
Arkan sengaja berbohong Ia ingin mengetahui, sejauh mana Riana mencintainya. Apalagi saat mengingat Rian yang secara terang-terangan menyatakan rasa cintanya pada Riana.
"Rasanya indah, tapi juga menyakitkan." Arkan mengangkat sebelah alisnya mendengar Riana mendeskripsikan apa yang dia rasa.
"Indah, tapi menyakitkan. Kalau begitu, untuk apa kita merasakan jatuh cinta, jika pada akhirnya tetap menyakitkan juga?"
Riana terdiam. Ia mencerna kata demi kata yang Arkan ucapkan. Tidak ada yang salah dengan ucapan Arkan. Arkan memang benar. Jika dengan cinta, manusia tetap saling menyakiti, apa gunanya cinta?
"Kau tahu. Dalam keluarga ku, papi dan mami saling mencintai, tapi pada akhirnya, papi tetap menyakiti mami."
Kali ini, Riana tidak mengerti akan ucapan Arkan. Namun, ia tahu pasti maksud Arkan. Ia tersenyum.
"Jadi, mas sebenarnya pernah mencintai seseorang. Namun, orang itu jugalah yang menyakitimu. Kau trauma?"
Arkan tidak menyangka, jika Riana bisa membaca maksud ucapannya. Ia mencoba tetap tenang. Matanya tetap menatap netra Riana yang terlihat menarik.
"Iya, kau benar. Karena itulah, aku tidak ingin merasakan jatuh cinta lagi."
"Apa penyebabnya Rian?"
Arkan hanya diam. Ia tak ingin menjawab pertanyaan itu. Arkan pun menghindari Riana dan menyiapkan beberapa barang. Mereka akan kembali ke rumah orang tua Riana.
Riana memperhatikan gerak Arkan. Perlahan, ia bisa membaca gerak tubuh suaminya itu. Saat ini, Arkan terlihat tidak ingin membahas Rian. Wajahnya terlihat sangat kesal.
Riana tersenyum simpul. "Mas."
"Hem."
"Aku mencintaimu." Riana mengulangi pernyataannya.
Arkan tersenyum. Sayangnya, Riana tak bisa melihat senyum itu. Ia mengemas laptop serta iPad miliknya kedalam tas. Ia membutuhkannya untuk bekerja.
"Mas."
"Apalagi Riana?" Arkan berbalik menatap Riana kesal.
Riana seakan sengaja mengganggu Arkan. Riana tersenyum melihat wajah Arkan yang kesal.
"Mas."
Arkan mengangkat kedua alisnya tanpa bicara. Riana berlari ke pelukan Arkan. Arkan terkejut. Namun, ia tersenyum senang menerima pelukan Riana. Sepertinya, Riana berhasil meluluhkan hati Arkan.
"Belum puas peluknya?" tanya Arkan saat Riana tak juga melepaskannya.
"Mas tahu gak?"
"Apa?"
"Tadinya, aku sedih waktu mas bilang, mas tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta."
__ADS_1
"Sekarang masih sedih?"
"Sekarang tidak lagi. Karena aku tahu, mas akan mencoba membuka hati mas untukku kan?"
"Percaya diri sekali kamu?!"
Arkan melepas pelukan Riana dari tubuhnya. Riana membiarkannya. Ia membantu Arkan mengemasi beberapa pakaian yang akan mereka bawa.
"Aku bisa melihatnya. Terlihat jelas di mata, mas."
Arkan terbahak. Ia terlihat tampan di mata Riana. Arkan menghentikan tawanya dan menatap Riana. Mata keduanya bertemu dan terpatri. Mereka hanyut dalam pandangan masing-masing.
Arkan berjalan mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari Riana. Jantung Riana mulai berdegup cepat. Tiba-tiba saja, ia merasa gugup luar biasa. Terlebih, melihat tatapan Arkan padanya.
"Kau benar. Aku akan mencobanya. Mari kita mulai semua dari awal. Kita mulai hubungan kita dengan benar."
Air mata menetes dari sudut mata Riana. Ia melihat kesungguhan Arkan dari matanya. Arkan lebih dulu menarik Riana ke dalam pelukannya. Riana membalasnya.
"Aku hanya minta padamu untuk bersabar. Aku akan belajar mencintai mu, seperti kamu mencintaiku." Riana mengangguk.
Arkan menghapus air mata yang jatuh di pipi Riana. Baru kali ini, ia memegang langsung wajah Riana. Ia mengusap pipi Riana dengan ibu jarinya. Kemudian, beralih pada belahan merah muda yang pernah dicumbunya.
"Boleh aku mencium mu di sini?" Arkan menyentuh bibir Riana dan meminta izin Riana.
Riana menganggukkan kepalanya. Arkan pun mulai menempelkannya di sana. Riana membalas ciuman itu. Ini kali ketiga Arkan menciumnya. Kali ini, Arkan bahkan meminta izinnya. Riana terbuai dalam lembutnya cumbuan Arkan.
"Jika mas menginginkannya, aku siap."
"Tidak sekarang. Akan ada saatnya aku meminta hak ku padamu." Arkan pun mencium lembut kening Riana. "Ayo! Kita harus segera kembali ke rumah mama." Riana mengangguk.
Riana merasa bahagia saat ini. Doanya perlahan mulai terkabul. Semoga saja, Arkan benar-benar bisa mencintainya.
*****
Mereka tiba di rumah orang tua Riana. Arkan menggamit jemari Riana. Sesekali, mereka akan saling melempar senyuman. Hal itu tak lepas dari perhatian Rizky.
Ingin Rizky bertanya. Namun ia urungkan. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kakaknya saat ini. Biarlah, Rizky bisa bicara nanti pada Arkan.
"Hai, dek. Papa sudah bangun?" tanya Riana pada Rizky yang tengah duduk santai di teras.
"Sudah," jawab Rizky singkat.
Arkan melemparkan senyum padanya. Rizky membuang pandangannya pada buku yang dipegangnya. Arkan tak ambil pusing dengan sikap Rizky padanya.
Riana meletakkan barang bawaan mereka ke kamar. Sementara Arkan, sedang menemani ayah mertuanya.
"Papa senang melihat kalian. Sekarang, kalian terlihat lebih dekat satu sama lain." Arkan tersenyum.
"Jaga Riana baik-baik ya, Nak. Dia putriku yang paling baik."
__ADS_1
"Papa benar. Riana sangat baik." papa Riana tersenyum lebar.
"Pa, ada yang ingin bertemu," ucap Rizky.
"Siapa Nak?"
"Adiknya kak Arkan."
Arkan mengangkat pandangannya saat mendengar kata-kata itu. Pikirannya mulai berkecamuk.
Kenapa Rian ke sini? Kenapa dia selalu muncul disaat aku dan Riana sedang baik-baik saja?
Rian muncul dihadapan mereka. Ia membawakan parsel berisi buah-buahan untuk papa Riana. Rian tersenyum manis dan menyerahkan parsel tersebut.
"Loh, Rian? Tahu darimana rumahku?"
"Kakak ipar tega sekali tidak memberitahuku." Rian berpura-pura kesal pada Riana.
Arkan mengangkat sebelah alisnya melihat sikap kekanakan dari Rian. Riana hanya tersenyum menanggapi ucapan Rian. Ia mendudukkan dirinya diantara papanya dan suaminya.
Arkan sengaja memeluk pinggang Riana. Hal itu sukses mendatangkan cemburu di hati Rian. Dadanya terlihat naik turun menahan gejolak amarah yang ingin keluar.
Rizky menatap keduanya bergantian. Ia mengerti sekarang. Kedua kakak beradik ini sedang menunjukkan diri di depan kakaknya.
Riana sendiri cukup terkejut dengan tindakan Arkan. Tidak biasanya Arkan bertindak seperti itu. Namun, mengingat perubahan Arkan belakangan, ia tahu Arkan tidak sedang bercanda.
"Kak, papi sudah tahu kondisi om Yudi?" tanya Rian pada Arkan.
"Belum. Kau saja yang beritahu." Arkan menjawabnya dengan ketus.
"Oke."
Rian pun menghubungi papinya dan memberitahu perihal kondisi papa Riana. Tidak butuh waktu lama untuknya menghubungi papinya itu.
"Seharusnya tidak perlu. Papi kalian pasti sibuk."
"Tidak apa om. Papi pasti meluangkan waktu ke sini."
"Jadi merepotkan saja. Nak Arkan dan Riana juga seharusnya tidak perlu menginap. Biar mama dan Rizky yang bantu papa."
"Gak apa-apa, pa. Mas Arkan juga setuju kok " Arkan tersenyum pada Riana.
Rian semakin tidak suka dengan pemandangan di depannya. Namun, ia terus mengendalikan emosi yang meluap dalam dadanya. Ia tidak ingin, membuat Riana membencinya.
*****
Pagi genks.... aku seneng deh kalo kalian kasih komentar. soalnya, aku sering lupa isi cerita sebelumnya. Jadi, bisa ku perbaiki lagi. Maafkan aku ya, karena ceritaku sering banyak kesalahan. terimakasih yang sudah mengikuti ku sampai ke novel ini..
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganπ€π€π€ππππππ
__ADS_1