadapan mereka. Riana menatap datar Rian. Aldi menggenggam erat jemari Riana. Riana menoleh dan tersenyum.
"Aku temui dia dulu sebentar." Aldi mengangguk dan melepaskan genggamannya.
Ada rasa tidak rela dalam diri Aldi saat melepas genggaman tangannya. Namun, ia sadar Riana harus menyelesaikan permasalahannya saat ini.
__ADS_1
Riana berdiri tepat di depan Rian. Tidak ada yang bicara diantara mereka selama satu menit. Lelah menunggu, Riana lebih dulu bicara.
"Ada apa kau kemari?" tanyanya.
"Aku butuh bantuan mu." Riana tersenyum kecil.
"Ini tentang mas Arkan?" Rian mengangguk.
"Maaf, bukan aku tidak ingin menolong dia atau kau. Aku rasa, kau tahu alasannya."
"Tidak, aku tidak tahu. Jika, hanya karena kalian sudah bercerai, aku rasa tidak ada salahnya kau menolong Arkan kan?"
Riana terkekeh dan kembali menatap Rian. "Dengar! Aku tahu emosinya terganggu karena pergi begitu saja. Aku juga tahu, dia masih merasakan kesedihan mendalam atas perceraian kami. Tapi, apa kau tahu aku juga terluka? Apa kau tahu kalau aku sengaja pergi sejauh ini untuk mengobati hatiku?
"Ku rasa kau tidak tahu itu. Kau tahu, bukan perkara mudah untukku melupakan semua yang kami lalui. Baik kenangan manis, maupun buruk. Dia melukai ku. Jika hanya sekedar bercumbu di depanku, mungkin aku bisa memaafkannya. Tetapi, dia menghamili kekasihnya kan? Padahal hubungan kami baik-baik saja saat itu. Sebagai wanita, aku tahu perasaan Cecil."
"Tapi Cecil sudah tidak ada." Rian mendahului ucapan Riana.
"Dia meninggal satu hari setelah melahirkan. Kau tahu penyebabnya? Arkan tak pernah mempedulikannya. Cecil mengalami eklampsia, saat kandungannya delapan bulan lebih. Tensinya terlampau tinggi. Beruntung bayinya masih bisa diselamatkan. Namun, tidak dengan Cecil. Satu hari setelah bayi itu lahir, Cecil tak sadar lagi. Dia dinyatakan meninggal dunia."
Riana mencoba mempertahankan ekspresi datar. Meski dadanya kini semakin terasa sesak dan menghimpit pernapasannya. Ia merasa kekurangan oksigen saat ini. Tungkainya terasa lemas tak bertenaga. Ada rasa bersalah yang menyusup ke relung hatinya.
"Aku rasa itu bukan salah Riana." suara itu membuat Rian menoleh dan mendapati Aldi di sana.
"Kau tidak bisa menyalahkan Riana atas apa yang terjadi. Lihatlah dari sudut pandang yang lain. Wanita itu sudah tahu tentang pernikahan Arkan dan Riana, tetapi dia tetap nekad masuk ke dalam hubungan mereka. Jika masyarakat kau melihat dari sisi orang lain, siapa yang akan kau salahkan?"
"Aku paham. Aku hanya ingin Riana membantuku membawa Arkan menemui dokter ahli jiwa. Itu saja."
"Aku tahu, tapi maaf. Tidak seharusnya kalian meminta Riana ikut campur masalah ini."
"Dia masih mencarinya." Rian terus berusaha.
"Aku akan menemuinya. Tapi tidak untuk membantumu membawanya ke psikiater. Aku hanya akan menyelesaikan permasalahan diantara kami. Meski aku yakin, diantara kami sudah tidak ada masalah lagi."
"Terimakasih. Aku hargai bantuan mu. Aku permisi." Rian berlalu dari hadapan keduanya.
Rian merangkul bahu Riana dan mengusapnya perlahan. Riana menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Are you okay?"
"Yeah."
"Ayo pulang." Riana mengangguk.
__ADS_1
Malam harinya, Riana menatap bintang yang berkelap-kelip di langit. Pikirannya jauh melayang entah kemana. Aldi datang membawakan segelas coklat panas untuknya.
Rian tersenyum dan mengambilnya. Hangat, itulah yang Riana rasakan. Riana menyandarkan kepalanya di bahu Aldi. Ada rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama dengan Aldi.
"Dari dulu, aku selalu merasa nyaman dan aman saat bersandar padamu," ungkap Riana.
Aldi mengangkat sebelah tangannya dan melingkarkan nya di bahu Riana. "Kau tahu, saat aku mendengar jika kau sudah menikah, dunia terasa hancur. Aku menyalahkan diriku sendiri yang terlalu pengecut. Aku bahkan takut akan merusak persahabatan kita jika suatu saat kita berpisah."
Riana tersenyum. "Aku punya satu rahasia."
Aldi menatap Riana seraya mengernyitkan dahinya. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Kepo ya?" Aldi mencebikan bibirnya.
"Seksi sekali bibir itu." Riana mencubit pelan pipi Aldi.
"Mau ku cium?"
"Kamu gak akan berani." Riana seakan menantang Aldi.
"Sepertinya kau menantang ku ya?"
"Aku terlalu mengenalmu." Aldi tertawa.
Apa yang Riana katakan memang benar. Aldi tidak akan mungkin menciumnya. Aldi memeluk Riana dan mengecup rambutnya berulang kali.
"Kau benar, tapi saat kita menikah nanti, aku pastikan mencumbu mu setiap hari."
"Kok, aku merinding ya, dengarnya?" keduanya tertawa.
Mereka kembali menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang. Saling menikmati pelukan hangat, dan berbagi tawa.
"Aldi," panggil Riana.
"Hem," jawab Aldi.
"I love you. Aku percayakan hatiku padamu." Aldi tersenyum.
"*Th*ank you for trusting me. I love you too."
Riana mendekatkan dirinya dan menempelkan bibirnya pada bibir Aldi. Sekedar mengecup. Kemudian, ia berlari dengan wajah memerah malu ke dalam kamarnya. Aldi menyentuh bibirnya dan tersenyum bahagia.
*****
__ADS_1
Sore genks....
Sampai jumpa di bab selanjutnya ya kesayangankuπ€π€π€ππππππ