
Riana terkejut melihat wanita yang mendorong Saskia tadi. Ia tak mengenal wanita itu. Semakin merasa bingung, karena wanita itu membela dirinya.
Sementara di luar sana, Aldi masih setia menunggu istrinya. Ia memainkan ponsel miliknya. Beberapa menit lalu, Saskia dan kedua temannya berpamitan lebih dulu.
Aldi tak curiga sedikitpun. Tanpa ia ketahui, jika di dalam toilet wanita tengah terjadi keributan.
Kembali ke toilet.
"Gua gak punya urusan sama Lo. Jadi, gak usah Lo ikut campur urusan gua." Saskia berdiri dan mulai mendorong wanita itu.
Dua sahabat Saskia yang melihat itu membantu Saskia. Melihat hal itu, membuat Riana memejamkan mata untuk mengumpulkan segenap kekuatannya.
Riana tak ingin membalasnya dengan kekerasan. Ia mengepalkan tangannya kuat dan menarik napasnya dalam.
"Hentikan!" Riana bicara dengan suara tidak terlalu kencang. Namun, cukup mengintimidasi.
Keempat wanita yang ribut dengan saling mendorong dan berteriak, seketika menghentikan pergerakan mereka. Keempatnya menoleh ke arah Riana.
"Saskia, gua gak nyangka. Orang terpelajar seperti Lo, bisa melakukan hal rendahan seperti ini. Lo, bermain keroyokan. It's okay, mungkin Lo takut menghadapi gua."
"Siapa bilang gua takut menghadapi Lo?" Saskia menaikkan sudut bibirnya. Ia bersidekap menatap Riana dengan remeh.
"Kalau begitu, kita selesai kan urusan kita tanpa mereka."
"Oke." Saskia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada kedua temannya untuk keluar dari sana.
Riana menatap ketiga orang yang mulai berjalan keluar dari sana. Ekspresi Riana terlihat datar dan dingin. Saskia akui, saat ini ia merasa Riana cukup tangguh.
Tatapan Riana beralih pada Saskia. Menatap wanita itu dengan tatapan setajam mungkin. Berkali-kali Riana menarik napas.
Riana menyadari statusnya dulu. Ya, tak bisa ia pungkiri, di negara 62 ini status janda memang direndahkan banyak orang.
"Gua tahu, gua itu janda. Rasanya gak etis ya, kalau Lo yang protes. Sementara suami gua baik-baik saja." Riana bicara dengan menahan gemetar di tubuhnya.
Saskia menautkan rahangnya mendengar ucapan Riana. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya.
"Sepertinya, Lo suka sama laki gua ya?" Riana kembali menahan nyeri di sudut hatinya.
Jujur saja, tungkainya terasa lemas. Ia mati-matian menahan sesak di dada. Menahan tangis yang ingin pecah. Tidak, ia tidak bisa melepaskan Aldi.
__ADS_1
Tidak kali ini, ataupun lain kali. Cukup satu kali ia melepasnya. Riana tak akan lagi melepasnya.
"Sayangnya, Lo itu pengecut yang gak berani mengungkapkan perasaan Lo ke dia. Lagi pula, Aldi sudah lama suka sama gua." Riana tetap mempertahankan rasa percaya diri yang perlahan mulai terkikis, akibat ucapan Saskia mengenai statusnya.
"Kita lihat saja nanti, Aldi pasti akan ninggalin Lo!" Saskia berlalu dari tempat itu.
Tepat saat pintu toilet tertutup, Riana tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Ia terjatuh dengan berpegangan pada wastafel.
Wanita yang tadi menolongnya kembali masuk dan membantunya berdiri. Rasanya, Riana benar-benar lelah. Kepalanya terasa berdentum hebat.
"Mba, gak apa-apa?" Wajah wanita itu terlihat panik.
Riana menggeleng pelan. Ia merasa semakin tak bertenaga. Wanita itu membantu Riana berjalan keluar dari toilet.
Aldi yang memang sejak tadi merasa khawatir karena Riana tak kunjung kembali, menyusul istrinya ke sana.
Ia terkejut melihat istrinya berjalan dengan dibantu oleh seseorang. Ia menghampiri keduanya.
"Sayang." Aldi menggendong Riana ala bridal style.
Riana tak mampu menolak. Tubuhnya terasa semakin tak bertenaga. Bahkan, kesadarannya hampir hilang.
Aldi semakin mengeratkan rahangnya menahan amarah. Sepertinya, Aldi salah mengambil langkah. Aldi mengucapkan terima kasih pada wanita itu atas bantuannya.
Dalam perjalanan, Riana memilih memejamkan matanya untuk memperoleh kekuatannya kembali. Sesekali, Aldi mencuri pandang padanya.
Ingin Aldi bertanya tentang yang terjadi. Namun, ia mengurungkan niatnya melihat wajah Riana yang masih pucat.
"Mas, antar aku ke tempat Yani." Riana masih memejamkan matanya.
"Iya, kita ke sana." Aldi pun melajukan mobilnya menuju kediaman saudara kembarnya.
Tiba di sana, ia membantu Riana keluar dari mobil. Namun, kondisi Riana yang lemah membuatnya harus kembali menggendong tubuh Riana.
Kania yang sedang bermain dengan Raka di ruang keluarga terkejut melihat Aldi menggendong Riana. Apalagi, wajah Riana yang pucat.
"Riana kenapa?" Kania menghampiri keduanya.
"Aldi bawa Riana ke kamar dulu ya, ma." Aldi melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
__ADS_1
Kania membawa Raka dan menyerahkannya pada Yani. Tidak lupa, memberitahu Yani tentang kedatangan Riana yang terlihat tidak sehat.
Yani pun membawa Raka ikut ke kamar Aldi. Ia juga mengkhawatirkan kondisi sahabatnya. Selama ini, Riana tak pernah terlihat selemah ini.
Baru saja keduanya berdiri di depan pintu, Aldi meminta keduanya untuk tidak masuk. Terdengar isakan lirih dari sana. Riana juga memeluk pinggang Aldi.
Aldi memberi isyarat pada mama dan iparnya, jika semua baik-baik saja. Nanti, ia akan menceritakan segalanya pada mereka.
Kania pun menutup pintu kamar Aldi. Keduanya turun dan mencoba bersikap tenang, sampai Aldi turun.
Di kamar Aldi. Riana masih memeluk erat pinggang Aldi. Menumpahkan semua rasa sesak yang tadi menghimpitnya.
Dengan sabar, Aldi mengusap punggung istrinya. Membiarkan bajunya basah dengan air mata Riana. Ada rasa kesal yang masih bercokol di dadanya. Pria itu menahannya. Ia harus mengalahkan egonya kali ini.
"Apa mas menyesal, menikahi ku?" Kini, tangis Riana mulai mereda. Ia masih menyembunyikan wajahnya dari Aldi.
"Tidak sedikitpun." Aldi masih setia mengusap punggung Riana.
"Tapi, aku ini seorang ...." Riana tak mampu meneruskan ucapannya.
"Janda? Jika ini berhubungan dengan ucapan Saskia tadi, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Bagiku, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Akulah masa depan mu. Jangan dengarkan apapun ucapan orang lain! Yang menjalaninya itu aku dan kamu. Orang hanya mampu menilai dari sudut pandang mereka. Kita jauh lebih tahu apa yang terbaik bagi hidup kita."
Aldi menangkup wajah Riana dengan kedua tangannya. Masih terlihat bulir air mata yang menetes dari matanya.
Dengan ibu jarinya, Aldi menghapus sisa air mata itu. "Aku mencintaimu. Sejak dulu sampai sekarang, cintaku tidak berubah. Sampai nanti pun, cinta itu tidak akan pernah berubah."
Riana menatap Aldi dalam. Tidak ada keraguan sedikitpun dari mata dan ucapan Aldi. Pria itu terlihat teguh dengan pendiriannya.
"Aku hanya minta kau percaya padaku. Aku janji, selama aku hidup aku hanya milikmu. Aku hanya akan mencintaimu dan anak-anak kita nanti. Aku akan selalu ada untuk mu. Aku akan selalu menyayangimu. Apapun keadaan mu nanti, sampai aku menutup mata, hanya ada kamu di sini." Aldi menunjuk hatinya.
Riana menganggukkan kepalanya. Aldi mencium Riana dengan penuh penghayatan. Tidak ada perasaan menggebu di sana. Hanya ada ketulusan dan kasih sayang yang mengalir dari setiap gerakan lidah Aldi di sana.
Ciuman, yang menunjukkan rasa cinta Aldi pada Riana. Meyakinkan hati Riana, untuk tetap bertahan saat badai mulai menghadang mereka.
*****
Astaga.... ide ku benerยฒ mandek genks๐ญ๐ญ๐ญ jadi lama nulis cerita ini. pikiranku udah melayang ke cerita Darren dan Bening....
aku akan tetap berusaha sampai cerita ini tuntas ya. terus dukung aku genks... like, komen dan hadiah serta vote dari kalian.... makasih sayangku...
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya๐ค๐ค๐ค๐๐๐๐๐๐