
Dua hari kemudian, wanita yang tempo hari menghadang Riana, kembali menghadangnya. Kali ini, Riana di seret olehnya ke bagian belakang kampus. Riana mencoba melepaskan cekakan di tangannya.
"Lepas," ucap Riana.
Wanita itu terus menyeretnya tanpa menghiraukan ucapan Riana. Ia terus saja membawanya ke bagian belakang kampus. Tempat tersepi dan tersembunyi.
Pria misterius yang beberapa hari ini terus mengikuti Riana, kehilangan jejaknya. Ada kepanikan yang muncul di raut wajahnya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Riana. Ia hanya sedang membuka ponselnya, saat Riana menghilang.
Tak lama, Aldi datang ke kelas Riana dan mencarinya. Ia menatap kelas itu berkeliling mencari Riana. Saat ia menyadari Riana tak ada, ia segera mencarinya. Tak lupa, ia menghubungi Riana.
Tiba-tiba, tangan wanita itu melayang menampar pipi mulus Riana. Riana terkejut. Pipinya terasa sangat panas akibat tamparan itu. Ia mengangkat pandangannya dan menatap tajam wanita itu.
"Siapa, Lo nampar gua?" ucap Riana dengan nada marah.
Wanita itu malah melipat tangannya dan tersenyum miring pada Riana. Sepertinya, ia memandang rendah Riana. Riana semakin geram. Ia sadar, ia tak bisa mencari masalah di negara orang. Bisa-bisa, ia akan di deportasi dari sana. Pendidikannya pun terancam gagal.
Riana berusaha meredam emosinya. Setelah ia rasa lebih baik, ia membuka matanya dan menatap wanita itu.
"Lo, harus tahu. Gua adalah ceweknya Aldi. Jangan coba-coba Lo merebut Aldi dari gua!"
Riana justru tertawa mendengar ucapan wanita itu. "Ya, ampun. Sepertinya Aldi harus operasi mata. Apa dia buta? Masa cewek gak punya akhlak kaya gini dijadikan pacar?" ucapnya.
Wanita itu semakin berang. Ia terlihat semakin marah. Riana merasa sedikit bergidik ngeri melihatnya.
"Asal, Lo, tahu. Gua sama Aldi sudah saling kenal dari zaman SMA. Keluarga aksi bahkan sudah mengenal gua. Apa itu masalah buat Lo?" Riana seakan semakin memancing kemarahannya.
"Lo, benar-benar gak tahu malu. Akan gua buat Aldi menjauhi, Lo!" wanita itu mengacungkan jarinya menunjuk riana.
Riana terkejut, saat melihat wanita itu menampar dirinya sendiri dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia mengernyitkan dahinya heran.
"Kau ingin memfitnah dia?"
Mendengar suara itu, membuat wanita itu dan Riana menoleh. Riana tersenyum melihat keberadaan sahabatnya. Ia melangkah mendekati sahabatnya itu. Sementara wanita itu tertegun melihat Aldi yang dengan cepat menemukan Riana.
Wajah Aldi terlihat dingin. Wanita itu menundukkan pandangannya saat melihat itu. Riana dengan santai memukul lengan Aldi.
"Sakit," adu Aldi.
"Dia pacar kamu?" Aldi mengernyitkan dahi.
"Siapa bilang?" Riana menunjuk pada wanita itu dengan dagunya.
"Mana ada. Aku saja gak kenal dia siapa," jawaban Aldi, membuat wajah wanita itu menunduk malu.
__ADS_1
"Kenapa dia bisa ngaku jadi pacar kamu?"
"Mana aku tahu?"
"Hei, kenapa kau ingin memfitnah Riana?" tanya Aldi pada wanita itu.
"Aku tidak memfitnah dia, Sayang. Dia mencoba merebut kamu dari aku."
"Hei, kamu. Jangan dekati pacarku!"
Riana dan Aldi saling memandang. "Kamu, beneran gak kenal dia?" bisik Riana.
Wanita itu kembali menerjang Riana yang bicara dengan menempelkan tubuhnya pada Aldi. Raut wajahnya terlihat sangat marah. Ia bahkan memeluk Aldi dengan posesif.
Riana hampir saja terjatuh, jika ia tak berpegangan pada tiang di dekatnya. Aldi ingin menolongnya, tetapi wanita itu menahannya. Melihat hal itu, Aldi merasa akan ada ancaman untuk Riana.
"Lepaskan aku, sebentar ya. Aku harus bicara dengannya," ucap Aldi lembut. Ia merubah cara bicaranya pada wanita itu.
Riana yang melihat itu, mengerutkan keningnya dalam. Dalam hati ia bertanya, apa urgensi nya Aldi harus meminta izin pada wanita itu?
Ajaib, wanita itu mengizinkan Aldi mendekati Riana. Riana sampai mengangakan mulutnya tak percaya.
"Dengarkan aku! Dia sepertinya mengalami gangguan psikologis. Aku tidak tahu pasti jenisnya. Yang pasti, kamu akan dalam bahaya jika saat ini kita melawannya. Sebaiknya kamu pulang lebih dulu."
"Untuk apa?" tanyanya bingung.
"Sudah serahkan saja."
Riana menurutinya. Ia memberikan ponselnya pada Aldi. Setelah Aldi mengambil ponselnya, ia menyuruh Riana pulang lebih dulu.
Riana pun berlalu dari sana. Jujur saja, ia mengkhawatirkan Aldi. Bagaimana pun, mereka adalah sahabat sejak masa SMA. Mereka bahkan jauh lebih dekat dari yang orang lain kira.
Meski Riana sendiri tidak peka dengan perbedaan Aldi yang jauh lebih posesif padanya. Aldi bahkan tak pernah terlihat berhubungan dengan wanita mana pun.
*****
Riana tiba di rumah. Ia masuk dan melihat ibu dari sahabatnya di ruang tamu. Ia mendekatinya dan mencium punggung tangan beliau.
"Kok, kamu pulang sendiri? Aldi mana? Apa dia masih ada kelas?"
Rentetan pertanyaan itu membuat kepala Riana semakin pusing. Ia jelas tidak menemukan alasan yang tepat. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Ataukah ia katakan saja, jika Aldi masih memiliki kelas lain?
Di tengah lamunannya, Kania ibu Aldi menarik tangannya. "Sini, Sayang. Tante mau bicara sama kamu."
__ADS_1
Riana mengikuti kemauan ibu sahabatnya. Ia duduk di samping Kania. Kania menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia terlihat tengah merangkai kata.
"Boleh, Tante tahu pendapat kamu tentang Aldi?" Riana mengangkat kedua alisnya
"Maksudnya, Tante?"
Kania tersenyum menanggapi kebingungan Riana. Ia sudah menduga, jika riana bukanlah wanita yang peka pada umumnya. Atau mungkin, ia memang tak pernah menganggap Aldi, putranya, lebih dari sahabat?
Belum sempat Kania melanjutkan perbincangan diantara mereka, terdengar suara pintu yang terbuka. Terlihat wajah Aldi yang lesu. Riana yang sejak tadi merasa khawatir, segera bangkit berdiri dan memeluk Aldi.
Ini kali pertama Riana memeluknya erat. Jantung Aldi berdegup dengan kencangnya. Ia tertegun. Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Tindakan Riana kali ini, benar-benar tak pernah ada dalam khayalnya sekalipun.
Kania tersenyum mengejek putranya itu. Namun, Aldi tak mempedulikannya. Aldi membalas pelukan Riana. Hatinya terasa bahagia. Rasanya, bagai ribuan kupu-kupu menggelitik di perutnya.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Riana khawatir.
Melihat kekhawatiran yang Riana tunjukkan, membuat Aldi tak mampu menjawab Mulutnya seakan terkunci rapat. Pada akhirnya, Aldi hanya bisa menganggukkan kepala.
"Syukurlah." Riana menghembuskan napas lega saat melihat Aldi mengangguk.
"Jadi, dia siapa? Kenapa dia seperti itu?"
"Di-diaβ" Aldi tergagap. Ia mencoba menekan rasa bahagia yang terlihat di wajahnya.
"Ternyata, dia mengalami gangguan mental. Aku gak paham jenisnya. Yang pasti, dia berbahaya." Riana mengangguk.
"Kamu, kenal dia?"
Aldi tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Riana. "Kamu cemburu?"
Wajah Riana memerah saat mendengar pertanyaan Aldi. "Apa sih? Sudah ah. Aku mau mandi dulu. Tante, Riana ke atas ya," Kania mengangguk.
Setelah Riana tak terlihat, Kania mendekati putranya. "Sudah ada kemajuan," ucapnya seraya menepuk bahu Aldi.
"Apa sih, ma," ucap Aldi yang ikut kembali ke kamarnya.
"Percaya deh sama mama. Sebentar lagi, Riana pasti jadi pacar kamu."
Aldi menggelengkan kepalanya kembali. Ia tak menggubris ucapan ibunya itu.
*****
Sore genks. sedikit terlambat karena masalah real life... sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan.... ππππ€π€π€πππ
__ADS_1