
Rian tak tahan lagi melihat Arkan yang dengan sengaja memeluk Riana. Apalagi, sejak kedatangan papi mereka kesana Rian semakin meradang dibuatnya.
Sepertinya hubungan mereka sudah membaik.
Tak lama, Danu pun berpamitan. Arkan dan Riana mengantarkan beliau hingga ke mobil. Di samping Danu, ada Rian yang mengikuti.
"Papi senang melihat kalian sekarang." Saat ini, mereka sudah berdiri di samping mobil.
"Teruslah berusaha menjaga keharmonisan keluarga kalian." Danu menepuk pundak Arkan dan masuk ke dalam lebih dulu.
Rian masih berdiri di sana dan menunggu mobil yang membawa ayahnya pergi. Setelah memastikan kepergian ayahnya, ia berbalik menatap pasangan suami istri itu.
"Jadi, kau berhasil mengambil hatinya?" entah pada siapa ia bertanya.
Arkan menatap Rian tanpa mengalihkan pandangannya. Sebaliknya Rian menatap Riana dalam. Riana menundukkan kepalanya.
"Tidak ada salahnya aku mencoba bukan? Dia suamiku. Aku berhak memperjuangkannya." Riana mengangkat pandangannya untuk membalas tatapan Rian.
Rian menganggukkan kepala cepat. Tanpa kata, ia memilih pergi meninggalkan mereka. Ia membuka pintu mobilnya dan akan masuk saat ia mendengar ucapan Arkan.
"Aku akan memulai hubungan kami. Kali ini, tolong jangan merebutnya lagi. Sebelumnya aku pernah akan menyerah mempertahankan pernikahanku demi dirimu. Namun, melihat keteguhan Riana yang ingin mempertahankan pernikahan kami, maka aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan belajar mencintainya dengan sepenuh hatiku."
Rian mengepalkan sebelah tangannya. Matanya menatap Arkan dan Riana bergantian. Tanpa kata, ia memilih masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan keduanya.
Arkan dan Riana menatap kepergian Rian hingga menghilang dari pandangan mereka. Setelah itu, Riana menatap Arkan.
"Mas, pernah akan menyerah?" Arkan mengalihkan pandangannya pada Riana.
"Iya. Saat itu, papi meminta Rian menyerah untuk mendekatimu. Meski papi tidak terang-terangan mengawasi kita, tapi papi tahu semua yang terjadi dalam hubungan kita. Aku juga tahu, Rian benar-benar mencintaimu. Dia tidak akan mati-matian membelamu hingga menghajar ku. Aku yang tak ingin menyakitimu, memilih menghindari mu selama Rian masih di dekatmu."
"Apa saat Rian menghilang, mas Arkan yang menyuruhnya?"
"Bukan! Papi sendiri yang menyuruhnya. Aku tidak tahu apa yang Rian dan papi bicarakan saat itu."
"Maaf. Karena aku, hubungan keluarga kalian kembali memburuk." Riana menunjukkan raut wajah penuh penyesalan.
Arkan menggenggam jemari Riana. "Bukan salahmu. Keluarga kami sudah lama tercerai berai. Jangan merasa bersalah."
Riana menganggukkan kepalanya. Dari balkon atas, Rizky memperhatikan keduanya. Ia masih belum sepenuhnya mempercayai Arkan.
*****
Riana membantu mamanya untuk menyuapi papanya. Rizky baru saja keluar entah kemana. Selesai menyuapi papanya, ia memberikan obat untuknya.
"Sudah selesai?" tanya mamanya saat masuk ke dalam kamar.
"Sudah, ma," jawab Riana.
"Sana, temani Arkan. Dia sedang ada di ruang tamu."
"Iya, ma. Kakak keluar dulu ya, pa."
"Terimakasih ya, Nak."
__ADS_1
"Sama-sama, pa."
Riana pun keluar dan menuju ruang tamu. Ia melihat Arkan yang sedang fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia duduk di samping Arkan. Arkan yang merasakan pergerakan menoleh dan tersenyum pada Riana.
"Mas, belum istirahat?"
"Aku nunggu kamu."
"Nunggu aku?" Arkan mengangguk. Ia mematikan laptop dan menutupnya. Kemudian memfokuskan dirinya pada Riana.
"Kenapa? Aneh ya?"
"Gak sih. Tumben aja."
"Kencan, yuk!"
Riana menatap Arkan tak percaya. Benarkah pria di sampingnya ini suaminya? Apakah ia tak salah dengar?
"Mas, gak sakit kan?"
"Sakit? Apa aku harus sakit dulu baru bisa mengajak istriku berkencan?"
Wajah Riana memerah mendengar ucapan Arkan. Ini pertama kalinya Arkan memanggilnya dengan sebutan istri.
"Bagaimana, mau tidak?"Riana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oke. Kalau begitu, tunggu di sini."
"Mas." Arkan menoleh.
"Iya. Kenapa, kamu sudah ngantuk?"
"Belum sih, tapi malam-malam begini kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat yang rahasia."
Arkan kembali melangkah kedalam kamar Riana. Ia meletakkan laptopnya dan mengambilkan jaket untuk Riana. Arkan memakaikannya dan mengaitkan jemarinya pada jemari Riana. Riana mengikuti langkah Arkan.
*****
Suasana jalanan ibukota, tetap lah ramai meski malam. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan saat mereka tiba di sebuah warung pinggir jalan. Warung yang cukup ramai.
"Aku baru tahu, mas suka makan di tempat seperti ini juga."
"Aku sering makan di tempat ini dengan Hadi."
"Asisten, mas itu kan?" Arkan mengangguk.
Seorang pelayan mendekati keduanya. Ia bersiap mencatat pesanan mereka. Arkan menanyakan makanan yang akan Riana makan.
"Kamu mau makan apa? Ayam atau lele?"
"Aku gak suka lele. Ayam saja." Arkan pun menyebutkan pesanannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak suka lele?" tanya Arkan.
"Aku geli." Riana bergidik geli saat mengucapkannya.
"Geli?" Riana mengangguk.
"Ah, sepertinya kamu pernah melihat sesuatu yang membuat pikiranmu jadi benci dengan lele ya?" Riana mengulum senyumnya.
"Iya. Mas benar. Aku pernah lihat kakek ku memelihara lele. Di atas kolam lele itu, kakek menaruh kandang ayamnya. Saat itu, kakek membersihkan kandang ayam dari kotoran ayam. Secara otomatis, pikiran ku langsung mengarah pada kolam di bawahnya. Sejak itu aku jijik dengan ikan lele."
Arkan terbahak mendengar cerita Riana. "Tidak semua seperti itu. Lele yang di jual ke rumah makan dan warung seperti ini, biasanya memiliki supplier sendiri. Mereka memiliki tempat sendiri untuk memeliharanya. Yang pasti, tanpa kandang ayam di atasnya. Jadi jangan menyamaratakan semua dengan yang kamu lihat." Arkan mencubit pipi Riana.
"Sakit, mas." mendengar hal itu, Arkan mengusap pipi Riana.
"Biar aja. Sekali gak suka tetap gak suka."
Pelayan datang dan menyajikan pesanan mereka. Riana menikmati makanan pinggir jalan pertamanya bersama Arkan. Bukan karena Riana tidak pernah memakan makanan itu, tapi ini kali pertama dan kencan pertama mereka yang tidak seperti pria kaya lainnya.
Jika kebanyakan pria menjaga imagenya dengan membawa kekasih mereka makan di cafe atau restoran, tapi tidak dengan Arkan. Pria itu dengan santainya mengajak istrinya makan di warung tenda pinggir jalan. Selesai makan, mereka memilih berjalan-jalan.
"Mas."
"Hem?!"
"Terimakasih untuk kencan pertama kita ini."
"Kamu, tidak marah?"
"Marah?" Arkan mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak membawamu ke restoran atau cafe, tapi justru mengajakmu ke warung tenda tadi. Pasti kamu berpikir aku terlalu perhitungan."
"Tidak. Bagiku itu sudah cukup. Lebih romantis daripada hal lainnya." Riana tersenyum membayangkan makan malam pertama mereka tadi.
"Kau tahu, aku mulai menyukaimu. Ketulusan mu, kebaikan mu, dan semua yang ada pada dirimu. Kamu adalah wanita pertama yang mampu menggetarkan hatiku dalam waktu empat bulan. Padahal, pertemuan pertama kita sangat tidak mengenakkan."
Riana terkekeh. Arkan benar, di awal pertemuan mereka, keduanya bak kucing dan anjing yang tak pernah akur. Namun, ikatan takdir menyatukan mereka pada akhirnya.
"Semoga saja, tidak ada rintangan yang mampu memisahkan kita," ucap Riana seraya menengadahkan kepalanya ke langit. Ia menatap langit gelap di atas kepala mereka.
*****
Kurang uwu ya.π€ maafkan lah diriku yang tidak bisa membuat adegan uwu-uwuan.π€
happy reading all.
ada yang suka genre fantasi-romance? aku punya satu rekomendasi untuk kalian. yuk mampir ke karya sahabat literasi kuπππ
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
__ADS_1
terimakasih untuk kalian yang setia membaca karya receh ku iniπ€ jangan lupa tinggalkan like dan komen di setiap bab nya ya. kalau aku ada salah penulisan atau lupa akan cerita sebelumnya, boleh banget loh di tulis di kolom komentar. sebisa mungkin, aku akan balas komen kalian meski hanya dengan like. terimakasih semuanya. sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan π€π€π€ππππππ